Pandangan Al-Qur’an Terhadap Nabi Isa ‘Alaihis Salam

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 171

0
188

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 171. Pandangan Al-Qur’an terhadap Nabi Isa ‘alaihis salam, penafian (peniadaan) ketuhanan Al Masih putera Maryam ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, (Tuhan itu) tiga, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari (anggapan) mempunyai anak, Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai saksinya. (Q.S. An-Nisaa’ : 171)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ahlal kitābi lā taghlū (wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas), yakni janganlah kalian mempersulit.

Fī dīnikum (dalam agama kalian), sebab hal itu tidaklah dibenarkan.

Wa lā taqūlū ‘alallāhi illal haqq (dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar), yakni kecuali kebenaran.

Innamal masīhu ‘īsabnu maryama rasūlullāhi wa kalimatuhū alqāhā ilā maryama (sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam), yakni dengan kalimat Allah Ta‘ala jadilah ia makhluk.

Wa rūhum minhu (dan roh dari-Nya), yakni dengan perintah dari-Nya jadilah ia anak tanpa seorang ayah.

Fa āminū billāhi wa rusulih (oleh karena itu, berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya), yakni hendaklah kalian beriman kepada segenap rasul, termasuk Isa ‘alaihis salam dan yang lainnya.

Wa lā taqūlū tsalātsah (dan janganlah kalian mengatakan, [Tuhan itu] tiga), yaitu anak, bapak, dan istri.

Iηtahū (berhentilah kalian) dari ucapan seperti itu, dan bertobatlah.

Khairal lakum ([itu] lebih baik bagi kalian) daripada ucapan kalian.

Innamallāhu ilāhuw wāhid (sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa), tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu.

Subhānahū (Maha Suci Allah), yakni sucikanlah dzat-Nya.

Ay yakūna lahū walad, lahū mā fis samāwāti wa mā fil ardl (dari mempunyai anak. kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan segala yang di bumi), yakni semua merupakan Hamba-Nya.

Wa kafā billāhi wakīlā (dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara), yakni sebagai Rabb yang memelihara dan mengurus segenap makhluk, serta sebagai saksi atas apa yang dikatakan tentang Isa ‘alaihis salam.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Wahai Ahli Kitab![3] Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[4], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar[5]. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[6] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[7]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, (Tuhan itu) tiga, berhentilah (dari ucapan itu)[8]. (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa[9], Maha Suci Allah dari (anggapan) mempunyai anak, Milik-Nyalah[10] apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai saksinya.

[3] Yakni orang-orang Nasrani.

[4] Maksudnya melewati batas atau ukuran yang disyari’atkan kepada yang tidak disyari’atkan. Misalnya mengangkat Nabi Isa ‘alaihis salam melebihi kedudukannya sebagai hamba, nabi dan rasul dengan menjadikannya sebagai tuhan. Demikian juga kita dilarang meremehkan nabi sebagaimana dilarang pula berlebihan atau melampaui batas terhadapnya.

[5] Dalam ayat ini terdapat larangan berdusta atas nama Allah, berkata tentang Allah tanpa ilmu baik terhadap nama-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, syari’at-Nya dan para rasul-Nya, serta memerintahkan berkata yang hak dalam semua itu. Hal ini adalah kaidah umum, namun karena ayat ini membicarakan tentang Nabi Isa ‘alaihis salam, maka berkata yang hak terhadap Allah dfalam ayat ini adalah dengan menyucikan-Nya dari adanya sekutu, istri atau pun anak.

[6] Maksud kalimat yaitu kun (jadilah), sehingga Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan tanpa bapak.

[7] Yakni di antara roh-roh yang diciptakan-Nya. Disebut tiupan dari Allah karena tiupan itu berasal dari perintah Allah. Disandarkan kepada-Nya adalah sebagai pemuliaan baginya sebagaimana pada kata kalimatuhu (kalimat-Nya).

[8] Dan beralihlah kepada Tauhid, yakni menyatakan Allah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

[9] Yang satu-satunya berhak diibadati.

