Disambar Petir Karena Kezalimannya

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 153

0
157

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 153. Gangguan Ahli Kitab kepada para nabi mereka; mereka disambar petir karena kezalimannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ثُمَّ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَنْ ذَلِكَ وَآتَيْنَا مُوسَى سُلْطَانًا مُبِينًا

(Orang-orang) Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu (Muhammad) menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka. Sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. Kemudian mereka menyembah anak sapi, setelah mereka melihat bukti-bukti yang nyata, namun demikian Kami maafkan mereka, dan telah Kami berikan kepada Musa kekuasaan yang nyata. (Q.S. An-Nisaa’: 153)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yas-aluka ahlul kitābi (ahli kitab meminta kepadamu). Ahli kitab tersebut adalah Ka‘b dan kawan-kawannya.

Aη tunazzila ‘alaihim kitābam minas samā-i (agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit) secara sekaligus seperti halnya Taurat. Menurut satu pendapat, agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab yang mengungkapkan kebaikan dan keburukan mereka, serta pahala dan siksa untuk mereka.

Fa qad sa-alū mūsā akbara miη dzālika (maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa lebih besar daripada itu), yakni lebih besar dari apa yang mereka pinta kepadamu.

Fa qālū arinallāha jahratan (mereka mengatakan, “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan jelas”), yakni agar bisa dilihat dengan mata telanjang.

Fa akhadzat-humush shā‘iqatu (karenanya, mereka pun disambar petir), yakni api (petir) pun lantas membakar mereka.

Bi zhulmihim (lantaran kezaliman mereka), yakni lantaran mereka mendustakan Musa ‘alaihis salam dan bersikap lancang terhadap Allah ‘Azza wa Jalla.

Tsummattakhadzul ‘ijla (kemudian mereka menjadikan anak sapi), yakni menyembah patung anak sapi.

Mim ba‘di mā jā-athumul bayyinātu (sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata), baik perintah maupun larangan.

Fa ‘afaunā ‘aη dzālika (lalu Kami memaafkan [mereka] dari yang demikian itu), yakni Kami membiarkan mereka dan tidak membinasakan mereka.

Wa ātainā mūsā sulthānam mubīnā (dan Kami telah memberikan kepada Musa keterangan yang nyata), yakni bukti yang jelas, berupa tangan dan tongkat.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. (Orang-orang) Ahli Kitab[16] meminta kepadamu agar kamu (Muhammad) menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka[17]. Sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. Kemudian mereka menyembah anak sapi[18], setelah mereka melihat bukti-bukti yang nyata, namun demikian Kami maafkan mereka[19], dan telah Kami berikan kepada Musa kekuasaan yang nyata[20].

[16] Yakni orang-orang Yahudi.

[17] Sebagaimana Taurat dan Injil yang diturunkan sekaligus. Permintaan mereka ini merupakan kezaliman dan kebodohan, karena rasul adalah manusia; hamba yang diatur, dia tidak memiliki kekuasaan apa-apa, bahkan semua urusan ada di Tangan Allah, Dia mengutus dan menurunkan sesuai yang dikehendaki-Nya. Adapun sikap mereka menjadikan pemisah antara yang hak dan yang batil dengan melihat apakah kitab itu diturunkan secara sekaligus atau tidak hanyalah dakwaan yang tidak memiliki dalil dan munasabah (kesesuaian). Bahkan diturunkannya Al-Qur’an  secara bertahap sesuai kondisi menunjukkan keagungan Al-Qur’an  dan perhatian Allah kepada orang yang diturunkan kepada Al-Qur’an , sebagaimana firman Allah, “Orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah agar Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). 33. Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (Terj. Al-Qur’an : 32-33)

Setelah Allah menyebutkan permintaan mereka di atas yang menunjukkan keburukan mereka, Allah menjelaskan bahwa yang demikian tidaklah asing, bahkan ada perbuatan-perbuatan buruk mereka yang lebih parah lagi dari permintaan itu, di antaranya:

  • Permintaan mereka untuk melihat Allah secara langsung,
  • Penyembahan mereka kepada anak sapi setelah mereka melihat bukti-bukti yang nyata (mukjizat) yang tidak disaksikan oleh selain mereka.
  • Keengganan mereka menerima hukum-hukum Taurat sampai diangkat gunung Sinai ke atas kepala mereka. Mereka diancam, bahwa jika mereka tidak mau menerimanya, maka akan dijatuhkan gunung tersebut kepada mereka, hingga akhirnya mereka mau menerima nampak seperti terpaksa.
  • Keengganan mereka memasuki pintu gerbang Baitulmaqdis sambil bersujud dan meminta ampunan, bahkan mereka menyelisihi perintah itu baik dengan kata-kata maupun dengan sikap.
  • Melanggar peraturan mengenai hari Sabat. Oleh karena itu, Allah menghukum mereka dengan hukuman yang menghinakan; menjadikan mereka sebagai kera yang hina.
  • Melempar perjanjian yang telah diambil dari mereka ke belakang punggungnya.
  • Kafir kepada ayat-ayat Allah.
  • Membunuh para rasul tanpa alasan yang benar.
  • Pernyataan mereka, bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa ‘alaihis salam dan telah menyalibnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya. Yang mereka bunuh dan salib adalah orang yang dimiripkan dengan Nabi Isa ‘alaihis salam.
  • Pernyataan mereka, bahwa hati mereka terkunci; tidak memahami dan tidak mengerti apa yang Rasulullah ﷺsampaikan.
  • Menghalangi manusia dari jalan Allah, menghalangi manusia dari kebenaran dan mengajak mereka agar bersama di atas kesesatan.
  • Memakan harta haram dan riba.

