Dihalalkan Bagi Kalian Binatang Ternak

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 1

0
183

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 1. Keharusan memenui janji atau ‘akad baik antara seseorang dengan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, atau antara seseorang dengan hamba-hamba Allah dan dihalalkan bagi kalian binatang ternak. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأنْعَامِ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ 

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai yang Dia kehendaki. (Q.S. Al-Maa’idah : 1)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Uhillat lakum bahīmatul an‘āmi (dihalalkan bagi kalian hewan-hewan ternak), yakni kalian diperbolehkan berburu binatang darat, seperti sapi liar, keledai liar, atau rusa.

Illā mā yutlā ‘alaikum (kecuali yang akan dibacakan kepada kalian) dalam surah ini.

Ghaira muhillish shaidi ([yang demikian itu] dengan tidak menghalalkan berburu), yakni dengan tidak menganggap berburu sebagai hal yang halal.

Wa aηtum hurum (ketika kalian sedang mengerjakan haji), atau berada di daerah haram.

Innallāha yahkumu mā yurīd (sesungguhnya Allah menetapkan apa yang dikehendaki-Nya), yakni Allah Ta‘ala menghalalkan dan mengharamkan apa yang Dia kehendaki, baik di daerah halal maupun di daerah haram.

Sebelumnya: Keharusan Memenuhi Janji atau ‘Akad 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Hewan ternak[2] dihalalkan bagimu[3], kecuali yang akan disebutkan kepadamu[4], dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum[5] sesuai yang Dia kehendaki[6].

[2] Seperti unta, sapi dan kambing. Bahkan bisa masuk juga ke dalamnya hewan liar dari binatang-binatang tersebut, kijang, keledai liar (bukan keledai negeri) dan binatang-binatang buruan. Sebagian sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ada yang berdalil dengan ayat ini untuk membolehkan janin yang mati dalam perut induknya, setelah induknya disembelih.

[3] Yakni karena kamu, sebagai rahmat dari-Nya.

[4] Seperti yang akan disebutkan dalam ayat 3 surah Al Maa’idah.

[5] Seperti halal dan haram.

[6] Tanpa ada yang menentangnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Dihalalkan bagi kamu binatang ternak) artinya halal memakan unta, sapi dan kambing setelah hewan itu disembelih (kecuali apa yang dibacakan padamu) tentang pengharamannya dalam ayat, Hurrimat `alaikumul maitatu… Istitsna` atau pengecualian di sini munqathi` atau terputus tetapi dapat pula muttashil, misalnya yang diharamkan karena mati dan sebagainya (tanpa menghalalkan berburu ketika kamu mengerjakan haji) atau berihram; ghaira dijadikan manshub karena menjadi hal bagi dhamir yang terdapat pada lakum. (Sesungguhnya Allah menetapkan hukum menurut yang dikehendaki-Nya) baik menghalalkan maupun mengharamkannya tanpa seorang pun yang dapat menghalangi-Nya

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dihalalkan bagi kalian binatang ternak. (Al-Maa’idah: 1)

Yang dimaksud dengan binatang ternak ialah unta, sapi, dan kambing. Demikianlah menurut Abul Hasan dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Ibnu Jarir mengatakan bahwa demikian pula menurut pengertian orang-orang Arab.

Ibnu Umar dan Ibnu Abbas serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang menyimpulkan dalil dari ayat ini akan bolehnya janin ternak bila dijumpai dalam keadaan mati dalam perut induknya yang disembelih. Sehubungan dengan masalah ini terdapat sebuah hadits di dalam kitab-kitab sunnah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Turmuzi. dan Imam Ibnu Majah melalui jalur Mujalid, dari Abul Wadak Jubair ibnu Naufal. dari Abu Sa’id yang mengatakan:

قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَنْحَرُ النَّاقَةَ، وَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ أَوِ الشَّاةَ فِي بَطْنِهَا الْجَنِينُ، أَنُلْقِيهِ أَمْ نَأْكُلُهُ؟ فَقَالَ: كُلُوهُ إِنْ شِئْتُمْ؛ فَإِنَّ ذَكَاتَهُ ذَكَاةُ أُمِّهِ

