Untuk Setiap Umat, Dia Berikan Aturan dan Jalan yang Terang

Kajian Tafsir: Surah Al-Maa'idah ayat 48

0
131

Kajian Tafsir: Surah Al-Maa’idah ayat 48. Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, menjadi saksi terhadapnya, dan bahwa berhukum dengan Al-Qur’an adalah wajib; Untuk setiap umat, Dia berikan aturan dan jalan yang terang. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (٤٨)

Dan Kami telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, (Q.S. Al-Maa’idah : 48)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Li kulliη ja‘alā mingkum syir‘atan (untuk tiap-tiap di antara kalian, Kami berikan syariat), yakni Kami telah menjelaskan syariat kepada setiap nabi kalian.

Wa minhājā (dan jalan yang terang), yakni kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah. …

Sebelumnya: Berhukum dengan Al-Qur’an Adalah Wajib 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Untuk setiap umat di antara kamu[2], Kami berikan aturan dan jalan yang terang[3]. …

[2] Maksudnya umat Nabi Muhammad ﷺ dan umat-umat yang sebelumnya.

[3] Aturan di sini seperti yang tertera dalam Al-Qur’an, dan jalan yang terang di sini adalah sunnah Rasulullah ﷺ sebagai penjelasan atau praktek nyata dari Al-Qur’an. Dengan demikian, sunnah Nabi ﷺ merupakan tolok ukur benar tidaknya kita memahami Al-Qur’an.

Syari’at bagi setiap umat berbeda-beda sesuai kondizi zaman dan keadaan pada waktu itu, dan semua syari’at itu merujuk kepada keadilan yang memang layak diterapkan pada zaman itu, adapun ushul (dasar-dasar agama) yang menjadi maslahat dan kebijaksanaan di setiap zaman, maka tidak berbeda-beda, seperti pada ayat berikut:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri. (Terj. An Nisaa’: 36)  dan ayat-ayat yang lain seperti di surah Al Baqarah: 83 dan 177, Al An’aam: 151-153, Al Israa’: 23-38 dan Luqman: 12-19.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Bagi tiap-tiap umat di antara kamu Kami beri) hai manusia (aturan dan jalan) maksudnya jalan yang nyata dan agama dan yang akan mereka tempuh. …

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al-Maa’idah: 48)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Yusuf ibnu Abu Ishaq, dari ayahnya, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan. (Al-Maa’idah: 48); Bahwa yang dimaksud dengan syir’atan ialah jalan.

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan jalan yang terang. (Al-Maa’idah: 48); Makna yang dimaksud ialah tuntunan.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud dengan syir’atan wa minhajan ialah jalan dan tuntunan.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, Abu Ishaq As-Subai’i, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, Syir’atan wa minhajan, bahwa makna yang dimaksud ialah jalan dan tuntunan. Dan dari Ibnu Abbas, Mujahid serta Ata Al-Khurrasani disebutkan sebaliknya, bahwa yang dimaksud dengan syir’ah ialah tuntunan, sedangkan minhaj ialah jalan. Tetapi pendapat pertama lebih sesuai, mengingat makna syir’ah juga berarti syariat dan permulaan untuk menuju ke arah sesuatu. Termasuk ke dalam pengertian ini dikatakan syara’aji kaza yang artinya memulainya. Demikian pula makna lafaz syari’ah, artinya sesuatu yang dipakai untuk berlayar di atas air. Makna minhaj adalah jalan yang terang lagi mudah, sedangkan lafaz as-sunan artinya tuntunan-tuntunan. Dengan demikian, berarti tafsir firman-Nya, Syir’atan wa minhajan’, dengan pengertian jalan dan tuntunan lebih jelas kaitannya daripada kebalikannya. Kemudian konteks ini dalam kaitan memberitakan perihal umat-umat yang beraneka ragam agamanya dipandang dari aneka ragam syariat mereka yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Allah melalui rasul-rasul-Nya yang mulia, tetapi sama dalam pokoknya, yaitu ajaran tauhid.

Disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

نَحْنُ مُعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، دِينُنَا وَاحِدٌ

Kami para nabi adalah saudara-saudara yang berlainan ibu, tetapi agama kami satu.

Makna yang dimaksud ialah ajaran tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada semua rasul yang diutus-Nya dan terkandung di dalam semua kitab yang diturunkan-Nya, seperti apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (Al-Anbiya: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah tagut itu (An-Nahl: 36), hingga akhir ayat.

Adapun mengenai berbagai macam syariat yang berbeda-beda dalam masalah perintah dan larangannya, adakalanya sesuatu hal dalam suatu syariat diharamkan, kemudian dalam syariat yang lain dihalalkan dan kebalikannya; lalu diringankan dalam suatu syariat, sedangkan dalam syariat yang lain diperberat. Yang demikian itu karena mengandung hikmah yang tidak terbatas serta hujah yang jelas bagi Allah dalam menentukan hal tersebut.

Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al-Maa’idah: 48); Makna yang dimaksud ialah jalan dan tuntunan. Tuntunan itu berbeda-beda, di dalam kitab Taurat merupakan suatu syariat, di dalam kitab Injil merupakan suatu syariat, dan di dalam Al-Qur’an merupakan suatu syariat; di dalamnya Allah menghalalkan apa yang dikehendaki-Nya dan mengharamkan apa yang dikehendaki-Nya, yaitu untuk menyatakan siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka. Agama yang tidak diterima oleh Allah ialah yang selainnya, yakni selain agama tauhid dan ikhlas kepada Allah semata. Agama inilah yang didatangkan oleh semua rasul.

Menurut suatu pendapat, orang yang diajak bicara oleh ayat ini adalah umat ini, yakni umat Nabi Muhammad ﷺ Makna yang dimaksud ialah untuk tiap-tiap orang dari kaitan yang termasuk dalam umat ini, Kami jadikan Al-Qur’an sebagai jalan dan tuntunannya. Dengan kata lain, Al-Qur’an adalah buat kalian semuanya sebagai panutan kalian. Damir yang mansub dalam firman-Nya, Likullin ja’alna minkum yaitu ja’alnahu yang artinya Kami jadikan Al-Qur’an sebagai syariat dan tuntunannya untuk menuju ke tujuan yang benar dan sebagai tuntunan, yakni jalan yang jelas lagi gamblang. Demikianlah menurut ringkasan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid.

Selanjutnya: Sekiranya Allah Menghendaki, Niscaya Kalian Dijadikan-Nya Satu Umat Saja 

Akan tetapi, pendapat yang benar adalah yang pertama tadi, karena diperkuat dengan firman selanjutnya yang mengatakan:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja). (Al-Maa’idah: 48)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaSekiranya Allah Menghendaki, Niscaya Kalian Dijadikan-Nya Satu Umat Saja
Berita berikutnyaBerhukum dengan Al-Qur’an Adalah Wajib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here