Meningatkan Nikmat Allah

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 11

0
152

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 11. Meningatkan nikmat Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu (secara tiba-tiba) dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakkal. (Q.S. Al-Maa’idah : 11)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhal ladzīna āmanu (wahai orang-orang yang beriman), yakni Nabi Muhammad ﷺ dan para shahabatnya.

Udzkurū ni‘matallāhi ‘alaikum (ingatlah kalian akan nikmat Allah kepada kalian), yakni peliharalah Karunia Allah Ta‘ala yang telah mencegah serangan musuh terhadap kalian.

Idz hamma qaumun (ketika suatu kaum bermaksud), yakni ketika Bani Quraizhah ingin ….

Ay yabsuthū ilaikum aidiyahum (menggerakkan tangan mereka terhadap kalian), yakni ingin membunuh kalian.

Fa kaffa (kemudian Allah menahan), yakni Allah Ta‘ala mencegah.

Aidiyahum ‘angkum (tangan mereka dari kalian), yakni tangan mereka yang hendak membunuh kalian.

Wat taqullāh (dan bertakwalah kalian kepada Allah), yakni hendaknya kalian takut kepada Allah Ta‘ala berkenaan dengan apa yang Dia perintahkan kepada kalian.

Wa ‘alallāhi fal yatawakkalil mu’minūn (dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal), yakni hendaklah kaum mukminin bertawakal kepada Allah Ta‘ala.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

11.[14] Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum[15] bermaksud hendak menyerangmu (secara tiba-tiba) dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakkal[16].

[14] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan nikmat-nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan mendorong mereka untuk mengingatnya baik dengan hati maupun lisan. Di antara nikmat itu adalah menghalangi musuh dari menyerang mereka secara tiba-tiba, di mana hal itu merupakan pertolongan Allah kepada mereka yang patut mereka syukuri. Kemudian Allah memerintahkan mereka menggunakan tawakkal kepada Allah untuk melawan musuh mereka dan dalam menghadapi segala urusan.

[15] Yakni orang-orang kafir Quraisy. Termasuk pula orang kafir lainnya dan orang munafik.

[16] Bertawakkal adalah bersandar kepada Allah dalam mendatangkan maslahat, baik maslahat agama maupun dunia serta berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan yang ada pada diri, dan merasa yakin dengan Allah dalam usaha menghasilkan semua yang diinginkan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika suatu kaum bermaksud) yakni orang-orang Quraisy (hendak memanjangkan tangan mereka kepadamu) buat mencelakakanmu (maka ditahan-Nya tangan mereka daripadamu) dan dilindungi-Nya kamu dari maksud jahat mereka itu (dan bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kepada Allah orang-orang mukmin itu bertawakal.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kalian akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepada kalian, di waktu suatu kaum bermaksud memanjangkan tangannya kepada kalian (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kalian. (Al-Maa’idah: 11)

قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: أَخْبَرْنَا مَعْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، ذَكَرَهُ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ جَابِرٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ مَنْزِلًا وتَفَرّق النَّاسُ فِي العضَاه يَسْتَظِلُّونَ تَحْتَهَا، وَعَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِلَاحَهُ بِشَجَرَةٍ، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى سَيْفِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَهُ فسلَّه، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟ قَالَ: اللَّهُ! قَالَ الْأَعْرَابِيُّ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اللَّهُ! قَالَ: فَشَام الْأَعْرَابِيُّ السَّيْفَ، فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ فَأَخْبَرَهُمْ خَبَرَ الْأَعْرَابِيِّ، وَهُوَ جَالِسٌ إِلَى جَنْبِهِ وَلَمْ يُعَاقِبْهُ -وَقَالَ مَعْمَرٌ: وَكَانَ قَتَادَةُ يَذْكُرُ نَحْوَ هَذَا، وَذَكَرَ أَنَّ قَوْمًا مِنَ الْعَرَبِ أَرَادُوا أَنْ يَفْتِكُوا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلُوا هَذَا الْأَعْرَابِيَّ، وَتَأَوَّلَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ الْآيَةَ

