Allah Subhaanahu wa Ta’aala Bersaksi untuk Nabi-Nya

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 166

0
152

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’  ayat 166. Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersaksi untuk Nabi-Nya ﷺ, bahwa Beliau adalah utusan-Nya, dan bahwa Beliau adalah seorang pemberi petunjuk dan pemberi peringatan, serta menerangkan akibat yang akan diterima orang-orang kafir yang mengingkari risalah dan Rasul. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلائِكَةُ يَشْهَدُونَ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur’an) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan para malaikat pun menyaksikan. Cukuplah Allah yang menjadi saksi. (Q.S. An-Nisaa’ : 166)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Lākinillāhu yasyhadu (tetapi Allah mengakui) sekalipun yang lain tidak mengakuinya.

Bimā aηzala ilaika (apa yang diturunkan-Nya kepadamu), yakni Dia menurunkan Jibril ‘alaihis salam membawa Al-Qur’an.

Aηzalahū bi ‘ilmihī (Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya), yakni dengan perintah-Nya.

Wal malā-ikatu yasyhadūn (dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi pula) atas hal itu.

Wa kafā billāhi syahīdā (dan cukuplah Allah sebagai saksi) sekiranya yang lain tidak mengakuinya.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

166.[11] Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur’an) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya[12]; dan para malaikat pun menyaksikan. Cukuplah Allah yang menjadi saksi.

[11] Dalam tafsir Jalaalain diterangkan, bahwa ayat ini turun ketika orang-orang Yahudi ditanya tentang kenabian Muhammad ﷺ, lalu mereka mengingkarinya, maka pada ayat di atas Allah menerangkan bahwa Allah yang menjadi saksi terhadap kenabian Muhammad ﷺ, demikian juga terhadap kebenaran kitab yang diturunkan kepadanya.

[12] Bisa maksudnya, bahwa di dalamnya mengandung ilmu-Nya, yakni di dalamnya terdapat pengetahuan tentang ketuhanan, hukum-hukum syar’i, dan berita-berita ghaib, di mana hal itu termasuk ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Bisa juga maksudnya, bahwa Allah menurunkannya muncul dari pengetahuan-Nya, di mana hal ini terdapat isyarat dan pemberitahuan tentang persaksian-Nya, sehingga maksudnya adalah apabila Allah menurunkan Al-Qur’an yang mengandung perintah dan larangan, sedangkan Dia mengetahui hal itu, mengetahui pula keadaan orang yang diturunkan kepadanya kitab itu, Dia mengajak pula manusia kepadanya, maka barang siapa yang mendatangi sesuan itu dan membenarkannya, maka dia adalah wali-Nya, sebaliknya barang siapa yang mendustakannya dan memusuhinya, maka dia menjadi musuh-Nya, lantas persaksian apa yang lebih besar daripada persaksian ini, di mana persaksian itu tidak mungkin dicacatkan kecuali sama saja mencacatkan pengetahuan Allah, kekuasaan-Nya dan hikmah-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tetapi Allah menyaksikan) artinya tentang kenabianmu (dengan apa yang diturunkan-Nya kepadamu) berupa Al-Qur’an yang menjadi mukjizat itu (diturunkan-Nya) sebagai hasil (dari ilmu-Nya) atau memuat ilmu-Nya (dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi) pula atas kenabianmu itu. (Dan cukuplah Allah sebagai saksi)-nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Mengingat firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang mengatakan:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu. (An-Nisaa’: 163)

Sampai dengan konteks ini hadits menetapkan kenabian Nabi Muhammad ﷺ dan membantah orang-orang yang ingkar kepada kenabiannya dari kalangan kaum musyrik dan Ahli Kitab. Maka dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنزلَ إِلَيْكَ

Tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. (An-Nisaa’: 166)

Yakni sekalipun orang-orang yang kafir kepada Al-Qur’an mengingkarinya, mereka dari kalangan orang-orang yang mendustakanmu dan menentangmu. Maka Allah tetap mengakui bahwa engkau adalah utusan-Nya yang diturunkan kepadanya Al-Kilab, yakni Al-Our’an yang agung.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik  dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42)

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

أَنزلَهُ بِعِلْمِهِ

Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya. (An-Nisaa’: 166)

Dengan pengetahuan-Nya yang hendak memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya akan Al-Qur’an yang di dalamnya terkandung keterangan-keterangan, hidayah, pemisah antara yang hak dan yang batil, hal-hal yang disukai dan diridai Allah, dan hal-hal yang dibenci dan ditolak-Nya. Di dalam Al-Qur’an terkandung ilmu tentang hal-hal yang gaib menyangkut masalah yang terjadi di masa silam dan masa mendatang. Di dalamnya disebutkan juga sifat-sifat Allah Subhaanahu wa Ta’aala  Yang Maha Suci yang tidak diketahui oleh nabi yang diutus, tidak pula oleh malaikat terdekat, kecuali bila diberi tahu oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  sendiri. Seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah: 255)

Dan dalam ayat yang lainnya, yaitu firman-Nya:

وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (Thaha: 110)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Suhail Al-Ja’fari dan Abdullah ibnul Mubarak; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Saib yang mengatakan bahwa Abu Abdur Rahman As-Sulami membacakan Al-Qur’an kepadanya. Tersebutlah bahwa apabila seseorang di antara kami membacakan Al-Qur’an kepadanya, ia (Ata ibnus Saib) selalu mengatakan, Sesungguhnya kamu telah mengambil ilmu Allah, maka pada hari ini tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kamu kecuali dengan amal perbuatan. Kemudian ia membacakan firman-Nya:

أَنزلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلائِكَةُ يَشْهَدُونَ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisaa’: 166)

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَالْمَلائِكَةُ يَشْهَدُونَ

Dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). (An-Nisaa’: 166)

Yaitu atas kebenaran apa yang disampaikan olehmu dan apa yang diwahyukan kepadamu serta kitab yang diturunkan kepadamu disertai dengan pengakuan Allah atas hal tersebut.

وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisaa’: 166)

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي مُحَمَّدٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ أَوْ سَعِيدِ بْنِ جُبَير، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جماعةٌ مِنَ الْيَهُودِ، فَقَالَ لَهُمْ: إِنِّي لَأَعْلَمُ -وَاللَّهِ-إِنَّكُمْ لَتَعْلَمُونِ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ  فَقَالُوا: مَا نَعْلَمُ ذَلِكَ  فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنزلَ إِلَيْكَ أَنزلَهُ بِعِلْمِهِ

Ayat berikutnya: Akibat yang Akan Diterima Oleh Orang yang Mengingkari Risalah 

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari ibnu Abbas yang menceritakan bahwa segolongan orang-orang Yahudi masuk menemui Rasulullah ﷺ lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui, demi Allah, sesungguhnya kalian ini benar-benar mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah. Maka mereka menjawab, Kami tidak mengetahui hal tersebut. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: Tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya. (An-Nisaa’: 166), hingga akhir ayat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAkibat yang Akan Diterima Oleh Orang yang Mengingkari Risalah dan Rasul
Berita berikutnyaPembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here