Janganlah Berlebih-lebihan dalam Agama

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 76-77

0
161

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 76-77. Janganlah berlebih-lebihan dalam agama. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٧٦) قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (٧٧)

Katakanlah (Muhammad), Mengapa kamu menyembah yang selain Allah, sesuatu yang tidak dapat menimbulkan bencana kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat? Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Maa’idah : 76)

Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S. Al-Maa’idah : 77)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

A ta‘budūna miη dūnillāhi (Mengapa kalian menyembah selain dari Allah), yakni menyembah berhala.

Mā lā yamliku lakum dlarran (sesuatu yang tidak memberi mudarat terhadap kalian), yakni sesuatu yang tidak mampu membantu kalian untuk menolak kemudaratan di dunia dan di akhirat.

Wa lā naf‘ā (dan tidak pula memberi manfaat), yakni tidak mampu memberi keuntungan di dunia dan di akhirat.

Wallāhu huwas samī‘u (dan Allah-lah Yang Maha Mendengar) perkataan mereka tentang ‘Isa ‘alaihis salam dan ibunya.

Al-‘alīm (lagi Maha Mengetahui) hukuman untuk mereka.

Qul yā ahlal kitābi (katakanlah, Hai ahli kitab) penduduk Najran.

Lā taghlū fī dīnikum (janganlah berlebih-lebihan dalam agama kalian), yakni janganlah kalian mempersulit diri dalam beragama.

Ghairal haqqi (secara tidak benar), sebab hal itu bukanlah tindakan yang benar.

Wa lā tattabi‘ū ahwā-a qaumin (dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang), yakni agama dan pendapat suatu kaum.

Qad dlallū (yang telah tersesat) dari hidayah.

Ming qablu (sebelumnya), yakni sebelum kalian. Mereka adalah para pemimpin yang berkuasa dan para pengikutnya.

Wa adlallū katsīran (dan mereka telah menyesatkan banyak [manusia]) dari kebenaran dan hidayah.

Wa dlallū ‘aη ā-is sabīl (dan mereka telah tersesat dari jalan yang lurus), yakni dari jalan hidayah yang lurus.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah (Muhammad), Mengapa kamu menyembah yang selain Allah[6], sesuatu yang tidak dapat menimbulkan bencana kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat? Dan Allah Maha Mendengar[7] lagi Maha Mengetahui[8].

[6] Yang merupakan makhluk yang fakir lagi membutuhkan sesuatu.

[7] Semua perkataanmu dengan berbagai bahasa dan beraneka kebutuhan.

[8] Semua keadaanmu. Dia mengetahui yang nampak maupun yang tersembunyi, yang lalu maupun yang akan datang. Dia Maha Kaya dan tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, oleh karenanya hanya Dia yang berhak disembah.

  1. Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu[9]. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu[10] dan (telah) menyesatkan banyak (manusia)[11], dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.

[9] Seperti menempatkan Nabi Isa ‘alaihis salam melebihi posisinya sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya serta menjadikan ulama dan pendeta mereka sebagai tuhan dengan menghalalkan semua yang mereka perintahkan meskipun diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang mereka tetapkan meskipun dihalalkan Allah.

[10] Yaitu nenek moyang mereka.

[11] Mereka inilah pemimpin kesesatan, di mana diri mereka tersesat dan menyesatkan orang lain.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah, Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah) selain-Nya (sesuatu yang tidak dapat memberi mara bahaya kepadamu dan tidak pula memberi manfaat? Dan Allahlah Yang Maha Mendengar) terhadap perkataan-perkataanmu (lagi Maha Mengetahui) tentang tindak-tandukmu; kata istifham/kata tanya di sini menunjukkan keingkaran.
  2. (Katakanlah, Hai Ahli Kitab!) para pemeluk agama Yahudi dan agama Nasrani (Janganlah kamu berlebih-lebihan) janganlah kamu melampaui batas (dalam agamamu) secara berlebih-lebihan (dengan cara tidak benar) yaitu dengan cara merendahkan Nabi Isa atau kamu mengangkatnya secara berlebihan dari apa yang seharusnya (dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya sebelum kedatangan Nabi Muhammad) mengikuti cara berlebih-lebihan yang pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka (dan mereka telah menyesatkan kebanyakan) manusia (dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.) jalan yang hak; lafal as-ﷺaa` asalnya bermakna pertengahan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman mengingkari perbuatan orang-orang yang menyembah selain-Nya yaitu mereka yang menyembah berhala, patung, dan gambar seraya menjelaskan kepada mereka bahwa semuanya itu tidak berhak sedikit pun untuk disembah sebagai tuhan.

