Perintah Menegakkan Keadilan dan Menunaikan Persaksian

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 8

0
172

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 8. Mengingatkan nikmat-nikmat Allah dan perjanjian dengan-Nya, serta perintah menegakkan keadilan dan menunaikan persaksian. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Maa’idah : 8)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhal ladzīna āmanū kūnū qawwāmīna (wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang senantiasa menegakkan [kebenaran]), yakni orang-orang yang senantiasa mengatakan (kebenaran).

Lillāhi syuhadā-a bil qisthi wa lā yajrimannakum syana-ānu qaumin (karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum mendorong kalian), yakni kebencian kepada Syuraih bin Syurahbil.

‘Alā allā ta‘dilū (untuk berlaku tidak adil), yakni di antara jemaah haji kaum Bakr bin Wa-il.

I‘dilū (berlaku adillah kalian) di antara mereka.

Huwa aqrabu lit taqwā ([sebab] keadilan itu lebih dekat pada ketakwaan), yakni keadilan lebih dekat bagi kaum Muttaqin dalam menggapai ketakwaan.

Wat taqullāh (dan bertakwalah kalian kepada Allah), yakni hendaklah kalian takut kepada Allah Ta‘ala dalam hal keadilan dan penyimpangan.

Innallāha khabīrum bimā ta‘malūn (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan), baik keadilan ataupun penyimpangan.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah[7], (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil[8]. Berlaku adillah[9]. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa[10]. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan[11].

[7] Bukan karena kepentingan pribadi atau duniawi.

[8] Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki keadilan, bahkan jika kamu bersaksi untuk kepentingan orang dekatmu, maka kamu pun harus bersaksi terhadapnya meskipun merugikannya. Demikian juga sebagaimana kamu bersaksi yang merugikan musuhmu, maka kamu pun harus bersaksi meskipun menguntungkannya walaupun ia orang kafir atau ahli bid’ah, yakni harus adil dan menerima yang hak jika terkadang muncul darinya, dan tidak boleh menolak kebenaran karena diucapkan olehnya, bahkan yang demikian adalah kezaliman.

[9] Baik terhadap kawan maupun lawan.

[10] Yakni setiap kali kamu berusaha untuk adil dan mengamalkannya, maka yang demikian mendekatkan kamu kepada ketakwaan, dan semakin sempurna keadilan, maka semakin sempurna pula ketakwaanmu.

[11] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan terhadap perbuatanmu; baik atau buruk, besar atau kecil, demikian pula dibalas segera atau lambat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu selalu berdiri karena Allah) menegakkan kebenaran-kebenaran-Nya (menjadi saksi dengan adil) (dan janganlah kamu terdorong oleh kebencian kepada sesuatu kaum) yakni kepada orang-orang kafir (untuk berlaku tidak adil) hingga kamu menganiaya mereka karena permusuhan mereka itu. (Berlaku adillah kamu) baik terhadap lawan maupun terhadap kawan (karena hal itu) artinya keadilan itu (lebih dekat kepada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan) sehingga kamu akan menerima pembalasan daripadanya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah. (Al-Maa’idah: 8)

Yakni jadilah kalian orang-orang yang menegakkan kebenaran karena Allah, bukan karena manusia atau karena harga diri.

Menjadi saksi dengan adil. (Al-Maa’idah: 8)

Maksudnya menegakkan keadilan, bukan kezaliman.

وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ أَنَّهُ قَالَ: نَحَلَنِي أَبِي نَحْلا فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهد رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَجَاءَهُ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي فَقَالَ: أُكَلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَ مِثْلَهُ؟  قَالَ: لَا  قَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ. وَقَالَ: إِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْر. قَالَ: فَرَجَعَ أَبِي فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ

Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain dari An-Nu’man ibnu Basyir yang menceritakan bahwa ayahnya telah menghadiahkan kepadanya suatu pemberian yang berharga. Ibunya bernama Amrah binti Rawwahah berkata, Aku tidak rela sebelum kamu mempersaksikan pemberian ini kepada Rasulullah Ayahnya datang menghadap Rasulullah untuk meminta kesaksian atas pemberian tersebut. Maka Rasulullah bertanya: Apakah semua anakmu diberi hadiah yang semisal? Ayahku menjawab, Tidak. Lalu Rasulullah bersabda, Bertakwalah kamu kepada Allah, dan berlaku adillah kepada anak-anakmu. Dan Rasulullah bersabda pula, Sesungguhnya aku tidak mau bersaksi atas kezaliman. An-Nu’man ibnu Basyir melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ayahnya pulang dan mencabut kembali pemberian tersebut darinya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا

Dan jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. (Al-Maa’idah: 8)

Artinya, jangan sekali-kali kalian biarkan perasaan benci terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil kepada mereka, tetapi amalkanlah keadilan terhadap setiap orang, baik terhadap teman ataupun musuh. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al-Maa’idah: 8)

Yakni sikap adilmu lebih dekat kepada takwa daripada kamu meninggalkannya. Fi’il yang ada dalam ayat ini menunjukkan keberadaan masdar yang dijadikan rujukan oleh damir-nya; perihalnya sama dengan hal-hal yang semisal lainnya dalam Al-Qur’an dan lain-lainnya. Sama halnya dengan pengertian yang ada di dalam firman-Nya:

وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ

Dan jika dikatakan kepada kalian.Kembali (saja)lah maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian. (An-Nur: 28

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala: Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al-Maa’idah: 8) Ungkapan ini termasuk ke dalam pemakaian af’aLuth tafdil di tempat yang tidak terdapat pembandingnya sama sekali. Perihalnya sama dengan apa yang terdapat di dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang lain, yaitu:

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلا

Penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (Al-Furqan: 24)

Yakni seperti pengertian yang terkandung dalam perkataan seorang wanita dari kalangan sahabat Nabi ﷺ kepada Umar radiyallahu ‘anhu., Kamu lebih kasar dan lebih keras, jauh (bedanya) dengan Rasulullah ﷺ

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Al-Maa’idah: 8)

Ayat berikutnya: Tempat Kembali dan Pahala 

Maksudnya, Dia kelak akan membalas kalian atas apa yang telah Dia ketahui dari amal perbuatan yang kalian kerjakan. Jika amal itu baik, maka balasannya baik; dan jika amal itu buruk, maka balasannya akan buruk pula. Untuk itu selaras dengan pengertian ini disebutkan dalam firman selanjutnya: ….

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaTempat Kembali dan Pahala
Berita berikutnyaMengingatkan Nikmat-nikmat Allah dan Perjanjian dengan-Nya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here