Menyempurnakan Agama serta Menyempurnakan Karunia-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 3

0
25

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 3. Menerangkan hukum-hukum yang terkait dengan binatang buruan, sembelihan dan makanan, demikian pula menerangkan tentang nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam menyempurnakan agama serta menyempurnakan karunia-Nya kepada kaum mukmin. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣)

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas nama Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh (dari tempat tinggi), yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Maa’idah : 3)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Al-yauma (pada hari ini), yakni pada hari haji ini.

Akmaltu lakum dīnakum (Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian), yakni Aku telah menjelaskan kepada kalian syariat-syariat agama kalian berupa halal dan haram serta perintah dan larangan.

Wa atmamtu ‘alaikum ni’matī (dan Aku telah menyempurnakan untuk kalian nikmat-Ku), yakni anugerah-Ku. Bahwa setelah hari ini kalian tidak akan berkumpul bersama orang musyrik di ‘Arafah, Mina, ketika tawaf, serta sa‘i antara Shafa dan Marwah.

Wa radlītu lakumu (dan Aku telah meridai untuk kalian), yakni Aku telah memilih untuk kalian.

Al-islāma dīnā, (Islam menjadi agama). …

Sebelumnya: Takutlah Kepada-Ku 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu[23], dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku[24] bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. …

[23] Yakni dengan menyempurnakan syari’at, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, baik terkait dengan masalah ushul (dasar-dasar agama) maupun masalah furu’ (cabang). Oleh karena itu, Al-Qur’an dan As Sunnah memberikan kecukupan kepada kita dalam semua hukum-hukum agama, baik ushul maupun furu’, karenanya barang siapa yang menyangka bahwa untuk mengetahui akidah dan hukum butuh mempelajari ilmu kalam, maka dia jahil dan dakwaannya batil.

[24] Baik dengan disempurnakan agama maupun dengan masuk ke Mekah dalam keadaan aman.

.

Tafsir Jalalain

  1. … Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu) yakni hukum-hukum halal maupun haram yang tidak diturunkan lagi setelahnya hukum-hukum dan kewajiban-kewajibannya (dan telah Kucukupkan padamu nikmat karunia-Ku) yakni dengan menyempurnakannya dan ada pula yang mengatakan dengan memasuki kota Mekah dalam keadaan aman (dan telah Kuridai) artinya telah Kupilih (Islam itu sebagai agama kalian). …

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku. dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian. (Al-Maa’idah; 3)

Ini merupakan nikmat Allah yang paling besar kepada umat ini, karena Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka; mereka tidak memerlukan lagi agama yang lain, tidak pula memerlukan nabi lain selain nabi mereka; semoga salawat dan salam terlimpahkan kepadanya. Karena itulah Allah menjadikan beliau ﷺ sebagai nabi terakhir yang diutus-Nya untuk manusia dan jin. Tiada halal selain apa yang dihalalkannya, tiada haram kecuali apa yang diharamkannya dan tiada agama kecuali apa yang disyarjatkannya. Semua yang ia beritakan adalah benar belaka, tiada dusta dan tiada kebohongan padanya. Seperti yang disebut dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala, yaitu:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. (Al-An’am: 115)

Yakni benar dalam beritanya, serta adil dalam perintah dan larangannya. Setelah Allah menyempurnakan bagi mereka agama mereka, berarti telah cukuplah kenikmatan yang mereka terima dari-Nya. Untuk itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam jadi agama bagi kalian, (Al-Maa’idah: 3)

Artinya, terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kalian, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhormat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3); Yakni agama Islam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan kepada Nabi-Nya dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan Islam untuk mereka, karena itu Islam tidak memerlukan tambahan lagi selamanya. Allah telah mencukupkannya dan tidak akan menguranginya untuk selamanya. Dia telah rida kepadanya, maka Dia tidak akan membencinya selama-lamanya.

Asbat meriwayatkan dari As-Saddi, bahwa ayat ini diturunkan pada hari Arafah, sesudah itu tidak lagi diturunkan wahyu mengenai halal dan haram, dan Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah, lalu beliau wafat.

Asma binti Umais menceritakan, Aku ikut haji bersama Rasulullah ﷺ dalam haji tersebut (haji wada’). Ketika kami sedang berjalan, tiba-tiba Malaikat Jibril datang kepadanya membawa wahyu. Maka Rasulullah ﷺ membungkuk di atas unta kendaraannya, dan unta kendaraannya hampir tidak kuat menopang diri Rasulullah ﷺ karena beratnya wahyu yang sedang turun. Lalu unta kendaraannya duduk mendekam, dan aku datang mendekati Nabi ﷺ, kemudian aku selimuti tubuhnya dengan jubah burdahku.