Kami bertanya, Wahai Rasulullah, bila kami menyembelih unta, sapi. atau kambing yang di dalam perutnya terdapat janin, apakah kami harus membuangnya atau kami boleh memakannya? Rasulullah menjawab, Makanlah, jika kalian suka; karena sesungguhnya sembelihan janin itu mengikut kepada sembelihan induknya.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini hasan.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَتَّاب بْنُ بَشِيرٍ، حَدَّثَنَا عَبِيدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ الْقَدَّاحُ الْمَكِّيُّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  ذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ

Imam Abu Dawud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya ibnu Faris, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Attab ibnu Ba-syir, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Abu Ziyad Al-Qaddah Al-Makki, dari Abuz Zubair, dari Jabir ibnu Abdullah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sembelihan janin mengikut kepada sembelihan induknya.

Hadits diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Abu Dawud.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Al-Maa’idah: 1)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan hal yang akan dibacakan ialah bangkai, darah, dan daging babi. Sedangkan menurut Qatadah, yang dimaksud adalah bangkai dan hewan yang disembelih tanpa menyebut asma Allah padanya. Menurut lahiriahnya hanya Allah yang lebih mengetahui hal yang dimaksud ialah apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, (Al-Maa’idah: 3)

Karena sesungguhnya sekalipun hal yang disebutkan termasuk binatang ternak, tetapi menjadi haram karena adanya faktor-faktor tersebut. Dalam ayat berikutnya disebutkan:

kecuali yang sempat kalian menyembelihnya, dan (diharamkan bagi kalian) yang disembelih untuk berhala. (Al-Maa’idah: 3)

Binatang yang diharamkan antara lain hewan yang disembelih untuk berhala. Sesungguhnya hewan yang demikian diharamkan sama sekali dan tidak dapat ditanggulangi serta tidak ada jalan keluar untuk menghalalkannya. Karena itulah pada permulaan surah ini disebutkan:

أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأنْعَامِ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ

Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Al-Maa’idah: 1)

Yaitu kecuali apa yang akan dibacakan kepada kalian pengharamannya dalam keadaan tertentu.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. (Al-Maa’idah: 1)

Menurut sebagian ulama, lafaz gaira dibaca nasab karena menjadi hal. Makna yang dimaksud dengan an’am ialah binatang ternak yang pada umumnya jinak, seperti unta, sapi, dan kambing. Juga binatang yang pada umumnya liar, seperti kijang, banteng, dan kuda zebra. Maka hal-hal tersebut di atas dikecualikan dari binatang ternak yang jinak, dan dikecualikan dari jenis yang liar ialah haram memburunya di saat sedang melakukan ihram.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah Kami menghalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali apa yang dikecualikan darinya bagi orang yang mengharamkan berburu secara tetap, padahal binatang tersebut hukumnya haram, karena ada firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengatakan:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ

Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nahl: 115)

Ayat berikutnya: Janganlah Melanggar Syi’ar-syi’ar Kesucian Allah 

Artinya, Kami halalkan memakan bangkai bagi orang yang dalam keadaan terpaksa memakannya, tetapi dengan syarat ia tidak dalam keadaan memberontak, juga tidak melampaui batas. Demikian pula ketentuan tersebut berlaku dalam ayat ini (surah Al-Maa’idah). Yakni sebagaimana Kami halalkan binatang ternak dalam semua keadaan, maka mereka diharamkan berburu dalam keadaan berihram. Sesungguhnya Allah telah memutuskan demikian, Dia Mahabijaksana dalam semua yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Karena itulah dalam firman Selanjutnya disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang di-kehendaki-Nya. (Al-Maa’idah: 1)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaJanganlah Melanggar Syi’ar-syi’ar Kesucian Allah
Berita berikutnyaKeharusan Memenuhi Janji atau ‘Akad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here