Penjelasan Tentang Cara Shalat Khauf

0
130

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 102. Penjelasan tentang cara shalat khauf. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Dan apabila kamu (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum shalat, lalu mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (Q.S. An-Nisaa’ : 102)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Allah Ta‘ala menjelaskan bagaimana (seharusnya) mereka shalat dalam kondisi ketakutan.

Wa idzā kuηta fīhim (dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka [shahabat-shahabatmu]), yakni hadir bersama mereka.

Fa aqamta lahumush shalāta (lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka), yakni kamu mengimami mereka shalat, lalu bertakbir dan mereka juga bertakbir bersamamu.

Fal taqum (maka hendaklah berdiri [shalat]), yakni maka hendaklah ada.

Thā-ifatum minhum ma‘aka (segolongan dari mereka bersamamu), yakni dalam shalat.

Walya’khudzū aslihatahum fa idzā sajadū (dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka [yang shalat bersamamu] telah sujud), yakni mereka telah menyelesaikan satu rakaat.

Falyakūnū (maka hendaklah mereka pindah), yakni maka hendaklah mereka kembali.

Miw warā-ikum (dari belakang kalian) ke kelompok sahabat mereka (yang tadi berjaga) untuk menghadapi musuh.

Walya’ti thā-ifatun ukhrā (dan hendaklah datang kelompok yang lain), yakni kelompok yang tadi menjaga serangan musuh.

Lam yushallū (yang belum shalat) bersamamu pada rakaat pertama.

Falyushallū ma‘aka (lalu shalatlah mereka bersamamu) pada rakaat kedua.

Walya’khudzū khidzrahum (dan hendaklah mereka bersiap siaga) menghadapi musuh mereka.

Wa aslihatahum (dan menyandang senjata mereka), yakni dan hendaklah mereka menyandang senjata mereka.

Wadda (ingin), yakni mengharapkan.

Alladzīna kafarū (orang-orang kafir), yakni Bani Anmar.

Lau taghfulūna ‘an aslihatikum (supaya kalian lengah dari senjata kalian), yakni lupa terhadap senjata kalian.

Wa amti‘atikum (dan barang-barang kalian), yakni agar kalian melepaskan perlengkapan perang.

Fa yamīlūna ‘alaikum (lalu mereka menyerbu kalian), yakni lalu mereka menyerang kalian.

Mailataw wāhidah (dengan sekaligus), yakni dengan satu kali serangan ketika kalian shalat.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan apabila kamu (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata mereka[12], kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat)[13], maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum shalat, lalu mereka shalat denganmu[14], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka[15]. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah[16] terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus[17]. …

[12] Sedangkan segolongan lagi berjaga-jaga. Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan menyandang senjata dan bersiap siaga dalam shalat khauf meskipun di sana terdapat gerakan dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang mengalihkan dari sebagian keadaan shalat, namun di sana terdapat maslahat yang besar, yaitu menggabung antara shalat, jihad dan bersiap siaga terhadap musuh yang berusaha mencari saat di mana kaum muslimin lengah.

[13] Yakni apabila telah selesai satu rakaat, maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri-sendiri, sedangkan Nabi ﷺ duduk menunggu golongan yang kedua.

[14] Yaitu rakaat yang pertama, sedangkan rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri-sendiri dan mereka mengakhiri shalat bersama dengan Nabi ﷺ. Cara di atas adalah salah di antara cara shalat khauf yang dipraktekkan Rasulullah ﷺ. Dalam ayat ini juga terdapat dalil bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain, karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan shalat berjama’ah dalam kondisi yang mengkhawatirkan ini. Jika dalam kondisi seperti ini masih diperintahkan shalat berjama’ah, maka dalam kondisi aman lebih diperintahkan lagi.

[15] Cara shalat khauf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin dikerjakan, apabila tidak memungkinkan untuk dikerjakan seperti peperangan berkecamuk dan sulit membagi dua pasukan, maka masing-masing mengerjakan shalat sesuai kemampuan, bisa sambil berjalan, naik kendaraan menghadap kiblat maupun tidak (berdasarkan surah Al Baqarah ayat 239).

[16] Ketika shalat.

