Di Dalamnya Terdapat Petunjuk dan Cahaya

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 46-47

0
142

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 46-47. Taurat dan Injil merupakan kitab samawi yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan keharusan memutuskan perkara menurut hukum yang diturunkan Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (٤٦) وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٤٧)

Kami teruskan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan mengutus Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Maa’idah : 46)

Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Maa’idah : 47)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qaffainā (dan Kami mengiringi), yakni Kami mengikutkan dan menyusulkan kepada ….

‘Alā ātsārihim bi ‘īsabni maryama mushaddiqan (jejak mereka [nabi-nabi Bani Israil] dengan ‘Isa putra Maryam yang membenarkan), yakni yang mendukung.

Limā baina yadaihi minat taurāti (Taurat yang ada sebelumnya), yakni dengan tauhid dan beberapa syariat.

Wa ātaināhul iηjīla fīhī (dan Kami telah memberikan Injil kepadanya yang di dalamnya), yakni di dalam Injil.

Hudan (terdapat petunjuk) dari kesesatan.

Wa nūrun (dan cahaya), yakni penjelasan tentang hukum rajam.

Wa mushaddiqan (serta membenarkan), yakni sesuai dengan ….

Limā baina yadaihi minat taurāti (Taurat yang ada sebelumnya) mengenai masalah tauhid dan hukum rajam.

Wa hudan (dan menjadi petunjuk) dari kesesatan.

Wa mau‘izhatan (serta pengajaran), yakni larangan.

Lil muttaqīn (bagi orang-orang yang bertakwa) agar jangan melakukan kekufuran, kemusyrikan, dan kejahatan.

Wal yahkum ahlul iηjīli (dan hendaklah para pengikut Injil memutuskan perkara), yakni dan hendaklah para pengikut Injil menerangkan.

Bimā aηzalallāhu fīh (menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya), yakni menurut apa yang dijelaskan Allah Ta‘ala di dalam Injil perihal sifat dan gambaran Muhammad ﷺ serta hukum rajam.

Wa mal lam yahkum bimā aηzalallāhu (dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang Diturunkan Allah), yakni barangsiapa tidak menjelaskan apa yang dijelaskan Allah Ta‘ala di dalam Injil.

Fa ulā-ika humul fāsiqūn (maka mereka itulah orang-orang yang fasik), yakni orang-orang durhaka lagi kafir.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Kami teruskan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan mengutus Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat[33]. Dan Kami menurunkan Injil kepadanya[34], di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya[35], dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

[33] Allah mengutus Nabi Isa ‘alaihis salam membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya, yaitu Taurat, oleh karena itu dia menjadi saksi terhadap kebenaran Nabi Musa dan Taurat yang dibawanya, menguatkan dakwahnya, menggunakan syari’atnya dan sesuai dengan syari’at Nabi Musa ‘alaihis salam dalam banyak hal, hanya saja syari’at Nabi Isa ‘alaihis salam lebih ringan dalam sebagian hukum, di mana Beliau (Nabi Isa) menghalalkan untuk Bani Israil sebagian yang diharamkan.

[34] Sebagai kitab yang menyempurnakan Taurat.

[35] Yang menerangkan mana yang benar dan mana yang salah. 

  1. Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya[36]. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik[37].

[36] Pengikut-pengikut Injil itu diwajibkan memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalam Injil itu, sampai pada masa diturunkan Al-Qur’an.

[37] Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah bisa menjadi kafir apabila ia menghina hukum Allah, menganggap halal berhukum dengan hukum selain Allah, menganggap bahwa hukum selain Allah lebih baik atau lebih cocok dipakai seperti orang-orang yang membuat undang-undang yang menyalahi syari’at Islam, di mana mereka tidaklah membuat undang-undang tersebut kecuali karena adanya anggapan bahwa hukum Allah tidak cocok lagi atau kurang tepat dsb.

Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah bisa juga menjadi zalim (tidak kafir) apabila ia melakukan hal itu, namun ia yakin bahwa hukum Allah-lah yang benar, yang baik, yang cocok, hukum yang dipakainya yang salah, ia juga tidak meremehkannya.

