Keengganan Menaati Perintah Nabi Musa ‘Alaihis Salam

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 24

0
169

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 24. Kisah Bani Israil bersama Nabi Musa ‘alaihis salam, keengganan menaati perintah Nabi Musa ‘alaihis salam memasuki Palestina dan akibatnya, yaitu tersesatnya Bani Israil di gurun selama empat puluh tahun. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا

Mereka berkata, Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja. (Q.S. Al-Maa’idah : 24)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qālū yā mūsā innā lan nadkhulahā (mereka berkata, Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya), yakni tidak akan memasuki negeri orang-orang yang suka bertindak zalim itu.

Abadam mā dāmū fīhā fadz-hab aηta wa rabbuka (selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah kamu bersama Rabb-mu) dan Harun.

Fa qātilā (lalu berperanglah kamu berdua), sebab Rabb kamu berdua akan membantu kamu berdua sebagaimana Dia pernah membantu kamu berdua saat melawan Fir‘aun dan kaumnya.

Innā hāhunā qā‘idūn (sesungguhnya kami hanya akan duduk-duduk saja di sini), yakni duduk menunggu.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Mereka berkata, Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja[29].

[29] Sungguh keji sekali perkataan yang ditujukan kepada nabi mereka ini, berbeda dengan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ ketika bermusyawarah untuk berperang di Badar, mereka berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ, Wahai Rasulullah, jika engkau mengarungi laut ini, niscaya kami akan mengarungi bersamamu, dan jika engkau mengajak kami ke Barkulghimad (wilayah di dekat Mekah kira-kira menempuh lima hari untuk menuju ke sana dari pinggir laut), niscaya tidak ada seorang pun meninggalkanmu. Kami tidak akan berkata-kata seperti yang diucapkan kaum Musa kepada Musa, Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja akan tetapi (kami mengatakan), Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, kami pun ikut berperang bersamamu, baik di depanmu atau di belakangmu, di kananmu atau di kirimu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kata mereka, Hai Musa! Kami sekali-kali tidak akan memasukinya untuk selama-lamanya selagi mereka masih berada di dalamnya. Maka pergilah kamu bersama Tuhanmu dan perangilah) mereka (biarlah kami di sini duduk menanti saja.) tak ikut berperang.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Disebutkan oleh firman selanjutnya:

Mereka berkata, Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. (Al-Maa’idah: 24)

Ini merupakan sikap pembangkangan mereka yang tidak mau berjihad dan menentang rasul mereka serta menolak untuk berperang dengan Musuh mereka.

Disebutkan bahwa ketika mereka menolak berjihad dan bertekad untuk berangkat kembali menuju ke negeri Mesir, maka Musa dan Harun sujud (kepada Allah) di hadapan sejumlah pemimpin dari kalangan Bani Israil karena sangat keberatan dengan apa yang mereka niatkan itu. Kemudian Yusya’ ibnu Nun dan Kalib ibnu Yufana merobek bajunya sendiri (sebagai ungkapan kekesalan) dan mencaci kaumnya yang bersikap demikian itu (menolak berjihad). Menurut suatu kisah, mereka (kaum Bani Israil) merajam Yusya’ dan Kalib, dan terjadilah suatu peristiwa yang sangat besar serta krisis yang sangat parah.

Sehubungan dengan hal ini, alangkah baiknya apa yang dikatakan oleh para sahabat radiyallahu ‘anhum pada hari Perang Badar kepada Rasulullah ﷺ, yaitu ketika Rasulullah ﷺ meminta pendapat dari mereka untuk berangkat memerangi pasukan kaum musyrik yang datang untuk melindungi kafilah yang dipimpin oleh Abu Sufyan.

Ketika kafilah itu terlepas dari penghadangan mereka, dan pasukan kaum musyrik yang terdiri atas sembilan ratus sampai seribu orang personel berikut semua perbekalan dan persenjataannya mendekat kepada pasukan kaum muslim, maka Abu Bakar radiyallahu ‘anhu. mengemukakan pendapatnya, dan ternyata pendapatnya itu baik. Kemudian sebagian dari sahabat yang terdiri atas kalangan kaum Muhajirin mengemukakan pula pendapatnya, sedangkan Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:

أَشِيرُوا عليَّ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ

Berikanlah saran-saran kalian kepadaku, hai kaum muslim!

Rasulullah ﷺ tidak sekali-kali memaklumatkan demikian kecuali untuk memberitahukan kepada para sahabat dari kalangan Ansar, karena hari itu mereka merupakan mayoritas. Maka Sa’d ibnu Mu’az (pemimpin mereka) berkata:

Wahai Rasulullah, seakan-akan engkau menyindir kami. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau hadapkan kami ke laut ini, lalu engkau memasukinya, niscaya kami pun akan memasukinya pula bersamamu, tanpa ada seorang pun yang tertinggal dari kami. Kami sama sekali tidak segan untuk menghadapi musuh kami besok hari, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang teguh dalam perang dan pantang mundur dalam medan laga. Mudah-mudahan Allah menampakkan kepadamu sikap kami yang akan membuat engkau senang hati, maka bawalah kami dengan berkah dari Allah.

