Kitab Samawi

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 44

0
123

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 44. Taurat dan Injil merupakan kitab samawi yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan keharusan memutuskan perkara menurut hukum yang diturunkan Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir. (Q.S. Al-Maa’idah : 44)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innā aηzalnat taurāta (sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat) kepada Musa ‘alaihis salam.

Fīhā (di dalamnya), yakni di dalam Taurat itu.

Hudan (terdapat petunjuk) dari kesesatan.

Wa nūrun (dan cahaya), yakni penjelasan tentang hukum rajam.

Yahkumu bihā (memutuskan perkara dengannya), yakni dengan Taurat.

An-nabiyyūnal ladzīna aslamū (nabi-nabi yang berserah diri [kepada Allah]), yakni nabi-nabi yang beragama Islam, termasuk Musa ‘alaihis salam dan ‘Isa ‘alaihis salam, dan di antara keduanya terdapat seribu nabi yang juga beragama Islam.

Lil ladzīna hādū (untuk orang-orang Yahudi), yakni para leluhur orang-orang Yahudi.

War rabbāniyyūna (demikian juga para rabi). Dengan Taurat itulah para rabi, orang-orang alim, dan para penghuni biara memutuskan perkara.

Wal ahbāru (dan para pendeta), yakni seluruh orang-orang alim.

Bi mastuhfizhū ming kitābillāhi (karena mereka diperintahkan untuk memelihara Kitab Allah), yakni karena mereka mengamalkan dan mendakwahkan Kitab Allah.

Wa kānū ‘alaihi syuhadā-a (dan mereka menjadi saksi terhadapnya), yakni menjadi saksi atas ketentuan rajam.

Fa lā takh-syaun nāsa (oleh karena itu, janganlah kalian takut kepada manusia) dalam menerangkan sifat dan gambaran Muhammad ﷺ serta hukum rajam.

Wakh -syauni (tetapi takutlah kepada-Ku) kalau menutup-nutupinya.

Wa lā tasytarū bi āyātī (dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku), dengan cara menutup-nutupi sifat dan gambaran Muhammad ﷺ serta ayat rajam.

Tsamanang qalīlā (dengan harga yang sedikit), yakni dengan barang yang tak seberapa berupa makanan.

Wa mal lam yahkum bimā aηzalallāhu (barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah), yakni barangsiapa tidak menjelaskan sifat serta gambaran Muhammad ﷺ dan hukum rajam seperti yang telah dijelaskan Allah Ta‘ala di dalam Taurat.

Fa ulā-ika humul kāfirūn (maka mereka itulah orang-orang yang kafir) kepada Allah, rasul, dan kitab.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya[19]. Yang dengan kitab itu para nabi[20] yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya[21]. Karena itu janganlah kamu[22] takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku[23]. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah[24]. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir[25].

[19] Yakni petunjuk yang menunjuki manusia dari kesesatan serta cahaya yang menerangkan hukum-hukum. di mana dengan cahaya itu menjadi teranglah gelapnya kebodohan, keraguan, kebimbangan, syubhat (kesamaran) dan syahwat (hawa nafsu).

[20] Yakni para nabi dari Bani Israil, di mana mereka adalah makhluk pilihan Allah. Jika mereka (para nabi) yang menjadi pemimpin umat telah mengikuti kitab itu, lantas apa yang menghalangi orang-orang yang rendah itu untuk mengikuti imam (pemimpin) mereka. Namun mereka telah memilih pemimpin yang lain; pemimpin yang memiliki kebiasaan suka merubah firman Allah, hubburiyaasah (cinta kepada kepemimpinan dan jabatan), menyembunyikan kebenaran dan menampakkan yang batil. Mereka inilah pemimpin-pemimpin dalam kesesatan, mereka inilah yang mengajak kepada neraka, wal ‘iyaadz billah.