[10] Yakni makhluk-Nya, milik-Nya dan hamba-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai Ahli kitab) maksudnya kitab Injil (janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu katakana terhadap Allah kecuali) ucapan (yang benar) yaitu menyucikan-Nya dari kemusyrikan dan mempunyai anak. (Sesungguhnya Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang diucapkan-Nya) atau disampaikan-Nya (kepada Maryam dan roh) artinya yang mempunyai roh (daripada-Nya) diidhafatkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala demi untuk memuliakan-Nya dan bukanlah sebagai dugaan kamu bahwa dia adalah anak Allah atau Tuhan bersama-Nya atau salah satu dari oknum yang tiga.

Karena sesuatu yang mempunyai roh itu tersusun sedangkan Tuhan Maha Suci dari tersusun dan dari dinisbatkannya tersusun itu kepada-Nya (Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu katakan) bahwa Tuhan itu (tiga) yakni Allah, Isa dan ibunya (hentikanlah) demikian itu (dan perbuatlah yang lebih baik bagi kamu) yakni bertauhid (Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa Maha Suci Dia) artinya bersih dan terhindar (dari mempunyai anak. Bagi-Nya apa yang terdapat di langit dan yang di bumi) baik sebagai makhluk maupun sebagai milik dan hamba sedangkan pemiliknya itu bertentangan dengan mempunyai anak (Dan cukuplah Allah sebagai wakil) atau saksi atas demikian itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  melarang Ahli Kitab bersikap melampaui batas dan menyanjung secara berlebihan. Hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang Nasrani, karena sesungguhnya mereka melampaui batas sehu-bungan dengan Isa. Mereka mengangkatnya di atas kedudukan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, lalu memindahkannya dari tingkat kenabian sampai menjadikannya sebagai tuhan selain Allah yang mereka sembah sebagaimana mereka menyembah Dia.

Bahkan pengikut dan golongannya yaitu dari kalangan orang-orang yang mengakui bahwa dirinya berada dalam agamanya (Isa) bersikap berlebihan pula, lalu mereka mengakui dirinya terpelihara dari kesalahan. Akhirnya para pengikut mereka mengikuti semua yang dikatakannya, baik hak atau batil, baik sesat atau benar, baik jujur ataupun dusta. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (Ai-Taubah: 31), hingga akhir ayat.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيم قَالَ: زَعَمَ الزُّهْرِي، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبة بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ عُمَرَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قال: لَا تُطْرُوني كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim yang mengatakan bahwa Az-Zuhri menduga dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, dari Umar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung-nyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, Hamba dan utusan Allah.

Kemudian ia meriwayatkannya pula juga Ali ibnul Madini dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri. yang lafaznya seperti berikut:

إنما أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah oleh kalian, Hamba Allah dan Rasul-Nya.

Ali ibnul Madini mengatakan bahwa predikat hadits ini sahih lagi musnad. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Al-Humaidi. dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri yang lafaznya berbunyi seperti berikut:

فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, Hamba Allah dan Rasul-Nya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا حمَّاد بْنِ سَلَمَة، عَنْ ثَابِتٍ البُناني، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: مُحَمَّدٌ يَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا، وَخَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَهْويَنَّكُمُ الشيطانُ، أَنَا محمدُ بنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَاللَّهِ مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu Malik, bahwa seorang lelaki pernah mengatakan, Ya Muhammad, ya tuan kami, anak tuan kami yang paling baik dari kami, dan anak orang yang paling baik dari kami. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Hai manusia, peliharalah ucapan kalian, dan jangan sekali-kali setan menjerumuskan kalian. Aku adalah Muhammad ibnu Ab-dullah, hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak suka bila kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang telah diberikan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  kepadaku.

Hadits ini bila ditinjau dari segi ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (sendirian).

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ

Dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. (An-Nisaa’: 171)

Maksudnya, janganlah kalian membuat kedustaan terhadap-Nya dan menjadikan bagi-Nya istri dan anak. Maha Suci Allah lagi Maha Tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya, Maha Suci lagi Maha Esa Zat Allah dalam sifat Keagungan dan Kebesaran-Nya. Tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada Rabb selain Dia.

