Perihal Shalat Khauf

0
94

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 102. Perihal Shalat Khauf.

Shalat Khauf banyak ragamnya, karena sesungguhnya musuh itu adakalanya berada di arah kiblat, dan adakalanya berada di lain arah. Shalat itu adakalanya terdiri atas empat rakaat, adakalanya tiga rakaat (seperti shalat Magrib), dan adakalanya dua rakaat (seperti shalat Subuh dan shalat Safar). Kemudian adakalanya mereka melakukan shalat dengan berjamaah, adakalanya perang sedang berkecamuk, sehingga mereka tidak dapat berjamaah, melainkan masing-masing shalat sendirian dengan menghadap ke arah kiblat atau ke arah lainnya, baik dengan berjalan kaki ataupun berkendaraan.

Sebelumnya : Penjelasan Tentang Cara Shalat Khauf

Dalam keadaan perang sedang berkecamuk, mereka diperbolehkan berjalan dan memukul dengan pukulan yang bertubi-tubi, sedangkan mereka dalam shalatnya.

Ada ulama yang mengatakan bahwa dalam keadaan perang sedang berkecamuk, mereka melakukan shalatnya satu rakaat saja, karena berdasarkan kepada hadits Ibnu Abbas yang lalu tadi. Hal ini dikatakan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal. Al-Munziri di dalam kitab Al-Hawasyi mengatakan bahwa pendapat ini dikatakan oleh Ata, Jabir, Al-Hasan, Mujahid, Al-Hakam, Qatadah, dan Hammad. Hal yang sama dikatakan pula oleh Tawus dan Ad-Dahhak.

Abu Asim Al-Abbadi meriwayatkan dari Muhammad ibnu Nasr Al-Marwazi, bahwa ia berpendapat shalat Subuh dikembalikan menjadi satu rakaat dalam keadaan khauf (perang). Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Hazm.

Ishaq ibnu Rahawaih mengatakan, Adapun dalam keadaan pedang beradu, maka cukup bagimu satu rakaat dengan cara memakai isyarat saja. Jika kamu tidak mampu, cukup hanya dengan sekali sujud karena shalat adalah zikrullah.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Ulama lainnya mengatakan cukup hanya dengan sekali takbir saja. Barangkali dia bermaksud satu rakaat, seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal dan murid-muridnya. Hal yang sama dikatakan oleh Jabir ibnu Abdullah, Abdullah ibnu Umar dan Ka’b serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan sahabat, juga As-Saddi, menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Akan tetapi, orang-orang yang meriwayatkan pendapat ini hanya meriwayatkan berdasarkan makna lahiriahnya saja, yaitu menilai cukup shalat khauf hanya dengan sekali takbir, seperti yang dikatakan oleh mazhab Ishaq ibnu Rahawaih. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Amir Abdul Wahhab ibnu Bukht Al-Makki. Bahkan ia berani mengatakan, Jika ia tidak mampu melakukan takbir, janganlah ia meninggalkan shalat dalam hatinya, cukup hanya dengan niat. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Mansur di dalam kitab sunannya, dari Ismail ibnu Ayyasy, dari Syu’aib ibnu Dinar.

Di antara ulama ada yang membolehkan mengakhirkan shalat karena uzur peperangan dan sibuk menghadapi musuh, seperti yang dilakukan oleh Nabi ﷺ; beliau mengakhirkan shalat Lohor dan Asar dalam Perang Ahzab dan mengerjakannya sesudah Magrib. Kemudian beliau melakukan shalat Magrib dan Isya sesudahnya. Juga seperti yang disabdakannya sesudah itu (yakni dalam Perang Bani Quraizah) ketika beliau mempersiapkan pasukan kaum muslim untuk menghadapi mereka. Beliau ﷺ bersabda:

لَا يُصَلِّيَنَّ أحدٌ مِنْكُمُ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Jangan   sekali-kali  seseorang   di   antara   kalian   shalat  Asar, melainkan di tempat Bani Quraizah!

Waktu shalat datang ketika mereka berada di tengah jalan. Maka sebagian dari mereka mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ hanyalah agar kita berjalan dengan cepat, bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat dari waktunya. Maka golongan ini mengerjakan shalat Asar tepat pada waktunya di tengah jalan.

Sedangkan golongan lain dari mereka mengakhirkan shalat Asar, lalu mereka mengerjakannya di tempat Bani Quraizah sesudah shalat Magrib. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ tidak menegur salah satu dari kedua golongan tersebut.

Kami membahas masalah ini di dalam kitab Sirah, dan menerangkan pula bahwa orang-orang yang mengerjakan shalat Asar pada waktunya lebih dekat kepada kebenaran daripada kenyataannya, sekalipun golongan yang lain dimaafkan. Hujah mereka yang menyebabkan mereka mengakhirkan shalat Asar dari waktunya ialah uzur, karena mereka sedang dalam rangka jihad dan mengadakan serangan cepat terhadap segolongan orang-orang Yahudi yang terkutuk, disebabkan mereka melanggar perjanjian.

