Tidak Dapat Bersembunyi dari Allah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 108

0
43

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 108. Gambaran tentang keadaan kaum munafik dan peringatan kepada kaum mukmin agar tidak berakhlak dengan akhlak mereka. Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan. (Q.S. An-Nisaa’ : 108)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yastakhfūna (mereka bersembunyi), yakni mereka merasa malu.

Minan nāsi (dari manusia) karena melakukan pencurian.

Wa lā yastakhfūna minallāhi (tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah), yakni tetapi mereka tidak merasa malu terhadap Allah Ta‘ala.

Wa huwa ma‘ahum (padahal Allah beserta mereka), yakni mengetahui keadaan mereka.

Idz yubayyitūna mā lā yardlā minal qaul (ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak Allah Ridai), yakni ketika pada suatu malam mereka menyusun dan mengucapkan perkataan yang tidak Allah ridai dan mereka pun tidak meridai-Nya.

Wa kānallāhu bimā ya‘malūna (dan adalah Allah terhadap apa yang mereka perbuat), yakni terhadap ucapan mereka.

Muhīthā (Maha Meliputi), yakni Maha Mengetahui.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya[10]. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan[11].

[10] Hal ini muncul karena kelemahan iman dan kurangnya keyakinan, sehingga rasa takut kepada manusia lebih besar daripada rasa takut kepada Allah, oleh karenanya mereka berusaha mencari cara, baik yang mubah atau yang haram agar tidak terbuka aibnya di tengah-tengah manusia, mereka tidak peduli bahwa Allah melihat dan menyaksikan mereka. Padahal Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya, di mana Dia mengetahui seluk-beluk mereka, khususnya ketika mereka merencanakan makar jahat, yaitu rencana membersihkan orang yang bersalah dan melemparkan kesalahan kepada orang yang tidak bersalah serta berusaha agar Beliau melakukan apa yang mereka rencanakan.

[11] Ilmu-Nya meliputi apa yang mereka kerjakan, namun demikian Dia tidak segera menghukum mereka, bahkan menundanya dan menawarkan tobat kepada mereka serta memperingatkan mereka untuk berhenti dari dosa, karena hal itu menyebabkan mereka mendapat hukuman yang berat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mereka bersembunyi) maksudnya Thu’mah dan kaumnya disebabkan malu (dari manusia dan tidak bersembunyi dari Allah padahal Dia bersama mereka) yakni dengan ilmu-Nya (ketika pada suatu malam mereka menetapkan) artinya memutuskan secara rahasia (suatu rencana yang tidak diridai-Nya) yaitu rencana mereka mengucapkan sumpah tidak mencuri dan menuding si Yahudi melakukannya. (Dan Allah Maha Meliputi apa yang kamu kerjakan) maksudnya ilmu-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman, ditujukan kepada orang-orang yang datang kepada Rasulullah ﷺ seraya menyembunyikan kedustaan, yaitu: mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah. (An-Nisaa’: 108), hingga akhir ayat berikutnya. Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang datang kepada Rasulullah ﷺ seraya menyembunyikan sesuatu untuk membela orang yang berbuat khianat. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman: Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya din sendiri. (An-Nisaa’: 110), hingga akhir ayat. Yang dimaksud ialah mereka yang datang kepada Rasulullah ﷺ seraya menyembunyikan kedustaan. Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman: Barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (An-Nisaa’: 112) Maksudnya, si pencuri tersebut dan orang-orang yang membelanya.

Akan tetapi konteks hadits ini garib.

Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya telah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang pencuri dari kalangan Bani Ubairiq. Mereka mengetengahkan kisahnya dengan konteks yang berbeda-beda, tetapi pengertiannya berdekatan.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan kisah ini secara panjang lebar. Untuk itu Abu Isa At-Turmuzi dalam kitab Jami’-nya dalam tafsir ayat ini dan Imam Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ahmad ibnu Abu Syu’aib Abu Muslim Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Asim, dari Umar ibnu Qatadah, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Qatadah ibnu Nu’man radiallahu ‘anhu) yang menceritakan hadits berikut:

Dalam salah satu ahli bait dari kalangan kami yang dikenal dengan nama Bani Ubairiq terdapat orang yang bernama Bisyr, Basyir, dan Mubasysyir. Basyir adalah seorang munafik, dia mengucapkan syair untuk mengejek sahabat-sahabat Rasul ﷺ, kemudian ia menisbatkannya kepada seseorang dari kalangan orang-orang Badui.

Lalu ia mengatakan bahwa si Fulan telah mengatakan anu dan anu, dan si Fulan yang lain telah mengatakan demikian dan demikian. Akan tetapi, bila sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ mendengar syair tersebut, mereka berkata, Demi Allah, tidak ada orang yang mengatakan syair ini kecuali lelaki yang jahat itu, atau kalimat yang serupa. Mereka mengatakan bahwa yang mengatakannya adalah Ibnul Ubairiq. Bani Unairiq adalah suatu keluarga yang miskin lagi sengsara, baik di masa Jahiliah maupun di masa Islam.