Ibnu Jarir dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ wafat sesudah hari Arafah selang delapan puluh satu hari kemudian. Hadits ini dan hadits sebelumnya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيع، حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْل، عَنْ هَارُونَ بْنِ عَنْتَرَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَذَلِكَ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ، بَكَى عُمَرُ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا يُبْكِيكَ؟  قَالَ: أَبْكَانِي أَنَّا كُنَّا فِي زِيَادَةٍ مِنْ دِينِنَا، فَأَمَا إذْ أُكْمِلَ فَإِنَّهُ لَمْ يَكْمُلْ شَيْءٌ إِلَّا نَقُصَ. فَقَالَ: صَدَقْتَ

Telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Harun ibnu Antrah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3) Hal ini terjadi pada hari haji Akbar. Maka Umar menangis, lalu Nabi ﷺ bertanya kepadanya: Mengapa engkau menangis? Umar menjawab, Aku menangis karena sejak dahulu kita masih terus ditambahi dalam agama kita, adapun sekarang ia telah sempurna; dan sesungguhnya tidak sekali-kali sesuatu itu sempurna, melainkan kelak akan berkurang. Nabi ﷺ menjawab, Kamu benar.

Makna hadits ini diperkuat oleh hadits yang mengatakan:

إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا، فَطُوبَى للغُرَبَاء

Sesungguhnya Islam bermula dari keterasingan, dan kelak akan kembali menjadi terasing, maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْن، حَدَّثَنَا أَبُو العُمَيْس، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ آيَةً فِي كِتَابِكُمْ، لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا. قَالَ: وَأَيُّ آيَةٍ؟ قَالَ قَوْلُهُ: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إني لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالسَّاعَةَ الَّتِي نَزَلَتْ فِيهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَزَلَتْ عَشية عَرَفَة فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Abul Umais, dari Qais ibnu Muslim, dari Tariq ibnu Syihab yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki Yahudi datang kepada Khalifah Umar ibnul Khattab, lalu berkata, Hai Amirul Mu’minin, sesungguhnya kamu biasa membaca suatu ayat dalam Kitab kamu, seandainya hal itu diturunkan kepada kami golongan orang-orang Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari itu sebagai hari raya. Khalifah Umar bertanya, Ayat apakah itu? Orang Yahudi tersebut membacakan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku. (Al-Maa’idah: 3) Maka Khalifah Umar berkata, Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari ayat ini diturunkan kepada Rasulullah ﷺ dan saat penurunannya kepada Rasulullah ﷺ yaitu pada sore hari Arafah yang jatuh pada hari Jumat.

Imam Bukhari meriwayatkannya dari Al-Hasan ibnus Sabbali, dari Ja’far ibnu Aun dengan lafaz yang sama. Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Qais ibnu Muslim dengan lafaz yang sama.

Menurut lafaz Imam Bukhari dalam tafsir ayat ini melalui jalur Sufyan AS-Sauri, dari Qais, dari Tariq, orang-orang Yahudi berkata kepada Umar, Sesungguhnya kalian biasa membaca suatu ayat, seandainya ayat itu diturunkan kepada kami, niscaya kami akan menjadikan (hari turunnya) sebagai hari raya. Maka Umar ibnul Khattab radiyallahu ‘anhu. menjawab, Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui saat ayat itu diturunkan, kapan diturunkannya, dan di mana Rasulullah ﷺ berada saat menerima penurunan ayat itu. Ayat tersebut diturunkan pada hari Arafah, sedangkan aku demi Allah berada di Arafah pula. Sufyan mengatakan bahwa dia merasa ragu apakah hal itu terjadi pada hari Jumat ataukah bukan, yaitu turunnya ayat berikut: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3), hingga akhir ayat.

Sufyan merasa ragu jika disebutkan di dalam riwayat, maka hal itu merupakan sikap hati-hatinya bila ditinjau dari segi keraguan, apakah gurunya telah mengabarkan hal itu atau tidak. Jika ia merasa ragu perihal kejadian wuquf pada haji wada’ adalah hari Jumat, hal ini menurut kami bukan keluar dari Sufyan, mengingat hal ini merupakan suatu perkara yang telah dimaklumi dan telah dipastikan, tiada seorang pun dari kalangan Ahli Magazi dan sejarah tidak pula Ahli Fiqih yang memperselisihkannya. Karena banyak hadits mutawatir yang menerangkan bahwa kejadian itu hari Jumat, tiada yang meragukan kesahihannya. Hal tersebut diriwayatkan dari Umar melalui berbagai jalur.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Raja ibnu Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ubadah ibnu Nissi, telah menceritakan kepada kami Amir kami (yaitu Ishaq) yang menurut Abu Ja’far ibnu Jarir dia adalah Ishaq ibnu Harsyah, dari Qubaisah (yakni Ibnu Abu Zi-b) yang mengatakan bahwa Ka’b pernah mengatakan, Seandainya selain umat ini yang diturunkan kepada mereka ayat tersebut, niscaya mereka akan mempertimbangkan hari ayat tersebut diturunkan kepada mereka, lalu mereka menjadikannya sebagai hari raya, hari mereka berkumpul padanya. Lalu Umar bertanya, Ayat apakah yang kamu maksudkan, hai Ka’b?’ Maka Ka’b menjawab, yaitu firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3) Maka Umar radiyallahu ‘anhu menjawab, Sesungguhnya aku mengetahui hari ayat ini diturunkan dan tempat penurunannya. Ayat ini diturunkan pada hari Jumat di hari Arafah. Kedua-duanya Alhamdulillah merupakan hari raya bagi kami (umat Islam).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Qubaisah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ammar (yaitu maula Bani Hasyim), bahwa Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian. (Al-Maa’idah: 3); Lalu ada seorang Yahudi berkata, Seandainya ayat ini diturunkan kepada kami, niscaya kami akan menjadikan hari penurunannya sebagai hari raya. Maka Ibnu Abbas menjawab, Sesungguhnya ayat ini diturunkan pada dua hari raya sekaligus, yaitu hari raya dan hari Jumat.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Kamil, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Hamani, telah menceritakan kepada kami Qais ibnur Rabi’, dari Ismail ibnu Sulaiman, dari Abu Umar Al-Bazzar, dari Ibnul Hanafiyah, dari Ali yang mengatakan bahwa ayat berikut diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang wuquf di Arafah pada sore harinya, yaitu firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Ismail ibnu Amr As-Sukuni, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Qais As-Sukuni, bahwa ia pernah mendengar Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan membaca ayat berikut di atas mimbarnya, yaitu firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3), hingga akhir ayat.