Menurut pendapat jumhur ulama, semuanya itu dimansukh oleh shalat khauf, karena sesungguhnya ayat shalat khauf masih belum diturunkan ketika terjadi peristiwa itu. Setelah ayat shalat khauf diturunkan, maka mengakhirkan shalat dimansukh olehnya. Hal ini lebih jelas dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Imam Syafii dan ahlus sunan.

Akan tetapi, hal ini sulit bila diselaraskan dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya, yaitu dalam Bab Shalat di Saat Mengepung Benteng dan Bersua dengan Musuh. Disebutkan bahwa Al-Auza’i mengatakan, Jika kemenangan berada di tangan dan mereka tidak mampu melakukan shalat, hendaklah mereka shalat dengan memakai isyarat, masing-masing orang mengerjakannya sendiri-sendiri. Jika mereka tidak mampu memakai isyarat, hendaklah mereka mengakhirkan shalat sampai peperangan terhenti atau situasi aman dan terkendali, baru mereka melakukan shalatnya dua rakaat. Jika dua rakaat tidak mampu mereka kerjakan, maka cukup dengan satu rakaat dan dua kali sujud. Jika hal itu tidak mampu juga mereka kerjakan (karena keadaan masih sangat genting), maka tidak cukup bagi mereka mengerjakan shalatnya hanya dengan takbir, melainkan mereka harus mengakhirkannya hingga keadaan benar-benar aman. Hal ini dikatakan oleh Makhul.

Anas ibnu Malik mengatakan, ia ikut mengepung Benteng Tustur di saat fajar menyingsing, lalu pecahlah perang dengan serunya, hingga pasukan kaum muslim tidak dapat melakukan shalat Subuh. Maka kami tidak mengerjakannya kecuali setelah matahari tinggi, lalu baru kami berkesempatan mengerjakannya; saat itu kami berada di bawah pimpinan Abu Musa. Akhirnya kami beroleh kemenangan dan berhasil merebut Benteng Tustur.

Sahabat Anas mengatakan, Tidaklah aku gembira bila shalat tersebut ditukar dengan dunia dan semua yang ada padanya. Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari.

Selanjutnya Imam Bukhari mengiringinya dengan hadits tentang mengakhirkan shalat di saat Perang Ahzab. Menyusul hadits perintah Nabi ﷺ kepada pasukan kaum muslim yang mengatakan bahwa mereka jangan mengerjakan shalat Asar kecuali di tempat Bani Quraizah, seakan-akan Imam Bukhari memilih pendapat ini.

Bagi orang yang cenderung kepada pendapat ini boleh meniru apa yang telah dilakukan oleh Abu Musa dan teman-temannya pada waktu penaklukan Benteng Tustur, karena sesungguhnya hal ini menurut kebanyakan ulama telah dikenal. Akan tetapi, peristiwa tersebut terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibnul Khattab, dan tiada suatu nukilan pun yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Abu Musa dan teman-temannya diprotes oleh seseorang dari kalangan sahabat.

Para ulama mengatakan bahwa shalat khauf disyariatkan pada saat Perang Khandaq, karena Perang Zatur Riqa’ terjadi sebelum Perang Khandaq menurut kebanyakan ulama Sirah dan Magazi. Di antara mereka yang me-nas-kan demikian ialah Muhammad ibnu Ishaq, Musa ibnu Uqbah, Al-Waqidi, Muhammad ibnu Sa’d (juru tulisnya), dan Khalifah ibnul Khayyat serta lain-lainnya.

Lain halnya dengan Imam Bukhari dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa Perang Zatur Riqa’ terjadi sesudah Perang Khandaq, karena berdasarkan kepada hadits Abu Musa dan hadits lainnya yang disebut di ataskecuali Perang Khaibar.

Tetapi yang sangat mengherankan sekali ialah apa yang dikatakan oleh Al-Muzani, Abu Yusuf Al-Qadi, dan Ibrahim ibnu Ismail ibnu Ulayyah. Mereka berpendapat bahwa shalat khauf telah dimansukh oleh perintah Nabi ﷺ yang mengakhirkan shalat dalam Perang Khandaq. Pendapat ini sangat aneh, karena terbukti melalui banyak hadits bahwa shalat khauf terjadi sesudah Perang Khandaq.

Selanjutnya : Jika Mendapat Sesuatu Kesusahan

Sebagai jalan keluarnya menginterpretasikan pengertian mengakhirkan shalat pada hari itu menurut apa yang dikatakan oleh Makhul dan Al-Auza’i lebih kuat dan lebih dekat kepada kebenaran.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu Katsir

Berita sebelumyaJika Mendapat Sesuatu Kesusahan
Berita berikutnyaPenjelasan Tentang Cara Shalat Khauf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here