Hawa Nafsu Qabil Mendorongnya untuk Membunuh

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 30

0
141

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 30. Kisah dua anak Adam (Qabil dan Habil), pembunuhan pertama yang terjadi dan hawa nafsu Qabil mendorongnya untuk membunuh saudaranya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maka hawa nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. (Q.S. Al-Maa’idah : 30)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa thawwa‘at lahū nafsuhū qatla akhīhī (maka hawa nafsu Qabil mendorongnya tunduk untuk membunuh saudaranya).

Fa qatalahū fa ashbaha minal khāsirīn (kemudian dia pun membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang merugi), yakni maka dia pun termasuk orang yang tertipu karena mendapat siksaan.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka hawa nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya[6], maka jadilah dia termasuk orang yang rugi[7].

[6] Dan ia menjadi contoh pertama yang melakukan pembunuhan, dan barang siapa yang mencontohkan keburukan, maka dia menanggung dosa itu dan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْماً إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا ، لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Tidaklah seorang jiwa dibunuh secara zalim, kecuali anak Adam yang pertama (Qabil) ikut menanggung darahnya, karena ia adalah orang yang pertama mencontohkan pembunuhan. (HR. Bukhari)

[7] Di dunia dan akhirat karena membunuhnya. Di samping itu, ia juga tidak mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan terhadap mayat saudaranya, karena ia merupakan mayat pertama di muka bumi, lalu dibawalah mayatnya di atas punggungnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tetapi nafsunya menggodanya untuk membunuh saudaranya lalu dibunuhnyalah, maka jadilah dia termasuk di antara orang-orang yang merugi) disebabkan pembunuhan itu. Mulanya ia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya terhadap mayat saudaranya itu karena ia adalah mayat yang pertama dari anak cucu Adam di muka bumi, maka dipikulnyalah di atas punggungnya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (Al-Maa’idah: 30)

Yakni maka hawa nafsu Qabil merayu dan memacu dirinya untuk membunuh saudaranya, lalu ia membunuhnya, sesudah saudaranya memberikan nasihat dan peringatan di atas.

Dalam pembahasan yang lalu yaitu dalam riwayat yang bersumberkan dari Abu Ja’far Al-Baqir alias Muhammad ibnu Ali ibnul Husain disebutkan bahwa Qabil membunuh Habil dengan sebuah barang tajam yang digenggamnya.

As-Saddi meriwayatkan dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas dan dari Murrah ibnu Abdullah, juga dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ, bahwa setelah hawa nafsu Qabil mendorongnya untuk membunuh saudaranya, maka ia mencari-cari saudaranya untuk ia bunuh, lalu ia berangkat mencarinya di daerah puncak pegunungan. Kemudian pada suatu hari ia datang kepada saudaranya yang saat itu sedang menggembalakan ternak kambingnya Ketika Qabil datang, Habil sedang tidur, lalu ia mengangkat sebongkah batu besar, kemudian ia pukulkan ke atas kepala Habil sehingga Habil mati seketika itu juga dan jenazahnya dibiarkan di padang (tanah lapang). Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Diriwayatkan dari sebagian Ahli Kitab bahwa Qabil membunuh Habil dengan mencekik dan menggigitnya, sama halnya dengan hewan pemangsa yang membunuh mangsanya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ketika Qabil hendak membunuh Habil, maka Qabil membungkukkan lehernya (dengan maksud akan menggigitnya), maka iblis mengambil seekor binatang, lalu meletakkan kepala binatang itu di atas batu, lalu iblis mengambil sebuah batu dan memukulkannya ke kepala binatang itu hingga mati, sedangkan Qabil melihatnya. Lalu ia mempraktekkan hal yang semisal terhadap saudaranya.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan bahwa Abdullah ibnu Wahb telah meriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya yang telah menceritakan bahwa Qabil memegang kepala Habil dengan maksud ingin membunuhnya, lalu ia hanya menekan kepalanya tanpa mengerti bagaimana cara membunuhnya. Kemudian datanglah iblis dan bertanya kepadanya, Apakah kamu hendak membunuhnya? Qabil menjawab, Ya. Iblis berkata, Ambillah batu ini dan timpakanlah ke atas kepalanya. Maka Qabil mengambil batu itu dan menimpakannya ke kepala Habil hingga kepala Habil pecah dan meninggal dunia.

Kemudian iblis segera datang menemui Hawa dan berkata, Hai Hawa, sesungguhnya Qabil telah membunuh Habil. Maka Hawa berkata kepadanya, Celakalah kamu, apakah yang dimaksud dengan terbunuh itu? Iblis menjawab, Tidak makan, tidak minum, dan tidak bergerak. Hawa menjawab, Kalau demikian, itu artinya mati. Iblis berkata, Memang itulah mati. Maka Hawa menjerit, hingga Adam masuk menemuinya ia masih dalam keadaan menangis menjerit. Lalu Adam mengulangi lagi pertanyaannya, dan Hawa masih tidak menjawab. Maka Adam berkata, Mulai sekarang kamu dan semua anak perempuanmu menjerit, dan aku serta semua anak lelakiku berlepas diri dari perbuatan itu. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (Al-Maa’idah; 30)

Yakni merugi di dunia dan akhirat, dan memang tiada satu kerugian pun yang lebih besar daripada kerugian seperti ini.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ووَكِيع قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرّة، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُقتَل نَفْسٌ ظُلْمًا، إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abdullah, ibnu Murrah, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Tiada seorang pun yang terbunuh secara aniaya, melainkan atas anak Adam yang pertama tanggungan sebagian dari darahnya, karena dialah orang yang mula-mula mengadakan pembunuhan.

Hadits ini telah diketengahkan oleh Jamaah selain Imam Abu Dawud melalui berbagai jalur dari Al-A’masy dengan lafaz yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepadaku Hajjaj, bahwa Ibnu Juraij telah mengatakan bahwa Mujahid pernah mengatakan, Salah satu dari kaki si pembunuh itu digantungkan berikut dengan betis dan pahanya sejak hari itu, sedangkan wajahnya dipanggang di matahari dan ikut berputar dengannya ke mana pun matahari bergulir. Pada musim panas terdapat api yang membakarnya dan pada musim dingin terdapat salju yang menyengatnya

Hajjaj mengatakan bahwa Abdullah ibnu Amr pernah mengatakan, Sesungguhnya kami benar-benar menjumpai anak Adam si pembunuh ini berbagi azab dengan ahli neraka dengan pembagian yang benar. Azab yang dialaminya adalah separo dari azab mereka semua.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah, dari Ibnu Ishaq, dari Hakim ibnu Hakim, bahwa ia pernah menceritakan sebuah riwayat dari Abdullah ibnu Amr yang telah berkata, Sesungguhnya manusia yang paling celaka ialah anak Adam yang membunuh saudaranya (yakni Qabil), tiada setetes darah pun yang dialirkan di bumi ini sejak dia membunuh saudaranya sampai hari kiamat, melainkan ia kebagian dari siksaannya. Demikian itu karena dialah orang yang mula-mula melakukan pembunuhan.

Ayat berikutnya: Syariat Menguburkan Mayit 

Ibrahim An-Nakha’i mengatakan bahwa tiada seorang pun yang terbunuh secara aniaya, melainkan anak Adam yang pertama dan iblis ikut bertanggung jawab terhadapnya. Hal ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaSyariat Menguburkan Mayit
Berita berikutnyaBesarnya Malapetaka Akibat Pembunuhan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here