Dalam ayat Selanjutnya disebutkan:

إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ

Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikanNya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An-Nisaa’: 171)

Sesungguhnya Isa itu hanyalah seorang hamba Allah dan makhluk yang diciptakan-Nya. Allah berfirman kepadanya, Jadilah kamu, maka jadilah dia. Dia (Isa) hanyalah utusan-Nya dan kalimat-Nya yang Allah sampaikan kepada Maryam. Dengan kata lain, Allah menciptakan Isa melalui kalimat perintah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ‘alaihis salam dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala  kepada Maryam. Lalu Malaikat Jibril meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh Maryam dengan seizin Allah. Maka jadilah Isa dengan seizin Allah.

Embusan itu ditiupkan oleh Malaikat Jibril ke dalam baju kurung Maryam, lalu tiupan itu turun hingga masuk ke dalam farjinya, sama kedudukannya dengan pembuahan yang dilakukan oleh seorang lelaki kepada istrinya: semuanya adalah makhluk Allah Subhaanahu wa Ta’aala  Karena itu, dikatakan bahwa Isa adalah kalimat Allah dan roh dari ciptaan-Nya, mengingat kejadiannya tanpa melalui proses seorang ayah. Sesung-guhnya ia timbul dari kalimah yang diucapkan oleh Allah melalui Jibril kepada Maryam, yaitu kalimat kun (Jadilah), maka jadilah Isa, dan roh yang dikirimkan oleh Allah kepada Maryam melalui Jibril. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلانِ الطَّعَامَ

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan.  (Al-Maidah: 75)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  telah berfirman:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, Jadilah! (seorang manusia). Maka jadilah dia. (Ali Imran: 59)

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Al-Anbiya: 91)

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا

Dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya. (At-Tahrim: 12), hingga akhir ayat.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menceritakan perihal Isa Al-Masih, yaitu:

إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian). (Az-Zukhruf: 59), hingga akhir ayat.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya:

وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ

Dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An-Nisaa’:171)

Ayat ini semakna dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

كُنْ

Jadilah/ Maka terjadilah ia. (Yasin: 82)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiri yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Syaz ibnu Yahya mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ

Dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh  dari-Nya. (An-Nisaa’: 171)

Bahwa bukanlah kalimat yang menjadikan Isa, tetapi dengan kalimat itu akhirnya jadilah Isa.

Pendapat ini lebih baik daripada apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir sehubungan dengan firman-Nya:

أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ

Yang disampaikan-Nya kepada Maryam. (An-Nisaa’: 171)

Makna yang dimaksud ialah Allah mengajarkan kalimat itu kepada Maryam. sama seperti apa yang dikatakannya sehubungan dengan makna firman-Nya:

إِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ

(Ingatlah) ketika malaikat berkata, Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya. (Ali Imran: 45)

Makna yang dimaksud ialah mengajarkan kepadamu suatu kalimat dari-Nya. Ibnu Jarir menjadikan makna ayat ini sama dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang mengatakan:

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu. (Al-Qashash: 86)

Bahkan pendapat yang sahih (benar) ialah yang mengatakan bahwa kalimat tersebut didatangkan oleh Malaikat Jibril kepada Maryam, lalu Malaikat Jibril meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh Maryam dengan seizin Allah. Maka jadilah Isa ‘alaihis salam

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنِي عُمَيْر بْنُ هَانِئٍ، حَدَّثَنِي جُنَادةُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وروحٌ مِنْهُ، والجنةَ حُقٌّ، والنارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ  قَالَ الْوَلِيدُ: فَحَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ عُمير بْنِ هَانِئٍ، عَنْ جُنَادة زَادَ: مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Al-Walid Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Umair ibnu Hani’, telah menceritakan kepada kami Junadah ibnu Abu Umayyah, dari Ubadah ibnus Samit, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya serta kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta roh dari-Nya, dan bahwa surga itu benar, neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berdasarkan amal yang telah dikerjakannya. Al-Walid mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, dari Umair ibnu Hani’, dari Junadah yang di dalamnya disebutkan tambahan, yaitu: (Allah memasukkannya) ke dalam salah satu dari pintu-pintu surga yang delapan buah, dia boleh memasukinya dari pintu mana pun yang disukainya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Daud ibnu Rasyid, dari Al-Walid, dari Ibnu Jabir dengan lafaz yang sama. Dari jalur yang lain dari Al-Auza’i dengan lafaz yang sama.