Untuk itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

قُلْ

Katakanlah (Al-Maa’idah: 76)

hai Muhammad, kepada mereka yang menyembah kepada selain Allah; yakni dari kalangan anak-anak Adam, termasuk orang-orang Nasrani dan lain-lainnya.

أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا

Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada kalian dan tidak (pula) memberi manfaat? (Al-Maa’idah: 76)

Yakni yang tidak dapat menolak bahaya dari kalian, tidak pula menyampaikan manfaat kepada kalian.

وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Maa’idah: 76)

Yaitu Dia Maha Mendengar semua perkataan hamba-hamba-Nya lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka mengapa kalian menyimpang hingga menyembah benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat mengetahui sesuatu pun, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat untuk dirinya sendiri, tidak pula untuk orang lain.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ

Katakanlah Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. (Al-Maa’idah: 77)

Yakni janganlah kalian melampaui batas dalam mengikuti kebenaran, dan janganlah kalian menyanjung orang yang kalian diperintahkan untuk menghormatinya, lalu kalian melampaui batas dalam menyanjungnya hingga mengeluarkannya dari kedudukan kenabian sampai kepada kedudukan sebagai tuhan. Yaitu seperti yang kalian lakukan terhadap Al-Masih, padahal dia adalah salah seorang dari nabi-nabi Allah, tetapi kalian menjadikannya sebagai tuhan selain Allah. Hal ini tidak kalian lakukan melainkan hanya semata-mata kalian mengikuti guru-guru kalian, yaitu guru-guru sesat yang merupakan para pendahulu kalian dari kalangan orang-orang yang sesat di masa lalu.

وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maa’idah: 77)

Yakni mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan benar, menuju kepada jalan kesesalan dan kesalahan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Abu Ja’far, dari ayahnya, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang alim yang mengajarkan Al-Kitab dan Sunnah kepada banyak kaum selama suatu masa. Kemudian datanglah setan dan mengatakan (kepadanya), Sesungguhnya yang kamu ajarkan hanyalah peninggalan atau perintah yang telah diamalkan sebelum kamu, maka kamu tidak beroleh pujian karenanya. Tetapi buatlah suatu perkara dari dirimu sendiri, lalu ajaklah manusia, dan paksa mereka mengamalkannya. Kemudian orang itu melakukan hal tersebut, tetapi setelah lewat suatu masa ia sadar, Ia bermaksud bertobat dari perbuatannya itu, maka ia melucuti semua kekuasaan dan kerajaannya; dan ia bermaksud melakukan ibadah hingga akhir hayatnya agar semua dosanya terhapus. Setelah beberapa hari dalam ibadahnya, ia didatangi, lalu dikatakan kepadanya, Sekiranya tobatmu menyangkut dosa antara kamu dengan Tuhanmu (hak Tuhan), maka ada kemungkinan tobatmu dapat diterima. Tetapi kamu harus ingat bahwa si anu dan si anu serta lain-lainnya telah sesat dalam membelamu, sedangkan mereka telah meninggal dunia dalam keadaan sesat. Maka mana mungkin kamu dapat memberikan petunjuk kepada mereka. Karena itu, tiada tobat bagimu selama- lamanya.

Ayat berikutnya: Mereka Durhaka dan Selalu Melampaui Batas 

Ar-Rabi’ ibnu Abas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang seperti itu dan lain-lainnya yang serupa, menurut apa yang kami terima, yakni firman-Nya:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Hai Ahli Kitab Janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maa’idah: 77)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaMereka Durhaka dan Selalu Melampaui Batas
Berita berikutnyaMengapa Tidak Bertobat dan Memohon Ampunan Kepada-Nya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here