Wasiat Allah kepada Generasi Terdahulu dan Yang Kemudian

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 131-132

0
49

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’  ayat 131-132.  Wasiat Allah kepada generasi terdahulu dan yang kemudian untuk bertakwa kepada-Nya, yaitu dengan beribadah kepada-Nya saja. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا (١٣١) وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا (١٣٢)

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S. An-Nisaa’ : 131)

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemeliharanya. (Q.S. An-Nisaa’ : 132)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lillāhi mā fis samāwāti (Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit), yakni segala perbendaharaan yang ada di langit.

Wa mā fil ardl (dan segala apa yang ada di bumi), yakni segala perbendaharaan yang ada di bumi.

Wa laqad wash-shainal ladzīna ūtul kitāba ming qablikum (dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian), yakni memerintahkan pemilik Taurat dalam Taurat, pemilik Injil dalam Injil, begitu pula pemilik kitab-kitab lainnya.

Wa iyyākum (dan juga kepada kalian), hai umat Muhammad dalam kitab kalian.

Anittaqullāh (agar bertakwa kepada Allah), yakni hendaknya kalian taat kepada Allah Ta‘ala.

Wa iη takfurū (akan tetapi, jika kalian kafir) kepada Allah Ta‘ala.

Fa inna lillāhi mā fis samāwāti (maka sesungguhnya kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit), yakni tentara malaikat yang ada di langit.

Wa mā fil ardl (dan segala apa yang ada di bumi), yakni bangsa jin, manusia, dan lain sebagainya.

Wa kānallāhu ghaniyyan (dan adalah Allah Maha Kaya), yakni tidak membutuhkan keimanan kalian.

Hamīdā (lagi Maha Terpuji), yakni memuji orang yang bertauhid. Pendapat yang lain menyatakan, Maha Terpuji dalam Tindakan-Nya seraya berterima kasih untuk yang sedikit namun membalas secara berlimpah.

Wa lillāhi mā fis samāwāti wa mā fil ardl (Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi), yakni semua makhluk yang ada di langit dan bumi.

Wa kafā billāhi wakīlā (dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara), yakni sebagai Rabb yang mengatur dan mengurus.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

131.[18] Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar[19] maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi[20] dan Allah Maha Kaya[21] lagi Maha Terpuji[22].

[18] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan tentang meratanya kepemilikan-Nya pada alam semesta, di mana hal itu menghendaki Dia mengatur semuanya dengan semua bentuk pengaturan dan bertindak kepadanya dengan berbagai bentuk tindakan, baik berupa qadar (ketetapan-Nya di alam semesta) maupun yang berupa penetapan syari’at dan menyuruh mereka mengikuti syari’at itu dengan bertakwa.

[19] Kepada wasiat itu dengan tidak mau bertakwa.

[20] Maksudnya ciptaan-Nya, milik-Nya dan hamba-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, oleh karena itu kekafiran kalian tidaklah memadharratkan-Nya sedikit pun, bahkan malah memadharratkan diri kamu. Demikian juga kekafiran itu tidaklah mengurangi kerajaan-Nya, bahkan Dia memiliki hamba yang lebih baik dan lebih banyak dari kamu, di mana mereka selalu taat dan tunduk kepada-Nya.

[21] Tidak butuh kepada makhluk-Nya dan kepada ibadah mereka, bahkan merekalah yang butuh kepada-Nya.

[22] Dalam tindakan-Nya kepada makhluk-Nya. Dia berhak mendapatkan segala pujian dan sanjungan, karena Dia memiliki sifat-sifat terpuji dan karena nikmat-Nya yang begitu banyak yang diberikan kepada makhluk-Nya, oleh karenanya Dia Maha Terpuji dalam semua keadaan.

  1. Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi[23]. Cukuplah Allah sebagai Pemeliharanya[24].

[23] Diulangi kata-kata ini untuk memperkuat keharusan bertakwa.

[24] Ada yang mengartikan wakiilaa di atas dengan sebagai saksi bahwa apa yang ada di langit dan di bumi milik-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan milik Allahlah apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi. Dan sungguh telah Kami pesankan kepada orang-orang yang diberi Kitab) maksudnya kitab-kitab (sebelum kamu) yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani (dan juga kepada kamu) hai Ahli Al-Qu’ran (supaya) artinya berbunyi: (Bertakwalah kamu kepada Allah) takutilah siksa-Nya dengan jalan menaati-Nya, (dan) kepada mereka juga kepada kamu sendiri Kami katakan: (Jika kamu ingkar,) terhadap apa yang Kami pesankan itu (maka, ketahuilah, bahwa apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi milik Allah belaka) baik sebagai makhluk maupun sebagai ciptaan dan hamba-Nya hingga keingkaran kamu itu tidaklah akan merugikan-Nya sedikit pun juga. (Dan Allah Maha Kaya) sehingga tiada membutuhkan makhluk dan ibadah mereka (lagi Maha Terpuji) mengenai perbuatan-Nya terhadap mereka.
  2. (Dan kepunyaan Allahlah apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi) diulangi-Nya di sini untuk memperkuat kewajiban manusia supaya bertakwa. (Dan cukuplah Allah sebagai saksi) yang menjadi saksi bahwa semua itu memang milik-Nya semata.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan bahwa Dia adalah Yang memiliki langit dan bumi serta Dialah yang menguasai keduanya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ

Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu. (An-Nisaa’: 131)

Kami memerintahkan kepada kalian sebagaimana Kami telah memerintahkan kepada mereka, yaitu bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala  dengan cara menyembah-Nya semata yang tiada sekutu bagi-Nya.

Dalam firman berikutnya disebutkan:

وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ للهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وِمَا فِي الأرْضِ

Tetapi jika kalian kafir, maka (ketahuilah) sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah. (An-Nisaa’: 131), hingga akhir ayat.

Makna ayat ini sama dengan ayat lain dengan melaluinya Allah menceritakan perihal perkataan Nabi Musa kepada kaumnya, yaitu:

إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha-kaya lagi Maha Terpuji. (Ibrahim: 8)

Ayat lainnya mengatakan:

فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (At-Taghabun: 6)

Allah Maha Kaya, tidak memerlukan hamba-hamba-Nya. Yang dimaksud dengan hamidun ialah Allah Maha Terpuji dalam semua apa yang ditakdirkan-Nya dan semua apa yang disyariatkan-Nya.

Ayat berikutnya: Kemudian Dia Datangkan Umat yang Lain 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَكَفى بِاللَّهِ وَكِيلًا

Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (An-Nisaa’: 132)

Allah-lah yang mengatur tiap-tiap diri dalam semua apa yang diupayakannya, dan Dialah yang mengawasi dan yang menyaksikan atas segala sesuatu.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here