Pujian kepada Orang-orang yang Ilmunya Mendalam

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 162

0
120

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 162. Pujian kepada orang-orang yang ilmunya mendalam dari kalangan Ahli Kitab dan orang yang beriman serta apa yang akan mereka peroleh berupa pahala yang besar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا

Tetapi orang-orang yang ilmunya mendalam di antara mereka, dan orang-orang yang beriman, mereka beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu, dan kepada (kitab-kitab) yang diturunkan sebelummu, begitu pula mereka yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Allah dan hari kemudian. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar. (Q.S. An-Nisaa’ : 162)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Lākinir rasikhūna (namun, orang-orang yang mendalam), yakni orang-orang yang sampai.

Fil ‘ilmi (pada ilmunya), yakni pada ilmu Taurat.

Minhum (di antara mereka), yakni di antara ahli kitab, seperti ‘Abdullah bin Salam dan teman-temannya. Mereka mengakui Al-Qur’an dan semua kitab, kendatipun orang-orang Yahudi tidak mengakui Al-Qur’an .

Wal mu’minūna (dan orang-orang mukmin), yakni segenap kaum mukminin.

Yu’minūna bimā uηzila ilaika (mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu), yakni beriman pada Al-Qur’an .

Wa mā uηzila ming qablika (dan apa yang telah diturunkan sebelummu), yakni yang diturunkan kepada semua nabi.

Wal muqīmīnash shalāta (serta orang-orang yang mendirikan shalat), yakni orang-orang yang menyempurnakan shalat lima waktu.

Wal mu’tūnaz zakāta (dan orang-orang yang menunaikan zakat), yakni begitu juga orang-orang yang mengeluarkan zakat harta mereka. Mereka mengakui Al-Qur’an dan semua kitab.

Wal mu’minūna billāhi wal yaumil ākhir (dan orang-orang yang beriman kepada Allah Dan hari akhirat), yakni orang-orang yang beriman kepada Allah Dan hari kebangkitan sesudah mati, serta mengakui Al-Qur’an dan semua kitab. Mereka semua mengakui Al-Qur’an dan semua kitab, kendatipun orang-orang yahudi tidak mengakuinya. Lalu Allah Ta‘ala mengemukakan pahala untuk mereka.

Ulā-ika sa nu’tīhim ajran ‘azhīmā (orang-orang itulah yang akan Kami Berikan kepada mereka pahala yang besar), yakni pahala yang melimpah-ruah di dalam surga.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

162.[1] Tetapi orang-orang yang ilmunya mendalam di antara mereka[2], dan orang-orang yang beriman[3], mereka beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu, dan kepada (kitab-kitab) yang diturunkan sebelummu, begitu pula mereka yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Allah dan hari kemudian. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar[4].

[1] Setelah disebutkan aib-aib Ahli Kitab, pada ayat ini disebutkan orang-orang yang terpuji di antara mereka.

[2] Sehingga keyakinan tertanam dalam hati mereka dan membuahkan keimanan, seperti yang dimiliki Abdullah bin Salam.

[3] Seperti kaum Muhajirin dan Anshar, di mana iman mereka membuahkan amal yang salih, misalnya mendirikan shalat dan menunaikan zakat, di mana keduanya merupakan amal yang paling utama. Di dalam shalat terdapat sikap ikhlas kepada Allah, dan dalam zakat terdapat ihsan kepada hamba-hamba Allah. Mereka pun beriman kepada hari akhir, oleh karenanya mereka takut terhadap ancaman dan mengharap balasan yang telah dijanjikan.

[4] Karena mereka menggabung antara berilmu, beriman dan beramal salih, serta beriman kepada kitab-kitab dan rasul-rasul yang dahulu maupun yang datang kepada mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tetapi orang-orang yang mendalam) artinya kukuh dan mantap (ilmunya di antara mereka) seperti Abdullah bin Salam (dan orang-orang mukmin) dari golongan Muhajirin dan Ansar (mereka beriman pada apa yang diturunkan kepadamu dan apa-apa yang diturunkan sebelummu) di antara kitab-kitab (sedangkan orang-orang yang mendirikan shalat) manshub karena pujian, dan ada pula yang membacanya dengan marfu` (dan membayar zakat serta orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka itulah yang akan Kami beri) fi’ilnya dibaca dengan nun atau dengan ya (pahala yang besar) yakni surga.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah:

 لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ

Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka. (An-Nisaa’ : 162)

