Supaya Tidak Sesat

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 176

0
134

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 176. Allah menerangkan hukum tentang warisan kalalah, Supaya kalian tidak sesat.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ

Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian. (An-Nisaa’: 176)

Yakni menetapkan kepada kalian fardu-fardu-Nya, meletakkan untuk kalian batasan-batasan-Nya. serta menjelaskan kepada kalian syariat-syariat-Nya.

Sebelumnya: Tentang Warisan Kalalah 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

أَنْ تَضِلُّوا

Supaya kalian tidak sesat. (An-Nisaa’: 176)

Maksudnya, agar kalian tidak sesat dari perkara yang hak sesudah penjelasan ini.

وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nisaa’: 176)

yaitu Dia mengetahui semua akibat segala perkara dan kemaslahatannya, serta kebaikan bagi hamba-hamba-Nya yang terkandung di dalam perkara-perkara tersebut, dan apa yang berhak diterima oleh masing-masing dari kaum kerabat sesuai dengan kedekatan nasabnya dengan si mayat.

Abu Jafar ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya*qub, telah menceritakan kepadaku Ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari Muhammad ibnu Sirin yang menceritakan bahwa ketika mereka (para sahabat) berada dalam suatu perjalanan, sedangkan kepala kendaraan Huzaifah berada di belakang Rasulullah ﷺ dan kepala kendaraan Umar berada di belakang Huzaifah. Muhammad ibnu Sirin melanjutkan kisahnya, bahwa kemudian turunlah firman-Nya:

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, Allah memberi fatwa kepada kalian tentang kalalah. (An-Nisaa’: 176), hingga akhir ayat.

Maka Rasulullah ﷺ membacakannya kepada Huzaifah, dan Huzaifah membacakannya pula kepada Umar. Sesudah kejadian tersebut Umar bertanya kepada Huzaifah mengenai maknanya. Huzaifah menjawab, Demi Allah, sesungguhnya engkau ini dungu jika engkau menduga bahwa Nabi ﷺ telah memberitahukan maknanya kepadaku, lalu aku mengajarkannya kepadamu sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkannya kepadaku. Demi Allah, aku tidak menambahi sesuatu pun padanya untuk selama-lamanya. Muhammad ibnu Sirin melanjutkan kisahnya, bahwa Umar mengatakan, Ya Allah, jika Engkau telah menjelaskan makna ayat ini kepadanya, maka sesungguhnya makna ayat ini belum dijelaskan kepadaku.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dan Ibnu Jarir meriwayatkannya pula dari Al-Hasan ibnu Yahya, dari Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin dengan makna yang sama. Hadits ini munqati’ antara Ibnu Sirin dan Huzaifah.

Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Amr Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Hammad Al-Ma’anni dan Muhammad ibnu Marzuq; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Hissan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Ubaidah ibnu Huzaifah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ayat kalalah diturunkan kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang dalam perjalanan. Nabi ﷺ berhenti, dan tiba-tiba beliau mendapatkan Huzaifah berada di belakang unta kendaraannya sedang menaiki unta kendaraannya; maka Nabi ﷺ membacakan ayat itu kepadanya. Lalu Huzaifah melihat ke belakang. Tiba-tiba ia melihat Umar radiyallahu ‘anhu Maka Huzaifah membacakan ayat itu kepadanya. Ketika sahabat Umar memegang jabatan khalifah, ia memperhatikan masalah kalalah. Maka ia memanggil Huzaifah dan menanyakan tentang makna ayat tersebut. Huzaifah berkata, Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengajarkannya kepadaku, lalu aku mengajarkannya kepadamu, sebagaimana aku menerimanya dari Rasulullah. Demi Allah, aku benar-benar jujur. Demi Allah, aku sama sekali tidak menambahkan sesuatu pun dari hal itu.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan, Dalam hadits ini kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkannya kecuali Huzaifah, dan kami tidak mengetahui hadits ini mempunyai jalur sampai kepada Huzaifah kecuali jalur ini. Tiada yang meriwayatkannya dari Hisyam, kecuali Abdul A’la.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui hadits Abdul A’la.

قَالَ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَة: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الشَّيباني، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرّة، عَنْ سَعِيدٍ  [هُوَ] ابْنُ المسيَّب أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُوَرّث الْكَلَالَةَ؟ قَالَ: فَأَنْزَلَ اللَّهُ يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ   الْآيَةَ ، قَالَ: فَكَأَنَّ عُمَرَ لَمْ يَفْهَمْ. فَقَالَ لِحَفْصَةَ: إِذَا رَأَيْتِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طِيبَ نَفْس فَسَلِيهِ عَنْهَا، فَرَأَتْ مِنْهُ طِيبَ نَفْسٍ فَسَأَلَتْهُ عَنْهَا ، فقال: أبوك ذكر لك هذا؟ ما أَرَى أَبَاكِ يَعْلَمُهَا. قَالَ: وَكَانَ عُمَرُ يَقُولُ: مَا أَرَانِي أَعْلَمُهَا، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَالَ

Usman ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Asy-Syaibani, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id ibnul Musayyab, bahwa Umar pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai warisan secara kalalah. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). (An-Nisaa’: 176), hingga akhir ayat. Maka seakan-akan Umar kurang mengerti maknanya, lalu ia berkata kepada Hafsah, Jika kamu melihat Rasulullah sedang dalam keadaan baik-baik, tanyakanlah masalah ini kepadanya. Pada suatu waktu Hafsah melihat Rasulullah sedang dalam keadaan senang hati, maka ia menanyakan masalah kalalah itu kepadanya. Lalu Rasulullah bersabda,  Ayahmu yang menyuruhmu menanyakan masalah ini. Aku berpendapat bahwa ayahmu pasti tidak mengetahuinya. Tersebutlah bahwa Umar selalu mengatakan, Aku pasti tidak mengetahuinya karena Rasulullah telah mengatakannya demikian.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya, kemudian ia meriwayatkan lagi melalui jalur Ibnu Uyaynah, dari Umar ibnu Tawus, bahwa Umar menyuruh Hafsah menanyakan masalah kalalah kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ mengimlakan kepada Hafsah untuk ditulis pada sebuah tulang paha, lalu Nabi ﷺ bersabda.

مَنْ أَمَرَكِ بِهَذَا؟ أَعُمَرُ؟ مَا أَرَاهُ يُقِيمُهَا، أَوَمَا تَكْفِيهِ آيَةُ الصَّيْفِ؟

Siapakah yang menyuruhmu menanyakannya? Apakah Umar? Aku pasti menduga bahwa dia tidak dapat memahaminya dan dia tidak merasa puas dengan ayat saif.

Sufyan berkata: Yang dimaksud dengan ayat saif ialah yang ada di dalam surah An-Nisaa’, yaitu firman-Nya:

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ

Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. (An-Nisaa’: 12)

Tatkala mereka menanyakan kalalah kepada Rasulullah ﷺ, turunlah ayat yang ada di akhir surah An-Nisaa’. Maka Umar meletakkan tulang paha tersebut Demikianlah yang dikatakannya (Umar ibnu Tawus) dalam hadits ini. Dengan demikian, berarti hadits ini mursal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Assam, dari Al-A’masy, dari Qais ibnu Muslim, dari Tariq ibnu Syihab yang menceritakan bahwa Umar mengambil tulang paha (yang ada catatannya), lalu ia mengumpulkan semua sahabat Rasulullah ﷺ Kemudian ia berkata. Sesungguhnya aku akan memutuskan terhadap perkara kalalah dengan suatu keputusan yang kelak akan menjadi bahan pembicaraan kaum wanita di tempat pingitannya. Ketika itu juga muncul seekor ular dari rumah itu, maka mereka bubar. Umar berkata, Seandainya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghendaki untuk menyempurnakan urusan ini, niscaya Dia menyempurnakannya.

Sanad atsar ini sahih.

