Mengadakan Islah Antara Suami dan Istri

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 128

0
198

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 128. Cara mengatasi masalah rumah tangga, mengadakan islah antara suami dan istri. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz, sikap tidak acuh dan bertindak tidak adil), maka sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S. An-Nisaa’ : 128)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa inimra-atun (dan jika seorang wanita), yakni ‘Umairah.

Khāfat mim ba‘lihā (khawatir suaminya), yakni mengetahui bahwa suaminya, yaitu As‘ad bin ar-Rabi‘.

Nusyūzan (bersikap nusyuz), yakni tidak mau menggaulinya.

Au i‘rādlan (atau bersikap tak acuh), yakni tidak mau berbicara dengannya, dan enggan duduk bersamanya.

Fa lā junāha ‘alaihimā (maka tidak ada salahnya bagi keduanya), yakni bagi suami-istri itu.

Ay yushlihā bainahumā (mengadakan perdamaian di antara keduanya), yakni di antara suami-istri itu.

Shulhā (dengan sebenar-benar perdamaian), yakni perdamaian tertentu yang disetujui oleh suami-istri.

Wash shulhu (dan perdamaian itu), yakni perdamaian yang disetujui istri.

Khair (lebih baik) daripada tindakan zalim dan tidak adil.

Wa uhdliratil aηfususy syuhh (walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir), yakni manusia itu cenderung bersifat kikir dan bakhil, oleh karena itu ia bersikap bakhil terhadap bagian pasangannya. Menurut pendapat yang lain, ketamakan manusia akan mendorong seseorang untuk bersikap tidak rela.

Wa iη tuhsinū (dan jika kalian berbuat baik), yakni berbuat adil, baik terhadap istri muda ataupun istri tua dalam pembagian giliran dan nafkah.

Wa tattaqū (dan bertakwa), yakni menjauhi tindakan zalim dan tidak adil.

Fa innallāha kāna bimā ta‘malūna khabīrā (maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang kalian perbuat), yakni terhadap kezaliman dan ketidakadilan.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

128.[1] Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz[2] atau bersikap tidak acuh[3], maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya[4], dan perdamaian itu lebih baik[5] (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir[6]. Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu)[7] dan memelihara dirimu (dari nusyuz, sikap tidak acuh dan bertindak tidak adil)[8], maka sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan[9].

[1] Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang ayat, Wa inimra’atun khaafat min ba’lihaa nusyuuzan aw i’raadhan. Ia berkata, Ada seorang suami yang di dekatnya ada seorang istri, di mana ia tidak mau banyak-banyak dengannya (yakni dalam hal cinta dan bergaul), si suami ingin mencerainya, lalu istrinya berkata, Aku jadikan bagianku halal (untuk yang lain namun aku tidak ditalak), Maka turunlah ayat tersebut.

Imam Abu Dawud, Tirmidzi, Thayalisi, dan Hakim ia menshahihkannya, dan didiamkan oleh Adz Dzahabi, serta Ibnu Jarir meriwayatkan, bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Saudah. Dalam lafaz Abu Dawud, Aisyah berkata kepada Urwah, Wahai putera saudariku! Rasulullah ﷺ tidak melebihkan sebagian kami di atas yang lain dalam hal penggiliran, yakni tinggalnya di rumah kami. Beliau biasa mendatangi kami semua, Beliau mendekati setiap istrinya tanpa menggauli sampai tiba di tempat yang di sana adalah bagiannya lalu ia bermalam di situ. Saudah binti Zam’ah ketika tua dan khawatir akan dicerai Rasulullah ﷺ berkata, Wahai Rasulullah, bagianku untuk Aisyah. Maka Rasulullah ﷺ menerimanya. Aisyah berkata, Tentang hal itu dan yang semisalnya saya kira turun ayat, Wa inim ra’atun khaafat mim ba’lihaa nusyuuzan.

Imam Hakim meriwayatkan dan dia berkata, Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim dan didiamkan oleh Adz Dzahabi dari Raafi’ bin Khudaij bahwa ia memiliki istri yang usianya sudah lanjut, kemudian ia menikah lagi dengan gadis. Ia lebih mengutamakan gadis tersebut, maka istri yang pertama menolak mengakui hal tersebut, Rafi’ bin Khudaij pun mentalaknya sekali talak, sehingga ketika masih ada waktu rujuknya, Raafi’ berkata, Jika kamu mau, saya akan merujuk kamu, namun kamu harus siap bersabar dengan keadaan. Dan ika kamu mau, maka saya akan membiarkan (tidak merujuk) kamu sampai waktunya habis. Istrinya berkata, Rujuk saja saya, saya siap bersabar terhadap sikap mengutamakan yang lain tersebut. Lalu Raafi’ tetap mengutamakan gadis tersebut, sedangkan istri yang pertama ternyata tidak sabar, maka Raafi’ mentalak lagi dan tetap mengutamakan gadis tersebut. Raafi’ berkata, Itulah shulh (pendamaian), di mana telah sampai kepada kami, bahwa Allah menurunkan ayat tentangnya, Wa inim ra’atun khaafat….dst.(Yang rajih hadits ini adalah mursal, Sufyan bin ‘Uyainah dan Syu’aib bin Abi Hamzah meriwayatkan secara mursal, dan dimaushulkan oleh Ma’mar sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Ktasir, namun yang rajih adalah mursal, terlebih rawi yang memaushulkan yakni Hakim banyak wahm (perkiraan yang keliru)).