Lalu Mu’awiyah berkata bahwa ayat ini diturunkan pada hari Arafah yang jatuh pada hari Jumat.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Muhammad Bani Ishaq. dari Amr ibnu Musa ibnu Dahiyyah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah yang mengatakan bahwa firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian. (Al-Maa’idah: 3) diturunkan di Arafah ketika Rasulullah ﷺ sedang melakukan wuquf di mauqif.

Mengenai apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Murdawaih, dan Imam Tabrani melalui jalur Ibnu Luhai’ah, dari Khalid ibnu Abu Imran, dari Hanasy ibnu Abdullah As-San’ani, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi kalian dilahirkan pada hari Senin, dan beliau ﷺ keluar meninggalkan Mekah (menuju Madinah) pada hari Senin, dan beliau ﷺ memasuki kota Madinah pada hari Senin, dan Perang Badar dimulai pada hari Senin, serta surah Al-Maa’idah diturunkan pada hari Senin, yakni firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3) Zikir (Al-Qur’an) diangkat pada hari Senin (yakni nanti di hari kiamat).

Maka asar ini berpredikat garib dan sanadnya daif. Tetapi hal ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Dawud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah. dari Khalid ibnu Abu Imran, dari Hanasy As-San’ani, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi Nabi pada hari Senin, keluar meninggalkan Mekah berhijrah ke Madinah pada hari Senin, dan tiba di Madinah pada hari Senin, wafat pada hari Senin, dan Hajar Aswad diletakkan pada hari Senin.

Demikianlah lafaz riwayat Imam Ahmad, tetapi tidak disebutkan padanya penurunan surah Al-Maa’idah pada hari Senin. Barangkali Ibnu Abbas bermaksud bahwa ayat ini diturunkan pada dua hari raya sekaligus, seperti pada asar di atas, tetapi perawi keliru dalam mengemukakannya.

Ibnu Jarir mengatakan, suatu pendapat mengatakan bahwa mengenai harinya tidak diketahui oleh orang-orang.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (Al-Maa’idah: 3); Ibnu Abbas mengatakan bahwa hari itu hari yang tidak diketahui oleh orang-orang. Ibnu Jarir mengatakan pula, adakalanya dikatakan bahwa surah ini diturunkan kepada Rasulullah ﷺ sewaktu beliau dalam perjalanannya ke haji wada’. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Menurut kami, Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa surah ini diturunkan kepada Rasulullah ﷺ pada hari Gadir Kham, yaitu ketika Nabi ﷺ bersabda kepada Ali radiyallahu ‘anhu.:

مَنْ كنتُ مَوْلَاهُ فَعَليٌّ مَوْلَاهُ

Barang siapa yang aku menjadi pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya pula.

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui Abu Hurairah, antara lain disebutkan bahwa hari itu adalah hari kedelapan belas dari bulan Zul Hijjah. Dengan kata lain, di saat Nabi ﷺ kembali dari haji wada’nya. Tetapi baik riwayat ini ataupun riwayat di atas tiada yang sahih. Bahkan yang benar dan tidak diragukan lagi ialah riwayat yang mengatakan bahwa surah Al-Maa’idah diturunkan pada hari Arafah yang saat itu jatuhnya bertepatan dengan hari Jumat Yaitu seperti yang tertera pada riwayat Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab, Ali ibnu Abu Talib, raja Islam pertama (yaitu Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan), juru tafsir Al-Qur’an (yaitu Abdullah ibnu Abbas), dan Samurah ibnu Jundub, radiyallahu anhum.

Selanjutnya: Terpaksa Memakan Sebagian dari Hal-hal yang Diharamkan 

Atsar ini di-mursal-kan oleh Asy-Sya’bi, Qatadah ibnu Di’amah, dan Syahr ibnu Hausyab serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan para imam dan para ulama. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here