Allah tidak Mengampuni Dosa Syirk

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 116

0
70

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 116. Menerangkan kafirnya orang musyrik dan murtad serta hukuman bagi mereka, dan menerangkan bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirk. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirk (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh dia telah tersesat jauh sekali. (Q.S. An-Nisaa’ : 116)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innallāha lā yaghfiru ay yusy-raka bihī (sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan [sesuatu] dengan-Nya), yakni kalau mati dalam keadaan musyrik, seperti halnya Thu‘mah.

Wa yaghfiru mā dūna dzālika (tetapi Dia mengampuni dosa selain itu), yakni selain syirik.

Li may yasyā’ (bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya), yakni bagi siapa saja yang pantas menerimanya.

Wa may yusyrik billāhi fa qad dlalla dlalālam ba‘īdā (dan barangsiapa yang berbuat syirik terhadap Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sangat jauh) dari petunjuk.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirk (mempersekutukan Allah dengan sesuatu)[15], dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki[16]. Barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh dia telah tersesat jauh sekali.

[15] Dosa syirk tidak diampuni Allah karena di dalamnya mengandung pencacatan Rabul ‘alamin dan keesaan-Nya, demikian juga karena di dalam menyamakan antara makhluk yang tidak berkuasa memberi manfaat dan madharrat dengan Al Khaliq yang berkuasa memberi manfaat dan madharrat, di mana tidak ada satu pun nikmat kecuali dari-Nya dan tidak ada yang dapat menolak bahaya selain Dia. Dia memiliki kesempurnaan secara mutlak dari berbagai segi dan Maha Kaya dari segala sisi. Oleh karena itu, kezaliman yang paling besar dan kesesatan yang paling jauh adalah mengalihkan ibadah kepada makhluk yang memiliki kelemahan dan kekurangan.

[16] Dosa-dosa di bawah syirk tahta masyii’atillah (di bawah kehendak Allah); jika Allah menghendaki, maka Dia mengampuninya dengan rahmat dan kebijaksanaan-Nya, dan jika Dia menghendaki, maka Dia akan mengazabnya dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya) dari kebenaran.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam pembahasan yang lalu telah kami ketengahkan makna ayat yang mulia ini, yaitu firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu. (An-Nisaa’: 116), hingga akhir ayat.

Telah kami sebutkan pula hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat ini pada permulaan surah (yakni surah An-Nisaa’).

Imam Turmuzi meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Saubar ibnu Abu Fakhitan alias Sa’id ibnu Alaqah, dari ayahnya, dari Ali radiallahu ‘anhu yang mengatakan, Tiada suatu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang lebih aku sukai selain ayat ini, yakni firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia. (An-Nisaa’: 116), hingga akhir ayat.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa asar ini hasan garib.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالًا بَعِيداً

Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An-Nisaa’: 116)

Ayat berikutnya: Yang Mereka Sembah Selain Allah 

Yakni sesungguhnya dia telah menempuh jalan selain jalan yang benar, dan telah tersesat dari jalan hidayah, jauh dari kebenaran. Ini berarti dia membinasakan dirinya sendiri, merugi di dunia dan akhirat, terlewatkan olehnya kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaYang Mereka Sembah Selain Allah
Berita berikutnyaHukuman bagi Orang yang Menyelisih Rasulullah ﷺ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here