Hiburan Bagi Nabi Muhammad ﷺ

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 41

0
332

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 41. Hiburan bagi Nabi Muhammad ﷺ terhadap sikap menyakitkan orang-orang Yahudi dan makar orang-orang munafik, dan penjelasan bagaimana orang-orang Yahudi mengingkari hukum-hukum Taurat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Wahai rasul (Muhammad)! Janganlah kamu disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. Mereka mengatakan, Jika (hukum) ini yang diberikan kepadamu (yang sudah diubah) terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan (hukum) ini, maka berhati-hatilah. Barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya). Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dihendaki Allah untuk menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar. (Q.S. Al-Maa’idah : 41)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhar rasūlu (wahai rasul), yakni wahai Muhammad!

Lā yahzungkal ladzīna yusāri‘ūna fil kufri (janganlah engkau dibuat sedih oleh orang-orang yang bersegera [terjerumus] ke dalam kekafiran), yakni berada satu wilayah dengan orang-orang yang kafir di dunia dan akhirat.

Minal ladzīna qālū āmannā bi afwāhihim (yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, Kami telah beriman), yakni secara lisan mereka mengatakan, Kami telah membenarkan dengan hati kami.

Wa lam tu’min (padahal belum beriman), yakni belum membenarkan.

Qulūbuhum (hati mereka), yakni hati orang-orang munafik, ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya.

Wa minal ladzīna hādū (dan juga di antara orang-orang Yahudi), yakni Yahudi Bani Quraizhah, Ka‘ab dan kawan-kawannya.

Sammā‘ūna lil kadzibi sammā‘ūna ([orang-orang Yahudi itu] sangat suka mendengarkan kebohongan dan sangat suka mendengarkan) perkataan yang direka-reka.

Li qaumin ākharina (kaum lain), yakni penduduk Khaibar.

Lam ya’tūk (yang belum pernah datang kepadamu), yakni tentang sesuatu yang terjadi pada penduduk Khaibar, tetapi mereka (kaum munafikin) malah menanyakannya kepada Bani Quraizhah.

Yuharrifūnal kalima (mereka mengubah perkataan-perkataan [Taurat]), yakni mengubah-ubah sifat dan gambaran Muhammad serta hukum rajam bagi laki-laki beristri atau perempuan bersuami yang berzina.

Mim ba‘di mawādl‘ihī (dari tempat-tempatnya), yakni sesudah dijelaskan dalam Taurat.

Yaqūlūna (mereka mengatakan), yakni para para pemimpin berkata kepada orang awam. Menurut satu pendapat, yang berkata itu adalah orang-orang munafik, ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya.

In ūtītum hādzā (Jika ini yang diberikan kepada kalian), yakni jika Muhammad menyuruh kalian menerapkan hukum dera.

Fa khudzūhu (maka terimalah oleh kalian), yakni hendaklah kalian menerimanya dan melaksanakannya.

Wa il lam tu’tauhu (tetapi jika bukan ini yang diberikan kepada kalian), yakni jika Muhammad tidak menyuruh kalian menerapkan hukum dera, tetapi menyuruh kalian menerapkan hukum rajam.

Fahdzarū (maka berhati-hatilah kalian), yakni jika (keputusan Muhammad) tidak sesuai dengan keinginan kalian, lalu dia menyuruh kalian melakukan hal yang tidak kalian inginkan, maka berhati-hatilah kalian dan jangan mau menerimanya. Kemudian Allah Ta‘ala Berfirman ….

Wa may yuridillāhu fitnatahū (dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatannya), yakni barangsiapa yang Allah kehendaki kekafiran dan kemusyrikannya. Ada yang berpendapat, barangsiapa yang Allah kehendaki kesalahannya terbuka (diketahui orang lain). Sedang menurut pendapat yang lain, barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mengujinya.

Fa laη tamlika lahū minallāhi (maka sekali-kali engkau tidak akan mampu menolak dari Allah), yakni dari azab Allah Ta‘ala.

Syai-ā, ulā-ika (sedikit pun. Mereka itu), yakni kaum Yahudi dan orang-orang munafik.

Alladzīna lam yuridillāhu ay yuthahhira qulūbahum (adalah orang-orang yang tidak Allah Kehendaki untuk menyucikan hati mereka) dari tipu muslihat, khianat, dan bersikukuh dalam kekafiran.

Lahum fid dun-yā khizyun (bagi mereka kehinaan di dunia), yakni siksaan berupa dibunuh dan diusir.

Wa lahum fil ākhirati ‘adzābun ‘azhīm (dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar), yakni azab yang lebih besar daripada yang mereka terima ketika di dunia.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

41.[6] Wahai rasul (Muhammad)! Janganlah kamu disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya[7]. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan muLuth mereka, Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman[8]; dan (juga) orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong[9] dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu[10]. Mereka mengubah[11] kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. Mereka mengatakan, Jika (hukum) ini yang diberikan kepadamu (yang sudah diubah) terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan (hukum) ini, maka berhati-hatilah.[12] Barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya). Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dihendaki Allah untuk menyucikan hati mereka[13]. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar.

