Banyak Berzikir Sesudah Mengerjakan Shalat Khauf

0
33

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 103. Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan banyak berzikir sesudah mengerjakan shalat khauf. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisaa’ : 103)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa idzā qadlaitumush shalāta (maka apabila kalian telah menyelesaikan shalat), yakni apabila kalian telah menyelesaikan shalat khauf.

Fadz kurūllāha (ingatlah akan Allah), yakni hendaklah kalian shalat karena Allah.

Qiyāman (sambil berdiri), yakni bagi yang sehat.

Wa qu‘ūdan (dan sambil duduk), yakni bagi yang sakit.

Wa ‘alā junūbikum (dan sambil berbaring), yakni yang terluka dan sakit berat.

Fa idzathma’naηtum (kemudian apabila kalian telah merasa aman), yakni apabila kalian telah kembali ke rumah kalian, dan rasa takut telah hilang dari kalian.

Fa aqīmush shalāta (maka dirikanlah shalat itu [sebagaimana biasa]), yakni sempurnakanlah shalat itu empat rakaat.

Innash shalāta kānat (sesungguhnya shalat itu adalah), yakni shalat itu menjadi ….

‘Alal mu’minīna kitābam mauqūtā (kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman), yakni ketentuan wajib yang sudah ditentukan, baik dalam perjalanan maupun tidak. Untuk yang bepergian dua rakaat dan untuk yang tidak bepergian empat rakaat.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring[20]. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa)[21]. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya[22] atas orang-orang yang beriman.

[20] Yakni dalam setiap keadaan. Hal itu, karena baiknya hati, beruntung dan bahagianya terletak pada kembalinya mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, mencintai-Nya dan memenuhi hati dengan mengingat dan memuji-Nya. Yang demikian dapat dilakukan, salah satunya, bahkan yang paling besarnya adalah dengan shalat secara sempurna, di mana shalat itu pada hakikatnya merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Dalam shalat khauf yang ringkas tersebut tujuan dari shalat tidak tercapai karena hati dan badan ketika itu disibukkan oleh perkara lain, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintakan untuk menutupi kekurangan tersebut dengan dzikrullah dalam setiap keadaan. Manfaat dzikrullah sangat banyak; hati dan badan yang sebelumnya lemah karena memerangi musuh menjadi segar kembali dengannya, karena memang dzikrullah merupakan makanan bagi hati. Demikian juga dzikrullah dengan sikap sabar dan teguh merupakan sebab keberuntungan dan kemenangan, sebagaimana firman Allah, Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Terj. Al Anfaal: 45), dan hikmah-hikmah lainnya yang begitu banyak.

Faedah:

Tentang dzikr di ayat ini ada tiga pendapat ulama:

  • Pendapat pertama mengatakan, bahwa maksudnya kita diperintahkan juga berdzikr ketika di luar shalat, yakni ingatlah Allah dan tasbihkanlah di setiap saat dan di setiap waktu serta di setiap keadaan, baik malam maupun siang, secara sembunyi atau terang-terangan, pagi maupun petang, di darat maupun di lautan, ketika safar maupun ketika hadhar (tidak safar), ketika sehat maupun ketika sakit dan pada setiap keadaan.

Maksud ayat tersebut bukanlah sebagaimana yang ditafsirkan oleh orang awam seperti menggoyang-goyang kepala ketika berdzikr atau mengendalikan nafas ketika berdzikr dsb. hal ini sama sekali tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat dan para tabiin.

  • Pendapat kedua mengatakan, bahwa maksudnya apabila dalam shalat kita tidak mampu berdiri, maka shalatlah sambil duduk dan bila tidak mampu sambil duduk maka shalatlah sambil berbaring.
  • Pendapat ketiga mengatakan, bahwa maksudnya rasa takut kepada Allah (yang disertai rasa rajaa’/berharap dan cinta) meliputi mereka, baik ketika berdiri yakni ketika mereka melakukan aktifitas harian, maupun ketika duduk yakni di saat santai dan ketika berbaring, yakni ketika tidur.