[2] Nusyuz adalah meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya. Sedangkan nusyuz dari pihak suami adalah bersikap keras terhadap isterinya, tidak mau menggaulinya, tidak mau memberikan haknya, seperti tidak memberinya nafkah dan lebih cenderung kepada istri yang lebih cantik daripadanya.

[3] Berpaling dan tidak menyukainya.

[4] Seperti isteri bersedia dikurangi beberapa haknya (misalnya dalam giliran dan nafkah) diberikan kepada istri yang lain, asalkan suaminya mau baik kembali. Namun jika istri tidak ridha dikurangi haknya, maka suami berkewajiban memenuhi haknya atau mencerainya.

[5] Yakni lebih baik daripada bercerai, bersikap nusyuz dan berpaling. Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan, bahwa shulh (perdamaian dengan merelakan sebagian haknya) antara dua orang atau lebih yang memiliki hak lebih baik daripada menggali lebih dalam untuk mengetahui haknya, karena di dalamnya terdapat islah, hubungannya tetap baik dan merupakan sifat samahah (merelakan) yang memang terpuji. Hal ini dibolehkan dalam segala perkara, kecuali apabila menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, maka ketika itu bukanlah shulh, bahkan kezaliman. Perlu diketahui, bahwa setiap hukum tidaklah sempurna kecuali jika ada yang menghendakinya dan tidak ada penghalang, termasuk di antaranya adalah masalah di atas (shulh). Dalam ayat tersebut Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan hal yang menghendaki shulh dan memberitahukan bahwa yang demikian adalah lebih baik. Sedangkan penghalangnya adalah kikir walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, oleh karena itu sepatutnya melepaskan diri dari jeratan akhlak yang rendah ini dan menggantinya dengan samahah (merelakan), yakni memenuhi kewajiban yang dibebankan kepada kita dan ridha dengan sebagian hak yang kita dapatkan. Jika seseorang diberi taufiq kepada akhlak yang mulia ini, maka akan mudah mengadakan shulh, berbeda dengan orang yang tidak berusaha menyingkirkan sifat kikir ini, maka berat sekali bersikap shulh, karena ia tidak ridah kecuali dengan semua hartanya dan tidak suka memenuhi kewajibannya, jika lawan tengkarnya sama seperti ini keadaannya, maka masalahnya pasti semakin parah.

[6] Maksudnya tabi’at manusia itu tidak mau melepaskan sebagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya, meskipun demikian jika isteri melepaskan sebagian hak-haknya, maka boleh bagi suami menerimanya.

[7] Ada yang mengartikan, jika kamu berbuat ihsan, yakni mencakup berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah, dengan beribadah seakan-akan dirinya melihat Allah, dan jika tidak bisa begitu maka dengan merasakan perhatian Allah kepadanya, serta berbuat ihsan kepada makhluk Allah dengan apa pun bentuknya, baik memberi manfaat harta, ilmu, kedudukan maupun lainnya.

[8] Ada yang mengartikan, jika kamu bertakwa kepada Allah, yakni dengan mengerjakan segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang. Ada pula yang mengartikan ayat wa in tuhsinuu wa tattaquu dengan dan jika kamu berbuat ihsan, yaitu dengan mengerjakan perintah, dan bertakwa, yakni dengan meninggalkan larangan.

[9] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan terhadapnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan jika seorang wanita) imra-atun marfu’ oleh fi’il yang menafsirkannya (takut) atau khawatir (dari suaminya nusyuz) artinya sikap tak acuh hingga berpisah ranjang daripadanya dan melalaikan pemberian nafkahnya, adakalanya karena marah atau karena matanya telah terpikat kepada wanita yang lebih cantik dari istrinya itu (atau memalingkan muka) daripadanya (maka tak ada salahnya bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya). Ta yang terdapat pada asal kata diidgamkan pada shad, sedang menurut qiraat lain dibaca yushliha dari ashlaha. Maksud perdamaian itu ialah dalam bergilir dan pemberian nafkah, misalnya dengan sedikit mengalah dari pihak istri demi mempertahankan kerukunan. Jika si istri bersedia, maka dapatlah dilangsungkan perdamaian itu, tetapi jika tidak, maka pihak suami harus memenuhi kewajibannya atau menceraikan istrinya itu. (Dan perdamaian itu lebih baik) daripada berpisah atau dari nusyuz atau sikap tak acuh. Hanya dalam menjelaskan tabiat-tabiat manusia, Allah berfirman: (tetapi manusia itu bertabiat kikir) artinya bakhil, seolah-olah sifat ini selalu dan tak pernah lenyap daripadanya. Maksud kalimat bahwa wanita itu jarang bersedia menyerahkan haknya terhadap suaminya kepada madunya, sebaliknya pihak laki-laki jarang pula yang memberikan haknya kepada istri bila ia mencintai istri lain. (Dan jika kamu berlaku baik) dalam pergaulan istri-istrimu (dan menjaga diri) dari berlaku lalim atau aniaya kepada mereka (maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan) hingga akan memberikan balasannya.
Selanjutnya: Kondisi yang Dialami oleh Sepasang Suami Istri 

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakKondisi yang Dialami oleh Sepasang Suami Istri
Artikulli tjetërFatwa Tentang Perempuan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini