Orang-orang yang Hatinya Berpenyakit

Kajian Tafsir: Surah Al-Maa'idah ayat 52

0
59

Kajian Tafsir: Surah Al-Maa’idah ayat 52. Larangan berwala’ dan berteman akrab kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta selain mereka yang menjadi musuh-musuh Islam dan sifat atau bentuk wala’ kepada mereka, dan akibat melakukan hal itu; kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Q.S. Al-Maa’idah : 52)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa tara (maka engkau akan melihat), hai Muhammad!

Alladzīna fī qulūbihim maradlun (orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit) keraguan dan kemunafikan, yaitu ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya.

Yusāri‘ūna fīhim (bersegera kepada mereka [Yahudi dan Nasrani]), yakni bersegera mendekati mereka.

Yaqūlūna (mereka berkata) satu sama lain.

Nakhsyā aη tushībanā dā-irah (Kami takut akan ditimpa bencana), yakni kesulitan, sehingga karena itulah kami menjadikan mereka sebagai teman.

Fa ‘asallāhu (maka mudah-mudahan Allah). Kata ‘asā (mudah-mudahan) dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala menunjukkan keniscayaan.

Ay ya’tiya bil fat-hi (akan mendatangkan kemenangan), yakni penaklukan kota Mekah dan kemenangan bagi Nabi Muhammad ﷺ dan shahabat-shahabatnya.

Au amrim min ‘iηdihī (atau suatu keputusan dari sisi-Nya), yakni siksaan kepada Bani Quraizhah dan Bani an-Nadlir berupa terbunuh dan pengusiran.

Fa yushbihū (maka karena itu mereka menjadi), yakni oleh karenanya, orang-orang munafik itu menjadi ….

‘Alā mā asarrū fī aηfusihim (terhadap apa yang mereka rahasiakan di dalam diri mereka), yakni pertemanan dengan orang-orang Yahudi.

Nādimīn (menyesal) setelah kebusukan mereka terungkap.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

52.[15] Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit[16] segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, Kami takut akan mendapat bencana[17]. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya[18], sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka[19].

[15] Setelah Allah melarang kaum mukmin berwala’ kepada orang-orang kafir, Allah memberitakan bahwa di antara orang-orang yang mengaku beriman ada yang berwala’ kepada mereka.

[16] Seperti orang-orang munafik atau orang-orang yang lemah iman.

[17] Mereka memberikan wala’ kepada orang-orang kafir karena khawatir orang-orang kafir yang menang, sehingga mereka tidak jadi diserang karena telah memberikan wala’ kepada orang-orang kafir. Mereka tidak yakin bahwa Allah akan memenangkan dan menyempurnakan agama Nabi Muhammad ﷺ.

[18] Dengan membuka rahasia orang-orang munafik.

[19] Berupa syak (keragu-raguan) dan sikap wala’ kepada orang-orang kafir.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka kamu lihat orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit) yakni lemah akidahnya seperti Abdullah bin Ubai gembong munafik itu (bersegera kepada mereka) untuk mengambil mereka sebagai pemimpin (seraya katanya) mengemukakan alasan dari sikap mereka itu (Kami takut akan mendapat giliran bencana.) misalnya giliran musim kemarau, kekalahan sedangkan urusan Muhammad tidak berketentuan sehingga tidak dapat membela kami. Berfirman Allah Subhaanahu wa Ta’aala: (Semoga Allah mendatangkan kemenangan) kepada rasul-Nya dengan mengembangkan agama-Nya (atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya) misalnya dengan membuka kedok orang-orang munafik dan menyingkapkan rahasia mereka (sehingga mereka atas apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka) berupa keragu-raguan dan mengambil orang-orang kafir itu sebagai pemimpin (menjadi menyesal.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya. (Al-Maa’idah: 52)

Yaitu keraguan, kebimbangan, dan kemunafikan.

يُسَارِعُونَ فِيهِمْ

Bersegera mendekati mereka. (Al-Maa’idah: 52)

Maksudnya, mereka bersegera berteman akrab dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani secara lahir batin.

يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ

Seraya berkata, Kami takut akan mendapat bencana. (Al-Maa’idah: 52)

Yakni mereka melakukan demikian dengan alasan bahwa mereka takut akan terjadi suatu perubahan, yaitu orang-orang kafir beroleh kemenangan atas kaum muslim. Jika hal ini terjadi, berarti mereka akan memperoleh perlindungan dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, mengingat orang-orang Yahudi dan Nasrani mempunyai pengaruh tersendiri  di kalangan orang-orang kafir, sehingga sikap berteman akrab dengan mereka dapat memberikan manfaat ini. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menjawab mereka:

فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ

Mudah-mudahan Allah akan memberikan kemenangan (kepada Rasul-Nya). (Al-Maa’idah: 52)

Menurut As-Saddi, yang dimaksud dengan al-Fathu dalam ayat ini ialah kemenangan atas kota Mekah. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kekuasaan peradilan dan keputusan.

أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ

Atau sesuatu keputusan dari-Nya. (Al-Maa’idah: 52)

Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah memungut jizyah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani.

فَيُصْبِحُوا

Maka karena itu mereka menjadi. (Al-Maa’idah: 52)

Yakni orang-orang yang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali mereka dari kalangan kaum munafik.

عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka (Al-Maa’idah: 52)

Ayat berikutnya: Segala Amal Mereka Menjadi Sia-sia 

Yaitu menyesali perbuatan mereka yang berpihak kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani itu. Dengan kata lain, mereka menyesali perbuatan yang mereka lakukan karena usahanya itu tidak dapat memberikan hasil apa pun, tidak pula dapat menolak hal yang mereka hindari, bahkan berpihak kepada mereka merupakan penyebab utama dari kerusakan itu sendiri. Kini mereka keadaannya telah dipermalukan dan Allah telah menampakkan perkara mereka di dunia ini kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, padahal sebelumnya mereka tersembunyi, keadaan dan prinsip mereka masih belum diketahui. Tetapi setelah semua penyebab yang mempermalukan mereka telah lengkap, maka tampak jelaslah perkara mereka di mata hamba-hamba Allah yang mukmin. Orang-orang mukmin merasa heran dengan sikap mereka (kaum munafik itu), bagaimana mereka dapat menampakkan diri bahwa mereka seakan-akan termasuk orang-orang mukmin, dan bahkan mereka berani bersumpah untuk itu, tetapi dalam waktu yang sama mereka berpihak kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani? Dengan demikian, tampak jelaslah kedustaan dan kebohongan mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here