Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 165

0
169

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 165. Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

رُسُلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisaa’ : 165)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Rusulan (rasul-rasul) yang telah Kami utus kepada mereka.

Mubasy-syirīna (sebagai pembawa berita gembira) berupa surga bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Ta‘ala.

Wa muηdzirīna (dan pemberi peringatan) berupa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Ta‘ala.

Li allā yakūna lin nāsi ‘alallāhi hujjatun (supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah) pada hari kiamat.

Ba‘dar rusul (sesudah diutusnya rasul-rasul itu), yakni sesudah diutus-Nya rasul-rasul kepada mereka. Supaya mereka tidak mengatakan, mengapa Engkau tidak mengutus para rasul kepada kami?

Wa kānallāhu ‘azīzan (dan adalah Allah Maha Perkasa) menimpakan hukuman kepada orang-orang yang tidak merespons rasul-rasul-Nya.

Hakīmā (lagi Maha Bijaksana), yakni Dia telah menetapkan agar mereka merespons para rasul. Kemudian Allah Ta‘ala menurunkan ayat yang berhubungan dengan perkataan penduduk Mekah, Kami telah menanyakan kepada ahli kitab perihal dirimu, tetapi tak seorang pun yang memberi kesaksian bahwa kamu adalah nabi dan rasul.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira[8] dan pemberi peringatan[9], agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus[10]. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[8] Bagi orang yang menaati Allah dan mengikuti mereka, bahwa mereka akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

[9] Bagi orang yang durhaka kepada Allah dan menyelisihi mereka, bahwa mereka akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

[10] Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Qashash: 47.

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang yang beriman. (Terj. Al Qashash: 47)

Para rasul telah menerangkan kepada manusia perkara agama mereka, apa saja yang diridhai Tuhan mereka dan apa yang dimurkai-Nya, telah menerangkan pula jalan-jalan ke surga dan jalan-jalan ke neraka, oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah dengan mengatakan belum ada yang datang kepada kami menjelaskan agama ini.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Yaitu rasul-rasul) menjadi badal bagi rasul-rasul yang sebelumnya (selalu pembawa berita gembira) dengan diberinya pahala kepada orang yang beriman (dan penyampaian peringatan) dengan adanya siksa kepada orang yang ingkar. Mereka Kami utus itu ialah (agar tidak ada lagi bagi manusia terhadap Allah alasan) yang dapat dikemukakan (setelah) pengiriman (rasul-rasul itu) kepada mereka, misalnya dengan mengatakan, Wahai Tuhan kami! Kenapa tidak Tuhan kirim kepada kami seorang rasul agar kami dapat mengikuti ayat-ayat-Mu dan menjadi orang-orang beriman! Maka Tuhan pun telah lebih dulu mengirimkan mereka untuk mematahkan alasan mereka tadi (Dan Allah Maha Tangguh) dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) dalam perbuatan-Nya. Ayat berikut diturunkan tatkala orang-orang Yahudi ditanyai orang mengenai kenabian Muhammad ﷺ lalu mereka ingkari:

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala.:

 رُسُلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (An-Nisaa’ : 165)

Yakni menyampaikan berita gembira kepada orang yang taat kepada Allah dan mengikuti jalan yang diridai-Nya dengan mengerjakan kebaikan, dan memberikan peringatan kepada orang yang menentang perintah-Nya dan mendustakan rasul-rasul-Nya dengan siksaan dan azab.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala.:

 لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutus-Nya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisaa’ : 165)

Dengan kata lain, Allah Subhaanahu wa Ta’aala. menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus rasul-rasul-Nya dengan membawa berita gembira dan peringatan, dan menerangkan apa yang disukai dan diridai-Nya serta menjelaskan apa yang dibenci dan ditolak-Nya, agar tidak ada alasan lagi bagi orang yang akan mengemukakan alasannya. Seperti pengertian yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu melalui firman-Nya:

 وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al-Qur’an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Demikian pula makna yang ada dalam firman lainnya, yaitu:

وَلَوْلا أَنْ تُصِيبَهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan. (Al-Qashash: 47)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadits melalui Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

لا أحَدَ أغَيْرَ من الله، من أجل ذلك حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَر مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا أحدَ أحبَّ إِلَيْهِ المدحُ مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ، وَلَا أحدَ أحَبَّ إِلَيْهِ العُذر مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَفِي لَفْظٍ: مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَرْسَلَ رُسُلَهُ، وَأَنْزَلَ كُتُبَهُ

Ayat berikutnya: Allah Subhaanahu wa Ta’aala Bersaksi untuk Nabi-Nya 

Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah, karena itulah Dia mengharamkan hal-hal yang keji baik yang lahir maupun yang batin (tidak kelihatan). Dan tidak ada seorang pun yang lebih suka dipuji daripada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Karena itu, maka Dia memuji diri-Nya sendiri. Tidak ada seorang pun yang lebih suka alasan selain dari Allah. Karena itu, Dia mengutus para nabi untuk menyampaikan berita gembira dan peringatan. Menurut lafaz yang lain disebutkan: Karena itulah maka Dia mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAllah Subhaanahu wa Ta’aala Bersaksi untuk Nabi-Nya
Berita berikutnyaDan Allah Telah Berbicara kepada Musa dengan Langsung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here