[21] Yakni mereka dijadikan rujukan tentang kitab itu dan dijadikan rujukan dalam hal yang masih samar bagi manusia. Oleh karena itu, Allah Ta’ala telah membebani ahli ilmu dengan beban yang tidak dipikul oleh orang-orang yang jahil; mereka wajib memikul beban itu dan tidak mengikuti orang-orang jahil yang senang dengan main-main dan sikap malas, mereka pun tidak membatasi diri mereka dengan ibadah yang manfaatnya bagi diri mereka semata, seperti dzikr, shalat, zakat, haji, puasa dan sebagainya, di mana jika yang melakukannya bukan ahli ilmu niscaya cukup dan akan selamat. Adapun ahli ilmu, di samping mengerjakan ibadah tersebut, mereka dituntut untuk mengajarkan manusia dan mengingatkan mereka terhadap hal-hal yang dibutuhkan berupa masalah agama, khususnya masalah ushul (dasar-dasar) agama dan hal-hal yang biasa dikerjakan manusia serta tidak takut kepada manusia, oleh karenanya mereka tidak menyembunyikan ilmu, dan hanya takut kepada Allah Ta’ala saja.

[22] Yakni janganlah kamu wahai orang-orang Yahudi takut kepada manusia untuk menampakkan pengetahuan yang ada pada dirimu tentang sifat Nabi Muhammad ﷺ.

[23] Oleh karena itu, jangan menyembunyikannya.

[24] Yakni kesenangan dunia. Ini merupakan musibah yang menimpa orang alim, jika ia dapat selamat daripadanya, maka yang demikian merupakan tanda bahwa dirinya diberi taufik dan menunjukkan kebahagiaannya, yakni perhatiannya tertuju kepada sikap sungguh-sungguh menuntut ilmu, mengajarkan ilmu serta mengetahui bahwa mereka diamanahi untuk menjaga agama Allah, memiliki rasa takut kepada Allah serta tidak takut kepada manusia dalam mengerjakan kewajibannya serta tidak mengutamakan dunia di atas agama. Sebaliknya, tanda celakanya seorang alim adalah senang dengan perkara sia-sia, tidak mengerjakan kewajibannya, tidak peduli dengan amanah yang dipikulkan kepadanya, menjual agama dengan dunia, mengambil risywah (sogok) terhadap hukum-hukum agama sehingga berani menyembunyikan yang hak, mengambil harta terhadap fatwa-fatwanya dan tidak mau mengajarkan ilmu kepada hamba-hamba Allah kecuali dengan upah. Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amalan yang diterima serta mengaruniakan kepada kami maaf dan keselamatan dari setiap bala’, kabulkanlah wahai Allah Yang Maha Mulia.

[25] Yakni kekufuran di bawah kekufuran, di mana bisa menjadi kufur akbar (mengeluarkan dari Islam) jika sampai menganggap halal berhukum dengan hukum selain Allah, atau menganggap ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah atau menghina hukum Allah, dan bisa menjadi dosa besar jika tidak seperti itu (seperti mengakui bahwa hukum Allah yang hak, yang terbaik, dan keputusannya yang salah).

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat berisi petunjuk) dari kesesatan (dan cahaya) untuk menjelaskan hokum-hukum (yang diambil untuk memutuskan hukum oleh nabi-nabi) dari Bani Israel (yang tunduk) menyerahkan diri kepada Allah (bagi orang-orang Yahudi dan oleh orang-orang alim dan para pendeta) yakni ahli-ahli hukum dari kalangan mereka (dengan apa) disebabkan karena (mereka diminta untuk menyimpan) artinya diberi amanat untuk menjaga oleh Allah (Kitabullah) jangan sampai diubah-ubah (dan mereka menjadi saksi terhadapnya) bahwa ia benar adanya. (Maka janganlah kamu takut akan manusia) hai orang-orang Yahudi dalam menyingkapkan sifat-sifat dan ciri-ciri Muhammad ﷺ yang kamu ketahui, tentang ayat rajam dan sebagainya (hanya takutlah kepada-Ku) dalam menyembunyikannya (dan janganlah kamu beli, maksudnya, jangan kamu tukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit) berupa harta benda dunia yang kamu dapatkan sebagai imbalan menyembunyikannya. (Siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka merekalah orang-orang yang kafir) terhadap-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

إِنَّا أَنزلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah. (Al-Maa’idah: 44)

Yakni para nabi itu tidak akan keluar dari jalur hukumnya dan tidak akan menggantinya serta tidak akan mengubah-ubahnya.

وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ

Oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka. (Al-Maa’idah: 44)

Yaitu demikian pula orang-orang alim dari kalangan ahli ibadah mereka dan para ulamanya.

بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ

Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah. (Al-Maa’idah: 44)

Yakni melalui apa yang diamanatkan kepada mereka dari Kitabullah yang diperintahkan agar mereka mengajarkannya dan mengamalkannya.

وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ

Dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu, janganlah kalian takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. (Al-Maa’idah: 44)

Yaitu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku saja.

وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44)

Sehubungan dengan makna ayat ini ada dua pendapat yang akan diterangkan kemudian.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Abbas, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Abdullah ibnu Abbas yang telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44); maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (Al-Maa’idah: 45); maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maa’idah: 47); Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah berkenaan dengan dua golongan dari kalangan orang-orang Yahudi. Salah satu dari mereka berhasil mengalahkan yang lain di masa Jahiliah, tetapi pada akhirnya mereka sepakat dan berdamai dengan syarat setiap orang rendah yang terbunuh oleh orang yang terhormat, maka diatnya adalah lima puluh wasaq; sedangkan setiap orang terhormat yang terbunuh oleh orang yang rendah, maka diatnya adalah seratus wasaq (kurma). Ketentuan tersebut berlaku di kalangan mereka hingga Nabi ﷺ tiba di Madinah. Kemudian terjadilah suatu peristiwa ada seorang yang rendah dari kalangan mereka membunuh seorang yang terhormat. Maka pihak keluarga orang yang terhormat mengirimkan utusannya kepada orang yang rendah untuk menuntut diatnya sebanyak seratus wasaq. Pihak orang yang rendah berkata, Apakah pantas terjadi pada dua kabilah yang satu agama, satu keturunan, dan satu negeri bila diat sebagian dari mereka dua kali lipat diat sebagian yang lain? Dan sesungguhnya kami mau memberi kalian karena kezaliman kalian terhadap kami dan peraturan diskriminasi yang kalian buat. Tetapi sekarang setelah Muhammad tiba di antara kita, maka kami tidak akan memberikan itu lagi kepada kalian. Hampir saja terjadi peperangan di antara kedua golongan itu. Kemudian mereka setuju untuk menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim yang melerai persengketaan di antara mereka. Lalu golongan yang terhormat berbincang-bincang (di antara sesamanya), Demi Allah, Muhammad tidak akan memberi kalian dari mereka (golongan yang rendah) dua kali lipat dari apa yang biasa mereka berikan kepada kalian. Sesungguhnya mereka (golongan yang rendah) benar, bahwa mereka tidak memberi kita melainkan karena kezaliman dan kesewenang-wenangan kita sendiri terhadap mereka. Maka mata-matailah Muhammad melalui seseorang yang akan memberitakan kepada kalian akan pendapatnya. Jika dia memberi kalian seperti apa yang kalian kehendaki, maka terimalah keputusan hukumnya. Jika dia tidak memberi kalian, maka waspadalah kalian, dan janganlah kalian ambil keputusannya. Maka mereka menyusupkan sejumlah orang dari kalangan orang-orang munafik kepada Rasulullah ﷺ untuk mencari berita tentang pendapat Rasulullah ﷺ ketika mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, maka Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang urusan mereka dan apa yang dikehendaki oleh mereka. Lalu Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya: Hai Rasul, janganlah kamu sedih karena orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya. (Al-Maa’idah: 41) sampai dengan firman-Nya: maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.(Al-Maa’idah: 44); Berkenaan dengan merekalah Allah menurunkan wahyu ini, dan merekalah yang dimaksudkan oleh-Nya.

