Hadit-hadits Tentang Shalat dalam Perjalanan

0
128

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 101. Syariat mengqashar shalat ketika safar, dan penjelasan tentang cara shalat khauf; Hadit-hadits tentang shalat dalam perjalanan.

Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Magul, dari Abu Hanzalah Al-Hazza yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat safar (shalat dalam perjalanan). Maka ia menjawab bahwa shalat perjalanan itu adalah dua rakaat (yakni qasar). Lalu aku bertanya, Kalau demikian, bagaimanakah dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang mengatakan: ‘jika kalian takut diserang orang-orang kafir (An-Nisaa’: 101). Sedangkan kita sekarang dalam keadaan aman? Maka Ibnu Umar menjawab, Itulah sunnah, Rasulullah

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Minjab, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Qais ibnu Wahb, dari Abul Wadak yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar mengenai dua rakaat dalam perjalanan. Maka ia menjawab bahwa hal itu adalah rukhsah (keringanan) yang diturunkan dari langit; jika tidak menginginkannya, kalian boleh mengembalikan ke asalnya (yaitu empat rakaat).

Sebelumnya : Syariat Mengqashar Shalat ketika Safar

Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari Ibnu Sirin, dari Ibnu Abbas yang menceritakan, Kami shalat bersama Rasulullah di antara Mekah dan Madinah sebanyak dua rakaat-dua rakaat, padahal kami dalam keadaan aman dan tidak takut dengan apa pun di antara Mekah dan Madinah itu.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui Muhammad ibnu Abdul A’la, dari Khalid Al-Hazza, dari Abdullah ibnu Aun dengan lafaz yang sama.

Abu Umar ibnu Abdul Bar mengatakan, demikian pula telah diriwayatkan oleh Ayyub, Hisyam, dan Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang semisal.

Menurut kami, hal yang sama diriwayatkan oleli Imam Turmuzi dan Imam Nasai; semuanya dari Qutaibah, dari Hasyim, dari Mansur, dari Zazan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi berangkat dari Madinah menuju Mekah tanpa ada rasa takut kecuali kepada Tuhan semesta alam, tetapi beliau shalat dua rakaat (yakni qasar). Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini sahih.

وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَر، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من المدينة إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ. قُلْتُ: أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا؟ قَالَ: أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas menceritakan hadits berikut: Kami keluar bersama-sama Rasulullah dari Madinah ke Mekah, beliau shalat dua rakaat-dua rakaat hingga kami kembali ke Madinah. Aku (Yahya ibnu Abu Ishaq) bertanya, Apakah kalian tinggal di Mekah selama beberapa waktu? Anas menjawab, Kami bermukim selama sepuluh hari di Mekah.

Hal yang sama diketengahkan oleh jamaah lainnya melalui berbagai jalur dari Yahya ibnu Abu Ishaq Al-Hadrami dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Wa-ki telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Harisah ibnu Wahb Al-Khuza’i yang menceritakan bahwa ia pernah shalat dengan Nabi (yaitu shalat Lohor dan Asar) di Mina dan banyak orang yang bermakmum kepadanya, dalam keadaan yang aman, masing-masing dua rakaat.

Hadits ini diriwayatkan oleh jamaah selain Ibnu Majah melalui berbagai jalur dari Ibnu Abu Ishaq, dari Anas dengan lafaz yang sama.

Menurut lafaz yang ada pada Imam Bukhari, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, bahwa ia pernah mendengar Harisah ibnu Wahb menceritakan hadits berikut: Kami shalat bersama-sama Rasulullah dalam situasi yang aman sekali di Mina sebanyak dua rakaat.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, telah menceritakan kepadaku Nafi’, dari Abdullah ibnu Umar yang menceritakan bahwa ia shalat dua rakaat bersama Rasulullah (yakni di Mina), begitu pula pada masa Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan permulaan masa Khalifah Usman; kemudian Usman menggenapkannya empat rakaat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui hadits Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan dengan lafaz yang sama.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid, dari Al-A’masy, telah menceritakan kepada kami Ibrahim, bahwa ia pernah mendengar Abdur Rahman ibnu Yazid menceritakan asar berikut, Khalifah Usman ibnu Affan radiallahu ‘anhu shalat bersama kami di Mina empat rakaat. Lalu diceritakan kepada Abdullah ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu hal tersebut, maka Abdullah mengucapkan istirja’ (yakni inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Kemudian Abdullah mengatakan, ‘Aku shalat bersama Rasulullah di Mina dua rakaat, dan aku shalat bersama Abu Bakar di Mina dua rakaat, dan aku shalat bersama Umar ibnul Khattab di Mina dua rakaat pula. Aduhai, keberuntunganku dari dua rakaat yang pasti diterima ketimbang empat rakaat’.

