Kisah Dua Anak Adam (Qabil dan Habil)

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 27

0
171

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 27. Kisah dua anak Adam (Qabil dan Habil), pembunuhan pertama yang terjadi dan besarnya malapetaka akibat pembunuhan dan syariat menguburkan mayit. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, Sungguh, aku pasti membunuhmu! Dia (Habil) berkata, Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Maa’idah : 27)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wat lu ‘alaihim (ceritakanlah kepada mereka), yakni bacakanlah kepada mereka, hai Muhammad!

Naba-a (berita), yakni kabar.

Ibnai ādama bil haqqi (tentang kedua putra Adam [Habil dan Qabil] menurut yang sebenarnya), yakni menurut Al-Qur’an.

Idz qarrabā qurbānaη fa tuqubbila min ahadihimā (ketika keduanya berkurban, kemudian diterima dari salah seorangnya), yakni dari Habil.

Wa lam yutaqqabbal minal ākhar (dan tidak diterima dari yang lain), yakni dari Qabil.

Qāla (dia berkata), yakni Qabil berkata kepada Habil ….

La aqtulannak (sungguh aku akan membunuhmu), hai Habil.

Qāla (dia berkata), kenapa? Qabil menjawab, Karena Allah Ta‘ala Menerima kurbanmu, dan tidak menerima kurbanku. Berkatalah Habil ….

Innamā yataqabbalullāhu minal muttaqīn (Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa), yakni dari orang-orang yang benar, baik dalam ucapan maupun perbuatan seraya menyucikan hati. Sedangkan kamu bukanlah orang yang menyucikan hati.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam[1], ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima[2]. Dia (Qabil) berkata, Sungguh, aku pasti membunuhmu! Dia (Habil) berkata, Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa[3].

[1] Para mufassir mengatakan, namanya Qabil dan Habil, dan menurut zhahirnya bahwa keduanya adalah anak kandung Nabi Adam ‘alaihis salam.

[2] Disebutkan bahwa Habil mempersembahkan seekor kambing, sedangkan Qabil mempersembahkan tanaman. Di antara dua kurban itu, yang diterima adalah kurban Habil dengan turunnya api dari langit lalu memakan kurban itu. Hal itu menjadikan Qabil iri terhadap Habil.

[3] Bertakwa di sini adalah dengan mengerjakan amal ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan-Nya melalui para nabi dan rasul.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan bacakanlah) hai Muhammad (kepada mereka) yakni kepada kaummu (kabar) berita (dua orang anak Adam) yaitu Habil dan Qabil (dengan sebenarnya) berhubungan dengan utlu (ketika keduanya mempersembahkan kurban) kepada Allah berupa domba dari Habil dan hasil tanaman dari Qabil. (Maka diterima dari salah seorang mereka) yakni dari Habil dengan alamat turunnya api dari langit yang melahap kurbannya (dan tidak diterima dari yang lain) yakni dari Qabil yang menjadi murka dan memendam kedengkian dalam dirinya menunggu naik hajinya Adam. (Katanya) yakni Qabil kepada Habil (Sungguh, akan kubunuh kamu!) Kenapa kurbanmu diterima sedangkan kurban saya tidak! (Jawabnya, yakni Habil, Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menjelaskan kefatalan akibat dari dengki, iri hati. dan zalim melalui kisah kedua anak Adam, yang menurut jumhur ulama bernama Qabil dan Habil. Salah seorang darinya menyerang yang lain hingga membunuhnya karena benci dan dengki terhadapnya karena Allah telah mengaruniakan nikmat kepadanya dan kurbannya diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala karena ia lakukan dengan hati yang tulus ikhlas.

Akhirnya si terbunuh memperoleh keberuntungan, yaitu semua dosanya diampuni dan dimasukkan ke dalam surga, sedangkan si pembunuh memperoleh kekecewaan dan kembali dengan membawa kerugian di dunia dan akhirat. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya. (Al-Maa’idah: 27)

Yakni ceritakanlah kepada mereka yang membangkang lagi dengki yaitu saudaranya babi dan kera dari kalangan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang semisal dan serupa dengan mereka tentang kisah kedua anak Adam. Keduanya adalah Qabil dan Habil, menurut apa yang telah diceritakan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf.

Selanjutnya: Menyuguhkan Kurban 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengatakan:

Dengan sebenarnya. (Al-Maa’idah: 27)

Yakni secara jelas dan gamblang tanpa ada pengelabuan dan kedustaan, tanpa ada ilusi dan penggantian, serta tanpa ditambah-tambahi atau dikurangi. Seperti pengertian yang tercantum dalam ayat lain:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقّ

Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar. (Ali Imran: 62)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. (Al-Kahfi: 13)

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ

Itulah Isa putra Maryam. yang mengatakan perkataan yang benar. (Maryam: 34)

Kisah mengenai mereka berdua, menurut apa yang telah disebutkan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala mensyariatkan kepada Adam ‘alaihis salam untuk mengawinkan anak-anak lelakinya dengan anak-anak perempuannya karena keadaan darurat.

