Kesamaan Kandungan Wahyu dan Pokok-pokok Agama yang Diwahyukan

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 163

0
150

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 163. Kesamaan kandungan wahyu dan pokok-pokok agama yang diwahyukan kepada para rasul, dan hikmah Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengutus para rasul. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا

Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan kitab Zabur kepada Dawud. (Q.S. An-Nisaa’ : 163)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innā auhainā ilaika (sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu), yakni Kami telah mengutus Jibril ‘alaihis salam membawa Al-Qur’an kepadamu.

Kamā auhainā ilā nūhiw wan nabiyyīna mim ba‘dihī (sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya), yakni sesudah Nuh ‘alaihis salam.

Wa auhainā ilā ibrāhīma (dan Kami juga telah memberikan wahyu kepada Ibrahim), yakni Kami telah mengutus Jiblril ‘alaihis salamkepada Ibrahim ‘alaihis salam .

Wa ismā‘īla wa is-hāqa wa ya‘qūba wal asbāthi (Isma‘il, Is-haq, Ya‘qub dan anak-cucunya), yakni anak-cucu Ya‘qub ‘alaihis salam .

Wa ‘īsā wa ayyūba wa yūnusa wa hārūna wa sulaimāna wa ātainā dāwūda zabūrā (‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Zabur kepada Dawud).

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan kitab Zabur kepada Dawud[5].

[5] Dalam ayat ini terdapat beberapa faedah, di antaranya:

  • Nabi Muhammad ﷺ bukanlah rasul yang baru, bahkan sebelumnya Allah telah mengutus pula para rasul yang jumlahnya banyak. Oleh karena itu, menganggap asing kerasulan Beliau tidaklah tepat, dan anggapan seperti itu merupakan kebodohan dan karena sikap keras menolak kebenaran.
  • Allah mewahyukan kepada Beliau sebagaimana Allah mewahyukan kepada rasul-rasul yang lain, berupa ushul (dasar-dasar agama) dan keadilan yang disepakati oleh semua rasul, dan bahwa satu sama lain saling membenarkan.
  • Nabi Muhammad ﷺ termasuk para rasul, dakwah Beliau sama dengan dakwah para rasul, akhlak Beliau sama dan tujuannya pun sama. Nasab Beliuau tidak bersambung dengan orang-orang yang tidak dikenal, orang-orang yang suka berdusta apalagi dengan raja-raja yang zalim.
  • Disebutkan para rasul sebelumnya untuk mengangkat nama mereka dan memuji mereka serta mempelajari hal ihwal mereka. Mereka adalah orang-orang yang berbuat ihsan, dan orang-orang yang berbuat ihsan berhak mendapatkan pujian yang baik di tengah-tengah manusia, sedangkan para rasul berada dalam tingkatan paling atas dalam berbuat ihsan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Kami telah menurunkan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah menurunkannya kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya dan) seperti (telah Kami turunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak) yakni kedua putranya (serta Yakub) bin Ishak (dan anak-anaknya) yakni anak-anak Yakub (serta Isa, Ayub, Yunus, Harun, Sulaiman dan Kami datangkan kepada) bapaknya, yakni bapak dari Sulaiman (Dawud Zabur) dibaca dengan fathah hingga artinya ialah nama kitab yang diturunkan, dan ada pula yang membaca dengan marfu` yaitu mashdar yang berarti mazbuura artinya yang tertulis.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Sakan dan Addi ibnu Zaid bertanya, Hai Mu-hammad, kami tidak mengetahui bahwa Allah menurunkan suatu kitab kepada manusia sesudah Musa. Maka Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan ucapan kedua orang Yahudi itu, yaitu firman-Nya:

 إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya. (An-Nisaa’ : 163)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi yang menceritakan bahwa Allah menurunkan firman-Nya:

 يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنزلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. (An-Nisaa’ : 153)

sampai dengan firman-Nya:

 وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا

Dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). (An-Nisaa’ : 156)

Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi melanjutkan kisahnya, bahwa ketika Nabi ﷺ membacakan ayat-ayat tersebut kepada mereka (orang-orang Yahudi) dan memberitahukan kepada mereka perihal sepak terjang mereka yang jahat itu, maka mereka mengingkari semua kitab yang diturunkan oleh Allah, lalu mengatakan, Allah sama sekali tidak pernah menurunkan sesuatu pun kepada manusia, baik Musa, atau Isa, ataupun nabi lainnya. Maka Nabi ﷺ berdiri, kemudian bersabda, Juga tidak kepada seorang pun? Maka Allah menurunkan firman-Nya:

 وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia. (Al-An’am: 91)

Akan tetapi, apa yang diceritakan oleh Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi ini masih perlu dipertimbangkan. Karena sesungguhnya ayat dalam surat Al-An’am ini adalah Makkiyyah, sedangkan ayat yang ada di dalam surat An-Nisaa’  adalah Madaniyyah, merupakan bantahan terhadap mereka ketika mereka meminta kepada Nabi ﷺ agar menurunkan sebuah kitab dari langit. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

 فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ

Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. (An-Nisaa’ : 153)

Selanjutnya Allah menyebutkan perbuatan-perbuatan mereka yang memalukan dan penuh dengan keaiban, serta apa yang telah mereka lakukan di masa silam dan masa sekarang, yaitu berupa kedustaan dan kebohongan. Lalu Allah Subhaanahu wa Ta’aala. menyebutkan bahwa Dia telah menurunkan wahyu kepada hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana Dia telah menurunkan wahyu kepada nabi-nabi terdahulu. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala. berfirman:

 إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya. (An-Nisaa’ : 163) sampai dengan firman-Nya: Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. (An-Nisaa’ : 163)

Ayat berikutnya: Para Rasul Ada yang Dikisahkan dan Ada yang Tidak Dikisahkan-Nya 

Zabur adalah nama kitab yang diturunkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala. kepada Nabi Dawud ‘alaihis salamKami akan menguraikan riwayat masing-masing nabi tersebut pada kisah-kisah mereka dalam surat Al-Anbiya, insya Allah; hanya kepada Allah kami percaya dan berserah diri.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPara Rasul Ada yang Dikisahkan dan Ada yang Tidak Dikisahkan-Nya
Berita berikutnyaPujian kepada Orang-orang yang Ilmunya Mendalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here