Prinsip-prinsip Tentang Keadilan dan Menegakkan Kebenaran

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 105

0
39

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 105. Prinsip-prinsip tentang keadilan dan menegakkan kebenaran dalam hukum dan peradilan, serta keharusan tidak memihak dalam menetapkan sesuatu hukum. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab (Al-Qu’ran ) kepadamu dengan membawa kebenaran, agar kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang khianat, (Q.S. An-Nisaa’ : 105)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innā aηzalnā ilaikal kitāba (sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu), yakni menurunkan Jibril ‘alaihis salam membawa Al-Qu’ran kepadamu.

Bil haqqi (dengan membawa kebenaran), yakni untuk menjelaskan yang hak dan yang batil.

Li tahkuma bainan nāsi (supaya kamu mengadili di antara manusia) dengan benar, yaitu antara Thu‘mah dan Zaid bin Samin.

Bimā arākallāh (dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu), yakni menggunakan apa yang telah Diajarkan dan dijelaskan Allah Ta‘ala dalam Al-Qu’ran .

Wa lā takul lil khā-inīna khashīmā (dan janganlah kamu menjadi pembela bagi orang-orang yang khianat), yakni janganlah kamu menjadi penolong orang yang mencuri, yaitu Thu‘mah.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab (Al-Qu’ran ) kepadamu dengan membawa kebenaran[4], agar kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu[5], dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang khianat,[6]

[4] Yakni ketika diturunkan, Al-Qu’ran  terpelihara dari para setan yang hendak menyelipkan kebatilan, bahkan mereka tidak dapat mendekatinya. Al-Qu’ran  turun dengan kebenaran, mengandung kebenaran, beritanya benar, perintah dan larangannya pun adil.

[5] Tidak dengan hawa nafsumu. Oleh karena itu, Al-Qu’ran  merupakan penyelesai masalah di tengah-tengah manusia, baik dalam masalah ‘aqidah, hukum, masalah darah, kehormatan, harta dan hak-hak lainnya.

[6] Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hakim harus berilmu dan adil. Dalil berilmu berdasarkan firman Allah, dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan dalil adil berdasarkan firman Allah, dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang khianat, yakni janganlah kamu membela orang yang kamu ketahui khianatnya, orang yang mendakwakan sesuatu padahal bukan miliknya, orang yang mengingkari hak yang ditanggungnya, baik kamu mengetahuinya maupun berdasarkan perkiraanmu. Dalam ayat ini terdapat dalil haramnya membela kebatilan dan menjadi pengacara untuk orang yang batil. Dalam ayat tersebut juga terdapat dalil bolehnya menjadi pengacara bagi orang yang tidak diketahui berbuat zalim.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu) yakni Al-Qu’ran (dengan benar) kaitannya ialah kepada menurunkan (agar kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu). (Dan janganlah kamu menjadi pembela bagi orang yang berkhianat) seperti Thu’mah dan menjadi penentang mereka atau pihak lawannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman, ditujukan kepada Rasul-Nya:

إِنّا أَنزلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran. (An-Nisaa’: 105)

Kitab itu adalah perkara yang hak dari Allah; di dalam berita dan perintah serta larangannya mengandung perkara yang hak.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِما أَراكَ اللَّهُ

Supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu. (An-Nisaa’: 105)

Ayat ini dijadikan dalil oleh kalangan ulama Usul yang berpendapat bahwa Nabi ﷺ boleh memutuskan peradilan dengan ijtihad, berdasarkan makna ayat ini.

Berdasarkan apa yang telah disebut di dalam kitab Sahihain, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Zainab binti Ummu Salamah, dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mendengar suara gaduh persengketaan di depan pintu rumahnya. Maka beliau keluar menemui mereka, dan bersabda:

أَلَا إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّمَا أَقْضِي بِنَحْوٍ مِمَّا أَسْمَعُ، وَلَعَلَّ أَحَدَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِي لَهُ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هي قطعة من النار فَلْيَحْمِلْهَا أَوْ لِيَذَرْهَا

