Dan Allah Telah Berbicara kepada Musa dengan Langsung

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 164

0
162

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 164. Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An-Nisaa’ : 164)

Hal ini merupakan suatu penghormatan kepada Nabi Musa ‘alaihis salamKarena itu, Nabi Musa dikenal dengan julukan ‘Kalimullah’.

Sebelumnya: Apakah Khawarij adalah Dajjal? 

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sulaiman Al-Maliki, telah menceritakan kepada kami Masih ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Abu Bakar ibnu Ayyasy, lalu ia mengatakan bahwa dirinya mendengar seorang lelaki membaca firman-Nya dengan bacaan seperti berikut:

وَكَلَّمَ اللَّهَ مُوسَى تَكْلِيمًا

Dan Musa berbicara kepada Allah dengan langsung.

Maka Abu Bakar ibnu Ayyasy berkata, Tidak sekali-kali membaca ayat ini dengan bacaan itu, melainkan hanyalah orang kafir. Abu Bakar mengatakan bahwa ia belajar qiraah dari Al-A’masy, dan Al-A’masy belajar qiraah dari Yahya ibnu Wasab, Yahya ibnu Wasab belajar qiraah dari Abu Abdur-Rahman As-Sulami. dan Abu AbdurRahman As-Sulami belajar qiraah dari Ali ibnu Abu Talib, dan Ali ibnu Abu Talib belajar qiraah dari Rasulullah ﷺ Mengenai ayat ini yang bunyinya mengatakan:

 وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An-Nisaa’ : 164)

Abu Bakar ibnu Ayyasy marah terhadap orang yang membaca ayat tersebut tiada lain karena orang tersebut membacanya dengan bacaan yang mengubah maknanya. Ternyata lelaki tersebut dari kalangan mu’tazilah yang mengingkari bahwa Allah berbicara kepada Musa ‘alaihis salam atau berbicara kepada seseorang dari makhluk-Nya. Seperti yang kami riwayatkan dari salah seorang mu’tazilah, bahwa ia membacakan firman berikut kepada salah seorang syekh dengan bacaan berikut:

وَكَلَّمَ اللَّهَ مُوسَى تَكْلِيمًا

Dan Allah diajak bicara oleh Musa dengan langsung.

Maka syekh itu berkata kepadanya, Hai Ibnul Lakhna, apakah yang akan engkau lakukan terhadap firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala. yang mengatakan:

 وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

‘Dan tatkala datang Musa untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya’ (Al-A’raf: 143)?

Dengan kata lain, makna ayat tersebut tidak mengandung takwil dan perubahan makna.

قَالَ ابْنُ مَرْدُوَية: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ بَهْرَام، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا هَانِئُ بْنُ يَحْيَى، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ، عَنْ قَتَادَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّاب، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَما كَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى كَانَ يُبْصِرُ دبيبَ النَّمْلِ عَلَى الصَّفَا فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Husain ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Hani’ ibnu Yahya, dari Al-Hasan ibnu Abu Ja’far, dari Qatadah, dari Yahya ibnu Wassab, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tatkala Musa diajak berbicara oleh Allah, ia dapat melihat gerakan semut di atas Bukit Safa di malam yang gelap gulita.

Hadits ini berpredikat garib dan sanadnya tidak sahih. Apabila hadits ini benar mauquf, berarti predikatnya jayyid (baik).

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya dan Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui hadits Humaid ibnu Qais Al-A’raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

كان عَلَى مُوسَى يَوْمَ كَلَّمَهُ ربُّه جُبَّةُ صُوفٍ، وَكِسَاءُ صُوفٍ، وَسَرَاوِيلُ صُوفٍ، وَنَعْلَانِ مِنْ جِلْدِ حِمَارٍ غَيْرِ ذَكِيٍّ

Nabi Musa pada hari ia diajak bicara oleh Tuhannya memakai jubah dari bulu, baju dari bulu, dan celana dari bulu serta sepasang terompah dari kulit keledai yang tidak disembelih.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula hadits berikut dengan sanadnya, dari Juwaibir, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berbicara dengan Musa sebanyak seratus empat puluh ribu kalimat selama tiga hari, semuanya berisi wasiat. Ketika Musa mendengar pembicaraan manusia, maka ia menjadi marah karena pengaruh dari apa yang telah ia dengar dari kalam Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Sanad asar ini pun lemah karena Juwaibir berpredikat daif, dan Ad-Dahhak tidak menjumpai masa hidup Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu

Mengenai atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih serta lain-lainnya melalui jalur Al-Fadl ibnu Isa Ar-Raqqasyi, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ketika Allah berbicara kepada Musa pada hari Tur, bukan dengan kalam yang pernah Dia gunakan ketika menyerunya, maka Musa bertanya kepada-Nya, Wahai Tuhanku, apakah ini adalah kalam-Mu yang pernah Engkau gunakan kepadaku? Allah Subhaanahu wa Ta’aala. menjawab, Bukan, hai Musa. Sesungguhnya Aku berbicara denganmu baru hanya dengan kekuatan sepuluh ribu lisan dan Aku mempunyai kekuatan semua lisan, bahkan Aku lebih kuat daripada hal tersebut. Ketika Musa kembali kepada kaum Bani Israil, mereka bertanya, Hai Musa, gambarkanlah kepada kami kalam Tuhan Yang Maha Pemurah. Musa menjawab, Aku tidak mampu melakukannya. Mereka berkata, Serupakanlah saja kepada kami. Musa menjawab, ‘Tidakkah kalian pernah mendengar suara guntur? Sesungguhnya hal itu berdekatan dengannya, tetapi bukan seperti suara guntur.

Sanad riwayat ini daif, karena A-Fadl Ar-Raqqasyi adalah orang yang lemah sekali dalam periwayatan hadits.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Bakar ibnu Abdur Rahman ibnul Haris. dari Juz ibnu Jabir Al-Khas’ami, dari Ka’b yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah ketika berbicara kepada Musa memakai semua lisan (berbagai macam bahasa) kecuali kalam-Nya sendiri. Maka Musa berkata, Wahai Tuhanku, apakah ini kalam-Mu? Allah menjawab, Bukan, sekiranya Aku berbicara dengan kalam-Ku, niscaya kamu tidak akan kuat mendengarnya  Musa berkata, Wahai Tuhanku, apakah di antara makhluk-Mu terdapat sesuatu yang memiliki suara mirip dengan-Mu? Allah menjawab, Tidak ada, dan yang lebih serupa dengan kalam-Ku ialah apa yang biasa kamu dengar dari suara guntur yang sangat keras.

Ayat berikutnya: Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan 

Tetapi riwayat ini mauquf hanya sampai pada Ka’b Al-Ahbar. Dia menukilnya dari kitab-kitab terdahulu yang menyangkut berita-berita Bani Israil, tetapi di dalamnya terkandung perubahan dan tambahan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu Katsir

 

Berita sebelumyaPembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan
Berita berikutnyaApakah Khawarij adalah Dajjal?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here