Mendengar perkataan Sa’d dan semangatnya yang berkobar untuk menghadapi medan perang, maka hati Rasulullah ﷺ menjadi gembira.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali Ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Hatim Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Anshari, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ ketika hendak berangkat menuju ke medan Badar bermusyawarah dengan kaum muslim, maka sahabat Umar mengemukakan pendapatnya untuk berangkat. Kemudian Rasulullah ﷺ meminta pendapat mereka, maka kaum Ansar berkata.Hai orang-orang Ansar, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bermaksud minta pendapat dari kalian! Maka mereka menjawab, Kalau demikian, kami tidak akan mengatakan kepadanya seperti yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa dalam firman-Nya: Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja (Al-Maa’idah: 24) Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau pergi ke jantung pertahanan mereka sampai ke Barkil Gimad niscaya kami akan ikut besertamu.

Imam Ahmad meriwayatkannya dari Ubaidah ibnu Humaid, dari Humaid At-Tawil, dari Anas dengan lafaz yang sama.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna, dari Khalid ibnul Haris, dari Humaid dengan lafaz yang sama.

Ibnu Hibban meriwayatkannya dari Abu Ya’la, dari Abdul A’la ibnu Hammad, dari Ma’mar ibnu Sulaiman, dari Humaid dengan lafaz yang sama.

Ibnu Murdawaih mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu’aib, dari Al-Hakam ibnu Ayyub, dari Abdullah ibnu Nasikh, dari Atabah ibnu Ubaid As-Sulami yang telah menceritakan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada para sahabatnya, Maukah kalian berperang? Mereka menjawab, Ya, dan kami tidak akan berkata seperti yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, yaitu yang disitir oleh firman-Nya: karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja* (Al-Maa’idah: 24). Tetapi kami akan mengatakan, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan sesungguhnya kami akan ikut berperang bersamamu’.

Yang termasuk salah seorang yang memenuhi seruan itu adalah Al-Miqdad ibnu Amr Al-Kindi radiyallahu ‘anhu. Seperti yang disebutkan oleh Imam Ahmad dalam riwayatnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Waki, telah menceritakan kepadaku Sufyan, dari Mukhariq ibnu Abdullah Al-Ahmasi, dari Tariq, yaitu Ibnu Syihab, bahwa Al-Miqdad berkata kepada Rasulullah ﷺ dalam peristiwa Perang Badar, Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, yaitu: ‘Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’ (Al-Maa’idah: 24). Tetapi pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami pun ikut berperang bersama kamu berdua.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari segi ini.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya melalui jalur lain, bahwa telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir. telah menceritakan kepada kami Israil, dari Mukhariq, dari Tariq ibnu Syihab yang telah menceritakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud pernah menceritakan, Sesungguhnya aku pernah menyaksikan suatu sikap Al-Miqdad yang membuat diriku menginginkan seperti apa yang dilakukannya, yaitu ketika Rasulullah ﷺ sedang menyeru kaum muslim untuk berperang melawan kaum musyrik, Al-Miqdad datang kepadanya, lalu berkata, ‘Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak akan mengatakan seperti yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa: karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. (Al-Maa’idah: 24) Tetapi kami akan ikut berperang di sebelah kanan, di sebelah kiri, di sebelah depan, dan di sebelah belakangmu.’ Maka aku melihat wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri karenanya. Hal itu membuatnya gembira.

Demikian pula Imam Bukhari telah meriwayatkannya di dalam kitab Al-Magazi dan kitab Tafsir melalui berbagai jalur dari Mukhariq. Lafaz yang diketengahkannya di dalam kitab Tafsir dari Abdullah adalah seperti berikut:

Pada hari Perang Badar, Al-Miqdad berkata, Wahai Rasulullah, kami (orang-orang Ansar) tidak akan mengatakan kepadamu seperti yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, yaitu: ‘karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’ (Al-Maa’idah: 24). Tetapi berangkatlah engkau,dan kami akan bersama denganmu. Maka seakan-akan Al-Miqdad membuat Rasulullah ﷺ sangat gembira.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan, hadits ini diriwayatkan oleh Waki’, dari Sufyan, dari Mukhariq, dari Tariq, bahwa Al-Miqdad berkata kepada Nabi ﷺ hingga akhir hadits.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah yang telah menceritakan bahwa telah diceritakan kepada kami bahwa pada hari Hudaibiyah Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya, yaitu ketika kaum musyrik menghalang-halangi hewan kurban kaum muslim dan menghalang-halangi antara mereka dan tempat manasiknya: Sesungguhnya aku akan pergi membawa hewan kurban, maka sembelihlah di Baitullah. Maka Al-Miqdad ibnul Aswad berkata, Ingatlah, demi Allah, kami tidak akan seperti segolongan orang dari kaum Bani Israil, ketika mereka berkata kepada nabi mereka (Nabi Musa ‘alaihis salam). yaitu: karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja (Al-Maa’idah: 24). Tetapi pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan ikut berperang bersamamu. Ketika para sahabat mendengar hal ini maka mereka mengikuti sikap Al-Miqdad ibnul Aswad.

Ayat berikutnya: Nabi Musa ‘Alaihis Salam Berkata dalam Doanya 

Hal ini bilamana memang terjadi pada hari Hudaibiyah, maka dapat diartikan bahwa ucapan tersebut pada hari itu kembali diulangi oleh Al-Miqdad sebagaimana yang pernah ia katakan pada hari Perang Badar.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaNabi Musa ‘Alaihis Salam Berkata dalam Doanya
Berita berikutnyaDua Orang Laki-laki yang Takut Kepada Allah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here