Imam Bukhari meriwayatkannya melalui hadits As-Sauri, dari Al-A’masy dengan lafaz yang sama. Imam Muslim mengetengahkannya melalui berbagai jalur dari As-Sauri, antara lain dari Qutaibah, sama seperti yang disebut di atas.

Hadits-hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa qasar itu tidak disyaratkan adanya situasi yang menakutkan. Karena itu ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qasar dalam bab ini ialah qasar dari segi kaifiyah, bukan kammiyyah. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan As-Saddi, seperti yang akan diterangkan kemudian.

Mereka memperkuat alasannya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, dari Saleh ibnu Kaisan, dari Urwah ibnuz Zubair, dari Siti Aisyah radiallahu ‘anha yang menceritakan bahwa shalat itu pada asal mulanya difardukan dua rakaat-dua rakaat, baik dalam bepergian maupun di tempat tinggal. Kemudian shalat dalam bepergian ditetapkan, sedangkan shalat di tempat tinggal ditambahkan (menjadi empat rakaat).

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah ibnu Yusuf At-Tanisi, dan Muslim dari Yahya ibnu Yahya, sedangkan Abu Dawud dari Al-Qa’nabi, dan Imam Nasai dari Qutaibah; keempat-empatnya dari Malik dengan lafaz yang sama.

Timbul suatu pertanyaan dari mereka, apabila asal shalat dalam perjalanan adalah dua rakaat, bagaimanakah yang dimaksud dengan qasar kammiyyah dalam bab ini? Mengingat sesuatu yang merupakan asal tidak dapat disebut demikian (yakni istilah qasar, karena sejak semula sudah dua rakaat), seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: maka tidaklah mengapa kalian mengqasar shalat (kalian). (An-Nisaa’: 101)           ‘

Hal yang lebih jelas lagi penunjukannya dari ayat ini ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Sufyan serta Abdur Rahman, dari Zubaid Al-Yami, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Umar radiallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa shalat dalam perjalanan itu dua rakaat, shalat Hari Raya Kurban dua rakaat, shalat Hari Raya Fitri dua rakaat, dan shalat Jumat dua rakaat, sebagai shalat yang lengkap, bukan qasar (ditetapkan) melalui lisan Nabi Muhammad

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya melalui berbagai jalur dari Zubaid Al-Yami dengan lafaz yang sama. Sanad hadits ini harus dengan syarat Imam Muslim.

Imam Muslim menetapkan di dalam mukadimah kitab sahihnya bahwa Ibnu Abu Laila benar pernah mendengar hadits dari Umar. Sesungguhnya hal itu disebutkan dengan jelas dalam hadits ini, juga dalam hadits lainnya.

Hal ini, insya Allah benar, sekalipun Yahya ibnu Mu’in dan Abu Hatim serta Imam Nasai mengatakan bahwa Ibnu Abu Laila belum pernah mendengar dari Umar.

Menanggapi pendapat ini Imam Muslim mengatakan pula, Sesungguhnya telah terjadi dalam sebagian jalur Abu Ya’la Al-Mausuli melalui jalur As-Sauri, dari Zubaid, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari seorang yang siqah, dari Umar, lalu Imam Muslim mengetengahkannya. Imam Ibnu Majah disebutkan melalui jalur Yazid ibnu Abu Ziyad ibnu Abul Ja’d, dari Zubaid, dari Abdur Rahman, dari Ka’b ibnu Ujrah, dari Umar.

Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, Imam Abu Dawud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadits Abu Uwwanah Al-Waddah ibnu Abdullah Al-Yasykuri; Imam Muslim dan Imam Nasai menambahkan dan melalui Ayyub ibnu Aiz, keduanya dari Bukair ibnul Akhnasdari Mujahid, dari Abdullah ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian (Nabi Muhammad ) empat rakaat di tempat dan dua rakaat dalam perjalanan, sedangkan dalam keadaan khauf (takut) adalah satu rakaat. Sebagaimana beliau melakukan shalat qabliyah dan ba’diyah di tempat, demikian pula beliau melakukannya dalam shalat perjalanan.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadits Usamah ibnu Zaid, yang ia riwayatkan dari Tawus sendiri. Hal ini membuktikan bahwa hadits ini benar-benar bersumber dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu

Akan tetapi, hal ini tidaklah bertentangan dengan apa yang telah dikisahkan oleh Siti Aisyah radiallahu ‘anha yang mengatakan bahwa asal shalat itu adalah dua rakaat, tetapi pada shalat di tempat ditambahkan (dua rakaat lagi). Setelah keadaannya mapan, maka benarlah bila dikatakan bahwa shalat di tempat difardukan seperti apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas (yakni empat rakaat).

