Perintah Berbuat Adil dalam Masalah Hukum

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 135

0
167

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’  ayat 135. Perintah berbuat adil dalam masalah hukum, qadha’ (peradilan) serta menerangkan rukun-rukun iman. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan(kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan. (Q.S. An-Nisaa’ : 135)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhal ladzīna āmanū kūnū qawwāmīna bil qisthi syuhadā-a lillāhi. (wahai orang-orang beriman, kalian orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah), yakni jadilah kalian orang-orang yang senantiasa mengatakan keadilan ketika memberikan kesaksian.

Wa lau ‘alā aηfusikum awil wālidaini wal aqrabīna (walau terhadap diri sendiri atau ibu-bapak dan orang-orang terdekat kalian) dari sisi kekerabatan.

Iy yakun ghaniyyan au faqīraη fallāhu aulā bi himā fa lā tattabi‘ul hawā aη ta‘dilū (jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih Tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian memperturutkan hawa nafsu agar tidak menyimpang dari keadilan), yakni agar kalian tidak menyimpang dalam memberikan kesaksian.

Wa iη talwū (dan jika kalian memutarbalikkan [kata-kata]), yakni jika kalian berkata gagap (mengaburkan kebenaran).

Au tu‘ridlū (atau berpaling), yakni tidak mau memberi kesaksian di depan hakim.

Fa innallāha kāna bimā ta‘malūna khabīrā (maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala apa yang kalian perbuat), baik menyembunyikan kesaksian ataupun mengungkapkannya.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Miqyas bin Habbabah yang menyampaikan kesaksian terhadap bapaknya.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan[1], menjadi saksi[2] karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri[3] atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan(kebaikannya)[4]. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran[5]. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata)[6] atau enggan menjadi saksi[7], maka ketahuilah Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan[8].

[1] Keadilan di sini mencakup keadilan terhadap hak Allah, demikian juga keadilan terhadap hak hamba-hamba Allah. Berbuat adil terhadap hak Allah adalah dengan tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya, bahkan menggunakannya untuk ketaaan kepada-Nya. Sedangkan keadilan terhadap hak hamba-hamba Allah adalah dengan memenuhi kewajibanmu terhadap orang lain, sebagaimana kamu menuntut hakmu. Oleh karena itu, kamu harus memberikan nafkah yang wajib kamu keluarkan, membayarkan hutang yang kamu tanggung, serta bermu’amalah dengan manusia dengan cara yang kamu suka jika kamu dimu’amalahkan seperti itu, seperti akhlak mulia, membalas jasa dsb. Di antara bentuk menegakkkan keadilan adalah bersikap adil dalam berbicara, oleh karena itu, dia tidak boleh menghukumi salah satu dari dua perkataan atau salah satu dari dua orang yang bersengketa karena ada hubungan nasab dengannya atau karena lebih cenderung kepadanya, bahkan sikapnya harus adil. Termasuk adil pula menunaikan persaksian yang diketahuinya bagaimana pun bentuknya, meskipun mengena kepada orang yang dicintainya atau bahkan mengenai dirinya sendiri.

[2] Yakni saksi yang benar.

[3] Yakni dengan mengakui kebenaran dan tidak menyembunyikannya.

[4] Oleh karena itu, jangan mempertimbangkan orang kaya karena kekayaannya dan orang miskin karena kasihan kepadanya, bahkan tetaplah kamu bersaksi terhadap kebenaran kepada siapa pun orangnya. Menegakkan keadilan termasuk perkara agung, dan yang demikian menunjukkan keadaan agama seseorang, kewara’annya dan kedudukannya dalam agama Islam. Oleh karenanya wajib bagi orang yang memperbaiki dirinya dan menginginkan keselamatan untuk memperhatikan hal ini dan menjadikannnya sebagai pusat perhatiannya serta menyingkirkan segala penghalang yang menghalanginya dari keinginan berlaku adil dan mengamalkannya. Di antara penghalang utama yang dapat menghalangi seseorang dari keadilan adalah mengikuti hawa nafsu, maka dalam ayat di atas Allah mengingatkan untuk menyingkirkan penghalang ini, Dia berfirman, Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran .

[5] Hal itu, karena jika kamu mengikuti hawa nafsu, maka kamu akan menyimpang dari jalan yang benar, karena hawa nafsu biasanya membuat buta bashirah (mata hati) yang ada dalam diri seseorang sehingga ia pun melihat yang hak sebagai batil dan yang batil sebagai hak. Barang siapa yang dapat selamat dari hawa nafsunya, maka dia akan diberi taufiq kepada kebenaran dan akan ditunjuki ke jalan yang lurus.

[6] Termasuk ke dalamnya memutar balikkan fakta, tidak menyempurnakannya, saksi menta’wil kepada maksud yang lain dsb. ini semua termasuk memutar balikkan fakta.

[7] Termasuk pula jika hakim enggan memberikan keputusan terhadapnya.

