Memandang Salah

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 59

0
160

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 59. Tentang Ahli Kitab dan kesesatan mereka, dan bagaimana mereka memandang salah kaum mukmin. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

Katakanlah, Wahai Ahli Kitab! Apakah kamu memandang kami salah, hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya? Sungguh, kebanyakan dari kamu adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Maa’idah : 59)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah), hai Muhammad kepada orang-orang Yahudi!

Yā ahlal kitābi hal tangqimūna minnā (Hai ahli kitab, apakah kalian menyalahkan kami), yakni kalian bertindak kelewat batas dan mencela kami.

Illā an āmannā billāhi (hanya karena kami beriman kepada Allah), yakni hanya karena kami beriman kepada Allah Yang Maha Esa yang tidak mempunyai sekutu.

Wa mā uηzila ilainā (dan kepada apa yang diturunkan kepada kami), yakni Al-Qur’an.

Wa mā uηzila ming qablu (dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya), yakni kepada sejumlah kitab dan rasul yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa anna ak-tsarakum (sedang kebanyakan di antara kalian), yakni setiap kalian.

Fāsiqūn (adalah orang-orang yang fasik?), yakni orang-orang yang kafir.  Ayat selanjutnya diturunkan berhubungan dengan ucapan mereka, Yang kami tahu, tak ada pemeluk agama yang kemakmurannya paling minim selain Muhammad ﷺ dan shahabat-shahabatnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta‘ala Berfirman:

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

59.[3] Katakanlah, Wahai Ahli Kitab! Apakah kamu memandang kami salah, hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya? [4] Sungguh, kebanyakan dari kamu adalah orang-orang yang fasik.

[3] Ayat ini dan ayat setelahnya (59 dan 60) merupakan bantahan terhadap celaan mereka kepada agama Islam dan kaum muslimin.

[4] Yakni apakah menurutmu kami salah dan tercela hanya karena kami beriman kepada Allah, semua kitab-Nya dan semua rasul-Nya dan menyatakan bahwa orang yang tidak beriman kepada semua itu kafir lagi fasik? Apakah kamu mencela kami karena melakukan kewajiban yang paling utama ini? Di samping itu, kamu sendiri adalah orang-orang yang fasik, yang seharusnya diam. Jika kamu tidak fasik lalu mencela, maka hal itu lebih ringan daripada kamu mencela sedangkan diri kamu sendiri adalah orang-orang fasik.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah, Hai ahli kitab! Apakah kamu menyalahkan) menolak (kami hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan sebelumnya) yakni kepada nabi-nabi yang terdahulu (dan bahwa kebanyakan di antara kamu orang-orang yang fasik?) diathafkan kepada an aamannaa sedangkan maksudnya ialah: tak ada yang kamu salahkan kecuali hanyalah keimanan kami yang rupanya tidak kamu setujui. Sikap tersebut membuat kalian pantas disebut orang-orang yang fasik. Padahal hal ini merupakan hal yang sudah tidak boleh diingkari.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, Hai Muhammad, katakanlah kepada mereka yang membuat agamamu sebagai bahan ejekan dan permainan, yaitu dari kalangan orang-orang Ahli Kitab.

هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ مِنْ قَبْلُ

Apakah kalian memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya? (Al-Maa’idah: 59)

Yakni apakah kalian menilai kami salah atau tercela hanya karena itu? Padahal hal itu bukanlah suatu cela atau kesalahan. Dengan demikian, berarti istisna dalam ayat ini bersifat munqati, perihalnya sama dengan istisna yang terdapat di dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Al-Buruj: 8)

وَمَا نَقَمُوا إِلا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ

Dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. (At-Taubah: 74)

Di dalam sebuah hadits yang kesahihannya disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan:

مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَميل إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللَّهُ

Tidak sekali-kali Ibnu Jamil dicela hanyalah karena dahulunya dia miskin, lalu Allah memberinya kecukupan.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

Sedangkan kebanyakan di antara kalian benar-benar orang-orang yang fasik. (Al-Maa’idah: 59)

Ayat ini di-‘ataf-kan kepada firman-Nya:

أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ مِنْ قَبْلُ

Hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya. (Al-Maa’idah: 59)

Ayat berikutnya: Orang yang Dilaknat dan Dimurkai Allah 

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa kami beriman pula, sedangkan kebanyakan dari kalian adalah orang-orang yang fasik. Yang dimaksud dengan fasik ialah keluar dari jalan yang lurus, yakni menyimpang darinya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaOrang yang Dilaknat dan Dimurkai Allah
Berita berikutnyaMenjadikannya Bahan Ejekan dan Permainan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here