Akan tetapi, hadits Ibnu Abbas dan hadits Siti Aisyah sepakat mengatakan bahwa shalat safar itu adalah dua rakaat; dan bahwa dua rakaat tersebut merupakan shalat yang lengkap, bukan qasar, seperti juga yang diterangkan di dalam hadits Umar radiallahu ‘anhu

Bilamana demikian, berarti firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang mengatakan: maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar shalat (kalian). (An-Nisaa’: 101) Makna yang dimaksud ialah qasar kaifiyyah, seperti halnya dalam shalat Khauf. Karena itulah maka dalam firman selanjutnya disebutkan: jika kalian takut diserang orang-orang kafir. (An-Nisaa’: 101), hingga akhir ayat.

Dalam ayat berikutnya disebutkan pula: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka. (An-Nisaa’: 102), hingga akhir ayat.

Maka dalam ayat selanjutnya disebutkan tujuan utama dari qasar disertai dengan penyebutan gambaran dan tata caranya. Karena itulah ketika Imam Bukhari hendak mencatat Bab Shalat Khauf dalam kitab sahihnya, terlebih dahulu ia memulainya dengan menyebutkan firman-Nya: Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar shalat (kalian). (An-Nisaa’: 101) sampai dengan firman-Nya: Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kafir itu. (An-Nisaa’: 102)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Juwaibir dari Ad-Dahhak sehubungan dengan firman-Nya: maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar shalat (kalian). (An-Nisaa’: 101) Bahwa hal tersebut di saat peperangan, seorang lelaki yang berkendaraan shalat dengan dua takbir menghadap ke arah mana pun kendaraannya mengarah.

Asbat meriwayatkan dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya: Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa  kalian meng-qasar shalat (kalian), jika kalian takut. (An-Nisaa’: 101), hingga akhir ayat. Sesungguhnya jika kamu shalat dua rakaat dalam perjalanan, maka itulah batas qasar yang diperbolehkan baginya. Tidak diperbolehkan selain itu kecuali bila ia takut diserang oleh orang-orang kafir di saat ia melakukan shalat, maka qasar-nya boleh hanya dengan satu rakaat.

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar shalat (kalian). (An-Nisaa’: 101) Hal tersebut terjadi ketika Nabi dan para sahabatnya berada di Asfan, sedangkan pasukan kaum musyrik berada di Dajnan, maka mereka menjadi berhadap-hadapan. Nabi shalat Lohor bersama semua sahabatnya empat rakaat lengkap dengan rukuk dan sujudnya, dan mereka berdiri bersama-sama pula. Maka pasukan kaum musyrik hampir saja hendak menyerang dan menjarah barang-barang serta perabotan yang dibawa pasukan kaum muslim. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Mujahid, As-Saddi, dari Jabir dan Ibnu Umar. Ibnu Jarir memilih pendapat ini pula, karena ternyata ia mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan hal tersebut sesudah meriwayatkan hadits ini, dan inilah yang benar.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abdul Hakam, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zi-b, dari Ibnu Syihab, dari Umayyah ibnu Abdullah ibnu Khalid ibnu Usaid, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar, Kami menjumpai di dalam Kitabullah masalah qasar shalat khauf, tetapi kami tidak menjumpai qasar shalat safar. Maka Abdullah ibnu Umar menjawab, Sesungguhnya kami menjumpai Nabi kami mengamalkan perbuatan yang kita kerjakan sekarang. Shalat Khauf itu dinamakan shalat qasar, serta menginterpretasikan ayat dengan pengertian tersebut, bukan dengan pengertian qasar shalat untuk musafir.

Ibnu Umar menetapkan hal tersebut. Ia menyimpulkan dalil sehubungan dengan shalat qasar musafir hanya dari perbuatan pentasyri’, bukan dengan nas Al-Qur’an.

Ayat berikutnya : Penjelasan Tentang Cara Shalat Khauf

Hal yang lebih jelas dari itu ialah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Walid Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah ibnu Sammak Al-Hanafi yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat safar. Maka Ibnu Umar menjawab, Shalat safar adalah dua rakaat sebagai shalat yang lengkap, bukan qasar. Sesungguhnya shalat qasar hanyalah pada keadaan Khauf saja. Lalu aku (Al-Hanafi) bertanya, Bagaimanakah caranya shalat khauf itu? Ibnu Umar menjawab, Hendaknya imam shalat dengan segolongan orang sebanyak satu rakaat, kemudian mereka yang sudah shalat datang ke posisi mereka yang belum shalat untuk menggantikannya, lalu mereka yang belum shalat datang menggantikan kedudukan mereka yang sudah shalat, lalu imam shalat bersama golongan yang kedua satu rakaat lagi. Dengan demikian, imam melakukan shalat dua rakaat, sedangkan masing-masing dari dua golongan tersebut satu rakaat-satu rakaat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu Katsir

Berita sebelumyaPenjelasan Tentang Cara Shalat Khauf
Berita berikutnyaSyariat Mengqashar Shalat ketika Safar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here