[8] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan kepadamu. Dalam ayat ini terdapat ancaman yang keras bagi orang yang memutar balikkan fakta atau enggan bersaksi, termasuk pula –min baab aulaa/apalagi- orang yang menghukum dengan batil atau bersaksi palsu, karena orang-orang yang sebelumnya tadi meninggalkan yang hak, adapun mereka, yakni orang yang berhukum dengan batil atau bersaksi palsu, maka dia telah meninggalkan kebenaran dan malah menegakkan yang batil.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi penegak) atau benar-benar tegak dengan (keadilan) (menjadi saksi) terhadap kebenaran (karena Allah walaupun) kesaksian itu (terhadap dirimu sendiri) maka menjadi saksilah dengan mengakui kebenaran dan janganlah kamu menyembunyikannya (atau) terhadap (kedua ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia) maksudnya orang yang disaksikan itu (kaya atau miskin, maka Allah lebih utama bagi keduanya) daripada kamu dan lebih tahu kemaslahatan mereka. (Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu) dalam kesaksianmu itu dengan jalan pilih kasih, misalnya dengan mengutamakan orang yang kaya untuk mengambil muka atau si miskin karena merasa kasihan kepadanya (agar) tidak (berlaku adil) atau menyeleweng dari kebenaran. (Dan jika kamu mengubah) atau memutarbalikkan kesaksian, menurut satu qiraat dengan membuang huruf wawu yang pertama sebagai takhfif (atau berpaling) artinya enggan untuk memenuhinya (maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan) hingga akan diberi-Nya balasannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin agar menegakkan keadilan, dan janganlah mereka bergeming dari keadilan itu barang sedikit pun, jangan pula mereka mundur dari menegakkan keadilan karena Allah hanya karena celaan orang-orang yang mencela, jangan pula mereka dipengaruhi oleh sesuatu yang membuatnya berpaling dari keadilan. Hendaklah mereka saling membantu, bergotong royong, saling mendukung dan tolong-menolong demi keadilan.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang mengatakan:

شُهَدَاءَ لِلَّهِ

Menjadi saksi karena Allah. (An-Nisaa’: 135)

Ayat ini semakna dengan firman-Nya:

وَأَقِيمُوا الشَّهادَةَ لِلَّهِ

Dan hendaklah kalian tegakkan kesaksian itu karena Allah. (At-Thalaq: 2)

Maksudnya, tunaikanlah kesaksian itu karena Allah. Maka bila kesaksian itu ditegakkan karena Allah, barulah kesaksian itu dikatakan benar, adil, dan hak; serta bersih dari penyimpangan, perubahan, dan kepalsuan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ

Biarpun terhadap diri kalian sendiri. (An-Nisaa’: 135)

Dengan kata lain, tegakkanlah persaksian itu secara benar, sekalipun bahayanya menimpa diri sendiri. Apabila kamu ditanya mengenai suatu perkara, katakanlah yang sebenarnya, sekalipun mudaratnya kembali kepada dirimu sendiri. Karena sesungguhnya Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap perkara yang sempit bagi orang yang taat kepada-Nya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

أَوِ الْوالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

Atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. (An-Nisaa’: 135)

Yakni sekalipun kesaksian itu ditujukan terhadap kedua orang tuamu dan kerabatmu, janganlah kamu takut kepada mereka dalam mengemukakannya. Tetapi kemukakanlah kesaksian secara sebenarnya, sekalipun bahayanya kembali kepada mereka, karena sesungguhnya perkara yang hak itu harus ditegakkan atas setiap orang, tanpa pandang bulu.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا

Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. (An-Nisaa’: 135)

Artinya, janganlah kamu hiraukan dia karena kayanya, jangan pula kasihan kepadanya karena miskinnya. Allah-lah yang mengurusi keduanya, bahkan Dia lebih utama kepada keduanya daripada kamu sendiri, dan Dia lebih mengetahui hal yang bermaslahat bagi keduanya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا

Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. (An-Nisaa’: 135)

Maksudnya, jangan sekali-kali hawa nafsu dan fanatisme serta risiko dibenci orang lain membuat kalian meninggalkan keadilan dalam semua perkara dan urusan kalian. Bahkan tetaplah kalian pada keadilan dalam keadaan bagaimanapun juga, seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya:

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوى

Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al-Maidah: 8)

Termasuk ke dalam pengertian ini ialah perkataan Abdullah ibnu Rawwahah ketika diutus oleh Nabi ﷺ melakukan penaksiran terhadap buah-buahan dan hasil panen milik orang-orang Yahudi Khaibar. Ketika itu mereka bermaksud menyuapnya dengan tujuan agar bersikap lunak terhadap mereka, tetapi Abdullah ibnu Rawwahah berkata, Demi Allah, sesungguhnya aku datang kepada kalian dari makhluk yang paling aku cintai, dan sesungguhnya kalian ini lebih aku benci daripada kera dan babi yang sederajat dengan kalian. Bukan karena cintaku kepadanya, benciku terhadap kalian, lalu aku tidak berlaku adil terhadap kalian. Mereka mengatakan, Dengan demikian, berarti langit dan bumi akan tetap tegak.

Hadits ini insya Allah akan disebut secara panjang lebar berikut sanadnya dalam tafsir surah Al-Maidah.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا

Dan jika kalian memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi. (An-Nisaa’: 135)

Menurut Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, makna talwu ialah memalsukan dan mengubah kesaksian. Makna lafaz al-lai sendiri ialah mengubah dan sengaja berdusta. Seperti pengertian yang ada di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتابِ

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab. (Ali Imran: 78), hingga akhir ayat.

Al-i’rad artinya menyembunyikan kesaksian dan enggan mengemukakannya. Dalam ayat yang lain disebutkan melalui firman-Nya:

وَمَنْ يَكْتُمْها فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ

Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. (Al-Baqarah: 283)

Nabi ﷺ telah bersabda:

خَيْرُ الشُّهَدَاءِ الَّذِي يَأْتِي بِشَهَادَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسألها

Sebaik-baik saksi ialah orang yang mengemukakan kesaksiannya sebelum diminta untuk bersaksi.

Berikutnya: Ayat yang Menerangkan Rukun Iman 

Karena itulah Allah mengancam mereka dalam firman selanjutnya, yaitu:

فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan. (An-Nisaa’: 135)

Dengan kata lain, Allah kelak akan membalas perbuatan kalian itu terhadap diri kalian.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAyat yang Menerangkan Rukun Iman
Berita berikutnyaAda Balasan di Dunia dan di Akhirat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here