Imam Abu Dawud meriwayatkannya melalui hadits Abuz Zanad, dari ayahnya, dengan lafaz yang semisal.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad ibnus Sirri dan Abu Kuraib; keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, dari Muhammad ibnu Ishaq; telah menceritakan kepadaku Dawud ibnul Husain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ayat yang ada di dalam surah Al-Maa’idah dimulai dari firman-Nya: maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka. (Al-Maa’idah: 42) sampai dengan firman-Nya: orang-orang yang adil. (Al-Maa’idah: 42); Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan diat yang berlaku di kalangan Bani Nadir dan Bani Quraizah. Karena orang-orang yang terbunuh dari kalangan Bani Nadir merupakan orang-orang terhormat, maka diat diberikan kepada mereka dengan penuh. Dan orang-orang Bani Quraizah (bila ada yang terbunuh), maka diat diberikan separonya kepada mereka Kemudian mereka meminta keputusan hukum kepada Rasulullah ﷺ mengenai hal tersebut, lalu Allah menurunkan firman-Nya mengenai hal itu berkenaan dengan mereka. Kemudian Rasulullah ﷺ membawa mereka kepada keputusan yang adil dalam masalah itu, dan beliau menjadikan diat dalam masalah tersebut sama (antara orang yang terhormat dan rakyat jelata).

Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadits Ibnu Ishaq dengan lafaz yang semisal.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Ali ibnu Saleh, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa dahulu terjadi permusuhan antara Bani Quraizah dan Bani Nadir; Bani Nadir lebih terhormat daripada Bani Quraizah. Tersebutlah bahwa apabila seorang Qurazi membunuh seorang Nadir, maka ia dikenakan hukum mati. Tetapi apabila orang Nadir membunuh orang Quraizah, maka sanksinya adalah membayar diat sebanyak seratus wasaq kurma. Ketika Rasulullah ﷺ telah diutus, terjadilah suatu peristiwa seorang dari Bani Nadir membunuh seseorang dari Quraizah. Orang-orang Quraizah berkata, Kalian harus membayar diat kepadanya. Orang-orang Nadir pun berkata, Yang memutuskan antara kami dan kalian adalah Rasulullah. Maka turunlah firman-Nya: Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil. (Al-Maa’idah: 42)

Imam Abu Dawud, Imam Nasai, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak meriwayatkannya melalui hadits Ubaidillah ibnu Musa dengan lafaz yang semisal. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Al-Aufi dan Ali ibnu Abu Talhah Al-Walibi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang Yahudi yang berbuat zina, seperti yang telah diterangkan dalam hadits-hadits sebelumnya. Dapat pula dikatakan bahwa kedua penyebab inilah yang melatarbelakangi turunnya ayat dalam waktu yang sama, lalu ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan semuanya. Karena itulah sesudahnya disebutkan oleh firman-Nya:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwa jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata. (Al-Maa’idah: 45), hingga akhir ayat

Ayat ini memperkuat pendapat yang mengatakan bahwa penyebab turunnya ayat-ayat ini berkenaan dengan masalah hukum qisas.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44)

Al-Barra ibnu Azib, Huzaifah ibnul Yaman, Ibnu Abbas Abu Mijlaz, Abu Raja Al-Utaridi, Ikrimah, Ubaidillah Ibnu Abdullah, Al-Hasan Al-Basri, dan lain-lainnya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab. Al-Hasan Al-Basri menambahkan, ayat ini hukumnya wajib bagi kita (kaum muslim).