[17] Inilah illat (sebab) mengapa diperintahkan menyandang senjata.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan apabila kamu) hai Muhammad, hadir (di tengah-tengah mereka) sedangkan kamu khawatir terhadap musuh (lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka) ini berlaku menurut kebiasaan Al-Qu’ran dalam pola pembicaraan sehingga dengan demikian mafhumnya tidak berlaku (maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri, shalat, bersamamu) sedangkan golongan lainnya mengundurkan diri (dan hendaklah mereka mengambil) artinya golongan yang berdiri shalat bersamamu tadi (senjata-senjata mereka) bersama mereka. (Dan apabila mereka sujud) artinya telah menyelesaikan shalat satu rakaat (maka hendaklah mereka) yakni rombongan yang pertama tadi (pergi ke belakangmu) untuk menjaga musuh sampai shalat selesai (dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat lalu shalat bersamamu dan hendaklah mereka bersikap waspada dan membawa senjata mereka) bersama mereka sampai mereka menyelesaikan shalat itu. Dan hal ini pernah dilakukan Nabi ﷺ di lembah Nakhl, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. (Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah) di waktu kamu mengerjakan shalat (terhadap senjata dan harta bendamu lalu mereka menyerbu kamu sekaligus) yakni dengan menyerang dan menawan kamu. Inilah yang menjadi sebab kenapa kamu disuruh membawa senjata. …

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَإِذا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka. (An-Nisaa’: 102)

Maksudnya, apabila kamu shalat bersama mereka sebagai imam dalam shalat khauf. Hal ini bukan seperti keadaan yang pertama tadi, karena pada keadaan pertama shalat di-qasar-kan (dipendekkan) menjadi satu rakaat, seperti yang ditunjukkan oleh makna haditsnya, yaitu sendiri-sendiri, sambil berjalan kaki ataupun berkendaraan, baik menghadap ke arah kiblat ataupun tidak, semuanya sama.

Kemudian disebutkan keadaan berjamaah dengan bermakmum kepada seorang imam, alangkah baiknya pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berdasar-kan ayat yang mulia ini, mengingat dimaafkan banyak pekerjaan karena jamaah. Seandainya berjamaah tidak wajib, maka hal tersebut pasti tidak diperbolehkan.

Adapun orang yang menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa shalat khauf dimansukh sesudah Nabi ﷺ, karena berdasarkan kepada firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka. (An-Nisaa’: 102)

Dengan pengertian ini, berarti gambaran shalat tersebut terlewatkan olehnya, dan cara penyimpulan dalil seperti ini lemah. Dapat pula disanggah dengan sanggahan semisal perkataan orang-orang yang tidak mau berzakat, yaitu mereka yang beralasan kepada firman-Nya yang mengatakan:

خُذْ مِنْ أَمْوالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِها وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kalian membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. (At-Taubah: 103)

Mereka mengatakan bahwa kami tidak mau membayar zakat kepada siapa pun sesudah Nabi ﷺ, melainkan kami akan mengeluarkannya dengan tangan kami sendiri untuk diberikan kepada orang-orang yang akan kami beri. Kami tidak akan memberikannya kepada siapa pun kecuali kepada orang yang doanya menjadi ketenteraman jiwa bagi kami.

Sekalipun alasan mereka demikian, para sahabat menyanggah dan menyangkal alasan mereka, dan tetap memaksa untuk membayar zakatnya serta memerangi orang-orang dari kalangan mereka yang membangkang, tidak mau membayar zakat.

Dalam pembahasan berikut akan kami ketengahkan terlebih dahulu asbabun nuzul ayat ini sebelum menerangkan sifat (gambaran)nya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnul Musanna, telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Hasyim, telah menceritakan kepada kami Saif, dari Abu Rauq, dari Abu Ayyub, dari Ali radiallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa suatu kaum dari kalangan Bani Najjar bertanya kepada Rasulullah ﷺ Mereka mengatakan, Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sering bepergian di muka bumi. Bagaimanakah caranya kami menunaikan shalat? Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar shalat (kalian). (An-Nisaa’: 101) Kemudian wahyu terhenti. Satu tahun kemudian Nabi ﷺ melakukan peperangan lagi dan shalat Lohor dalam peperangan itu. Maka orang-orang musyrik berkata (dengan sesama mereka), Sesungguhnya Muhammad dan sahabat-sahabatnya memberikan kesempatan kepada kalian punggung mereka, mengapa kalian tidak segera menyerang mereka dari belakang? Lalu seseorang dari mereka ada yang berkata, Sesungguhnya masih ada segolongan lagi dari mereka yang berada di belakangnya melindungi mereka. Ali radiallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya di antara kedua shalat (Lohor dan Asar), yaitu: jika kalian takut diserang orang-orang kafir. (An-Nisaa’:  101), hingga akhir ayat berikutnya. Maka turunlah ayat mengenai shalat khauf.