Tetapi mereka mengatakan bahwa setiap kali mengandung, dilahirkan baginya dua orang anak yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, dan ia (Adam) mengawinkan anak perempuannya dengan anak laki-laki yang lahir bukan dari satu perut dengannya. Dan konon saudara seperut Habil tidak cantik, sedangkan saudara seperut Qabil cantik lagi bercahaya. Maka Habil bermaksud merebutnya dari tangan saudaranya. Tetapi Adam menolak hal itu kecuali jika keduanya melakukan suatu kurban; barang siapa yang kurbannya diterima, maka saudara perempuan seperut Qabil akan dikawinkan dengannya. Ternyata kurban Habillah yang diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, sehingga terjadilah kisah keduanya yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala di dalam Kitab-Nya.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan kisah yang ia terima dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas; juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud. serta dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ, bahwa tidak sekali-kali dilahirkan anak (laki-laki) bagi Nabi Adam melainkan disertai dengan lahirnya anak perempuan. Nabi Adam selalu mengawinkan anak lelakinya dengan anak perempuan yang lahir tidak seperut dengannya, dan ia mengawinkan anak perempuannya dengan anak lelaki yang lahir tidak seperut dengannya. Pada akhirnya dilahirkan bagi Nabi Adam dua anak laki-laki yang dikenal dengan nama Habil dan Qabil. Setelah besar Qabil adalah ahli dalam bercocok tanam, sedangkan Habil seorang peternak. Qabil berusia lebih tua daripada Habil, dia mempunyai saudara perempuan seperut yang lebih cantik daripada saudara perempuan seperut Habil. Kemudian Habil meminta untuk mengawini saudara perempuan Qabil, tetapi Qabil menolak lamarannya dan berkata, Dia adalah saudara perempuanku yang dilahirkan seperut denganku, lagi pula dia lebih cantik daripada saudara perempuanmu, maka aku lebih berhak untuk mengawininya. Padahal Nabi Adam telah memerintahkan kepada Qabil untuk menikahkan saudara perempuannya dengan Habil, tetapi Qabil tetap menolak. Kemudian keduanya melakukan suatu kurban kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk menentukan siapakah di antara keduanya yang berhak mengawini saudara perempuan yang diperebutkan itu. Saat itu Nabi Adam ‘alaihis salam telah pergi meninggalkan mereka berdua, dia datang ke Mekah untuk ziarah dan melihat Mekah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala, berfirman, Tahukah kamu bahwa Aku mempunyai sebuah rumah di bumi ini? Adam menjawab, ‘Ya Allah, saya tidak tahu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, Sesungguhnya Aku mempunyai sebuah rumah di Mekah, maka datangilah. Kemudian Adam berkata kepada langit.Jagalah anak-anakku sebagai amanat, tetapi langit menolak; dan ia berkata kepada bumi hal yang semisal, tetapi bumi pun menolak. Maka Adam berkata kepada Qabil. Qabil menjawab, Ya, pergilah engkau. Kelak bila engkau kembali, engkau akan menjumpai keluargamu seperti yang engkau sukai. Setelah Adam berangkat, mereka berdua melakukan suatu kurban. Sebelum- itu Qabil membanggakan dirinya atas Habil dengan mengatakan, Aku lebih berhak mengawininya daripada kamu, dia adalah saudara perempuanku, dan aku lebih besar daripada kamu serta akulah yang di-wasiati oleh ayahku. Habil mengurbankan seekor domba yang gemuk, sedangkan Qabil mengurbankan seikat gandum, tetapi ketika ia menjumpai sebulir gandum yang besar di dalamnya, segera dirontokkannya dan dimakannya. Dan ternyata api turun, lalu melahap kurban Habil, sedangkan kurban Qabil dibiarkan begitu saja (tidak dimakan api). Menyaksikan hal itu Qabil marah, lalu berkata, Aku benar-benar akan membunuhmu agar kamu jangan mengawini saudara perempuanku. Maka Habil hanya menjawab, Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.

Demikianlah yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah. telah menceritakan kepada kami Hajjaj. dari Ibnu Juraij. telah menceritakan kepadaku Ibnu Khasyam. Ibnu Juraij mengatakan bahwa ia datang bersama Sa’id ibnu Jubair, lalu Ibnu Khasjam menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Adam melarang seorang wanita kawin dengan saudara lelaki kembarannya, dan ia memerintahkan agar wanita itu dikawini oleh lelaki lain dari kalangan saudara-saudara lelaki lain yang tidak sekembar dengannya. Tersebutlah bahwa setiap Nabi Adam mempunyai anak, dari setiap perut lahirlah seorang bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan. Ketika mereka (Nabi Adam dan para putranya) menjalankan peraturan tersebut, tiba-tiba lahirlah seorang anak perempuan yang cantik dan lahir pula seorang anak perempuan yang buruk wajahnya (dari lain perut). Lalu saudara lelaki dari wanita yang buruk rupa itu berkata (kepada saudara lelaki wanita yang cantik), Kawinkanlah aku dengan saudara perempuanmu, maka aku akan menikahkanmu dengan saudara perempuanku. Lelaki saudara si perempuan yang cantik menjawab, ‘Tidak, akulah yang lebih berhak untuk mengawini saudara perempuanku. Maka keduanya melakukan suatu kurban, dan ternyata yang diterima adalah kurban milik peternak, sedangkan kurban milik petani tidak diterima, maka si petani (Qabil) membunuh si peternak (Habil). Sanad asar ini jayyid.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaCarilah Jalan yang Mendekatkan Diri Kepada-Nya
Berita berikutnyaTersesatnya Bani Israil di Gurun Selama Empat Puluh Tahun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here