[6] Muslim meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib ia berkata: Nabi ﷺ pernah melewati orang Yahudi dalam keadaan dihitamkan dan didera, lalu Beliau memanggil mereka dan bertanya, Apakah seperti ini, kamu mendapatkan hukuman pezina dalam kitabmu? Mereka menjawab, Ya. Maka Beliau memanggil salah seorang di antara ulama mereka dan berkata, Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah seperti ini kamu mendapatkan hukuman pezina dalam kitab kamu? Ia menjawab, Tidak. Jika sekiranya engkau tidak bertanya kepadaku dengan nama itu tentu aku tidak akan memberitahukan kamu, kami mendapatkan rajam di sana, akan tetapi perbuatan itu sering terjadi di kalangan orang-orang terhormat di antara kami. Oleh karena itu, jika kami mendapatkan orang yang terhormat (melakukannya), maka kami biarkan dan jika kami mendapatkan orang yang lemah (melakukannya), maka kami tegakkan had terhadapnya. Kami pun berkata, Marilah kita berkumpul untuk menetapkan sesuatu yang akan kita pakai dalam memberikan hukuman kepada orang terhormat dan orang yang rendah; kita tetap penghitaman dan dera sebagai ganti rajam. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang pertama yang menghidupkan perintah-Mu ketika mereka mematikannya. Beliau pun memerintahkan dirajam, lalu dirajamlah orang tersebut. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, Wahai rasul (Muhammad)! Janganlah kamu disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya sampai ayat, Jika (hukum) ini yang diberikan kepadamu (yang sudah diubah) terimalah, di mana orang itu mengatakan, Datangilah Muhammad! Jika ia memeintahkan dihitamkan dan didera, maka terimalah hukum itu, tetapi jika dia memfatwakan kamu untuk dirajam, maka berhati-hatilah. Kemudian Allah menurunkan ayat, Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir, Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim dan  Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (lih. Al Maa’idah: 44, 45 dan 47).

[7] Yakni memperlihatkan kekafirannya ketika ada kesempatan. Nabi Muhammad ﷺ sangat berkeinginan agar orang lain mendapatkan hidayah dan merasa sedih jika mereka tidak memperolehnya, atau terhadap orang-orang yang nampaknya telah memperoleh hidayah, namun kemudian berbalik kafir. Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghibur Beliau agar tidak bersedih terhadap mereka itu, karena memang tidak ada kebaikan dalam diri mereka dan tidak ada keinginan kepada kebaikan sebagaimana hal ini diketahui dari sikap mereka seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

[8] Adapun orang-orang yang benar-benar beriman, di mana imannya telah masuk ke dalam hatinya, maka dirinya jauh dari kembali kepada kekafiran dan enggan mencari pengganti keimanannya. Mudah-mudahan kita digolongkan Allah ke dalamnya, amin.

[9] Maksudnya orang-orang Yahudi sangat suka mendengar perkataan-perkataan pendeta mereka yang dusta, atau sangat suka mendengar perkataan-perkataan Nabi Muhammad ﷺ untuk disampaikan kepada pendeta-pendeta dan kawan-kawan mereka dengan cara yang tidak jujur.

[10] Maksudnya adalah mereka sangat suka mendengar perkataan pemimpin-pemimpin mereka yang dusta yang belum pernah bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ karena sangat benci kepada beliau seperti orang-orang Yahudi yang tinggal di Khaibar, atau sangat suka mendengarkan perkataan-perkataan Nabi Muhammad ﷺ untuk disampaikan secara tidak jujur kepada kawan-kawannya tersebut.

[11] Yakni merubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi. Mereka juga mena’wil ayat-ayat Allah sesuai hawa nafsu mereka untuk menyesatkan manusia dan menolak kebenaran.

[12] Kata-kata ini mereka ucapkan ketika hendak meminta keputusan kepada Nabi Muhammad ﷺ, di mana hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mereka inginkan selain mengikuti selera hawa nafsu, yakni jika keputusan Beliau sesuai dengan selera mereka, maka mereka menerimanya, namun jika tidak sesuai selera mereka, maka mereka menolaknya. Dalam tafsir Al Jalaalain disebutkan, bahwa dua orang yahudi Khaibar yang sudah menikah melakukan zina, lalu orang-orang Yahudi Khaibar tidak mau merajamnya, maka mereka mengirim utusan kepada Yahudi Bani Quraizhah di Madinah agar bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hukuman yang harus ditimpakan kepada pezina yang sudah menikah itu. Jika Beliau memutuskan bahwa kedua orang itu harus didera dan dihitamkan mukanya, maka mereka akan menerimanya, namun jika selain itu, misalnya rajam, maka mereka menolaknya.

[13] Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang niatnya mendatangi hukum syar’i karena ingin mencari hukum yang sesuai dengan selera hawa nafsunya, di mana jika sesuai dengan seleranya, maka ia senang, namun jika tidak sesuai ia pun kesal, maka yang demikian menunjukkan keadaan hatinya yang tidak bersih. Sebaliknya, orang yang mendatangi hukum syar’i dan ridha kepadanya, baik sesuai dengan seleranya maupun tidak, maka hal itu menunjukkan kebersihan hatinya. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa bersihnya hati merupakan sebab terhadap semua kebaikan, dan pendorong terbesar untuk berkata dan bersikap benar.

Bersambung: Makar Orang-orang Munafik 

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaMakar Orang-orang Munafik
Berita berikutnyaMengampuni Siapa yang Dia Kehendaki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here