Al-Hakim Abu Abdullah An-Naisaburi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad ibnu Uqbah Asy-Syaibani di Kufah, telah menceritakan kepada kami Al-Haisam ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibnu Talhah ibnu Yazid ibnu Rukanah menceritakan asar berikut dari Umar ibnul Khatib yang mengatakan, Sesungguhnya jika aku menanyakan kepada Rasulullah ﷺ tentang tiga perkara, hal ini lebih aku sukai daripada ternak unta yang merah, yang dimaksud ialah menjadi khalifah sesudahnya.Yaitu mengenai masalah suatu kaum yang mengatakan bahwa zakat dikurangi dari harta benda kami, dan kami tidak mau menunaikannya kepadamu, apakah boleh memerangi mereka? Masalah lainnya tentang kalalah

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa atsar ini sahih sanadnya dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Kemudian Imam Hakim meriwayatkan asar ini dari Sufyan ibnu Uyaynah. dari Umar ibnu Murrah, dari Umar yang mengatakan:  Ada tiga perkara jika Nabi ﷺ berada di antara semuanya bagi kami, niscaya lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya, yaitu khilafah, kalalah, dan masalah riba.

Kemudian Imam Hakim mengatakan asar ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Masih dalam asar yang sama sampai kepada Sufyan ibnu Uyaynah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sulaiman Al-Ahwal menceritakan sebuah asar dari Tawus yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan, aku adalah orang yang paling akhir bersua dengan Umar, maka aku pernah mendengarnya mengatakan perkataan seperti yang kamu katakan itu. Aku (Tawus) bertanya, Apakah yang telah kukatakan? Sulaiman Al-Ahwal menjawab, Engkau telah mengatakan bahwa kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak.

Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat keduanya (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur Zam’ah ibnu Saleh, dari Amr ibnu Dinar dan Sulaiman Al-Ahwal, dari Tawus, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ia adalah orang yang paling akhir bersua dengan Umar ibnul Khattab. Umar mengatakan bahwa ia pernah berselisih pendapat dengan Abu Bakar mengenai masalah kalalah. Sedangkan pendapat yang dikatakannya adalah seperti pendapatmu. Disebutkan bahwa Umar mempersekutukan dalam hal mewaris antara saudara-saudara lelaki seibu seayah dengan saudara-saudara lelaki seibu dalam sepertiga, bila mereka semuanya berkumpul dalam suatu warisan. Tetapi Abu Bakar radiyallahu ‘anhu berpendapat berbeda.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Humaid Al-Umra, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab, bahwa Khali-fah Umar menulis suatu masalah sehubungan dengan masalah kakek dan kalalah ke dalam suatu catatan, lalu ia beristikharah kepada Allah seraya mengatakan, Ya Allah, jika Engkau mengetahui dalam masalah ini ada kebaikan, maka langsungkanlah. Ketika ia ditusuk, sambil kesakitan menahan lukanya yang parah ia memerintahkan agar catatannya itu diberikan kepadanya, lalu ia menghapus catatannya, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa isinya. Lalu ia berkata, Sesungguhnya aku pernah menulis suatu catatan sehubungan dengan masalah kakek dan kalalah, lalu aku beristikharah kepada Allah mengenainya, akhirnya aku berpendapat membiarkan kalian seperti apa yang kalian jalankan sekarang.

Ibnu Jarir mengatakan, telah diriwayatkan dari Umar radiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah mengatakan, Sesungguhnya aku merasa malu bila berselisih pendapat dalam masalah ini dengan Abu Bakar. Tersebutlah bahwa Abu Bakar radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa kalalah itu ialah ahli waris selain anak dan ayah.

Berikutnya: Turunnya Surah Al-Maa’idah 

Pendapat yang dikatakan oleh Abu Bakar As-Siddiq ini dijadikan pegangan oleh jumhur sahabat, tabi’in dan para imam sejak zaman dahulu hingga sekarang. Pendapat ini merupakan pegangan mazhab yang empat, ahli fiqih yang tujuh orang, dan pendapat para ulama di kota-kota besar. Pendapat inilah yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan dijelaskan melalui firman-Nya:

يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian, supaya kalian tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nisaa’: 176)

Demikian akhir Surah An-Nisaa’. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu Katsir

 

 

Berita sebelumyaTurunnya Surah Al-Maa’idah
Berita berikutnyaTentang Warisan Kalalah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here