Dihalalkan Bagimu Adalah Makanan yang Baik-baik

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 4

0
180

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 4. Menerangkan hukum-hukum yang terkait dengan binatang buruan, sembelihan dan makanan; dihalalkan bagimu adalah makanan yang baik-baik. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad), Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah, Yang dihalalkan bagimu adalah (makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah waktu melepaskannya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (Q.S. Al-Maa’idah : 4)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yas-alūnaka (mereka menanyakan kepadamu), hai Muhammad! Yang bertanya adalah dua orang pemburu, Zaid bin Muhalhil ath-Tha-i dan ‘Adi bin Hatim ath-Tha-i.

Mādzā uhilla lahum (Apa yang dihalalkan untuk mereka) dari jenis binatang buruan.

Qul uhilla lakumuth thayyibātu (katakanlah, dihalalkan untuk kalian yang baik-baik), yakni hewan-hewan yang halal dan sudah disembelih. …

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad), Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah, Yang dihalalkan bagimu adalah (makanan) yang baik-baik[27] ….

[27] Yakni makanan yang di dalamnya mengandung manfaat dan lezat, tanpa ada bahaya bagi badan maupun akal. Mafhum ayat ini menunjukkan haramnya makanan kotor menjijikan sebagaimana ditegaskan dalam ayat lain (lih. Al A’raaf: 157).

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad (Apakah yang dihalalkan bagi mereka) di antara makanan. (Katakanlah, dihalalkan bagimu yang baik-baik) yang enak-enak atau yang halal ….

.

Tafsir Ibnu Katsir

Setelah Allah menyebutkan hal-hal yang diharamkan-Nya pada ayat sebelumnya, yaitu berupa segala sesuatu yang buruk lagi membahayakan tubuh atau agama, atau kedua-duanya (tubuh dan agama) orang yang bersangkutan, dan Allah mengecualikan apa-apa yang dikecualikan-Nya bila keadaan darurat. Seperti yang disebut di dalam firman-Nya:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang diharamkan-Nya atas kalian, kecuali apa yang terpaksa kalian memakannya. (Al-An’am: 119)

maka sesudah itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ

Mereka bertanya kepadamu, Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah, Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik. (Al-Maa’idah: 4)

Perihalnya sama dengan apa yang disebut di dalam surah Al-A’raf dalam kaitan menyebutkan sifat Nabi Muhammad ﷺ, bahwa Allah menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharamkan atas mereka yang buruk-buruk.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Abu Bukair, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepadaku Ala ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa Addi ibnu Hatim dan Zaid ibnu Muhalhal yang keduanya berasal dari Tai bertanya kepada Rasulullah ﷺ Untuk itu mereka berdua berkata, Wahai Rasulullah, Allah telah mengharamkan bangkai, apakah yang dihalalkan bagi kami darinya? Maka turunlah firman-Nya: Mereka menanyakan kepadamu.Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah, Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik. (Al-Maa’idah: 4)

Menurut Sa’id, makna yang dimaksud ialah sembelihan yang halal lagi baik untuk mereka. Menurut Muqatil, yang dimaksud dengan tayyibat ialah segala sesuatu yang dihalalkan untuk mereka memperolehnya, berupa berbagai macam rezeki.

Selanjutnya: Hukum-hukum yang Terkait dengan Binatang Buruan 

Az-Zuhri pernah ditanya mengenai meminum air seni untuk berobat, maka ia menjawab, Air seni bukan termasuk tayyibat. Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Wahb mengatakan bahwa Imam Malik pernah ditanya mengenai menjual burung pemangsa, ia menjawab bahwa burung itu bukan termasuk burung yang halal.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaHukum-hukum yang Terkait dengan Binatang Buruan
Berita berikutnyaMaaf-Nya untuk Orang-orang yang Bertobat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here