Kondisi yang Dialami oleh Sepasang Suami Istri

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 128

0
124

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 128. Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan serta mensyariatkan ketetapan hukum-hukum-Nya menyangkut berbagai kondisi yang dialami oleh sepasang suami istri. Adakalanya pihak suami bersikap tidak senang kepada istrinya, adakalanya pihak suami serasi dengan istrinya, dan adakalanya pihak suami ingin bercerai dengan istrinya.

Sebelumnya: Mengadakan Islah Antara Suami dan Istri 

Keadaan pertama terjadi bilamana pihak istri merasa khawatir terhadap suaminya, bila si suami merasa tidak senang kepadanya dan bersikap tidak acuh kepada dirinya. Maka dalam keadaan seperti ini pihak istri boleh menggugurkan dari kewajiban suaminya seluruh hak atau sebagian haknya yang menjadi tanggungan suami, seperti sandang, pangan, dan tempat tinggal serta lain-lainnya yang termasuk hak istri atas suaminya. Pihak suami boleh menerima hal tersebut dari pihak istrinya, tiada dosa bagi pihak istri memberikan hal itu kepada suaminya, tidak (pula) penerimaan pihak suami dari pihak istrinya akan hal itu. Untuk itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا

Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. (An-Nisaa’: 128)

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka). (An-Nisaa’: 128)

Yakni daripada perceraian.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ

Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. (An-Nisaa’: 128)

Maksudnya, perdamaian di saat saling bertolak belakang adalah lebih baik daripada perceraian. Karena itulah ketika usia Saudah binti Zam’ah sudah lanjut, Rasulullah ﷺ berniat akan menceraikannya, tetapi Saudah berdamai dengan Rasulullah ﷺ dengan syarat ia tetap menjadi istrinya dan dengan suka rela ia memberikan hari gilirannya kepada Siti Aisyah. Maka Nabi ﷺ menerima persyaratan tersebut yang diajukan oleh Saudah, dengan imbalan Saudah tetap berstatus sebagai istri Nabi ﷺ

Dikemukakan oleh Abu Dawud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Mu’az, dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Saudah merasa khawatir bila dirinya diceraikan oleh Rasulullah ﷺ Maka ia berkata, Wahai Rasulullah, janganlah engkau ceraikan aku, aku berikan hari giliranku kepada Aisyah, maka Rasulullah ﷺ menyetujui apa yang dimintanya. Dan turunlah firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya. (An-Nisaa’: 128), hingga akhir ayat.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa segala persyaratan yang disetujui oleh kedua belah pihak diperbolehkan.

Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna, dari Abu Dawud At-Tayalisi dengan lafaz yang sama, kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini berpredikat garib.

Imam Syafii mengatakan, telah menceritakan kepadanya Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan meninggalkan sembilan orang istri; sebelum itu beliau ﷺ memberikan hari gilirannya kepada delapan orang istrinya.

Di dalam kitab Sahihain disebut melalui hadits Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah radiallahu ‘anha yang menceritakan, Ketika usia Saudah binti Zam’ah sudah lanjut, ia menghadiahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Sejak saat itu Nabi ﷺ menggilir Siti Aisyah selama dua hari; satu hari milik Siti Aisyah, sedangkan hari yang lain hadiah dari Saudah.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebut melalui hadits Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah dengan lafaz yang semisal.

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari Hisyam, dari ayahnya (yaitu Urwah) yang menceritakan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala  telah menurunkan firman berikut berkenaan dengan Saudah dan wanita-wanita lainnya yang serupa, yaitu: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya. (An-Nisaa’: 128) Salah seorang istri Rasulullah ﷺ (yaitu Saudah) telah berusia lanjut; ia merasa khawatir bila diceraikan oleh Rasulullah ﷺ, sedangkan dalam waktu yang sama ia tidak mau dilepaskan dari statusnya sebagai istri Rasulullah ﷺ Tetapi ia mengetahui benar kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Siti Aisyah dan kedudukan Siti Aisyah di sisi Rasulullah ﷺ Maka ia menghadiahkan hari gilirannya dari Rasulullah ﷺ untuk Siti Aisyah radiallahu ‘anha, dan Rasulullah ﷺ menerima hal tersebut.

Selanjutnya: Khawatir Akan Sikap Tidak Acuh Suami 

Imam Baihaqi mengatakan bahwa Imam Ahmad ibnu Yunus telah meriwayatkannya dari Al-Hasan ibnu Abuz Zanad secara mausul.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu Katsir

 

Berita sebelumyaKhawatir Akan Sikap Tidak Acuh Suami
Berita berikutnyaMengadakan Islah Antara Suami dan Istri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here