Keadaan yang Dialami oleh Orang-orang yang Berbahagia

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 122

0
94

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 122. Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menyebutkan keadaan yang dialami oleh orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang bertakwa serta kehormatan yang sempurna yang diperolehnya. Firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (Q.S. An-Nisaa’ : 122)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wal ladzīna āmanū (orang-orang yang beriman) kepada Muhammad ﷺ dan Al-Qu’ran .

Wa ‘amilush shālihāti (dan melakukan amal-amal saleh), yakni ketaatan-ketaatan yang berhubungan dengan Rabb-nya.

Sa nud-khiluhum jannātin (kelak akan Kami masukkan ke dalam surga), yakni taman-taman.

Tajrī miη tahtiha (yang mengalir di bawahnya), yakni di bawah kamar-kamar dan tempat-tempat tinggalnya.

Al-anhāru (sungai-sungai), yaitu sungai khamar, sungai madu, sungai air, dan sungai susu.

Khālidīna fīhā (mereka kekal di dalamnya), yakni mereka tinggal di dalam surga dan tak akan pernah mati, serta tidak akan dikeluarkan darinya.

Abadā, wa‘dallāhi (selama-lamanya. Allah telah membuat janji) perihal surga dan neraka.

Haqqā (yang benar), yakni akan terjadi dan terbukti.

Wa man ashdaqu minallāhi qīlā (dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah), yakni yang lebih benar janjinya daripada Allah.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

122.[1] Orang-orang yang beriman[2] dan mengerjakan amal saleh[3], kelak akan Kami masukkan ke dalam surga[4] yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?

[1] Setelah disebutkan pada ayat sebelumnya tempat kembali orang-orang yang celaka yang menjadi wali-wali setan, maka pada ayat ini disebutkan tempat kembali orang-orang yang berbahagia yang menjadi wali-wali Allah.

[2] Baik kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasul-Nya, hari akhir dan kepada qadar yang baik dan yang buruk sesuai yang diperintakan kepada mereka, baik mengetahui, membenarkan maupun mengakui.

[3] Yang muncul dari keimanan. Amal saleh di sini mencakup semua yang diperintahkan, baik yang wajib maupun yang sunat, yang terkait dengan hati, lisan maupun anggota badan.

[4] Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Ada makanan dan minuman yang enak, buah-buahan yang nikmat, pemandangan indah yang menyenangkan, istri-istri yang cantik, istana dan kamar-kamar yang indah, pohon-pohon yang lebat, suara-suara menyenangkan, ada kunjungan dari ikhwan serta mengingatkan mereka terhadap masa-masa mereka ketika berada di taman-taman surga (majlis dzikr/ilmu), dan yang lebih tinggi dari semua itu adalah keridhaan Allah kepada mereka, dekat dengan-Nya dan bisa melihat-Nya serta mendengarkan firman-Nya, di mana itu semua membuat mereka lupa dengan semua kesenangan. Ditambah lagi dengan kekalnya mereka di tempat-tempat yang indah dan tinggi tersebut.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di bawahnya mengalir anak-anak sungai, kekal mereka di dalamnya buat selama-lamanya. Itu adalah janji yang benar dari Allah) artinya Allah telah menjanjikan demikian kepada mereka dan Allah pastilah akan menepati janji-Nya. (Dan siapakah lagi) maksudnya tak ada lagi (yang lebih benar dari Allah ucapannya) perkataan dan janjinya. Ayat berikut turun tatkala kaum Muslimin dan golongan Ahli kitab membangga-banggakan diri mereka: ….

.

Tafsir Ibnu Katsir

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menyebutkan keadaan yang dialami oleh orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang bertakwa serta kehormatan yang sempurna yang diperolehnya. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh. (An-Nisaa’: 122)

Yaitu hati mereka percaya dan semua anggota tubuh mereka mengamalkan semua yang diperintahkan kepada mereka berupa kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan semua perkara mungkar yang dilarang mereka mengerjakannya.

سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ

Kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. (An-Nisaa’: 122)

Maksudnya, mereka dapat mengalirkannya menurut apa yang mereka kehendaki dan di mana pun mereka kehendaki.

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (An-Nisaa’: 122)

Yakni tidak akan hilang kenikmatan itu dan tidak akan pindah darinya.

وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا

Allah telah membuat suatu janji yang benar. (An-Nisaa’: 122)

Artinya, hal ini merupakan janji Allah, dan janji Allah itu sudah dimaklumi pasti nyata dan pasti terjadinya. Karena itulah maka dalam firman ini ungkapan diperkuat dengan memakai masdar untuk menunjukkan kepastian dari berita, yaitu firman-Nya, Haqqan.

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا

Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (An-Nisaa’: 122)

Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang lebih benar perkataannya daripada Allah Subhaanahu wa Ta’aala  Yang dimaksud dengan lebih benar ialah lebih baik; tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

Ayat berikutnya: Pahala Itu Bukanlah Menurut Angan-angan 

Tersebutlah bahwa Rasulullah ﷺ bila dalam khotbahnya selalu mengucapkan kalimat berikut:

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كَلَامُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النار

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah firman Allah, dan sebaik-baik hidayah ialah hidayah Muhammad Dan seburuk-buruk perkara ialah hal-hal yang baru, dan setiap hal yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaPahala Itu Bukanlah Menurut Angan-angan
Berita berikutnyaMemberikan Janji-janji dan Membangkitkan Angan-angan Kosong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here