[21] Yakni secara sempurna, baik zhahir maupun batin, terpenuhi syarat, rukun, khusyu’ dan segala yang menyempurnakannya.

[22] Oleh karena itu tidak boleh dilewatkan waktunya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan apabila kamu telah menyelesaikan shalat, maka ingatlah Allah) dengan membaca tahlil dan tasbih (baik di waktu berdiri maupun di waktu duduk dan berbaring) tegasnya pada setiap saat. (Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram) artinya aman dari bahaya (maka dirikanlah shalat itu) sebagaimana mestinya. (Sesungguhnya shalat itu atas orang-orang yang beriman adalah suatu kewajiban) artinya suatu fardu (yang ditetapkan waktunya) maka janganlah diundur atau ditangguhkan mengerjakannya. Ayat berikut turun tatkala Rasulullah ﷺ mengirim satu pasukan tentara untuk menyusul Abu Sofyan dan anak buahnya ketika mereka kembali dari perang Uhud. Mereka mengeluh karena menderita luka-luka:

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan banyak berzikir sesudah mengerjakan shalat khauf, sekalipun zikir sesudah shalat disyariatkan dan dianjurkan pula dalam keadaan lainnya, tetapi dalam keadaan khauf (perang) lebih dikukuhkan, mengingat dalam shalat khauf banyak terjadi keringanan dalam rukun-rukunnya, juga banyak rukhsah (kemurahan) padanya sehingga banyak pekerjaan yang dilakukan padanya, seperti datang dan pergi dan lain-lainnya yang tidak boleh dilakukan dalam shalat lainnya. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  dalam firman-Nya sehubungan dengan bulan-bulan haram, yaitu:

فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu. (At-Taubah: 36)

Sekalipun hal tersebut dilarang pula pada selain bulan-bulan haram, tetapi larangan ini lebih kuat dalam bulan-bulan haram, mengingat keharaman dan keagungannya yang sangat. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Maka apabila kalian telah menyelesaikan shalat (kalian), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. (An-Nisaa’: 103)

Maksudnya, ingatlah Allah dalam semua keadaan kalian.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ

Kemudian apabila kalian sudah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu. (An-Nisaa’: 103)

Dengan kata lain, bila kalian telah merasa aman dan tidak takut lagi, sehingga ketenangan kalian peroleh.

فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ

Maka dirikanlah shalat itu. (An-Nisaa’: 103)

Yaitu sempurnakanlah shalat dan dirikanlah ia sebagaimana kalian diperintahkan untuk melakukannya, lengkap dengan rukun-rukun, khusyuk, rukuk, sujud, dan semua urusannya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

إِنَّ الصَّلاةَ كانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتاباً مَوْقُوتاً

Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An-Nisaa’: 103)

Menurut Ibnu Abbas makna yang dimaksud ialah yang difardukan. Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa shalat itu mempunyai waktu, sama seperti ibadah haji mempunyai waktu yang tertentu baginya.

Hal yang sama diriwayatkan dari Mujahid, Salim ibnu Abdullah, Ali ibnul Husain, Muhammad ibnu Ali, Al-Hasan, Muqatil, As-Saddi, dan Atiyyah Al-Aufi.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An-Nisaa’: 103) Bahwa Ibnu Mas’ud mengatakan, Shalat itu mempunyai waktu-waktu tertentu, sama halnya dengan ibadah haji.

Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An-Nisaa’: 103) Yakni mempunyai waktunya masing-masing. Dengan kata lain, apabila salah satu waktunya pergi,  datanglah waktu yang lain.

Selanjutnya Allah Ta‘ala memotivasi mereka (kaum mukminin) untuk mencari Abu Sufyan dan kawan-kawannya seusai Perang Uhud. Dia Berfirman:

Ayat berikutnya : Perintah Allah kepada Kaum Mukmin Agar Tidak Lemah

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaPerintah Allah kepada Kaum Mukmin Agar Tidak Lemah
Berita berikutnyaJika Mendapat Sesuatu Kesusahan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here