Carilah Jalan yang Mendekatkan Diri Kepada-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 35

0
200

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 35. Carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Maa’idah : 35)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhal ladzīna āmanu (wahai orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Ittaqullāha (bertakwalah kepada Allah) berkaitan dengan apa-apa yang diperintahkan kepada kalian.

Wab taghū ilaihil wasīlata (dan carilah wasilah kepada-Nya), yakni kedudukan yang luhur. Menurut satu pendapat, carilah kedudukan yang dekat kepada-Nya dengan mengerjakan amal-amal saleh.

Wa jāhidū fī sabīlihī (serta berjihadlah di jalan-Nya), yakni dalam rangka taat kepada-Nya.

La‘allakum tuflihūn (supaya kalian mendapatkan keberuntungan), yakni supaya kalian selamat dan aman dari murka dan azab.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

35.[27] Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya[28], dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung[29].

[27] Ayat ini merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk mengerjakan konsekwensi dari keimanan berupa ketakwaan kepada Allah dan berhati-hati terhadap hal yang mendatangkan kemurkaan-Nya, caranya adalah dengan berusaha sekuat tenaga menjauhi hal yang dimurkai Allah yang berupa maksiat, baik maksiat hati, lisan maupun anggota badan yang nampak atau tersembunyi, serta meminta pertolongan kepada Allah untuk meninggalkannya dan dapat mengerjakan perintah Allah.

[28] Misalnya dengan mengerjakan amalan sunat setelah amalan wajib. Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan banyak ibadah (termasuk ibadah pula bermu’amalah/berhubungan dengan orang lain mengikuti ajaran Islam), maka Allah akan mencintainya, dan apabila Allah mencintainya, maka Allah akan menjadikan gerakannya dilakukan karena-Nya, dan Allah akan mengabulkan doa dan permintaan-nya. Selanjutnya, Allah mengkhususkan di antara sekian jalan itu dengan jihad fii sabilillah, yakni dengan mengerahkan kemampuannya untuk memerangi orang-orang kafir, baik dengan harta, jiwa, saran, lisan dan segala usaha membela agama Allah sesuai kemampuannya, karena jihad termasuk ketaatan utama dan pendekatan diri yang utama. Di samping itu, karena orang yang melakukannya biasanya mampu mengerjakan yang lainnya.

[29] Yakni jika kamu bertakwa kepada Allah dengan menjauhi maksiat, mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan serta berjihad di jalan-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya, maka kamu akan beruntung, dalam arti akan memperoleh apa yang kamu inginkan dan selamat dari apa yang kamu khawatirkan, di mana hal itu pada hakikatnya merupakan kebahagiaan dan kenikmatan yang sesungguhnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah) artinya takutlah akan siksa-Nya dengan jalan menaati-Nya (dan carilah jalan kepada-Nya) yaitu jalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya dengan jalan taat dan ibadah (dan berjihadlah pada jalan-Nya) maksudnya untuk meninggikan agama-Nya (semoga kamu beruntung atau beroleh keberhasilan).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar bertakwa kepada-Nya. Lafaz takwa apabila dibarengi penyebutannya dengan makna yang menunjukkan taat kepada-Nya, maka makna yang dimaksud ialah mencegah diri dari hal-hal yang diharamkan dan meninggalkan semua larangan. Sesudah itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. (Al-Maa’idah: 35)

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Talhah, dari Ata, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan al-wasilah di sini ialah qurbah atau mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid. Abu Wail, Al-Hasan, Qatadah, Abdullah ibnu Kasir. As-Saddi. dan Ibnu Zaid serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud ialah dekatkanlah diri kalian kepada-Nya dengan taat kepada-Nya dan mengerjakan hal-hal yang diridai-Nya.

Sehubungan dengan makna al-wasilah ini, Ibnu Zaid membacakan firman berikut dengan bacaan:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

Mereka, yaitu orang-orang yang kalian seru itu sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. (Al Isra: 57)

Yakni dengan bacaan tad’una, bukan yad’una. Dari ayat ini tersimpulkan bahwa makna al-wasilah ialah jalan atau sarana. Pendapat yang telah dikatakan oleh para imam ini tiada seorang pun dari kalangan mufassirin yang memperselisihkannya. Sehubungan dengan pengertian lafaz ini, Ibnu Jarir mengetengahkan ucapan seorang penyair yang mengatakan:

إِذَا غَفَل الواشُون عُدنَا لِوصْلنَا … وعَاد التَّصَافي بَيْنَنَا والوسَائلُ …

Apabila orang-orang yang tukang mengadu domba kecapaian, maka kita kembali berhubungan, dan kembalilah kejernihan di antara kita serta semua jalan dan sarana,

Selanjutnya: Doa Ketika Mendengar Suara Azan 

Al-wasilah ialah sesuatu yang dijadikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Al-wasilah mengandung makna nama suatu kedudukan yang tertinggi di dalam surga, yaitu kedudukan Rasulullah ﷺ dan rumah tinggalnya di dalam surga. Kedudukan ini merupakan bagian dari surga yang paling dekat ke ‘Arasy.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaDoa Ketika Mendengar Suara Azan
Berita berikutnyaKisah Dua Anak Adam (Qabil dan Habil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here