Dan bisa menjadi fasik (tidak kafir), apabila ia melakukan hal itu (yakni tidak menggunakan hukum Allah) karena ada rasa sayang kepada orang yang terkena hukuman itu atau karena diberi sogokan (risywah) namun ia tetap yakin bahwa hukum Allah-lah yang benar dan hukumnya yang salah, seperti karena si pencuri itu adalah kerabatnya dsb.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Kami iringi jejak-jejak mereka) maksudnya jejak para nabi itu (dengan Isa putra Maryam, membenarkan apa yang berada di depannya) maksudnya yang sebelumnya (berupa Taurat dan Kami berikan kepadanya Injil yang berisi petunjuk) dari kesesatan (dan cahaya) artinya penjelasan bagi hukum-hukum (serta membenarkan) menjadi hal (bagi kitab Taurat yang berada sebelumnya) membenarkan hukum-hukum Taurat (serta menjadi petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang takwa).
  2. (Dan pengikut-pengikut Injil hendaklah memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah di dalamnya) berupa hukum-hukum dan menurut satu qiraat walyahkum itu dibaca waliyahkum karena diathafkan pada ma`mul aatainaahu (Dan siapa yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang-orang yang fasik.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman:

وَقَفَّيْنَا

Dan kami iringkan. (Al-Maa’idah: 46)

Yakni kami ikutkan pada jejak mereka, Nabi-nabi Bani Israil.

بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ

Dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu Taurat. (Al-Maa’idah: 46)

Yakni beriman kepada kitab Taurat dan menjadi hakim tentang apa yang terkandung di dalamnya.

وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ

Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedangkan di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi). (Al-Maa’idah: 46)

Yaitu sebagai petunjuk kepada perkara yang hak dan cahaya yang dapat menerangi untuk melenyapkan kesyubhatan dan memecahkan berbagai macam masalah.

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ

Dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. (Al-Maa’idah: 46)

Yakni mengikuti kitab Taurat dan tidak menentang apa yang terkandung di dalamnya kecuali dalam sedikit masalah yang dia jelaskan kepada kaum Bani Israil sebagian perkara yang diperselisihkan di kalangan mereka pada masa silam. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya, menceritakan keadaan Al-Masih, bahwa ia pernah berkata kepada kaum Bani Israil:

وَلأحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ

Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang diharamkan untuk kalian. (Ali Imran: 50)

Karena itulah menurut pendapat yang terkenal di kalangan para ulama dari dua pendapat mereka, kitab Injil me-mansukh sebagian hukum kitab Taurat.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ

Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Al-Maa’idah: 46)

Yaitu kami jadikan kitab Injil sebagai petunjuk yang dijadikan pegangan dan sebagai pengajaran, yakni peringatan untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan perbuatan-perbuatan yang berdosa; bagi orang-orang yang bertakwa, yakni bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan takut kepada ancaman dan siksa-Nya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإنْجِيلِ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فِيهِ

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. (Al-Maa’idah: 47)

Dibaca liyahkuma dengan bacaan nasab karena huruf lam-nya bermakna kai, yakni dan Kami berikan kepadanya kitab Injil agar ia memutuskan perkara para pengikut agamanya di zamannya dengan kitab Injil itu. Dan dibaca jazm yaitu walyahkum karena huruf lam-nya dianggap sebagai lamul amri, yang artinya hendaklah mereka beriman kepada semua apa yang terkandung di dalam kitab Injil, dan hendaklah mereka menegakkan semua apa yang diperintahkan di dalamnya yang antara lain ialah berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan perintah mengikutinya serta membenarkannya bila telah ada. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lainnya melalui firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَمَا أُنزلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

Katakanlah, Hai Ahli Kitab, kalian tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kalian menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil. Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan Kalian (Al Maidah : 68) hingga akhir ayat

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat. (Al-A’raf: 157)

sampai dengan firman-Nya:

أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)

Karena itulah dalam surah ini disebutkan oleh firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maa’idah: 47)

Ayat berikutnya: Al-Qur’an Membenarkan Kitab-kitab yang Sebelumnya 

Yakni orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Tuhannya, cenderung kepada kebatilan dan meninggalkan perkara yang hak. Dalam keterangan yang terdahulu telah disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Nasrani, dan hal ini jelas dari konteks ayat

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAl-Qur’an Membenarkan Kitab-kitab yang Sebelumnya
Berita berikutnyaMelepaskan Hak Qisas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here