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri yang menceritakannya dari Abu Salamah, dari Jabir, bahwa Nabi turun istirahat di suatu tempat peristirahatan, dan orang-orang (para sahabat) memencar untuk bernaung di bawah pepohonan ‘udah, lalu Nabi menggantungkan senjata (pedang)nya di sebuah pohon. Lalu datanglah seorang Arab Badui ke tempat pedang Rasulullah , kemudian ia mengambil pedang itu dan menghunusnya. Sesudah itu ia datang kepada Nabi , mengancamnya seraya berkata, Siapakah yang akan melindungi dirimu dariku? Nabi menjawab, Allah Subhaanahu wa Ta’aala Orang Arab Badui itu mengucapkan kata-kata berikut, Siapakah yang melindungimu dariku? (diucapkannya sebanyak dua atau tiga kali). Sedangkan Nabi menjawabnya dengan kalimat, Allah. Maka tangan orang Arab Badui itu lumpuh dan pedang terjatuh dari tangannya. Kemudian Nabi memanggil para sahabatnya dan menceritakan kepada mereka tentang orang Arab Badui yang duduk di sebelahnya, tetapi Nabi tidak menghukumnya. Ma’mar mengatakan bahwa Qatadah menceritakan hal yang semisal, dan ia menyebutkan bahwa ada suatu kaum dari kalangan orang-orang Arab Badui yang bermaksud membunuh Rasulullah ,, lalu mereka mengutus orang Arab Badui itu (salah seorang dari mereka yang pemberani). Ia menakwilkan dengan pengertian tersebut akan firman-Nya: ingatlah kalian akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepada kalian, di waktu suatu kaum bermaksud hendak memanjangkan tangannya kepada kalian (untuk berbuat jahat). (Al-Maa’idah: 11), hingga akhir ayat.

Kisah orang Arab Badui yang bernama Gauras ibnul Haris ini disebutkan di dalam kitab sahih.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala: Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kalian akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepada kalian, di waktu suatu kaum bermaksud hendak memanjangkan tangannya kepada kalian (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kalian. (Al-Maa’idah: 11); Demikian itu karena ada suatu kaum dari kalangan orang-orang Yahudi membuat suatu jamuan makan untuk Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dengan maksud hendak membunuh mereka semua. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya yang memberitahukan perihal rencana kaum Yahudi itu. Maka Nabi ﷺ tidak datang ke jamuan makan itu dan hanya memerintahkan kepada para sahabat untuk mendatanginya. Maka mereka datang ke jamuan makan tersebut. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Abu Malik mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ka’b ibnul Asyraf (pemimpin Yahudi) dan teman-temannya ketika mereka bermaksud melakukan pengkhianatan terhadap Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya; hal ini mereka rencanakan di rumah Ka’b ibnul Asyraf. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, Mujahid, dan Ikrimah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Bani Nadir ketika mereka bermaksud menimpakan batu penggilingan gandum ke tubuh Rasulullah ﷺ manakala Rasulullah ﷺ datang kepada mereka meminta bantuan berkenaan dengan diat orang-orang Amiriyin. Mereka menyerahkan tugas ini kepada Amr ibnu Jahsy ibnu Ka’b untuk melakukannya, dan mereka memerintahkan kepadanya apabila Nabi ﷺ telah duduk di bawah tembok dan mereka berkumpul menemuinya, hendaknya Amr menjatuhkan batu penggilingan gandum itu dari atas tembok tersebut. Maka Allah memperlihatkan kepada Nabi ﷺ makar jahat mereka itu. Akhirnya Nabi ﷺ kembali lagi ke Madinah, diikuti oleh para sahabatnya. Berkenaan dengan peristiwa tersebut turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:

Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu bertawakal. (Al-Maa’idah: 11)

Ayat berikutnya: Menunaikan Janji Allah yang Telah Diambil-Nya 

Yaitu barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan menutupi semua yang menjadi kesusahannya dan memeliharanya dari kejahatan manusia serta melindunginya. Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan agar para sahabat berangkat memerangi mereka. Akhirnya pasukan kaum muslim mengepung mereka dan mengalahkan mereka serta mengusirnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaMenunaikan Janji Allah yang Telah Diambil-Nya
Berita berikutnyaTempat Kembali dan Pahala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here