Azab yang Menghinakan

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 150-151

0
130

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 150-151. Beriman kepada semua para rasul Allah adalah syarat sahnya iman dan ‘aqidah, dan akibat dari kekafiran Allah telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا (١٥٠) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (١٥١)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain), serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), (Q.S. An-Nisaa’ : 150)

Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan. (Q.S. An-Nisaa’ : 151)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innal ladzīna yakfurūna billāhi wa rusulihī (sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya), yaitu Ka‘b dan kawan-kawannya.

Wa yurīdūna ay yufarriqū bainallāhi wa rusulihī (dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan [keimanan kepada] Rasul-rasul-Nya), yakni menyangkut masalah kenabian dan Islam.

Wa yaqūlūna nu’minu bi ba‘dlin (mereka mengatakan, kami beriman kepada sebagian), yakni kepada sebagian kitab dan rasul.

Wa nakfuru bi ba‘dlin (dan kami kafir kepada sebagian [yang lain]), yakni kepada sebagian kitab dan rasul yang lain.

Wa yurīdūna ay yattakhidzū baina dzālika (dan mereka bermaksud [dengan ucapan tersebut] mengambil di antara yang demikian itu), yakni di antara iman dan kafir.

Sabīlā (jalan), yakni agama.

Ulā-ika humul kāfirūna haqqaw wa a‘tadnā lil kāfirīna (mereka adalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah Menyediakan untuk orang-orang yang kafir), yakni orang-orang Yahudi dan selainnya.

‘Adzābam muhīnā (azab yang menghinakan), yakni mereka dihinakan dengan azab itu. Menurut pendapat yang lain, azab yang dahsyat.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

150.[9] Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan[10] antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, kami beriman kepada sebagian[11] dan kami mengingkari sebagian (yang lain), serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir),

[9] Di antara orang mukmin dan orang kafir ada orang yang berusaha mengambil jalan tengah, yaitu orang yang beriman kepada Allah dan ingkar kepada rasul-rasul-Nya atau beriman kepada sebagian rasul dan ingkar kepada sebagian lagi. Mereka mengira bahwa hal itu dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah, padahal yang demikian hanyalah angan-angan kosong mereka. Orang yang beriman kepada Allah menghendaki untuk beriman kepada rasul-rasul-Nya, oleh karenanya barang siapa yang ingkar kepada salah satu rasul-Nya, maka sama saja ia telah ingkar kepada Allah dan mengingkari semua rasul.

[10] Maksudnya beriman kepada Allah, namun tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya.

[11] Yakni sebagian rasul.

  1. Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya[12]. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.

[12] Agar tidak ada kesan bahwa mereka berada di tengah-tengah antara keimanan dan kekafiran.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud akan membeda-bedakan di antara Allah dengan rasul-rasul-Nya) yakni dengan beriman kepada-Nya serta kafir terhadap mereka (serta mengatakan, kami beriman kepada sebagian) di antara rasul-rasul itu (dan kami kafir terhadap yang lain) dari mereka (serta bermaksud hendak mengambil di antara demikian) maksudnya di antara kufur dan iman (jalan) yang akan mereka tempuh.
  2. (Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya) haqqan adalah mashdar yang memperkuat isi kalimat sebelumnya (dan telah Kami sediakan bagi orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan) artinya azab neraka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengecam tindakan orang-orang yang kafir kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka dalam imannya membeda-bedakan antara iman kepada Allah dan iman kepada rasul-rasul-Nya. Mereka beriman kepada sebagian para nabi dan mengingkari sebagian yang lainnya, hanya berdasarkan selera dan tradisi serta apa yang mereka jumpai dari nenek moyang mereka semata, sama sekali tidak berdasarkan kepada dalil yang melandasi keyaklnan mereka. Sebenarnya tidak ada jalan bagi mereka untuk itu, yang mendorong mereka berbuat hal tersebut hanyalah semata-mata karena dorongan hawa nafsu dan fanatisme.

Orang-orang Yahudi semoga laknat Allah menimpa mereka beriman kepada semua nabi, kecuali Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad ﷺ Orang-orang Nasrani beriman kepada semua nabi, tetapi mereka ingkar kepada pemungkas para nabi dan yang paling mulia di antara mereka, yaitu Nabi Muhammad ﷺ

Orang-orang Samiri (suatu sekte dari Yahudi) tidak beriman kepada seorang nabi pun sesudah Yusya’, pengganti (khalifah) Nabi Musa ibnu Imran.

Orang-orang Majusi menurut suatu pendapat pada mulanya beriman kepada seorang nabi mereka yang dikenal dengan nama Zaradesy (Zoroaster), kemudian mereka kafir kepada syariatnya, maka nabi mereka diangkat oleh Allah dari kalangan mereka.

Makna yang ‘dimaksud ialah ‘barang siapa yang kafir kepada seseorang dari kalangan para nabi, berarti ia kafir kepada semua nabi’ Karena sesungguhnya diwajibkan bagi kita beriman kepada setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi ini. Barang siapa yang mengingkari kenabiannya karena dengki atau fanatisme atau kecenderungan belaka, berarti jelas imannya kepada nabi yang ia percayai bukanlah berdasarkan iman yang diakui oleh syariat, melainkan hanya semata-mata karena maksud tertentu, hawa nafsu, dan fanatisme. Karena itulah disebutkan oleh Allah dalam ayat ini melalui firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. (An-Nisaa’ : 150)

Allah menyebut mereka dengan nama orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.

وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ

Dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya. (An-Nisaa’ : 150)

Yakni dalam hal iman.

وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

Dengan mengatakan, Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain),serta bermaksud (dengan perkataan itu), mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman dan kafir). (An-Nisaa’ : 150)

Artinya, mereka hendak membuat jalan tersendiri antara iman dan kafir.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan perihal mereka melalui firman-Nya:

أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا

Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. (An-Nisaa’ : 151)

Kekufuran mereka terbukti dan tiada alasan untuk dikatakan beriman bagi seseorang yang berkeyakinan demikian, sebab iman seperti itu bukanlah iman yang diakui oleh syariat. Karena seandainya mereka benar-benar beriman kepada seorang rasul karena diutus oleh Allah, pastilah mereka beriman pula kepada rasul lainnya, terlebih lagi imannya kepada rasul yang lebih jelas dalilnya dan lebih kuat buktinya daripada rasul yang diimaninya. Atau setidaknya ia mempertimbangkan dengan pertimbangan yang sesungguhnya mengenai kenabiannya. Mengenai firman-Nya:

وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (An-Nisaa’ : 151)

Sebagaimana mereka menghina rasul yang mereka ingkari, adakalanya karena mereka tidak mau memandang sebelah mata pun kepada apa yang disampaikannya dari Allah dan berpaling darinya, serta kesukaan mereka dalam menghimpun perhiasan duniawi yang fana, padahal mereka tidak harus mengumpulkannya. Adakalanya karena mereka kafir kepadanya sesudah mengetahui kenabiannya, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan para rahib Yahudi di masa Rasulullah ﷺ Mereka dengki terhadap Rasul ﷺ karena beliau mendapat kenabian yang besar, lalu mereka menentangnya, mendustakan, memusuhi, dan memeranginya. Maka Allah menimpakan kepada mereka kehinaan di dunia yang terus berlanjut dengan kehinaan di akhirat. Sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

Ayat berikutnya: Buah dari Keimanan 

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ

Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. (Al-Baqarah: 61)

Yakni di dunia dan akhirat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaBuah dari Keimanan
Berita berikutnyaMemaafkan Suatu Kesalahan Orang Lain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here