Maksudnya, orang-orang yang kuat agamanya; mereka mempunyai kedudukan yang kuat dalam bidang ilmu yang bermanfaat Pembahasan mengenai tafsirnya telah kami ketengahkan dalam tafsir surat Ali Imran.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

 وَالْمُؤْمِنُونَ

Dan orang-orang mukmin. (An-Nisaa’ : 162)

di-athaf-kan kepada lafaz ar-rasikhuna, sedangkan khabar-nya adalah firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala Selanjutnya, yaitu:

 يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزلَ مِنْ قَبْلِكَ

Mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang telah diturunkan sebelummu. (An-Nisaa’ : 162)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Salam, Sa’labah ibnu Sa’ih, Asad ibnu Sa’ih, dan Asad ibnu Ubaid; semuanya masuk Islam dan beriman kepada apa yang diutuskan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala. kepada Nabi Muhammad ﷺ

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

 وَالْمُقِيمِينَ الصَّلاةَ

Dan orang-orang yang mendirikan shalat. (An-Nisaa’ : 162)

Demikianlah bacaannya menurut semua mushaf para imam. Hal yang sama disebutkan di dalam mushaf Ubay ibnu Ka’b. Tetapi Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ayat ini menurut mushaf Ibnu Mas’ud disebutkan dengan bacaan wal muqimunas shalata, bukannya وَالْمُقِيمُونَ الصَّلَاةَ. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang sahih adalah menurut qiraah mayoritas, sebagai bantahan terhadap orang yang menduga bahwa hal tersebut termasuk kekeliruan dalam menulis Al-Kitab (Al-Qur’an).

Kemudian ibnu Jarir menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenainya. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa lafaz ini di-nasab-kan karena mengandung makna madah (pujian); sa-ma halnya dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya;

 وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا

Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. (Al-Baqarah: 177)

Ibnu Jarir mengatakan hal seperti ini berlaku di dalam pembicaraan orang-orang Arab. Salah seorang penyair mengatakan:

لَا يَبْعَدَن قَوْمِي الَّذِينَ همُو … سُمّ الْعُدَاةِ وَآفَةُ الجُزرِ …

النَّازِلِينَ بِكُلِّ مُعْتَرَكٍ… والطَّيّبُونَ مَعَاقِدَ الأزْرِ …

Kaum wanita itu pasti tidak akan jauh dari kaumku,

karena mereka adalah singa peperangan,

pembantai musuh, pantang mundur dalam semua medan peperangan,

tetapi mereka orang-orang yang baik lagi mengikat erat-erat kain sarungnya

(yakni memelihara kehormatannya).

Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa lafaz al-muqimina ini di-jar-kan karena di-‘ataf-kan kepada firman-Nya:

 بِمَا أُنزلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزلَ مِنْ قَبْلِكَ

Kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelummu. (An-Nisaa’ : 162)

Yaitu mereka juga mendirikan shalat. Dengan kata lain, seakan-akan dikatakan bahwa mereka mengakui kewajiban shalat dan kefarduannya atas diri mereka. Atau makna yang dimaksud dengan orang-orang yang mendirikan shalat ini adalah para malaikat, seperti yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Dengan kata lain, mereka beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu serta beriman kepada para malaikat. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala.:

 وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ

Dan orang-orang yang menunaikan zakat. (An-Nisaa’ : 162)

Yang dimaksud dengan zakat pada ayat di atas dapat diinterpretasikan sebagai zakat harta benda, dapat diinterpretasikan zakat badan (fitrah), dapat pula diinterpretasikan dengan pengertian kedua-duanya.

 وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

Dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. (An-Nisaa’ : 162)

Artinya, mereka percaya bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan mereka beriman dengan adanya hari berbangkit sesudah mati, dan hari pembalasan semua amal perbuatan, amal yang baik, dan amal yang buruk.

Kesamaan Kandungan Wahyu dan Pokok-pokok Agama yang Diwahyukan .... 

 أُولَئِكَ

Orang-orang itulah. (An-Nisaa’ : 162)

Lafaz ayat ini merupakan khabar dari jumlah yang sebelumnya.

 سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا

Yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (An-Nisaa’ : 162)

Yakni surga.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKesamaan Kandungan Wahyu dan Pokok-pokok Agama yang Diwahyukan
Berita berikutnyaAllah Haramkan bagi Mereka Makanan yang Baik-baik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here