Orang-orang yang Memerangi Allah dan Rasul-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 33

0
149

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 33. Had atau hukuman bagi hirabah (terang-terangan mengadakan kerusuhan, penyerangan dan kekacauan di bumi), membegal dan mengadakan kerusakan di bumi; Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الأرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar, (Q.S. Al-Maa’idah : 33)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innamā jazā-ul ladzīna yuhāribūnallāha wa rasūlahū (sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya), yakni orang-orang yang kafir kepada Allah Ta‘ala dan rasul-Nya.

Wa yas‘auna fil ardli fasādan (dan membuat kerusakan di muka bumi), yakni mereka melakukan berbagai kedurhakaan, seperti membunuh dan mengambil harta orang lain secara zalim.

Ay yuqattalū (adalah dibunuh), yakni balasan bagi orang yang membunuh tapi tidak mengambil harta (orang lain) adalah dibunuh.

Au yushallabū (atau disalib), yakni balasan bagi orang yang membunuh dan mengambil harta (orang lain) secara zalim adalah disalib.

Au tuqath-tha‘a aidīhim wa arjuluhum min khilāfin (atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang), yakni tangan kanan dan kaki kiri. Balasan bagi orang yang mengambil harta (orang lain) tapi tidak membunuh adalah dipotong tangan dan kaki.

Au yuηfau minal ardl (atau dibuang dari negeri), yakni dipenjara sampai mereka menunjukkan perilaku baik dan bertobat. Balasan untuk orang yang membuat orang lain ketakutan ketika melakukan perjalanan, namun tidak mengambil harta dan juga tidak membunuh adalah dipenjara.

Dzālika (hal itu), yakni yang telah Aku terangkan itu.

Lahum khizyun (merupakan suatu penghinaan untuk mereka), yakni siksaan untuk mereka.

Fid dun-yā wa lahum fil ākhirati ‘adzābun ‘azhīm (di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar), yakni azab yang teramat dahsyat bagi orang yang enggan bertobat, lebih dahsyat ketimbang (azab) yang ada di dunia.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [20]Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya[21] dan membuat kerusakan di bumi[22], hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang[23], atau diasingkan dari tempat kediamannya[24]. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar[25],

[20] Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Urainah saat mereka ke Madinah dan merasakan sakit di sana, maka Nabi ﷺ mengizinkan mereka mendatangi unta, meminum kencing dan susunya. Ketika mereka sudah sehat, mereka malah membunuh pengembalanya dan membawa pergi untanya. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Anas bin Malik hadits orang-orang Urainah, ia berkata, Rasulullah ﷺ mengirim sekelompok orang untuk mencari mereka, lalu mereka ditangkap. Maka Allah menurunkan tentang hal tersebut ayat, Innamaa jazaa’ullladziina yuhaaribuunallaha wa rasuulahu…dst.

[21] Yakni dengan menyerang kaum muslimin, terang-terangan memusuhi dan mengadakan kerusakan di muka bumi, melakukan pembunuhan, merampas harta dan mengacaukan keamanan.

[22] Melakukan pembajakan, yakni tindakan menghadang manusia baik di kota maupun di desa, lalu merampas harta mereka, membunuh dan menakut-nakuti manusia sehingga jalan yang ditempuh mereka menjadi tidak aman.

[23] Maksudnya adalah memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan jika melakukan lagi, maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.

[24] Para mufassir berbeda pendapat, yakni apakah hukuman di atas menunjukkan pilihan, dalam arti bahwa imam (pemerintah) atau wakilnya boleh melakukan hukuman mana saja sesuai yang dipandangnya bermaslahat, atau apakah hukuman tersebut disesuaikan dengan tindakan kejahatan yang dilakukan, di mana masing-masing kejahatan ada hukuman tersendiri?. Untuk pendapat pertama berdasarkan dengan zhahir lafaz ayat tersebut. Sedangkan pandapat kedua memandang bahwa penyesuaian hukuman sejalan dengan kebijaksanaan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, hukuman bunuh jika pembajak itu melakukan pembunuhan, hukuman bunuh dan penyaliban dilakukan jika pembajak melakukan pembunuhan, ditambah dengan mengambil harta manusia, agar dijadikan pelajaran bagi orang lain. Namun jika hanya mengambil harta saja tanpa melakukan pembunuhan, maka dengan dipotong tangan dan kaki secara silang. Sedangkan hukuman dengan diasingkan atau yang semisalnya seperti pemenjaraan, jika pembajak tersebut mengacaukan keamanan (menakut-nakuti).

[25] Hal ini menunjukkan bahwa membajak merupakan dosa yang sangat besar, di mana hal itu menghendaki pelakunya untuk dihinakan dan diazab di akhirat. Jika demikian berat hukuman yang ditimpakan kepada pembajak, maka hal ini menunjukkan bahwa membersihkan bumi dari pengrusak, mengamankan jalan dari adanya pembajakan termasuk amal shalih yang amat besar, ketaatan utama dan termasuk memperbaiki bumi.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Bahwasanya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya) artinya dengan memerangi kaum muslimin (dan membuat kerusakan di muka bumi) dengan menyamun dan merampok (ialah dengan membunuh atau menyalib mereka atau tangan dan kaki mereka dipotong secara timbal balik) maksudnya tangan kanan dengan kaki kiri mereka (atau dibuang dari kampung halamannya). Atau secara bertingkat, maka hukum bunuh itu ialah bagi yang membunuh saja, hukum salib bagi yang membunuh dan merampas harta, hukum potong bagi yang merampas harta tetapi tanpa membunuh sedangkan hukum buang bagi yang mengacau saja. Hal ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas dan dianut oleh Syafii. Menurut yang terkuat di antara dua buah pendapat dilaksanakannya hukum salib itu ialah tiga hari setelah dihukum bunuh. Tetapi ada pula yang mengatakan tidak lama sebelum dibunuh. Termasuk dalam hukum buang hukuman lain yang sama pengaruhnya dalam memberikan pelajaran seperti tahanan penjara dan lain-lain. (Demikian itu) maksudnya pembalasan atau hukuman tersebut (merupakan kehinaan bagi mereka) kenistaan (di dunia sedangkan di akhirat mereka beroleh siksa yang besar) yaitu siksa neraka.
Selanjutnya: Perbuatan Menimbulkan Kerusakan di Muka Bumi 

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaPerbuatan Menimbulkan Kerusakan di Muka Bumi
Berita berikutnyaHad atau Hukuman Bagi Hirabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here