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, dari Mansur, dari Ibrahim yang telah mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Bani Israil, sekaligus merupakan ungkapan rida dari Allah kepada umat yang telah menjalankan ayat ini; menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman, dari Salamah ibnu Kahil, dari Alqamari dan Masruq, bahwa keduanya pernah bertanya kepada sahabat Ibnu Mas’ud tentang masalah suap (risywah). Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa risywah termasuk perbuatan yang diharamkan. Salamah ibnu Kahil mengatakan, Alqamah dan Masruq bertanya, ‘Bagaimanakah dalam masalah hukum?’. Ibnu Mas’ud menjawab, Itu merupakan suatu kekufuran. Kemudian sahabat Ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44)

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44); Bahwa barang siapa yang memutuskan hukum bukan dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, dan ia meninggalkannya dengan sengaja atau melampaui batas, sedangkan dia mengetahui, maka dia termasuk orang-orang kafir.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44); Bahwa barang siapa yang ingkar terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, sesungguhnya dia telah kafir; dan barang siapa yang mengakuinya, tetapi tidak mau memutuskan hukum dengannya, maka dia adalah orang yang aniaya lagi fasik. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir. Kemudian Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah Ahli Kitab atau orang yang mengingkari hukum Allah yang diturunkan melalui Kitab-Nya.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari As-Sauri, dari Zakaria, dari Asy-Sya’bi sehubungan dengan makna firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan (hukum) menurut apa yang diturunkan Allah (Al-Maa’idah: 44); Menurutnya makna ayat ini ditujukan kepada orang-orang muslim.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menmenceritakan kepada kami Syu’bah,dari Ibnu Abus Safar dari Asy-Sya’bi sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44); Menurutnya ayat ini berkenaan dengan orang-orang muslim. Dan firman-Nya yang mengatakan: Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim (Al-Maa’idah: 45) berkenaan dengan orang-orang Yahudi. Sedangkan firman-Nya yang mengatakan: Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mana mereka itu adalah orang-orang yang fasik (Al-Maa’idah: 47) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Nasrani.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Hasyim dan As-Sauri, dari Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Asy-Sya’bi.

Abdur Razzaq mengatakan juga, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan. (Al-Maa’idah: 44), hingga akhir ayat. Ibnu Abbas menjawab, orang tersebut menyandang sifat kafir.

IbnuTawus mengatakan, yang dimaksud dengan kafir dalam ayat ini bukan seperti orang yang kafir kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Ata yang telah mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan kafir ialah masih di bawah kekafiran (bukan kafir sungguhan), dan zalim ialah masih di bawah kezaliman, serta fasik ialah masih di bawah kefasikan. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Waki’ telah meriwayatkan dari Sa’id Al-Makki, dari Tawus sehubungan dengan makna firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44); Yang dimaksud dengan kafir dalam ayat ini bukan kafir yang mengeluarkan orang yang bersangkutan dari Islam.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Hisyam ibnu Hujair, dari Tawus, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurutapa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44); Makna yang dimaksud ialah bukan kufur seperti apa yang biasa kalian pahami (melainkan kufur kepada nikmat Allah).

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak melalui hadits Sufyan ibnu Uyaynah, dan Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahnya.

Ayat ini pun termasuk cemoohan yang ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan kecaman yang keras terhadap mereka, karena sesungguhnya di dalam nas kitab Taurat yang ada pada mereka disebutkan bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, tetapi mereka mengingkari hukum tersebut dengan sengaja dan menentang. Mereka menghukum qisas seorang Nadir karena membunuh seorang Qurazi. tetapi mereka tidak meng-qisas seorang Qurazi karena membunuh seorang Nadir, melainkan hanya membayar diat. Sebagaimana mereka pun mengingkari hukum Taurat lainnya yang dinaskan pada kitab mereka sehubungan dengan hukum rajam terhadap pezina muhsan, lalu mereka menggantinya dengan hal-hal yang diperistilahkan di kalangan mereka sendiri, yaitu berupa hukum dera, pencorengan, dan dipermalukan. Karena itulah disebutkan dalam ayat sebelumnya melalui firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Ayat berikutnya: Syari’at Qisas 

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maa’idah: 44)

Karena mereka mengingkari hukum Allah dengan sengaja, menentang, dan telah direncanakan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaSyari’at Qisas
Berita berikutnyaSuka Mendengar Berita Bohong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here