Mengingatkan Nikmat-nikmat Allah dan Perjanjian dengan-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 7

0
130

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 7. Mengingatkan nikmat-nikmat Allah dan perjanjian dengan-Nya, serta perintah menegakkan keadilan dan menunaikan persaksian. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, Kami mendengar dan kami menaati. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Q.S. Al-Maa’idah : 7)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wadz kurū ni‘matallāhi (dan ingatlah kalian akan nikmat Allah), yakni hendaklah kalian menjaga nikmat Allah Ta‘ala.

‘Alaikum (kepada kalian), yakni nikmat iman.

Wa mītsāqahul ladzī wātsaqakum bihī (dan perjanjian-Nya yang telah mengikat kalian dengannya), yakni yang telah Dia perintahkan kepada kalian pada hari perjanjian.

Idz qultum sami‘nā (ketika kalian mengatakan, Kami dengar) ucapanmu, ya Rabbana.

Wa atha‘nā (dan kami taati) perintah-Mu.

Wat taqullāh (dan bertakwalah kalian kepada Allah), yakni hendaklah kalian takut oleh perintah dan larangan yang diberikan Allah Kepada kalian.

Innallāha ‘alīmum bi dzātish shudūr (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi dada), yakni segala sesuatu yang ada di dalam hati, apakah menunaikan perjanjian atau melanggarnya.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

7.[1] Ingatlah karunia Allah kepadamu[2] dan perjanjian-Nya[3] yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, Kami mendengar dan kami menaati.[4] Dan bertakwalah kepada Allah[5], Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati[6].

[1] Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan hamba-hamba-Nya mengingat nikmat-nikmat-Nya, baik nikmat agama maupun nikmat dunia; dengan hati maupun lisan mereka. Hal itu, karena dengan sering mengingatnya dapat mendorong untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala dan mencintai-Nya dan hati merasakan ihsan-Nya. Bahkan manfaatnya pula adalah menghindarkan rasa ujub (bangga) terhadap diri dan menambah karunia Allah dan ihsan-Nya.

[2] Berupa agama Islam.

[3] Perjanjian itu adalah perjanjian akan mendengar dan mengikuti Nabi ﷺ dalam setiap keadaan; yang diikrarkan sewaktu bai’at. Namun di antara ulama ada yang menafsirkan perjanjian di sini, bukan mengucapkan dan melafazkan janji, tetapi maksudnya dengan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka telah mengharuskan diri mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

[4] Ketaatan ini mencakup ketaatan kepada syari’at Islam baik yang nampak (di lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (dalam hati), dan dalam melakukannya kaum mukmin hendaknya mengingat perjanjian itu agar berusaha mengerjakannya secara sempurna.

[5] Dalam perjanjian itu dan jangan melanggarnya atau dalam semua keadaanmu.

[6] Oleh karena itu, berhati-hatilah memiliki keinginan yang tidak diridhainya, dan isilah hati kamu dengan mengenal-Nya, mencintai-Nya dan memiliki sikap nashihah (tulus) kepada hamba-hamba Alllah agar kesalahanmu diampuni dan kebaikanmu dilipatgandakan karena Dia mengetahui kesalihan hatimu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan ingatlah olehmu karunia Allah kepadamu) maksudnya agama Islam (dan perjanjian-Nya yang telah diikat erat-Nya denganmu) artinya yang telah diperbuat-Nya denganmu (ketika kamu mengatakan) kepada Nabi ﷺ sewaktu baiat kepadanya (Kami dengar dan kami taati) mengenai apa juga yang engkau suruh atau pun larang, baik yang kami sukai maupun yang kami benci (dan bertakwalah kamu kepada Allah) jangan sampai melanggar perjanjian itu (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati) yakni apa yang terdapat di dalamnya apa lagi yang terdapat di luarnya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman mengingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin akan semua nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka dalam syariat yang telah ditetapkan-Nya untuk mereka, yaitu berupa agama Islam yang agung ini; dan Dia mengutus kepada mereka rasul yang mulia, serta apa yang telah diambil-Nya dari mereka berupa perjanjian dan kesediaan untuk berbaiat kepada rasul, bersedia mengikutinya, menolong dan mendukungnya, menegakkan agamanya dan menerimanya, serta menyampaikannya (kepada orang lain) dari dia. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

Dan ingatlah karunia Allah kepada kalian dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan-Nya dengan kalian, ketika kalian mengatakan, Kami dengar dan kami taati. (Al-Maa’idah: 7)

Baiat inilah yang dimaksud ketika mereka mengucapkannya kepada Rasulullah ﷺ saat mereka masuk Islam. Saat itu mereka mengatakan, Kami berjanji setia kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan menaatinya dalam keadaan kami sedang bersemangat dan dalam keadaan kami sedang tidak bersemangat Kami mengesampingkan kepentingan pribadi kami dan tidak akan menentang perintah yang dikeluarkan oleh ahlinya, Dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman:

وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan mengapa kalian tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kalian supaya beriman kepada Tuhan kalian. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjian kalian jika kalian adalah orang-orang yang beriman. (Al-Hadid: 8)

Menurut suatu pendapat, hal ini merupakan peringatan yang ditujukan kepada orang-orang Yahudi, karena Allah telah mengambil janji dari mereka bahwa mereka bersedia akan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dan taat kepada syariatnya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas.

Menurut pendapat yang lain, hal ini merupakan peringatan terhadap anak Adam karena Allah telah mengambil janji dari mereka ketika mereka dikeluarkan oleh Allah dari tulang sulbinya dan mengambil kesaksian dari diri mereka melalui firman-Nya:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

Bukankah Aku ini Tuhan kalian? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Al-A’raf: 172)

Demikianlah menurut pendapat Mujahid dan Muqatil ibnu Hayyan, tetapi pendapat yang pertama lebih jelas, yaitu pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan As-Saddi, kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan bertakwalah kepada Allah. (Al-Maa’idah: 7)

Ayat berikutnya: Perintah Menegakkan Keadilan dan Menunaikan Persaksian 

Hal ini mengukuhkan dan memacu untuk tetap berpegang kepada takwa dalam semua keadaan. Selanjutnya Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang tersimpan di dalam hati mereka berupa rahasia dan bisikan-bisikan hati. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi (hati kalian). (Al-Maa’idah: 8)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPerintah Menegakkan Keadilan dan Menunaikan Persaksian
Berita berikutnyaDia Menyempurnakan Nikmat-Nya Bagimu, Agar Kamu Bersyukur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here