Ingatlah, sebenarnya aku adalah seorang manusia, dan aku hanya memutuskan peradilan sesuai dengan apa yang aku dengar. Dan barangkali seseorang dari kalian adalah orang yang lebih lihai dalam beralasan daripada sebagian yang lain, lalu aku memutuskan peradilan untuk (kemenangan)nya. Maka barang siapa yang aku telah putuskan peradilan untuknya terhadap hak seorang muslim, sesungguhnya hal itu hanyalah sepotong api neraka. Karena itu, hendaklah ia membawanya atau membiarkannya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: جَاءَ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ يَخْتَصِمَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوَارِيثَ بَيْنَهُمَا قَدْ دَرَسَتْ، لَيْسَ عِنْدَهُمَا بَيِّنَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ ألْحَن بحُجَّتِه مِنْ بَعْضٍ، وَإِنَّمَا أَقْضِي بَيْنَكُمْ عَلَى نَحْوٍ مِمَّا أَسْمَعُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ، يَأْتِي بِهَا إِسْطَامًا فِي عُنُقِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَبَكَى الرَّجُلَانِ وَقَالَ كُلٌّ مِنْهُمَا: حَقِّي لِأَخِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّا إِذَا قُلْتُمَا فَاذْهَبَا فَاقْتَسِمَا، ثُمَّ تَوَخَّيَا الْحَقَّ، ثُمَّ اسْتَهِمَا، ثُمَّ ليُحْللْ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْكُمَا صَاحِبَهُ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Usamah ibnu Zaid, dari Abdullah ibnu Rafi’, dari Ummu Salamah yang menceritakan bahwa ada dua orang lelaki dari kalangan Anshar datang mengadukan persengketaan mereka kepada Rasulullah mengenai warisan yang ada di antara keduanya di masa yang lalu, sedangkan masing-masing tidak mempunyai bukti. Maka Rasulullah bersabda: Sesungguhnya kalian mengadukan perkara kalian kepadaku, dan sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, barangkali salah seorang dari kalian lebih lihai dalam alasannya daripada yang lain, dan aku hanya memutuskan berdasarkan apa yang aku dengar. Maka barang siapa yang aku putuskan sesuatu untuk kemenangannya menyangkut hak saudaranya, janganlah dia mengambilnya. Karena sebenarnya aku memberikan kepadanya sepotong api neraka, yang akan ia bawa seraya dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat. Maka kedua lelaki itu menangis, lalu masing-masing mengatakan, Hakku untuk saudaraku. Lalu Rasulullah bersabda: Mengapa tidak kalian katakan sejak semula, sekarang pergilah dan berbagilah kalian, dan tegakkanlah perkara yang hak di antara kalian berdua, kemudian bagikanlah di antara kamu berdua dan hendaklah masing-masing dari kalian menghalalkan kepada temannya.

Imam Abu Dawud meriwayatkannya melalui hadits Usamah ibnu Zaid dengan lafaz yang sama, tetapi ditambahkan:

إِنِّي إِنَّمَا أَقْضِي بَيْنَكُمَا بِرَأْيٍ فِيمَا لَمْ يَنْزِلْ عَلَيَّ فِيهِ

Sesungguhnya aku hanya memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan pendapatku sehubungan dengan hal-hal yang tidak diturunkan wahyu kepadaku mengenainya.

Ayat berikutnya: Mohonlah Ampun kepada Allah 

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui Al-Aufi, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa segolongan orang dari kalangan Ansar ikut berperang bersama-sama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan. Lalu baju besi salah seorang dari mereka ada yang mencuri. Menurut dugaanku, pencuri tersebut adalah seseorang dari kalangan Ansar. Maka pemilik baju besi itu datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, Sesungguhnya Tu’mah ibnu Ubairiq telah mencuri baju besiku. Setelah si pencuri melihat hal tersebut, maka dengan sengaja ia menaruh baju besi itu di dalam rumah seseorang yang tidak mencuri (tanpa sepengetahuannya), lalu ia datang kepada segolongan dari kaum kerabatnya, Sesungguhnya aku sembunyikan baju besi itu dengan menaruhnya di rumah si Fulan, maka baju besi itu kelak akan dijumpai di dalam rumahnya.’ Lalu keluarga si pencuri berangkat menemui Nabi ﷺ di malam hari dan mengatakan, Wahai Nabi Allah, sesungguhnya teman kami tidak bersalah, dan pemilik baju besi itu (yakni si Fulan) telah mengetahui tuduhan yang dilancarkannya. Maafkanlah teman kami di mata orang banyak dan belalah dia; karena sesungguhnya jika ia tidak dipelihara oleh Allah melaluimu, niscaya dia akan binasa. Rasulullah ﷺ bangkit dan membersihkan namanya serta memaafkannya di hadapan orang banyak. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. (An-Nisaa’: 105-107);

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaMohonlah Ampun kepada Allah
Berita berikutnyaLKPD Mengidentifikasi Rima dari Puisi Rakyat