Firman Allah yang ada dalam ayat, dan hadits yang semakna, yaitu:

وَرُوحٌ مِنْهُ

Dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An-Nisaa’: 171) semakna dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ

Dan Dia menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. (Al-Jatsiyah: 13)

Yakni dari kalangan makhluk-Nya dan dari sisi-Nya. Lafaz min di sini bukan untuk makna tab’id (sebagian) seperti yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani semoga laknat Allah yang berturut-turut menimpa mereka melainkan makna yang dimaksud ialah ibtida-ul goyah, seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain. Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

وَرُوحٌ مِنْهُ

Dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An-Nisaa’; 171)

Yang dimaksud dengan ruhun dalam ayat ini ialah rasulun minhu, yakni urusan dari-Nya. Sedangkan selain Mujahid mengatakan ma-habbatan minhu, yakni kasih sayang dari-Nya. Tetapi pendapat yang kuat ialah yang pertama, yaitu yang mengatakan bahwa Nabi Isa di-ciptakan dari roh ciptaan-Nya. Kemudian lafaz roh di-mudaf-kan (digandengkan) dengan-Nya dengan maksud mengandung pengertian tasyrif (kehormatan), sebagaimana lafaz naqah (unta) di-mudaf-kan kepada Allah, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ

Unta betina Allah ini. (Al-A’raf: 73) Dan lafaz baitun (rumah) yang terdapat di dalam firman-Nya:

وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ

Bersihkanlah rumah-Ku, untuk orang-orang yang tawaf. (Al-Hajj: 26)

Juga seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadits yang mengatakan:

فَأَدْخُلُ عَلَى رَبِّي فِي دَارِهِ

Maka aku masuk menemui Tuhanku di dalam rumah-Nya.

Nabi ﷺ me-mudaf-kan lafaz darun (rumah) kepada Allah dengan maksud sebagai kehormatan terhadap rumah tersebut. Masing-masing dari apa yang telah disebutkan termasuk ke dalam bab yang sama.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. (An-Nisaa’: 171)

Maksudnya, percayalah bahwa Allah adalah Satu, lagi Maha Esa, tiada beranak, dan tiada beristri; dan ketahuilah serta yakinilah bahwa Isa itu adalah hamba dan Rasul-Nya.

Dalam firman Selanjutnya disebutkan:

وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ

Dan janganlah kalian mengatakan, (Tuhan itu) tiga. (An-Nisaa’: 171)

Yakni janganlah kalian menjadikan Isa dan ibunya digandengkan dengan Allah sebagai dua orang yang mcnyekutui-Nya. Maha Tinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Di dalam surat Al-Maidah Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. (Al-Maidah: 73

Dalam ayat lainnya masih dalam surat yang sama Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman pula:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman.Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku.’ (Al-Maidah: 116) hingga akhir ayat.

Dalam Surat Al-Maidah pada ayat lainnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putra Maryam. (Al-Maidah: 17 dan 72), hingga akhir ayat.

Orang-orang Nasrani la’natullahi ‘alaihim karena kebodohan mereka, maka mereka tidak ada pegangan; kekufuran mereka tidak terbatas, bahkan ucapan dan kesesatannya sudah parah. Ada yang beranggapan bahwa Isa putra maryam adalah Tuhan, ada yang menganggapnya sebagai sekutu, dan ada yang menganggapnya sebagai anak. Mereka terdiri atas berbagai macam sekte yang cukup banyak jumlahnya; masing-masing mempunyai pendapat yang berbeda, dan pendapat mereka tidak ada yang sesuai, semuanya bertentangan.

Salah seorang ahli ilmu kalam (Tauhid) mengatakan suatu pendapat yang tepat, bahwa seandainya ada sepuluh orang Nasrani berkumpul, niscaya pendapat mereka berpecah-belah menjadi sebelas penda-pat.

