Mengira Bahwa Tidak Akan Terjadi Bencana Apa Pun

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 70-71

0
134

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 70-71. Kafirnya orang-orang Yahudi, pembunuhan yang mereka lakukan terhadap para nabi, dan pengingkaran mereka terhadap perjanjian; dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ (٧٠) وَحَسِبُوا أَلا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (٧١)

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak sesuai dengan keingininan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (Q.S. Al-Maa’idah : 70)

Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, lalu banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Maa’idah : 71)

.

Tafsir Ibnu Abbas

La qad akhadznā mītsāqa (sungguh Kami telah mengambil perjanjian), yakni mengambil ikrar.

Banī isrā-īla (dari Bani Israil) di dalam Taurat tentang Muhammad ﷺ, dan bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah Ta‘ala.

Wa arsalnā ilaihim rusulā, kullamā jā-ahum rasūlum bimā lā tahwā aηfu -suhum (dan Kami telah mengutus kepada mereka rasul-rasul. Namun, setiap kali datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diinginkan hawa nafsu mereka), yakni membawa apa yang tidak sesuai dengan keinginan hati mereka dan agama Yahudi yang mereka anut.

Farīqang kadz-dzabū (maka sebagian [dari rasul-rasul itu] mereka dustakan), yakni mereka mendustakan sebagian rasul, yaitu ‘Isa ‘alaihis salam dan Muhammad ﷺ.

Wa farīqay yaqtulūn (dan sebagian lagi mereka bunuh), yakni sebagian lagi telah mereka bunuh, yaitu Yahya ‘alaihis salam dan Zakariyya ‘alaihis salam.

Wa hasibū allā takūna fitnatun (dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu fitnah), yakni bencana. Ada yang berpendapat, mereka mengira bahwa hati mereka tidak akan rusak karena membunuh dan mendustakan para nabi.

Fa ‘amū (karenanya mereka menjadi buta) dari hidayah.

Wa shammū (dan tuli) dari kebenaran yang ada di dalam hati. Mereka kafir kepada Allah Ta‘ala, kemudian beriman dan bertobat dari kekafirannya.

Tsumma tāballāhu ‘alaihim (kemudian Allah menerima tobat mereka), yakni Allah Ta‘ala mengampuni mereka.

Tsumma ‘amū (kemudian mereka buta) dari hidayah.

Wa shammū (dan mereka tuli [lagi]) dari kebenaran dan kembali kafir ….

Katsīrum minhum (kebanyakan dari mereka), lalu mereka mati dalam keadaan tersebut.

Wallāhu bashīrum bimā ya‘malūn (dan Allah Maha Melihat apa yang mereka perbuat), yakni kekafiran yang mereka perbuat, yaitu membunuh dan mendustakan para nabi.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil[14], dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul[15]. Tetapi setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak sesuai dengan keingininan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh[16].

[14] Perjanjian itu adalah mereka beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya (lihat surah Al Ma’idah: 12).

[15] Yang datang beriringan untuk membimbing mereka.

[16] Seperti Nabi Zakariyya dan Nabi Yahya ‘alaihimas salam.

  1. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, lalu banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan[17].

[17] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan kepada mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel) untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul tetapi setiap datang kepada mereka seorang rasul) dari kalangan mereka sendiri (dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka) yaitu berupa perkara yang hak/benar maka mereka tidak mempercayainya (sebagian) dari rasul-rasul itu (mereka dustakan dan sebagian yang lain) dari rasul-rasul itu (mereka bunuh) seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Pengungkapan dengan lafal yaqtuluuna/fi`il mudhari` bukannya dengan lafal qataluu/fi`il madhi menggambarkan tentang keadaan yang sedang berlangsung di masa lalu karena adanya fashilah/pemisah.
  2. (Dan mereka mengira) mereka menduga (bahwa tidak akan terjadi) dengan dibaca rafa` maka an menjadi mukhaffafah/tidak beramal dan dibaca nashab maka an dapat menashabkan/beramal; artinya tidak bakalan terjadi (fitnah) siksaan yang menimpa diri mereka sebagai balasan dari perbuatan mendustakan para rasul dan berani membunuh mereka (sebagai akibatnya mereka menjadi buta) dari perkara yang hak hingga mereka tidak bisa melihatnya (dan mereka menjadi tuli) tidak bisa mendengar perkara yang hak (kemudian Allah menerima tobat mereka) tatkala mereka mau bertobat (kemudian mereka kembali menjadi buta dan tuli) untuk kedua kalinya (demikianlah kebanyakan dari kalangan mereka) lafal katsiirun sebagai dhamir/kata ganti (dan Allah Maha Melihat terhadap apa yang mereka kerjakan) untuk itu Ia membalas mereka sesuai dengan apa-apa yang telah mereka kerjakan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian dan ikatan atas kaum Bani Israil, mereka harus tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Tetapi mereka melanggar perjanjian dan ikatan tersebut, lalu mereka mengikuti pendapat dan hawa nafsunya sendiri. Mereka memprioritaskannya di atas semua syariat, maka hal-hal yang bersesuaian dengan keinginan mereka dari syariat itu mereka terima; sedangkan hal-hal yang bertentangan dengan kemauan hawa nafsu dan pendapat mereka, mereka tolak. Karena itulah Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ وَحَسِبُوا أَلا تَكُونَ فِتْنَةٌ

Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka). (Al-Maa’idah: 70-71)

Yaitu mereka menduga tidak akan ada suatu bencana pun yang menimpa mereka karena perbuatan mereka itu. Dan ternyata perbuatan mereka itu membawa akibat bencana, yaitu mereka menjadi buta, tidak dapat mengenal perkara yang hak; dan tuli, tidak dapat mendengar perkara yang hak serta tidak mendapat petunjuk untuk mengetahui perkara yang hak. Hanya saja Allah memberikan ampunan kepada mereka atas perbuatan mereka itu.

ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا

Kemudian menjadi buta dan tulilah. (Al-Maa’idah: 71)

Yakni sesudah itu.

Ayat berikutnya: Allah Mengharamkan Surga Baginya 

كَثِيرٌ مِنْهُمْ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Kebanyakan dari mereka Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Maa’idah: 71)

Allah selalu melihat mereka dan mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak disesatkan dari kalangan mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAllah Mengharamkan Surga Baginya
Berita berikutnyaTidak Ada Rasa Khawatir Padanya dan Mereka Tidak Bersedih Hati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here