Tidak Ada Rasa Khawatir Padanya dan Mereka Tidak Bersedih Hati

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 69

0
142

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 69. Barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Sabiin dan orang-orang Nasrani, barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati. (Q.S. Al-Maa’idah : 69)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innal ladzīna āmanū (sesungguhnya orang-orang yang beriman) kepada Musa ‘alaihis salam serta sejumlah nabi dan kitab, lalu mereka mati dalam keimanan mereka, maka mereka tidak akan memiliki kekhawatiran dan tidak pula akan berduka.

Wal ladzīna hādū (dan orang-orang Yahudi), yakni orang-orang yang beragama Yahudi.

Wash shābi-ūna (dan orang-orang shābi-īn), yakni salah satu di antara kaum Nasrani yang tutur katanya lebih halus daripada kaum Nasrani lainnya.

Wan nashārā (dan orang-orang Nasrani), yakni orang-orang Nasrani Najran dan lain-lain.

Man āmana (siapa pun yang beriman) di antara orang-orang Yahudi, shābi-īn, dan narsani.

Billāhi wal yaumil ākhiri (kepada Allah dan hari akhirat), yakni pada adanya kebangkitan sesudah mati. Orang Yahudi yang bertobat dari agama Yahudi, orang shābi-īn yang bertobat dari agama shabiah, dan orang Nasrani yang bertobat dari agama Nasrani.

Wa ‘amila shālihan (serta beramal saleh), yakni amal yang berhubungan dengan Rabb-nya secara ikhlas.

Fa lā khaufun ‘alaihim (maka tidak ada kekhawatiran pada mereka) berkenaan dengan azab yang akan menghadang mereka.

Wa lā hum yahzanūn (dan tidak pula mereka akan berduka) atas perkara-perkara yang mereka tinggalkan di belakang mereka. Menurut satu pendapat, mereka tidak memiliki kekhawatiran ketika orang-orang merasakan kekhawatiran, serta tidak pula akan berduka ketika orang-orang merasa berduka. Pendapat yang lain menyatakan, mereka tidak memiliki kekhawatiran ketika al-maut . disembelih dan tidak pula berduka ketika pintu neraka ditutup rapat.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Sabiin[12] dan orang-orang Nasrani, barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan,[13] maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati.

[12] Ada yang mengatakan, bahwa mereka adalah salah satu firqah (golongan) orang-orang Yahudi.

[13] Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memberitahukan tentang orang-orang yang diberikan kitab, baik kitab Taurat, Injil maupun Al-Qur’an, bahwa kebahagiaan dan keselamatan mereka terletak pada satu jalan, yaitu beriman kepada Allah, termasuk beriman kepada Muhammad ﷺ, beriman kepada hari akhir dan mengerjakan amal saleh, maka tidak ada kekhawatiran bagi mereka terhadap hal-hal yang akan datang yang mengkhawatirkan, dan mereka pun tidak perlu bersedih hati terhadap hal yang telah mereka tinggalkan. Ketentuan ini berlaku di setiap zaman.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya orang-orang mukmin orang-orang Yahudi) menjadi mubtada (kaum Shabiin) satu sekte dari Yahudi (dan orang-orang Nasrani) yang menjadi badal dari mubtada ialah (siapa saja yang benar-benar beriman) dari kalangan mereka (kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati) dalam menghadapi hari kemudian sebagai khabar dari mubtada dan yang menunjukkan kepada khabarnya inna.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا

Sesungguhnya orang-orang mukmin. (Al-Maa’idah: 69)

Yaitu kaum muslim.

وَالَّذِينَ هَادُوا

Orang-orang Yahudi. (Al-Maa’idah: 69)

Yakni orang-orang yang memegang kitab Taurat.

وَالصَّابِئُونَ

Dan orang-orang Sabiin. (Al-Maa’idah: 69)

Mengingat pemisahnya terlalu jauh, maka peng-‘ataf-an ini dinilai baik jika dengan rafa’ (hingga dibaca was sabi-un, bukan was sabi- in, pent.)-

Kaum Sabi-in ialah segolongan orang dari kalangan umat Nasrani dan orang-orang Majusi yang tidak mempunyai agama. Demikianlah menurut Mujahid; dan dari Mujahid disebutkan bahwa mereka adalah segolongan dari orang-orang Yahudi dan orang-orang Majusi.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, mereka adalah segolongan orang dari kaum Yahudi dan Nasrani. Menurut Al-Hasan dan Al-Hakam, mereka sama dengan orang-orang Majusi.

Menurut Qatadah, mereka adalah suatu kaum yang menyembah malaikat dan shalat dengan menghadap ke arah selain kiblat serta membaca kitab Zabur.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan, mereka adalah suatu kaum yang mengenal Allah semata, tetapi tidak mempunyai syariat yang mereka amalkan, dan mereka tidak melakukan suatu kekufuran pun.

Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya yang mengatakan bahwa sabi-in adalah suatu kaum yang tinggal di daerah yang bertetangga dengan negeri Irak, tepatnya di Kausa. Mereka beriman kepada semua nabi. puasa setiap tahunnya selama tiga puluh hari, dan mengerjakan shalat menghadap ke negeri Yaman setiap harinya sebanyak lima kali. Pendapat yang lain mengatakan selain itu.

Adapun orang-orang Nasrani, seperti yang telah dikenal; mereka adalah orang-orang yang berpegang kepada kitab Injil.

Makna yang dimaksud ialah bahwa setiap golongan beriman kepada Allah dan hari kemudian serta hari kembali dan hari pembalasan pada hari kiamat nanti, dan mereka mengamalkan amal saleh. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan terealisasikan kecuali jika sesuai dengan syariat Nabi Muhammad sesudah beliau diutus kepada semua makhluk, baik jenis manusia maupun jin. Maka barang siapa yang menyandang sifat ini, disebutkan oleh firman-Nya:

فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ

Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. (Al-Maa’idah: 69)

Yakni tidak ada kekhawatiran dalam menghadapi masa depan, tidak pula terhadap masa lalu mereka.

وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Maa’idah: 69)

Ayat berikutnya: Mengira Bahwa Tidak Akan Terjadi Bencana Apa Pun 

Tafsiran terhadap hal yang semisal telah disebutkan di dalam tafsir surah Al-Baqarah dengan keterangan yang cukup hingga tidak perlu lagi diulangi di sini.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaMengira Bahwa Tidak Akan Terjadi Bencana Apa Pun
Berita berikutnyaKitab yang Diturunkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here