Ikhlas Tunduk kepada Allah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 125

0
59

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 125. Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas tunduk kepada Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas tunduk kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (Q.S. An-Nisaa’ : 125)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa man ahsanu dīnan (dan siapakah yang lebih baik agamanya), yakni siapakah yang agamanya lebih kukuh dan perkataannya lebih baik.

Mimman aslama wajhahū lillāhi (daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah), yakni daripada orang yang mengikhlaskan agama dan amalnya karena Allah Ta‘ala semata.

Wa huwa muhsinun (sedang ia pun berbuat kebaikan), yakni selain itu ia pun orang yang bertauhid serta senantiasa berbuat baik dalam ucapan dan perbuatan.

Wat taba‘a millata ibrāhīma hanīfā (dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus), yakni yang Muslim.

Wat takhadzallāhu ibrāhīma khalīlā (dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya), yakni sebagai sahabat karib-Nya.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas tunduk kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan[13], dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus?[14] Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya[15].

[13] Yakni mengikuti syari’at rasul-Nya.

[14] Yang sesuai dengan agama Islam, meninggalkan syirk menuju tauhid dan meninggalkan berharap kepada makhluk beralih kepada Allah.

[15] Khullah (kesayangan) merupakan tingkatan tertinggi dalam hal cinta. Tingkatan khullah ini diraih oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihima wa sallam, adapun mahabbah (cinta di bawah khullah), maka hal itu diberikan kepada kaum muslimin secara umum. Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengangkat Nabi Ibrahim sebagai kesayangan-Nya karena ia mampu memenuhi semua yang diperintahkan-Nya kepadanya dan semua ujian dapat dihadapinya, oleh karena itu, Allah menjadikannya sebagai imam bagi manusia, mengangkatnya sebagai kesayangan-Nya dan meninggikan namanya di alam semesta.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan siapakah) maksudnya tidak seorang pun (yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya) artinya ia tunduk dan ikhlas dalam beramal (karena Allah, sedangkan dia berbuat kebaikan) bertauhid (serta mengikuti agama Ibrahim) yang sesuai dengan agama Islam (yang lurus) menjadi hal, arti asalnya jalan condong, maksudnya condong kepada agama yang lurus dan meninggalkan agama lainnya. (Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya) yang disayangi-Nya secara tulus dan murni.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah. (An-Nisaa’: 125)

Yakni ikhlas dalam beramal demi Tuhannya, amal perbuatannya didasari oleh iman, dan mengharapkan pahala serta rida-Nya.

وَهُوَ مُحْسِنٌ

Sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan. (An-Nisaa’: 125)

Dalam beramal ia mengikuti jalur yang telah disyariatkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  kepadanya, sesuai dengan tuntunan hidayah dan agama yang hak yang disampaikan oleh Rasul-Nya. Kedua syarat ini harus dipenuhi oleh seseorang bila ia menginginkan amalnya diterima; suatu amal perbuatan tanpa keduanya tidaklah sah. Dengan kata lain, amal yang ikhlas lagi benar harus dilandasi dengan kedua syarat ini. Amal yang ikhlas ialah amal yang dilakukan karena Allah, dan amal yang benar ialah amal yang mengikuti ketentuan syariat. Secara lahiriah dinilai sah dengan mengikuti peraturan syariat dan secara batiniah dilandasi dengan ikhlaskeduanya ini saling berkaitan erat. Maka, manakala salah satu dari kedua syarat ini tidak dipenuhi oleh suatu amal, amal tersebut tidak sah. Bila tidak dilandasi oleh ikhlasberarti pelakunya adalah munafik, yaitu orang-orang yang suka pamer (riya). Orang yang dalam amalnya tidak mengikuti tuntunan syariat, berarti dia sesat dan bodoh. Tetapi bila kedua syarat tersebut terpenuhi, maka amal perbuatannya itu termasuk amal perbuatan orang-orang yang mukmin. Seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  di dalam firman-Nya:

الَّذِينَ يَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئاتِهِمْ

Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka. (Al-Ahqaf: 16), hingga akhir ayat.

Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus. (An-Nisaa’: 125)

Mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikutnya sampai hari kiamat nanti. Perihalnya sama dengan makna ayat lain, yaitu firman-Nya:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْراهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهذَا النَّبِيُّ

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad). (Ali Imran: 68), hingga akhir ayat.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang lainnya, yaitu:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An-Nahl: 123)

Yang dimaksud dengan istilah al-hanif ialah yang sengaja menyimpang dari kemusyrikan. Dengan kata lain, meninggalkannya karena mengerti dan menghadapkan diri kepada perkara yang hak secara keseluruhan dengan keteguhan hati, tanpa ada yang bisa menghalanginya dan tidak ada yang dapat mengusiknya dari perkara yang hak.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْراهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (An-Nisaa’: 125)

Di dalam ayat ini terkandung makna yang menganjurkan mengikuti Ibrahim ‘alaihis salam karena dia adalah seorang imam yang diikuti, mengingat dia telah mencapai puncak tingkatan taqarrub seorang hamba kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala  Sesungguhnya dia telah sampai kepada tingkatan khullah (kekasih) yang merupakan kedudukan mahabbah yang tertinggi. Hal ini tiada lain berkat ketaatannya yang banyak kepada Tuhannya, seperti yang disebut di dalam firman-Nya:

وَإِبْراهِيمَ الَّذِي وَفَّى

Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (An-Najm: 37)

Menurut kebanyakan ulama Salaf, makna yang dimaksud dengan lafaz waffa ialah orang yang mengerjakan semua yang diperintahkan kepadanya; tiada suatu pun yang termasuk ke dalam pengertian ibadah, melainkan dia mengerjakannya. Nabi Ibrahim tidak pernah melupakan hal kecil karena sedang sibuk dengan hal yang besar, tidak pernah pula melupakan perkara remeh karena sedang mengerjakan perkara yang agung dalam masalah ibadah.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  telah berfirman:

وَإِذِ ابْتَلى إِبْراهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِماتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya (secara sempurna). (Al-Baqarah: 124), hingga akhir ayat.

إِنَّ إِبْراهِيمَ كانَ أُمَّةً قانِتاً لِلَّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Selanjutnya: Allah Mengambil Ibrahim Menjadi Kesayangan-Nya 

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (An-Nahl: 120)

Hingga ayat sesudahnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here