Orang yang Dilaknat dan Dimurkai Allah

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 60

0
232

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 60. Orang yang dilaknat dan dimurkai Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah (Muhammad), Apakah aku akan beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S. Al-Maa’idah : 60)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah), hai Muhammad, kepada orang-orang Yahudi!

Hal unabbi-ukum (Akankah aku beritahukan kepada kalian), yakni aku kabarkan kepada kalian.

Bi syarrim miη dzālika (tentang yang lebih buruk daripada itu), yakni daripada ucapan kalian kepada Muhammad ﷺ dan shahabat-shahabatnya itu.

Matsūbatan ‘iηdallāh (balasannya di sisi Allah), yakni hukumannya di sisi Allah Ta‘ala.

Mal la‘anahūllāhu (yaitu orang-orang yang dilaknat), yakni yang diazab oleh Allah Ta‘ala dengan dibebani jizyah.

Wa ghadliba ‘alahi wa ja‘ala minhumul qiradata (dan dimurkai Allah. Di antara mereka ada yang dijadikan kera) pada zaman Nabi Dawud ‘alaihis salam.

Wal khanāzīra (dan babi) pada zaman Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, setelah mereka menyantap hidangan.

Wa ‘abadath thāghūt (dan [orang yang] menyembah thaghut?), yakni para dukun dan setan. Jika kata ‘abada (menyembah) dibaca ‘abuda (menjadi budak), maka berarti, Allah Ta‘ala Menjadikan mereka para penyembah setan, berhala, dan dukun.

Ulā-ika syarrum makānan (mereka itu lebih buruk tempatnya), yakni perbuatannya di dunia dan kedudukannya di akhirat.

Wa adlallu ‘an ā-is sabīl (dan lebih tersesat dari jalan yang lurus), yakni dari jalan hidayah yang lurus.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

60.[5] Katakanlah (Muhammad), Apakah aku akan beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi[6] dan (orang yang) menyembah thaghut[7]. Mereka itu lebih buruk tempatnya[8] dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

[5] Karena celaan mereka yang ditujukan kepada kaum mukmin menunjukkan bahwa mereka menganggap orang-orang mukmin itu di atas keburukan, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ menjawab mereka dengan mengatakan apa yang disebutkan dalam ayat di atas.

[6] Yaitu orang-orang Yahudi yang melanggar kehormatan hari Sabtu (Lihat surah Al Baqarah ayat 65).

[7] Thagut artinya setan dan apa yang disembah selain Allah.

[8] Dari orang-orang mukmin, di mana rahmat Allah dekat dengan mereka, Allah meridhai mereka, memberikan balasan yang baik kepada mereka di dunia dan akhirat karena berbuat ikhlas kepada-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah, Apakah akan kukabarkan kepadamu) kuberitakan (orang-orang yang lebih buruk) lagi daripada warga (demikian) yang kamu salahkan itu (mengenai pembalasannya) asal artinya ialah pahalanya (di sisi Allah) yaitu (orang yang dikutuk oleh Allah) artinya dijauhkan dari rahmat-Nya (dan dimurkai-Nya serta di antara mereka ada yang dijadikan-Nya kera dan babi) dengan merubah bentuknya (dan) orang (yang menyembah tagut) yakni setan dengan jalan menaatinya. Pada minhum ditekankan arti man pada lafal sebelumnya yang dimaksud ialah orang-orang Yahudi. Menurut satu qiraat dibaca `abuda dengan diidhafatkan kepada yang sesudahnya sebagai isim jamak dari `abd dan dinashabkan karena ma`thuf kepada qiradah. (Mereka itu lebih buruk tempatnya) karena mereka menempati neraka berfungsi sebagai tamyiz (dan lebih tersesat lagi dari jalan yang lurus) dari jalan yang benar. ﷺaa` arti asalnya ialah pertengahan. Disebutkan buruk dan lebih tersesat untuk mengimbangi ucapan mereka, ‘Sepengetahuan kami tak ada agama yang lebih buruk dari agamamu.’

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ

Katakanlah, Apakah akan aku beri tahukan kepada kalian tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasik) itu di sisi Allah? (Al-Maa’idah: 60)

Yakni apakah harus aku ceritakan kepada kalian pembalasan yang lebih buruk daripada apa yang kalian duga terhadap kami kelak di hari kiamat di sisi Allah? Yang melakukan demikian itu adalah kalian sendiri, karena semua sifat yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala melalui firman-Nya ada pada kalian, yaitu:

مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ

Yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah. (Al-Maa’idah: 60)

Dikutuk artinya dijauhkan dari rahmat-Nya, dan dimurkai artinya Allah murka kepada mereka dengan murka yang tidak akan reda sesudahnya untuk selama-lamanya.

وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

Di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi. (Al-Maa’idah: 60)

Seperti yang telah disebutkan di dalam surah Al-Baqarah dan seperti yang akan diterangkan nanti dalam tafsir surah Al-A’raf.

