Melemparkan Tuduhan Kesalahan atau Dosa kepada Orang Lain

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 112

0
68

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 112. Melemparkan tuduhan kesalahan atau dosa kepada orang lain. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan barang siapa berbuat kesalahan atau dosa, kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (Q.S. An-Nisaa’ : 112)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa may yaksib khathī-atan (dan barangsiapa yang melakukan kesalahan), yakni melakukan pencurian.

Au itsman (atau dosa), yakni melakukan sumpah palsu atas nama Allah.

Tsumma yarmi bihī (kemudian ia menuduhkannya), yakni menuduhkan perbuatan mencuri.

Barī-an (kepada orang yang tidak bersalah), yakni kepada Zaid bin Samin.

Fa qadihtamala (maka sesungguhnya ia telah menanggung), yakni sesungguhnya ia telah memastikan untuk dirinya.

Buhtānan (suatu kebohongan), yakni suatu hukuman atas kebohongan besar.

Wa itsmam mubīnā (dan dosa yang nyata), yakni hukuman atas dosa yang nyata.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan barang siapa berbuat kesalahan[20] atau dosa[21], kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata[22].

[20] Dosa kecil.

[21] Dosa besar.

[22] Ayat ini menunjukkan bahwa yang demikian termasuk dosa besar dan hal yang membinasakan seseorang, karena dia sama saja telah melakukan banyak kerusakan, di antaranya yaitu: telah mengerjakan dosa atau kesalahan, menuduhkan kesalahan kepada orang yang tidak berdosa, berbuat dusta dengan menyatakan dirinya bersih dan menuduh orang yang tidak berdosa, mengakibatkan adanya hukuman duniawi yang tidak benar, orang yang salah tidak terkena, bahkan orang yang tidak bersalah malah diberi hukuman. Demikian juga, orang yang tidak bersalah menjadi bahan pembicaraan orang lain dan mafsadat lainnya. Kita meminta kepada Allah agar dilindungi daripadanya dan dari setiap keburukan, Allahumma aamin.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan siapa yang mengerjakan suatu kesalahan) atau satu dosa kecil (atau suatu dosa) besar (kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah) membuatnya (maka sesungguhnya ia telah memikul suatu kebohongan) dan tuduhannya (dan dosa yang nyata) disebabkan kerja dan usahanya itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا

Dan barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah. (An-Nisaa’: 112), hingga akhir ayat.

Seperti yang dilakukan oleh Bani Ubairiq, ketika ia melemparkan tuduhan perbuatan jahatnya kepada orang lain yang dikenal saleh, yaitu Labid ibnu Sahl, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits di atas atau seperti apa yang dituduhkan orang-orang kepada Zaid ibnus Samin (seorang Yahudi), padahal  Zaid tidak bersalah; dan mereka yang menuduhnya sebagai orang-orang zalim yang berkhianat, seperti yang diperlihatkan oleh Allah kepada Rasul-Nya.

Ayat berikutnya: Karunia Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada Rasul-Nya 

Kemudian ancaman dan cemoohan ini bersifat umum. Dengan kata lain, mencakup pula selain mereka yang disebut dari kalangan orang-orang yang melakukan perbuatan jahat seperti mereka dan berkarakter seperti mereka; maka baginya hukuman yang sama seperti yang diterima mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here