Konteks hadits ini garib, tetapi sebagian darinya ada syahid (penguat)nya yang diketengahkan melalui riwayat Abu Ayyasy Az-Zuraqi, nama aslinya ialah Zaid ibnus Samit Az-Zuraqi radiallahu ‘anhu yang ada pada Imam Ahmad dan Ahli Sunan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur-Razzaq, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abu Ayyasy Az-Zuraqi yang menceritakan, Ketika kami bersama-sama Rasulullah ﷺ di Asfan, orang-orang musyrik yang di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid (yang saat itu belum masuk Islam) datang hendak menyerang kami. Posisi mereka terletak di antara kami dan arah kiblat. Maka Rasulullah ﷺ melakukan shalat Lohor bersama kami. Mereka (pasukan kaum musyrik) berkata, Sesungguhnya mereka berada di dalam suatu posisi yang menguntungkan, seandainya saja kita menyerang mereka di saat mereka lengah. Kemudian mereka mengatakan pula, Sekarang telah tiba saatnya bagi mereka suatu shalat yang lebih mereka sukai daripada anak-anak dan diri mereka sendiri. Maka turunlah Malaikat Jibril di antara shalat Lohor dan Asar dengan membawa ayat-ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka. (An-Nisaa’: 102) Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk menyandang senjata, lalu membariskan kami di belakangnya menjadi dua saf. Kemudian Nabi ﷺ rukuk, dan kami semua rukuk; lalu Nabi ﷺ mengangkat tubuhnya dari rukuk, kami pun melakukan hal yang sama semuanya. Sesudah itu Nabi ﷺ sujud bersama saf yang berada di belakangnya, sedangkan saf berikutnya dalam keadaan tetap berdiri melakukan tugas penjagaan. Setelah mereka sujud dan bangun, maka golongan yang lainnya duduk, lalu sujud menggantikan mereka yang telah sujud. Kemudian saf kedua maju menggantikan kedudukan saf pertama, dan saf pertama mundur menggantikan kedudukan saf yang kedua. Lalu Nabi ﷺ rukuk, maka mereka semuanya rukuk; dan Nabi ﷺ mengangkat kepalanya dari rukuk, maka mereka mengangkat kepalanya pula dari rukuknya. Hal ini dilakukan mereka secara bersama-sama. Kemudian Nabi ﷺ sujud bersama saf yang berada di belakangnya, sedangkan saf yang lain tetap berdiri menjaga mereka. Setelah mereka duduk, maka saf yang lainnya duduk, lalu sujud. Selanjutnya Nabi ﷺ salam bersama-sama mereka semua, dan selesailah shalatnya. Abu Ayyasy Az-Zuraqi mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menjalankan shalat ini dua kali; sekali di Asfan, dan yang lainnya di tanah tempat orang-orang Bani Sulaim.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Gundar, dari Syu’bah, dari Mansur dengan sanad yang sama dan dengan lafaz yang semisal.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dari Sa’id ibnu Mansur, dari Jarir ibnu Abdul Hamid. Sedangkan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadits Syu’bah dan Abdul Aziz ibnu Abdus Samad, semuanya dari Mansur dengan lafaz yang sama.

Sanad riwayat ini sahih dan mempunyai banyak syahid (penguat), antara lain ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Harb, dari Az-Zubaidi, dari Az-Zuhri, dari Abdullah ibnu Abdullah ibnu Atabah, dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ berdiri (untuk shalat), lalu orang-orang berdiri pula bersamanya. Nabi ﷺ bertakbir, maka mereka pun bertakbir mengikutinya; Nabi ﷺ rukuk, dan sebagian dari mereka rukuk bersamanya, kemudian Nabi ﷺ sujud yang diikuti oleh sebagian dari mereka. Kemudian Nabi ﷺ berdiri untuk rakaat yang kedua, maka berdirilah orang-orang yang tadinya sujud bersamanya dan tetap berdiri menjaga saudara-saudara mereka yang belum shalat. Lalu golongan yang lainnya bergabung bersama Nabi ﷺ rukuk dan sujud bersamanya. Semua pasukan berada dalam shalat, tetapi sebagian dari mereka menjaga sebagian yang lainnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Mu’az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, dari Sulaiman ibnu Qais Al-Yasykuri, bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang mengqasar shalat, bilakah diturunkan dan pada peristiwa apa? Jabir menjawab, Kami berangkat menghadap kafilah orang-orang Quraisy yang datang dari negeri Syam. Ketika kami berada di Nakhlah (sedang beristirahat), maka datanglah seorang lelaki dari kalangan musuh kepada Rasulullah ﷺ (secara diam-diam), lalu bertanya dengan nada mengancam, ‘Hai Muhammad, apakah kamu takut kepadaku?’ Nabi ﷺ menjawab, Tidak.’ Lelaki itu berkata lagi, Siapakah yang akan mencegahku darimu?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Allah yang akan melindungiku darimu.’ Maka pedang lelaki itu terjatuh, kemudian Nabi ﷺ berbalik mengancam dan memperingatinya. Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar semuanya berangkat dan menyandang senjatanya masing-masing. Tetapi waktu shalat tiba, maka diserukan untuk shalat. Rasulullah ﷺ shalat dengan segolongan orang dari kaum, sedangkan kaum yang lain menjaga mereka yang sedang shalat. Rasulullah ﷺ shalat bersama-sama saf yang ada di belakangnya sebanyak dua rakaat, kemudian mereka yang telah shalat bersamanya mundur ke belakang, lalu kedudukan mereka digantikan oleh orang-orang yang belum shalat, dan mereka menggantikan posisi orang-orang yang belum shalat itu untuk menjaganya. Lalu Nabi ﷺ shalat bersama mereka dua rakaat lagi, kemudian Nabi ﷺ salam.  Dengan demikian, Nabi ﷺ melakukan shalatnya sebanyak empat rakaat, sedangkan bagi masing-masing kaum dua rakaat. Pada hari itulah Allah menurunkan wahyu yang menerangkan tentang qasar shalat dan memerintahkan kepada orang-orang mukmin agar tetap membawa senjatanya.

Imam Ahmad meriwayatkannya pula. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr, dari Sulaiman ibnu Qais Al-Yasykuri, dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa Rasu¬lullah ﷺ berperang melawan orang-orang Hafsah. Lalu datanglah seorang lelaki dari kalangan mereka yang dikenal dengan nama Gauras ibnul Haris, sehingga berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dengan pedang yang terhunus, (saat itu Rasulullah ﷺ sedang istirahat). Lalu ia berkata, Siapakah yang akan melindungimu dariku? Nabi ﷺ menjawab, Allah. Maka saat itu juga pedang terjatuh dari tangan GaurasRasulullah ﷺ mengambil pedangnya, lalu berkata kepadanya, Siapakah yang akan melindungimu dariku? Lelaki itu menjawab, Semoga engkau adalah orang yang paling baik dalam membalasNabi ﷺ bersabda, Maukah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Lelaki itu menjawab, Tidak. Tetapi aku berjanji kepadamu, aku tidak akan memerangimu dan tidak akan membantu orang-orang yang memerangimu. Maka Rasulullah ﷺ melepaskannya. Gauras kembali kepada kaumnya, lalu mengatakan kepada mereka, Aku baru saja datang dari manusia yang paling baik. Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah ﷺ melakukan shalat khauf, dan orang-orang dibagi menjadi dua golongan; segolongan berada di hadapan musuh, dan segolongan yang lain shalat bersama Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ shalat dua rakaat bersama-sama mereka, lalu mereka bersalam. Sesudah itu mereka pergi dan menggantikan posisi golongan lain yang belum shalat menghadapi musuh, sedangkan mereka yang tadinya berjaga menghadapi musuh, bergabung shalat bersama Rasulullah ﷺ sebanyak dua rakaat. Maka Rasulullah ﷺ melakukan shalat empat rakaat, sedangkan bagi masing-masing kaum dua rakaat.

