Orang-orang Munafik Adalah Orang yang Paling Berbahaya

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 144-145

0
236

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 144-145. Orang-orang munafik adalah orang yang paling berbahaya bagi kaum mukmin daripada orang kafir, oleh karenanya siksaan untuk mereka lebih keras pada hari Kiamat daripada orang-orang kafir. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا (١٤٤) إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (١٤٥)

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang nyata bagi Allah (untuk menghukummu)? (Q.S. An-Nisaa’ : 144)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (Q.S. An-Nisaa’ : 145)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhal ladzīna āmanū (wahai orang-orang yang beriman), yakni ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya yang pura-pura beriman.

Lā tattakhidzul kāfirīna (janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir), yakni orang-orang Yahudi.

Auliyā-a (sebagai penolong) dalam mencari kekuatan.

Miη dūnil mu’minīna (dengan meninggalkan orang-orang Mukmin) yang ikhlas

A turīdūna (apakah kalian ingin), wahai segenap kaum munafikin.

Aη taj‘alū lillāhi (mengadakan bagi Allah) dan rasul-Nya.

‘Alaikum sulthānam mubīnā (alasan yang nyata [untuk menyiksa kalian]), yakni hujah yang jelas dan alasan yang nyata untuk membunuh kalian.

Innal munāfiqīna (sesungguhnya orang-orang munafik), yakni ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya.

Fid darkil asfali minan nāri (berada pada tingkatan paling bawah dari neraka) lantaran kejahatan, tipu daya, dan pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap Nabi ﷺ dan para shahabatnya.

Wa laη tajida lahum nashīrā (dan sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka), yakni seseorang yang akan membela mereka.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai wali[16] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang nyata bagi Allah (untuk menghukummu)?[17]

[16] Wali jamaknya auliyaa, yang berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung, penolong dan pemimpin.

[17] Setelah disebutkan sebelumnya, bahwa di antara sifat orang-orang munafik adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan kaum mukmin, maka dalam ayat di atasAllah Subhaanahu wa Ta’aala melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin melakukan tindakan yang sama dengan orang-orang munafik itu, dan bahwa perbuatan itu memberikan alasan yang nyata bagi Allah untuk menghukum kamu, karena Dia telah memperingatkan agar tidak melakukannya serta memberitahukan kepada kita mafsadatnya. Jika masih ditempuh juga setelah diperingatkan, maka ia layak mendapatkan hukuman. Dalam ayat ini terdapat dalil sempurnanya keadilan Allah, dan bahwa Allah tidak mengazab seseorang sebelum tegaknya hujjah. Dalam ayat ini juga terdapat peringatan dari mengerjakan maksiat, karena pelakunya sama saja memberikan alasan bagi Allah untuk menghukumnya.

  1. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka[18]. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

[18] Hal itu, karena mereka berbuat syirk kepada Allah, memerangi rasul-Nya, membuat makar dan tipu daya terhadap kaum mukmin serta melancarkan serangan kepada kaum mukmin secara diam-diam. Mereka sudah merugikan umat Islam, namun mereka disikapi oleh kaum muslim secara baik karena zhahirnya yang menampakkan keislaman. Mereka memperoleh sesuatu yang sebenarnya tidak mereka peroleh. Karena inilah mereka mendapatkan siksa yang paling keras dan tidak ada yang menolong mereka dari azab itu. Ayat ini adalah umum, mengena kepada setiap orang munafik, kecuali orang yang dikaruniakan Allah bertobat dari segala maksiat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang kafir dan bukan orang-orang mukmin sebagai pelindung! Apakah kamu hendak memberikan kepada Allah buat menyiksamu) dengan mengambil mereka sebagai pelindung itu (suatu alasan yang nyata) atau bukti yang tegas atas kemunafikanmu?
  2. (Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada tempat) atau tingkat (yang paling bawah dari neraka) yakni bagian kerak atau dasarnya. (Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka) yakni yang akan membebaskannya dari siksa.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai teman terdekat mereka, bukannya orang-orang mukmin. Yang dimaksud dengan istilah ‘wali’ dalam ayat ini ialah berteman dengan mereka, setia, ikhlasdan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada mereka. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain yang mengatakan:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian akan diri-Nya. (Ali Imran: 28)

Allah memperingatkan kalian terhadap siksa-Nya jika kalian melanggar larangan-Nya. Sedangkan dalam surah ini disebut melalui firman-Nya:

أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah? (An-Nisaa’: 144)

Yakni alasan untuk menyiksa kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: alasan yang nyata. (An-Nisaa’: 144) Bahwa setiap sultan atau alasan di dalam Al-Qur’an merupakan hujah. Sanad asar ini sahih.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Ad-Dah-hak, As-Saddi, dan An-Nadr ibnu Arabi.

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan melalui firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An-Nisaa’: 145)

Yaitu di hari kiamat kelak, sebagai pembalasan atas kekufuran mereka yang keras.

Al-Walibi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: di dalam tingkatan yang paling rendah dari neraka. (An-Nisaa’: 145) Yakni di dasar neraka.

Selain Ibnu Abbas mengatakan bahwa neraka itu terdiri atas berbagai tingkatan dasar, sebagaimana surga pun mempunyai berbagai tingkat ketinggian derajat.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Asim, dari Zakwan Abu Saleh, dari Abu Hurairah sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An-Nisaa’: 145) Yaitu di dalam peti-peti yang dikocok-kocok, sedangkan mereka berada di dalamnya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ibnu Waki’, dari Yahya ibnu Yaman, dari Sufyan As Sauri dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Al-Munzir ibnu Syazan, dari Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada bagian yang paling bawah dari neraka. (An-Nisaa’: 145) Dikatakan bahwa bagian yang paling bawah merupakan rumah-rumah yang memiliki banyak pintu, lalu dikunci rapat-rapat, sedangkan mereka (orang-orang munafik) berada di dalamnya, kemudian dari bagian bawahnya juga dari bagian atasnya dinyalakan api neraka.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Salamah ibnu Kahil, dari KhaiSamah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An-Nisaa’: 145) Di dalam peti-peti dari api neraka yang dikunci rapat-rapat (dikunci mati), sedangkan mereka (orang-orang munafik) berada di dalamnya.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Abu Sa’id Al-Asyaj, dari Waki’, dari Sufyan, dari Salamah, dari Khaisamah, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan sehubungan makna firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An-Nisaa’: 145) Yakni di dalam peti-peti besi yang telah dikunci mati, sedangkan mereka ada di dalamnya; peti itu tidak dapat dibuka sama sekali.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami*Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, bahwa Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai orang-orang munafik, maka ia menjawab bahwa mereka dimasukkan ke dalam peti-peti dari api neraka yang dikunci mati, sedangkan mereka berada di dalamnya, yaitu ditempatkan di dasar neraka.

وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (An-Nisaa’: 145)

Yaitu orang yang dapat menyelamatkan mereka dari siksaan yang mereka alami dan mengeluarkan mereka dari siksaan yang amat pedih itu.

Ayat berikutnya: Tidak Diterimanya Tobat Kecuali dengan Syarat-syaratnya 

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan bahwa barang siapa dari kalangan orang-orang munafik itu bertobat ketika di dunia, niscaya Allah menerima tobatnya. Allah memaafkan penyesalannya jika ia ikhlas dalam tobatnya dan memperbaiki amal perbuatannya serta berpegang teguh kepada Tuhannya dalam semua urusan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Artikulli paraprakTidak Diterimanya Tobat Kecuali dengan Syarat-syaratnya
Artikulli tjetërPerumpamaan Orang Munafik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini