Sepuluh Tanda-tanda Hari Kiamat

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 159

0
147

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 159. Sepuluh tanda-tanda hari kiamat.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ فُرَات، عَنْ أَبِي الطُّفَيل، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الغِفَاري قَالَ: أَشْرَفَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غُرْفَةٍ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ السَّاعَةَ، فَقَالَ: لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَرَوْنَ عَشْرَ آيَاتٍ: طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، والدُّخَان، وَالدَّابَّةُ، وَخُرُوجُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَنُزُولُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، وَالدَّجَّالُ، وَثَلَاثَةُ خُسوف: خَسْف بِالْمُشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ. وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَن، تَسُوقُ -أَوْ تَحْشُرُ-النَّاسَ، تَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا، وتَقيل مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا

Sebelumnya: Kelak Dajjal Akan Muncul Selama Empat Puluh 

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Furat, dari Abut, Tufail, dari Huzaifah ibnu Usaid Al-Giffari yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ muncul di antara kami dari Arafah, saat itu kami sedang membicarakan masalah hari kiamat. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian melihat sepuluh tanda-tandanya, yaitu: Matahari terbit dari barat, dukhan (asap), Dabbah, munculnya Ya-juj dan Ma-juj, turunnya Isa ibnu Maryam, Dajjal, tiga kali gerhana, yaitu gerhana di timur, gerhana di barat, dan gerhana di jazirah Arabia; dan api yang keluar dari pedalaman Adn, ia menggiring atau menghimpun manusia, selalu mengikuti mereka di mana pun mereka tidur malam dan tidur istirahat siang hari.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dan ahlus sunan, dari hadits Furat Al-Qazzaz dengan lafaz yang sama.

Imam Muslim meriwayatkannya pula melalui riwayat Abdul Aziz ibnu Rafi’, dari Abut Tufail, dari Abu Syarihah, dari Huzaifah ibnu Usaid Al-Giffari secara mauquf.

Hadits-hadits tersebut secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ melalui riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Usman ibnu Abdul As, Abu Umamah, An-Nuwwas ibnu Sam’an, Abdullah ibnu Amr ibnul As, Majma ibnu Jariyah, Abu Syarihah, dan Huzaifah ibnu Usaid radiyallahu anhum. Di dalam riwayat ini terkandung dalil yang menunjukkan cara turunnya dan tempat Isa diturunkan; bukan hanya di Syam saja, melainkan disebutkan pula dengan rinci, yaitu di kota Damaskus, tepatnya pada menara bagian timur (dari masjidnya). Bahwa hal itu terjadi di saat salat Subuh telah diiqamahkan.

Di masa-masa terakhir ini yaitu pada tahun tujuh ratus empat puluh satu telah dibangun sebuah menara pada Masjid Jami’ Umawi, sebuah menara putih yang terbuat dari batu pualam yang dipahat. Menara tersebut sebagai ganti dari menara yang telah roboh karena kebakaran yang pelakunya adalah orang-orang Nasrani la’natullahi ‘alaihim sampai hari kiamat. Kebanyakan pembangunannya berasal dari harta benda mereka. Menurut dugaan yang kuat, pada menara tersebutlah kelak Nabi Isa diturunkan. Lalu ia membunuh semua babi, semua salib ia pecahkan, dan jizyah dihapuskan, sehingga tidak diterima lagi kecuali agama Islam, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain.

Demikianlah berita dari Nabi ﷺ tentang hal tersebut, sekaligus sebagai pengakuan; serta pen-tasyri’-an dan pembolehan bagi Isa untuk melakukannya di masa itu, mengingat di masa itu lenyaplah semua alasan mereka dan terhapuslah semua keraguan mereka dari diri mereka sendiri. Karena itulah mereka (Ahli Kitab) semuanya masuk ke dalam agama Islam, mengikuti jejak Nabi Isa ‘alaihis salam dan mereka masuk Islam di tangannya.

Disebutkan oleh firman-Nya:

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. (An-Nisaa’: 159), hingga akhir ayat.

Ayat ini sama maknanya dengan firman-Nya yang mengatakan:

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (Az-Zukhruf: 61)

Menurut qiraah yang lain, lafaz la’ilmun dibaca la’alamun memakai harakat pada huruf ‘ain-nya yang artinya tanda dan dalil yang menunjukkan bahwa hari kiamat telah dekat sekali. Demikian itu karena dia diturunkan sesudah munculnya Al-Masih Ad-Dajjal, lalu Allah membunuh Dajjal melalui tangannya. Seperti yang disebutkan di dalam hadits sahih,

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Bahwa tidak sekali-kali Allah menciptakan penyakit menular melainkan menurunkan penawar (obatnya) pula.

Di Masa Nabi Isa pula Allah membangkitkan Ya-juj dan Ma-juj, Lalu Allah membinasakan mereka berkat doa Isa yang Dia kabulkan.

Selanjutnya: Gambaran Tentang Nabi Isa ‘Alaihi Salaam 

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman:

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ. وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ الْآيَةَ

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit). (Al-Anbiya: 96-97), hingga akhir ayat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu Katsir

 

Berita sebelumyaGambaran Tentang Nabi Isa ‘Alaihi Salaam
Berita berikutnyaKelak Dajjal Akan Muncul Selama Empat Puluh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here