Pahala Itu Bukanlah Menurut Angan-angan

Pahala itu bukanlah menurut angan-angan

0
34

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 123. Pahala itu bukanlah menurut angan-angan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu dan bukan (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah. (Q.S. An-Nisaa’ : 123)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Laisa bi amāniyyikum ([hal itu] bukanlah menurut angan-angan kosong kalian), yakni tidak seperti yang kalian bayangkan, wahai segenap kaum mukminin, bahwa sesudah beriman keburukan kalian tidak akan dibalas

Wa lā amāniyyi ahlil kitāb (dan bukan pula menurut angan-angan kosong ahli kitab), yakni bukan pula seperti angan-angan ahli kitab yang mengatakan, Dosa-dosa yang kami lakukan pada siang hari, akan diampuni pada malam hari, dan dosa-dosa yang kami lakukan pada malam hari, akan diampuni pada siang hari.

May ya‘mal sū-an (siapa pun yang melakukan keburukan), yakni kejahatan.

Yujza bihī (niscaya akan diberi balasan sesuai dengan keburukan itu). Bagi seorang mukmin akan diberi balasan di dunia atau setelah mati sebelum ia masuk surga. Sedangkan bagi orang kafir akan diberi balasan di akhirat sebelum dan sesudah masuk neraka.

Wa lā yajid lahū miη dūnillāhi (dan ia tidak mendapatkan baginya selain dari Allah), yakni dari azab Allah.

Waliyyan ([seorang] pelindung), yakni kerabat yang dapat memberinya perlindungan.

Wa lā nashīrā (dan tidak pula [seorang] penolong), yakni pembela yang akan menghalanginya dari azab Allah.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. (Pahala dari Allah)[5] itu bukanlah menurut angan-anganmu[6] dan bukan (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab[7]. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan[8], niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu[9], dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah[10].

[5] Ada pula yang menafsirkan keselamatan atau pernyataan bersih (rekomendasi). Yakni pahala di akhirat, keselamatan atau pernyataan bersih bukanlah menurut angan-angan, cita-cita dan bisikan dalam diri mereka, tetapi menurut ketentuan-ketentuan agama.

[6] Angan-anganmu di sini ada yang mengartikan dengan angan-angan kaum muslimin dan ada pula yang mengartikan angan-angan kaum musyrik. Jika angan-angan di sini ditujukan kepada kaum muslimin, maka maksudnya bahwa mengaku di lisan saja tidaklah cukup, bahkan harus ada bukti terhadap pengakuannya, yaitu amal. Amal itulah yang membenarkan pengakuan itu atau mendustakannya.

[7] Ahli Kitab berkata, Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani, kata-kata mereka hanyalah angan-angan kosong dari mereka; tidak bersandar kepada kitab maupun bersandar kepada perkataan rasul.

[8] Yakni dosa kecil atau dosa besar.

[9] Bisa dibalas di akhirat dan bisa di dunia dengan adanya musibah dan cobaan. Manusia dalam hal mengerjakan dosa berbeda-beda, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Di antara mereka ada yang sedikit dosanya dan di antara mereka ada yang banyak. Jika amalannya buruk semua, dan hal ini hanya ada pada diri orang kafir, maka apabila dia meninggal tanpa bertobat dan memeluk Islam, maka ia akan dibalas dengan azab yang kekal. Namun jika amalnya baik, ia istiqamah pada sebagian besar keadaannya meskipun terkadang muncul dosa-dosa kecil, maka dengan ditimpakan rasa sedih, sakit, kelelahan dan penderitaan atau musibah yang menimpa badannya, hatinya, kekasihnya atau hartanya, maka semua itu akan menghapuskan dosa-dosanya, termasuk pula duri yang mengenainya. Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, cemassedih, gangguan dan rasa murung, bahkan duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. (HR. Bukhari)

 مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Tidaklah sesuatu menimpa seorang mukmin, bahkan duri yang mengenainya, kecuali Allah mencatat untuknya satu kebaikan atau digugurkan satu kesalahan. (HR. Muslim)

[10] Hal ini untuk menghilangkan anggapan yang mungkin timbul, yakni bahwa orang yang diberi balasan itu mungkin memiliki pelindung atau penolong atau pemberi syafaat yang menghindarkan dirinya dari menerima balasan itu, maka dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan bahwa tidak ada lagi pelindung dan penolong yang dapat melindungi atau menolongnya dari sesuatu yang dikhawatirkan selain Allah Tuhannya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tidaklah) masalahnya tergantung kepada (angan-anganmu dan tidak pula angan-angan Ahli kitab) tetapi kepada amal saleh. (Siapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan) adakalanya di akhirat dan adakalanya di dunia dengan cobaan dan bala bencana sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits (dan tidaklah akan dijumpainya selain dari Allah pelindung) yang akan melindunginya (dan tidak pula pembela) yang akan membelanya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa kaum muslim dan orang-orang Ahli Kitab saling membanggakan dirinya. Maka berkatalah orang-orang Ahli Kitab, Nabi kami sebelum nabi kalian, dan kitab kami sebelum kitab kalian, maka kami lebih berhak terhadap Allah daripada kalian. Orang-orang muslim mengatakan, Kami lebih utama terhadap Allah daripada kalian, nabi kami adalah pemungkas para nabi, dan kitab kami berkuasa memutuskan atas semua kitab yang ada sebelumnya. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: (Pahala dari sisi Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kalian yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu. (An-Nisaa’: 123) sampai dengan firman-Nya: Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan. (An-Nisaa’: 125), hingga akhir ayat. Kemudian Allah memenangkan hujah (alasan) kaum muslim atas orang-orang yang menentang mereka dari kalangan agama lain.

Hal yang sama diriwayatkan dari As-Saddi, Masruq, Ad-Dahhak, Abu Saleh, dan yang lain-lainnya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa para pemeluk berbagai agama bersitegang. Maka orang-orang yang berpegang kepada kitab Taurat mengatakan, Kitab kami adalah sebaik-baik kitab, dan nabi kami adalah sebaik-baik nabi. Pemegang kitab Injil mengatakan hal yang semisal. Maka orang-orang Islam mengatakan, Tiada agama (yang diterima di sisi Allah) selain Islam, dan kitab kami me-mansukh semua kitab, serta nabi kami adalah nabi penutup. Kami diperintahkan agar iman kepada kitab kalian serta mengamalkan kitab kami sendiri. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memutuskan di antara mereka melalui firman-Nya: (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kalian yang kosong, dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu. (An-Nisaa’: 123), hingga akhir ayat. Dia memilih di antara semua agama dengan melalui firman-Nya: Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan. (An-Nisaa’: 125) sampai dengan firman-Nya: Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya. (An-Nisaa’: 125)

Selanjutnya: Agama itu Bukanlah Hanya Sebagai Hiasan 

Mujahid mengatakan bahwa orang-orang Arab mengatakan, Kami tidak akan dibangkitkan dan kami tidak akan diazab, sedangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani’ (Al-Baqarah: 111). Mereka mengatakan pula seperti yang disitir oleh firman-Nya: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali selama beberapa hari saja’ (Al-Baqarah: 80).

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here