قَالَ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ: عَنْ عَلْقَمَة بْنِ مَرْثَد، عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْد، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، أَهِيَ مِمَّا مَسَخَ اللَّهُ  تَعَالَى  ؟ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يُهْلِكْ قَوْمًا  أَوْ قَالَ: لَمْ يَمْسَخْ قَوْمًا-فَيَجْعَلْ لَهُمْ نَسْلا وَلَا عَقِبًا وَإِنَّ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ كانت قبل ذلك

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Alqamah ibnu Marsad, dari Al-Mugirah ibnu Abdullah, dari Al-Ma’rur ibnu Suwaid, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah ditanya mengenai kera dan babi, apakah kedua binatang itu berasal dari kutukan Allah. Maka beliau menjawab: Sesungguhnya Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum atau beliau mengatakan bahwa Allah belum pernah mengutuk suatu kaum lalu menjadikan bagi mereka keturunan dan anak cucunya. Dan sesungguhnya kera dan babi telah ada sebelum peristiwa kutukan itu.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadits Sufyan As-Sauri dan Mis’ar, keduanya dari Mugirah ibnu Abdullah Al-Yasykuri dengan lafaz yang sama.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي الْفُرَاتِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْأَعْيَنِ الْعَبْدِيِّ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، أَهِيَ مِنْ نَسْلِ الْيَهُودِ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَلْعَنْ قَوْمًا فَيَمْسَخُهُمْ فَكَانَ لَهُمْ نَسْلٌ، وَلَكِنْ هَذَا خَلْقٌ كَانَ، فَلَمَّا غَضِبَ اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ فَمَسَخَهُمْ، جَعَلَهُمْ مِثْلَهُمْ

Abu Dawud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Dawud ibnu Abul Furat, dari Muhammad ibnu Zaid, dari Abul A’yan Al-Ma’badi, dari Abul Ahwas, dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa kami pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kera dan babi, apakah kera dan babi yang ada sekarang merupakan keturunan dari orang-orang Yahudi yang dikutuk Allah Subhaanahu wa Ta’aala Maka Rasulullah menjawab: Tidak, sesungguhnya Allah sama sekali belum pernah mengutuk suatu kaum, lalu membiarkan mereka berketurunan. Tetapi kera dan babi yang ada merupakan makhluk yang telah ada sebelumnya. Dan ketika Allah murka terhadap orang-orang Yahudi, maka Dia mengutuk mereka dan menjadikan mereka seperti kera dan babi.

Imam Ahmad meriwayatkannya melalui hadits Dawud ibnu Abul Furat dengan lafaz yang sama

قَالَ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْبَاقِي، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مَحْبُوبٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ عِكْرِمَة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَيَّاتُ مَسْخ الْجِنِّ، كَمَا مُسِخَتِ الْقِرَدَةُ وَالْخَنَازِيرُ

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Baqi, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Mahbub, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mukhtar, dari Dawud ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah. dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah telah bersabda: Ular adalah jin yang telah dikutuk sebagaimana kera dan babi adalah hewan kutukan.

Hadits ini garib sekali.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ

Dan (orang-orang yang) menyembah tagut. (Al-Maa’idah: 60)

Dibaca abadat tagut karena berupa fi’il madi, sedangkan lafaz tagut di-nasab-kan olehnya, yakni dan Allah menjadikan di antara mereka orang yang menyembah tagut. Dibaca ‘abdat tagut dengan di-mudaf-kan artinya adalah dan Allah menjadikan di antara mereka orang-orang yang mengabdi kepada tagut, yakni pengabdi dan budak tagut. Ada pula yang membacanya ‘ubadat tagut dalam bentuk Jam’ul jami’; bentuk tunggalnya adalah ‘abdun, bentuk jamaknya adalah tabidun, sedangkan bentuk jam’ul jami’-nya adalah ‘ubudun, perihalnya sama dengan lafaz simarun yang bentuk jam’ul jami ‘-nya adalah sumurun. Demikianlah menurut Riwayat Ibnu Jarir dan Al A’masy.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Al-A’masy; diriwayatkan dari Buraidah Al-Aslami bahwa ia membacanya wa ‘abidat tagut. Sedangkan menurut qiraah dari Ubay dan Ibnu Mas’ud disebutkan wa abadu. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Abu Ja’far Al-Qari’ bahwa dia membacanya walubidat tagut dengan anggapan sebagai maf’ul dari fi’il yang tidak disebutkan fail-nya, tetapi bacaan ini dinilai oleh Ibnu Jarir jauh dari makna. Padahal menurut makna lahiriahnya hal ini tidak jauh dari makna yang dimaksud, mengingat ungkapan ini termasuk ke dalam Bab Ta’rid (Sindiran) terhadap mereka. Dengan kata lain, telah disembah tagut di kalangan kalian, dan kalianlah orang-orang yang melakukannya

Semua qiraah yang telah disebutkan di atas mempunyai kesimpulan makna yang menyatakan bahwa sesungguhnya kalian, hai Ahli Kitab, yang mencela agama kami, yaitu agama yang menauhidkan dan mengesakan Allah dalam menyembah-Nya tanpa ada selain-Nya; maka mengapa timbul dari kalian sikap seperti itu, padahal semua yang telah disebutkan ada pada diri kalian. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا

Mereka itu lebih buruk tempatnya. (Al-Maa’idah: 60)

Yakni lebih buruk daripada apa yang kalian duga dan kalian tuduhkan terhadap kami.

وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maa’idah: 60)

Ayat berikutnya: Kedustaan Mereka Terhadap Allah dan Rasul-Nya 

Ungkapan, ini termasuk ke dalam Bab Pemakaian Af’al Tafdil Tanpa Menyebutkan Pembanding pada Sisi yang Lainnya, perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman lainnya, yaitu:

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلا

Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (Al-Furqan: 24)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaKedustaan Mereka Terhadap Allah dan Rasul-Nya
Berita berikutnyaMemandang Salah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here