Di Madinah makanan pokok mereka adalah buah kurma dan gandum. Seseorang yang mempunyai kemampuan, bila datang kafilah dari negeri Syam (yaitu dari Darmak), dia membeli makanan pokoknya dari kafilah tersebut khusus untuk dirinya. Adapun anak-anak mereka, makanan pokoknya adalah kurma dan gandum. Ketika datang kafilah dari Syam, pamanku (yaitu Rifa’ah ibnu Zaid) membeli sepikul makanan pokok yang dibawa kafilah itu dari Darmak, lalu ia memasukkannya ke dalam pedaringan (gentong beras); di dalam pedaringan itu terdapat pula senjata, baju besi, dan pedang.

Pada suatu malam sesudah pembelian itu, rumah pamanku kemasukan pencuri yang masuk dari bagian bawah. Si pencuri membobok pedaringan dan mengambil makanan berikut senjata. Pada pagi harinya, pamanku Rifa’ah datang kepadaku melaporkan, Hai anak saudaraku, sesungguhnya tadi malam kita kemalingan, tempat penyimpanan makanan kita dibobok dan pencuri membawa makanan serta senjata kita. Lalu kami menyelidiki di sekitar perkampungan itu. Kami bertanya ke sana dan kemari.

Akhirnya ada yang mengatakan bahwa mereka melihat Bani Ubairiq menyalakan api (memasak) tadi malam, dan mereka berpendapat bahwa yang mereka masak itu tiada lain makanan curian dari kami. Ketika kami sedang melakukan penyelidikan, yang saat itu Bani Ubairiq ada di dalam perkampungan itu, mereka mengatakan, Demi Allah, kami merasa yakin orang yang mencuri makanan kalian itu tiada lain Labid ibnu Sahl, seorang lelaki dari kalangan kita yang dikenal baik dan Islam.

Ketika Labid mendengar tuduhan itu, dengan serta merta ia menghunus pedangnya dan berkata, Aku dikatakan mencuri? Demi Allah, kalian akan merasakan pedang ini atau kalian harus membuktikan pencurian ini. Mereka berkata, Tenanglah, menjauhlah engkau dari kami, engkau bukan pencurinya. Maka kami terus melakukan penyelidikan di perkampungan itu sampai kami tidak meragukan lagi bahwa mereka adalah pencurinya.

Kemudian pamanku berkata kepadaku, Hai keponakanku, sebaiknya engkau datang saja kepada Rasulullah ﷺ dan berbicara kepadanya mengenai hal tersebut. Qatadah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, Sesungguhnya ada suatu keluarga dari kalangan kami yang miskin, mereka mengincar rumah pamanku Rifa’ah ibnu Zaid, lalu mereka mencuri apa yang tersimpan di dalam tempat makanannya; mereka mengambil senjata dan makanan yang ada padanya. Maka aku memohon kepadamu untuk mengatakan kepada mereka, hendaknya mereka mengembalikan kepada kami senjata kami. Adapun mengenai makanan, maka kami relakan. Nabi ﷺ bersabda, Aku akan melaksanakan hal tersebut.

Tetapi ketika Bani Ubairiq mendengar hal tersebut, mereka datang kepada seorang lelaki dari kalangan mereka yang dikenal dengan nama Usaid ibnu Urwah, lalu mereka berbicara kepadanya mengenai hal itu. Maka mereka sepakat untuk mengadakan pembelaan di hadapan Nabi ﷺ, lalu mereka berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah ibnun Nu’man dan pamannya datang kepada suatu keluarga dari kalangan kami yang dikenal sebagai ahli Islam dan orang baik-baik; lalu mereka menuduhnya berbuat mencuri, tanpa bukti dan saksi.

Qatadah melanjutkan kisahnya, Maka aku datang lagi kepada Nabi ﷺ untuk membicarakan hal itu, tetapi Nabi ﷺ bersabda (kepadaku), ‘Kamu telah datang ke suatu keluarga yang dikenal di kalangan mereka sebagai pemeluk Islam dan orang baik-baik, lalu kamu tuduh mereka mencuri tanpa bukti dan tanpa saksi’. Qatadah mengatakan, Lalu aku kembali, dan sesungguhnya perasaanku saat itu benar-benar rela mengeluarkan sebagian dari hartaku, tanpa harus membicarakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ

Lalu pamanku datang kepadaku dan bertanya, ‘Hai keponakanku, apakah yang telah kamu lakukan?’ Lalu aku menceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ kepadaku. Maka pamanku berkata, ‘Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan’. Tetapi tidak lama kemudian turunlah wahyu Al-Qur’an yang mengatakan seperti berikut, yaitu: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan jangan-lah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (An-Nisaa’: 105) dan mohonlah ampun kepada Allah. (An-Nisaa’: 106) Yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang berkhianat’ itu adalah Bani Ubairiq. Yaitu memohon ampun dari apa yang telah kamu katakan kepada Qatadah.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. (An-Nisaa’: 106-107) sampai dengan firman-Nya: Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisaa’: 110) Dengan kata lain, seandainya mereka meminta ampun, niscaya mereka diampuni. Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemudaratan) dirinya sendiri. (An-Nisaa’: 111) sampai dengan firman-Nya: dosa yang nyata. (An-Nisaa’: 112) Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang ditujukan kepada Labid, yaitu: Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. (An-Nisaa’: 113) sampai dengan firman-Nya: maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An-Nisaa’: 114)

Ketika Al-Qur’an telah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, senjata itu diserahkan kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ mengembalikannya kepada Rifa’ah. Qatadah mengatakan, Aku datang kepada pamanku dengan membawa senjata tersebut, sedangkan pamanku adalah orang yang sudah lanjut usia atau telah tuna netra sejak zaman Jahiliah; ‘atau’ di sini mengandung makna ragu-ragu dari pihak Abu Isa, dan aku menilai Islam pamanku masih diragukan. Ketika aku menyerahkan senjata itu kepadanya, ia berkata, Hai keponakanku, senjata itu kusedekahkan buat sabilillah. Maka aku merasa yakin bahwa Islamnya adalah benar. Setelah Al-Qur’an mengenai hal tersebut diturunkan, maka Basyir bergabung dengan orang-orang musyrik, lalu ia bertempat tinggal di rumah Sulafah binti Sa’d ibnu Sumayyah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya:

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An-Nisaa’: 115-116)

Setelah Basyir tinggal di rumah Sulafah binti Sa’d, maka Hissan ibnu Sabit mengejeknya melalui bait-bait syair. Maka Sulafah mengambil pelana unta kendaraan Basyir dan memanggulnya di atas kepala, lalu ia keluar rumah dan mencampakkan pelana itu ke padang pasir. Kemudian ia berkata, Kamu menghadiahkan kepadaku syairnya Hissan (yang pedas), kamu bukan datang kepadaku dengan kebaikan.

Lafaz hadits ini menurut apa yang ada pada Imam Turmuzi disebutkan bahwa hadits ini garib, kami tidak mengetahui seseorang pun yang meng-isnad-kan (menyandarkan)nya selain Muhammad ibnu Salamah Al-Harrani.

Yunus ibnu Bukair dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah meriwayatkannya melalui Muhammad ibnu Ishaq, dari Asim ibnu Umar ibnu Qatadah secara mursal, tanpa menyebutkan dari ayahnya, dari kakeknya.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Hasyim ibnul Qasim Al-Harrani, dari Muhammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama dengan sebagiannya.

Ibnul Munzir di dalam kitab tafsirnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail (yakni As-Saiq), telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Syu’aib Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah, lalu ia mengetengahkan hadits ini dengan panjang lebar.

Abusy Syekh Al-Asbahani di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan hadits ini dari Muhammad ibnu Ayyasy ibnu Ayyub dan Al-Hasan ibnu Ya’qub; keduanya dari Al-Hasan ibnu Ahmad ibnu Abu Syu’aib Al-Harrani, dari Muhammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama. Kemudian di akhirnya ia mengatakan bahwa Muhammad ibnu Salamah mengatakan, Telah mendengar hadits ini dariku Yahya ibnu Mu’in, Ahmad ibnu Hambal, dan Ishaq ibnu Israil.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Hakim Abu Abdullah An-Naisaburi di dalam kitabnya yang berjudul Al-Mustadrak, dari Ibnu Abbas Al-Asam, dari Ahmad ibnu Abdul Jabbar Al-Utaridi, dari Yunus ibnu Bukair, dari Muhammad ibnu Ishaq secara makna lagi lebih lengkap daripada yang lain, dan di dalamnya terdapat syair. Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ

Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah. (An-Nisaa’: 108)

Ayat ini mengingkari perbuatan orang-orang munafik, karena mereka menyembunyikan keburukan-keburukannya dari mata manusia, agar manusia tidak ingkar terhadap mereka (percaya kepada mereka), tetapi mereka berani terang-terangan melakukan hal tersebut terhadap Allah, karena Allah melihat semua rahasia mereka dan mengetahui apa yang terkandung di dalam hati sanubari mereka.

Ayat berikutnya: Berdebat untuk Membela dalam Kehidupan Dunia 

Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak Allah ridai. Adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (An-Nisaa’: 108)

Ayat ini mengandung makna ancaman dan peringatan terhadap mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here