Berdebat untuk Membela dalam Kehidupan Dunia

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 109

0
48

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 109. Gambaran tentang keadaan kaum munafik dan peringatan kepada kaum mukmin agar tidak berakhlak dengan akhlak mereka; berdebat untuk membela dalam kehidupan dunia. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلا

Itulah kamu! Kamu berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini, tetapi siapa yang akan menentang Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (Q.S. An-Nisaa’ : 109)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Hā aηtum hā-ulā-i (beginilah kalian) wahai kaum Thu‘mah, yaitu Bani Zhafar.

Jādaltum (kalian berdebat), yakni kalian berbantahan.

‘Anhum (tentang mereka), yakni tentang Thu‘mah.

Fil hayātid dun-yā, fa may yujādilullāha (dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah), yakni yang akan berdebat dengan Allah.

‘Anhum (tentang mereka), yakni tentang Thu‘mah.

Yaumal qiyāmati am may yakūnū ‘alaihim wakīlā (pada hari kiamat. Atau siapakah yang akan menjadi pelindung mereka), yakni siapakah yang akan menanggung Thu‘mah dari azab Allah Ta‘ala.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Itulah kamu! Kamu berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini, tetapi siapa yang akan menentang Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat?[12] Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?[13]

[12] Siapakah yang berani menentang Allah ketika hujjah telah mengenai mereka? Siapakah yang berani menentang Allah; Tuhan yang mengetahui segala yang rahasia dan yang tersembunyi? Siapakah yang berani menentang Allah; Tuhan yang mengadakan saksi kuat yang tidak mungkin diingkari; lisan, tangan dan kaki dijadikan saksi?

[13] Dalam ayat ini terdapat bimbingan agar seseorang membandingkan antara kepentingan dunia yang didapatkan dari meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan dengan hilangnya pahala di akhirat yang dan hukuman yang akan diperoleh. Oleh karena itu, ketika dirinya diperintahkan oleh hawa nafsunya meninggalkan perintah Allah, ia berkata kepada dirinya, Mengapa anda meninggalkan perintah-Nya, padahal apa manfaat yang kamu dapatkan dari meninggalkan perintah? Betapa banyak pahala di akhirat yang luput bagi anda? Bahkan karena meninggalkan perintah itu, anda mendapatkan kesengsaraan, kerugian dan kekecewaan? Demikian juga apabila dirinya diajak kepada kesenangan-kesenangan yang haram, dia berkata kepada dirinya, Ya, anda memang mengerjakan perbuatan yang anda sukai, namun kesenangannya hanya sementara, dan setelahnya kesedihan, penderitaan dan penyesalan, tidak mendapatkan pahala dan malah mendapatkan siksa. Cukuplah sebagian dari akibat itu membuat orang yang berakal berhenti dari mengerjakannya. Memikirkan hal ini termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, dan seperti inilah orang yang berakal secara hakiki, berbeda dengan orang yang mengaku berakal, namun tidak seperti itu, sehingga ia mendahulukan kesenangan sementara daripada kesenangan yang kekal.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Demikianlah, kamu ini) hai (kamu sekalian) diarahkan kepada kaum Thu’mah (berdebat untuk membela mereka) yakni membela Thu’mah dan keluarganya; ada pula yang membaca `anhu artinya Thu’mah saja (dalam kehidupan dunia. Maka siapakah yang akan berdebat dengan Allah untuk membela mereka di hari kiamat nanti) artinya ketika Dia menyiksa mereka (atau siapakah yang akan menjadi pelindung mereka kelak?) yakni yang akan mengurus persoalan mereka dan mempertahankan mereka? Tegasnya tidak seorang pun yang mampu berbuat demikian.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Beginilah kalian, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. (An-Nisaa’: 109)

Ayat berikutnya: Ajakan untuk Bertobat dan Beristighfar 

Dengan kata lain, misalnya mereka menang dalam perkaranya berkat apa yang mereka kemukakan atau berkat alasan-alasan yang mereka ajukan kepada para hakim yang menjalankan tugasnya menurut apa yang ada pada lahiriahnya saja, sekalipun mereka itu dianggap beribadah di dalam pekerjaannya. Maka apakah yang akan dilakukan oleh mereka kelak di hari kiamat di hadapan peradilan Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang mengetahui semua rahasia dan yang tidak tampak? Siapakah yang akan membela mereka pada hari kiamat itu untuk memperkuat pengakuan mereka? Dengan kata lain, makna yang dimaksud ialah tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan: Atau siapakah yang jadi pelindung  mereka  (terhadap  siksa Allah)? (An-Nisaa’: 109)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here