Semua ini dapat dibaca dari ayat 153-161 di atas.

[18] Anak sapi itu dibuat mereka dari emas, lalu mereka sembah.

[19] Dan tidak Kami musnahkan.

[20] Yakni terhadap kaumnya. Oleh karena itu, ketika Beliau memerintahkan mereka membunuh diri mereka sebagai tobatnya, mereka pun menurutinya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Ahli Kitab meminta kepadamu) hai Muhammad; maksudnya orang-orang Yahudi (agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit) maksudnya sekaligus seperti pernah diturunkan-Nya kepada Musa guna mempersulit permintaan itu.

Dan sekiranya menurut kamu itu berat (maka sesungguhnya mereka telah pernah meminta) maksudnya nenek moyang mereka (kepada Musa yang lebih besar dari itu, kata mereka, “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan jelas.”) atau nyata. (Maka mereka disambar oleh petir) artinya maut sebagai hukuman bagi mereka (disebabkan keaniayaan mereka) yakni meminta barang yang sulit. (Kemudian mereka mengambil anak sapi) sebagai tuhan (setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata) artinya mukjizat-mukjizat atas kekuasaan Allah (maka Kami maafkan mereka dari hal yang demikian) dan tidak Kami basmi mereka secara tuntas (dan telah Kami berikan kepada Musa kekuasaan yang nyata) artinya keunggulan yang menakjubkan bagi mereka hingga sewaktu mereka disuruh membunuh diri mereka guna bertobat mereka pun menurutinya dengan patuh.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, As-Saddi, dan Qatadah mengatakan bahwa orang-orang Yahudi pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ agar beliau menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit, sebagaimana kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa dalam keadaan tertulis.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa mereka meminta agar diturunkan lembaran-lembaran dari Allah yang tertulis, ditujukan kepada si Fulan dan si Fulan, untuk membuktikan kebenaran apa yang didatangkan oleh Nabi ﷺ kepada mereka. Hal ini mereka ajukan hanyalah semata-mata sebagai penghinaan, keingkaran, kekufuran, dan kemurtadan mereka kepadanya. Perihalnya sama dengan apa yang pernah diminta oleh orang-orang kaflr Quraisy sebelum mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الأرْضِ يَنْبُوعًا

Dan mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami” (Al-Isra: 90), hingga akhir ayat berikutnya.

Karena itulah dalam surat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan melalui firman-Nya:

فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ

Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. (An-Nisaa’: 153)

Karena kezaliman mereka dan perbuatan mereka yang kelewat batas, juga karena keangkuhan dan keingkaran mereka. Apa yang disebut di dalam surat An-Nisaa’ ini dijelaskan di dalam surat Al-Baqarah melalui firman-Nya:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ. ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan (ingatlah) ketika kalian berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” Karena itu, kalian disambar halilintar, sedangkan kalian menyaksikannya. Sesudah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, supaya kalian bersyukur. (Al-Baqarah: 55-56)

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

ثُمَّ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ

Dan mereka menyembah anak sapi sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata. (An-Nisaa’: 153)

Yaitu sesudah mereka melihat mukjizat-mukjizat yang jelas dan bukti-bukti yang akurat melalui tangan Nabi Musa ‘alaihis salam di negeri Mesir, kebinasaan musuh-musuh mereka (yaitu Firaun), dan ditenggelamkannya semua bala tentaranya ke dalam laut. Tetapi tidak lama kemudian setelah berjalan bersama Nabi Musa dan mereka bersua dengan suatu kaum yang sedang menyembah berhala-berhalanya, maka dengan serta merta mereka berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam Ucapan mereka itu disitir oleh firman-Nya:

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ

Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala). (Al-A’raf: 138), hingga dua ayat berikutnya.

Ayat berikutnya: Untuk Menguatkan Perjanjian Mereka 

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan kisah mereka mengambil anak sapi sebagai sesembahan mereka secara panjang lebar dalam surat Al-A’raf, juga dalam surat Thaha; hal itu terjadi setelah Nabi Musa ‘alaihis salam berangkat (ke Bukit Tursina) untuk bermunajat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala Kemudian ketika ia kembali, terjadilah apa yang telah terjadi, dan Allah menjadikan tobat orang yang melakukan penyembahan itu dan yang membuatnya, hendaknya orang yang tidak ikut menyembah membunuh orang yang menyembahnya (anak sapi itu). Sehingga akhirnya sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain, setelah itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghidupkan mereka kembali. Lalu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

فَعَفَوْنَا عَنْ ذَلِكَ وَآتَيْنَا مُوسَى سُلْطَانًا مُبِينًا

Lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian itu. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. (An-Nisaa’: 153)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaUntuk Menguatkan Perjanjian Mereka
Berita berikutnyaBuah dari Keimanan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here