Mengapa Tidak Bertobat dan Memohon Ampunan Kepada-Nya?

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 74-75

0
143

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 74-75. Bantahan Al-Qur’an dengan dalil yang qath’i terhadap orang yang menganggap Al-Masih sebagai tuhan atau salah satu dari yang tiga, dan berlepasnya Al-Masih ‘alaihis salam dari anggapan tersebut; Mengapa mereka tidak bertobat dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٧٤) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٧٥)

Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Maa’idah : 74)

Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran, keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (yang menunjukkan keesaan Kami) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran). (Q.S. Al-Maa’idah : 75)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A falā yatūbūna ilallāhi (maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah) dari ucapan mereka.

Wa yastaghfirūnah (dan memohon ampun kepada-Nya), yakni mengesakan-Nya.

Wallāhu ghafūrun (dan Allah Maha Pengampun) kepada orang-orang yang bertobat dan beriman.

Rahīm (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang yang wafat sesudah bertobat.

Mal masīhubnu maryama illā rasūlun (Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul) yang diutus.

Qad khalat (yang sungguh telah berlalu), yakni telah lewat.

Ming qablihir rusul, wa ummuhū shiddīqah (sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya adalah orang yang sangat benar), yakni mirip seorang nabi.

Kānā ya’kulānith tha‘ām (keduanya biasa memakan makanan), yakni keduanya adalah hamba yang biasa memakan makanan.

Uηzhur (perhatikan), hai Muhammad!

Kaifa nubayyinu lahumul āyāti (bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka [ahli kitab] tanda-tanda), yakni tanda-tanda yang menegaskan bahwa ‘Isa ‘alaihis salam dan Maryam bukanlah tuhan.

Tsummaηzhur (kemudian perhatikanlah), hai Muhammad!

Annā yu’fakūn (bagaimana mereka dipalingkan), yakni bagaimana mereka dipalingkan lantaran mendustakan.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

74.[1] Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah[2] dan memohon ampunan kepada-Nya?. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[3].

[1] Ya Allah, sungguh tinggi semua sifat-Mu, sungguh indah nama-nama-Mu, sungguh terpuji perbuatan-Mu, meskipun Engkau menguasai manusia semuanya dan mampu menghukum mereka yang kafir dan bermaksiat kepada-Mu, namun Engkau Maha Santun, Engkau tidak langsung menghukum mereka, bahkan mengajak mereka untuk bertobat, dan Engkau menjanjikan, bahwa jika mereka bertobat, tentu mereka akan mendapatkan Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[2] Dengan mengikrarkan keesaan Allah dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

[3] Dia mengampuni dosa-dosa orang yang bertobat meskipun setinggi langit, serta menyayangi mereka dengan menerima tobat mereka dan menggantikan keburukan dengan kebaikan.

75.[4] Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran, keduanya biasa memakan makanan[5]. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (yang menunjukkan keesaan Kami) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran).

[4] Pada ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan hakikat yang sebenarnya, yakni bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam hanyalah seorang rasul sebagaimana rasul-rasul yang lain, sedangkan ibunya Maryam adalah seorang shiddiiqah, orang yang sangat membenarkan, di mana kedudukannya di bawah kedudukan para nabi. Sifat shiddiqiyyah berasal dari ilmu yang bermanfaat yang membuahkan keyakinan dan amal saleh.

[5] Maksudnya adalah bahwa Isa ‘alaihis salam dan ibunya adalah manusia, yang memerlukan apa yang diperlukan oleh manusia yang lain, seperti makan, minum dan sebagainya. Jika keduanya tuhan tentu, keduanya tidak membutuhkan yang dibutuhkan manusia.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya) atas apa yang telah mereka katakan; pertanyaan di sini menunjukkan kepada makna celaan. (Dan Allah Maha Pengampun) terhadap orang yang mau bertobat (lagi Maha Penyayang) kepadanya.
  2. (Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu) telah lewat (sebelumnya beberapa rasul) maka dia pun akan berlalu/mati seperti mereka; dia bukanlah Tuhan seperti apa yang telah mereka sangkakan, jika memang demikian maka niscaya ia pun tidak akan berlalu/mati (dan ibunya seorang yang amat benar) seorang wanita yang teramat benar (keduanya biasa memakan makanan) sama seperti makhluk-makhluk hidup lainnya, maka siapa pun yang keadaannya demikian berarti dia bukanlah Tuhan karena ia masih membutuhkan makanan, lemah dan masih mengeluarkan kencing dan kotoran sebagai akibat dari makanan itu. (Perhatikanlah) dengan penuh rasa ketakjuban (bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka, ahli kitab, tanda-tanda kekuasaan Kami) yang menunjukkan keesaan Kami (kemudian perhatikanlah bagaimana) lafal annaa adalah kata tanya (mendustakannya) mereka berpaling dari perkara hak yang disertai dengan bukti yang jelas.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Maidah : 74)

Demikianlah kemurahan, kedermawanan, kelapangan, kelembutan, dan rahmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada makhluk-Nya. Sekalipun mereka melakukan dosa yang paling besar melalui kebohongan dan kedustaan yang mereka buat-buat terhadap Allah, Allah tetap menyeru mereka untuk bertobat dan memohon ampun; karena setiap orang yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. (Al-Maa’idah: 75)

Yakni sama halnya seperti semua rasul yang mendahuluinya. Dengan kata lain, dia adalah salah seorang dari hamba-hamba Allah dan salah seorang dari rasul-rasul-Nya yang mulia. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain:

إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. (Az-Zukhruf: 59)

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ

Dan ibunya seorang yang sangat benar. (Al-Maa’idah: 75)

Yaitu beriman kepada Isa dan membenarkannya. Hal ini merupakan kedudukan yang paling tinggi baginya, dan hal ini menunjukkan bahwa Maryam bukanlah seorang nabi perempuan; tidak seperti apa yang diduga oleh Ibnu Hazm dan lain-lainnya yang mengatakan bahwa ibu Nabi Ishaq (Sarah), ibu Nabi Musa, dan ibu Nabi Isa semuanya adalah nabi wanita.

Ibnu Hazm mengatakan demikian dengan berdalilkan bahwa para malaikat berbicara dengan Sarah dan Maryam, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, Susukanlah dia. (Al-Qashash: 7)

Pengertian lafaz wa auhaina ini menunjukkan derajat kenabian.

Tetapi menurut pendapat jumhur ulama, Allah belum pernah mengutus seorang nabi melainkan dari kalangan kaum laki-laki. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)

Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari telah meriwayatkan adanya kesepakatan para ulama akan ketetapan ini.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

كَانَا يَأْكُلانِ الطَّعَامَ

Kedua-duanya biasa memakan makanan. (Al-Maa’idah: 75)

Yakni mereka memerlukan makanan dan mengeluarkan kotorannya, dan merupakan dua orang hamba, sama dengan manusia lainnya, sama sekali bukan tuhan, tidak seperti apa yang didakwakan oleh orang-orang Nasrani yang bodoh; semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الآيَاتِ

Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan Kami. ( Al-Maa’idah: 75)

Yaitu ayat-ayat yang telah Kami jelaskan dan kami tampakkan kepada mereka.

ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Al-Maa’idah: 75)

Ayat berikutnya: Janganlah Berlebih-lebihan dalam Agama 

Yakni kemudian perhatikanlah sesudah penjelasan dan keterangan itu, ke manakah mereka akan pergi, pendapat apakah yang mereka pegang, serta aliran sesat manakah yang mereka tempuh?

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaJanganlah Berlebih-lebihan dalam Agama
Berita berikutnyaAkan Ditimpa Azab yang Pedih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here