Hadits ini bila ditinjau dari segi sanadnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Qatn (yaitu Amr ibnul Haisam), telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Yazid Al-Faqir yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang dua rakaat dalam perjalanan, apakah keduanya adalah shalat qasar? Jabir ibnu Abdullah menjawab, Shalat dua rakaat dalam perjalanan adalah shalat yang sempurna. Sesungguhnya yang dimaksud dengan qasar hanyalah di saat peperangan berkecamuk, yaitu satu rakaat. Tatkala kami sedang bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan, tiba-tiba shalat didirikan. Maka Rasulullah ﷺ membuat satu saf barisan yang terdiri atas segolongan kaum, sedangkan segolongan yang lain berada di hadapan musuh. Maka Rasulullah ﷺ shalat bersama mereka satu rakaat dan sujud sebanyak dua kali bersama mereka. Kemudian orang-orang yang tidak ikut shalat meninggalkan posisinya untuk menggantikan mereka yang telah shalat, dan yang telah shalat menggantikan posisi mereka yang belum shalat. Lalu mereka yang belum shalat itu bersaf di belakang Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ shalat bersama mereka satu rakaat serta sujud dua kali bersama-sama mereka. Setelah itu Rasulullah ﷺ duduk (bertasyahhud) dan salam bersama orang-orang yang ada di belakangnya, dan salam pula mereka yang sedang dalam posisi berjaga. Dengan demikian, berarti Rasulullah ﷺ shalat dua rakaat, sedangkan masing-masing dari kedua kaum itu satu rakaat. Kemudian Jabir ibnu Abdullah membacakan firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka. (An-Nisaa’: 102), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Yazid Al-Faqir, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ shalat bersama mereka (yaitu shalat khauf). Untuk itu Rasulullah ﷺ mengatur mereka menjadi dua saf, satu saf berada di hadapannya, dan saf yang lain berada di belakangnya. Kemudian Rasulullah ﷺ shalat satu rakaat bersama mereka yang ada di belakangnya dengan dua kali sujud. Selanjutnya mereka yang telah shalat maju ke depan dan menggantikan posisi teman mereka yang belum shalat. Lalu mereka yang belum shalat datang dan menggantikan kedudukan mereka yang sudah shalat; maka Nabi ﷺ shalat bersama mereka satu rakaat lagi berikut dua kali sujud, setelah itu beliau salam. Maka Nabi ﷺ melakukan shalat dua rakaat, dan bagi mereka masing-masing satu rakaat.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadits Syu’bah. Hadits ini mempunyai jalur-jalur lain yang bersumber dari Jabir, dan di dalam kitab Sahih Muslim hadits ini diriwayatkan melalui sanad yang lain dan dengan lafaz yang lain pula. Jamaah telah meriwayatkannya di dalam kitab-kitab sahih, musnad, dan sunan dari Jabir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Na’im ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya sehubungan dengan firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka. (An-Nisaa’: 102) ia mengatakan, yang dimaksud adalah shalat khauf. Rasulullah ﷺ shalat dengan salah satu golongan dari dua golongan yang ada sebanyak satu rakaat, sedangkan golongan yang lain menghadap ke arah musuh sambil berjaga-jaga. Setelah itu golongan yang tadinya menghadapi musuh datang dan shalat bersama Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ shalat satu rakaat lagi bersama mereka, kemudian salam. Sesudah itu masing-masing dari kedua golongan melakukan shalat sendiri-sendiri masing-masing satu rakaat.

Selanjutnya : Perihal Shalat Khauf

Hadits ini diriwayatkan oleh jamaah dalam kitab-kitab mereka melalui jalur Ma’mar dengan lafaz yang sama. Hadits ini mempunyai banyak jalur periwayatan dari sejumlah sahabat.

Abu Bakar ibnu Murdawaih sehubungan dengan hadits ini mengetengahkan jalur-jalur dan lafaz-lafaznya dengan cara yang baik. Hal yang sama dilakukan pula oleh Ibnu Jarir. Hal ini akan kami catat di dalam Kitabul Ahkam Al-Kabir, insya Allah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaPerihal Shalat Khauf
Berita berikutnyaHadit-hadits Tentang Shalat dalam Perjalanan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here