Salah seorang ulama Nasrani yang terkenal di kalangan mereka (yaitu Sa’id ibnu Patrik yang tinggal di Iskandaria pada sekitar tahun empat ratus Hijriah) menyebutkan bahwa mereka mengadakan suatu pertemuan besar yang di dalamnya mereka melakukan suatu misa besar.

Padahal sesungguhnya hal tersebut tiada lain hanyalah suatu pengkhianatan yang hina lagi rendah. Hal ini terjadi pada masa Konstantinopel, pembangun kota yang terkenal itu. Lalu mereka berselisih pendapat dalam pertemuan tersebut dengan perselisihan yang tidak terkendali dan tidak terhitung banyaknya pendapat yang ada. Jumlah mereka lebih dari dua ribu uskup. Mereka menjadi golongan yang banyak lagi berpecah belah. Setiap lima puluh orang dari mereka mempunyai pendapat sendiri, dan setiap dua puluh orang dari mereka mempunyai pendapat sendiri, setiap seratus orang dari mereka ada yang mempunyai pendapatnya sendiri, dan setiap tujuh puluh orang mempunyai pendapatnya sendiri, ada pula yang lebih dan kurang dari jumlah tersebut mempunyai pendapat yang berbeda.

Ketika Raja Konstantinopel melihat kalangan mereka demikian, ada sejumlah orang yang banyaknya kurang lebih tiga ratus delapan belas orang uskup sepakat dengan suatu pendapat Maka raja meng-ambil golongan itu, lalu mendukung dan memperkuatnya.

Raja Konstantinopel dikenal sebagai seorang filosof berwatak keras dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Lalu raja menghimpun persatuan mereka dan membangun banyak gereja buat mereka serta membuat kitab-kitab dan undang-undang untuk mereka. Lalu mereka membuat suatu amanat yang mereka ajarkan kepada anak-anak agar mereka meyakininya sejak dini, mengadakan pembaptisan besar-besaran atas dasar itu. Para perigikut mereka dikenal dengan nama sekte Mulkaniyah.

Kemudian mereka mengadakan suatu pertemuan lain yang kedua, maka terjadilah di kalangan mereka sekte Ya’qubiyah. Pada pertemuan yang ketiga terbentuklah sekte Nusturiyan.

Ketiga golongan tersebut pada dasarnya mengukuhkan ajaran trinitas yang antara lain ialah Al-Masih. Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai kaifiyatnya sehubungan dengan masalah lahut dan nasut-nya, masing-masing mempunyai dugaan sendiri. Apakah dia manunggal atau tidak, bersatukah atau menitis. Pada kesimpulannya pendapat mereka terpecah menjadi tiga pendapat, masing-masing go-longan mengalirkan golongan yang lain, sedangkan kita mengalirkan semuanya. Karena itu, dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ

Berhentilah kalian (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. (An-Nisaa’: 171)

Maksudnya, akan lebih baik bagi kalian.

إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. (An-Nisaa’: 171)

Yakni Maha Suci lagi Maha Tinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah untuk menjadi Pemelihara. (An-Nisaa’: 171)

Artinya, semuanya adalah makhluk dan milik Allah, dan semua yang ada di antara keduanya adalah hamba-hamba-Nya, mereka berada dalam pengaturan dan kekuasaan-Nya. Dialah Yang memelihara segala sesuatu, mana mungkin bila dikatakan bahwa Dia mempunyai istri dan anak dari kalangan mereka. Dalam ayat yang lain disebutkan melalui firman-Nya:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak. (Al-An’am: 101), hingga akhir ayat.

Ayat berikutnya: Allah akan Mengumpulkan Mereka Semua 

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  telah berfirman dalam ayat yang lain, yaitu:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا

Dan mereka berkata, Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. (Maryam: 88-89)

sampai dengan firman-Nya:

فَرْدًا

Dengan sendiri-sendiri. (Maryam: 95)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAllah akan Mengumpulkan Mereka Semua
Berita berikutnyaAjakan kepada Manusia untuk Beriman kepada Al-Qur’an

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here