Sangat Buruk Apa yang Mereka Siapkan

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 80-81

0
132

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 80-81. Banyak di antara mereka tolong menolong dengan orang-orang kafir. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka siapkan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (٨٠) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Kamu melihat banyak di antara mereka tolong menolong dengan orang-orang kafir. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka siapkan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah, dan mereka akan kekal dalam azab. (Q.S. Al-Maa’idah : 80)

Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Muhammad) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang musyrik itu sebagai teman setia. Tetapi banyak di antara mereka, orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Maa’idah : 81)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Tarā katsīram minhum (engkau lihat kebanyakan mereka), yakni kebanyakan orang-orang munafik. Yatawallauna (tolong-menolong) dalam memberi bantuan dan meraih kemenangan.

Alladzīna kafarū (dengan orang-orang kafir), yaitu Ka‘b dan kawan-kawannya. Menurut pendapat yang lain, tarā katsīram minhum (engkau lihat kebanyakan mereka), yakni kebanyakan orang-orang Yahudi, yaitu Ka‘b dan kawan-kawannya;

yatawallaunal ladzīna kafarū (tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir), yakni orang-orang kafir penduduk Mekah, yaitu Abu Sufyan dan kawan-kawannya.

La bi’sa mā qaddamat lahum aηfusuhum (sungguh amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka) berkenaan dengan agama Yahudi dan kemunafikan.

Aη sakhithallāhu ‘alaihim wa fil ‘adzābi hum khālidūn (yaitu kemurkaan Allah atas mereka, dan mereka kekal di dalam azab), yakni mereka tidak akan pernah mati dan tidak akan pernah dibebaskan dari azab.

Wa lau kānū (dan kalaulah mereka), yakni orang-orang munafik.

Yu’minūna billāhi (beriman kepada Allah), yakni mereka membenarkan dengan keimanan mereka kepada Allah Ta‘ala.

Wan nabiyyi (dan kepada nabi), yakni Nabi Muhammad ﷺ.

Wa mā uηzila ilaihi (dan kepada apa yang diturunkan kepadanya), yakni Al-Qur’an.

Mat takhadzūhum (niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu), yakni orang-orang Yahudi tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu.

Auliyā-a (sebagai pelindung dan penolong) dalam mendapatkan bantuan dan kemenangan.

Wa lākinna katsīram minhum (tetapi kebanyakan dari mereka), yakni dari ahli kitab.

Fāsiqūn (adalah orang-orang fasik), yakni orang-orang munafik. Menurut satu pendapat, wa lau kānū (dan kalaulah mereka), yakni orang-orang Yahudi; yu’minūna billāhi (beriman kepada Allah), yakni mengakui tauhīdullāh; wan . nabiyyi (dan kepada nabi), yakni Nabi Muhammad ﷺ; wa mā uηzila ilaihi (dan kepada apa yang diturunkan kepadanya), yakni Al-Qur’an; mattakhadzūhum (niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrik itu), yakni tidak akan menjadikan Abu Sufyan dan kawan-kawannya; auliyā-a (sebagai pelindung dan penolong) dalam mendapatkan bantuan dan kemenangan; wa lākinna katsīram . minhum (tetapi kebanyakan dari mereka), yakni di antara ahli kitab; fāsiqūn , (adalah orang-orang fasik), yakni orang-orang kafir. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala Mengungkapkan permusuhan mereka terhadap Nabi ﷺ dan para shahabatnya:

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-6 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Kamu melihat banyak di antara mereka[17] tolong menolong dengan orang-orang kafir[18]. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka siapkan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah, dan mereka akan kekal dalam azab.

[17] Yakni orang-orang Yahudi.

[18] Yakni kaum musyrik Mekah karena benci kepada Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Muhammad) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang musyrik itu sebagai teman setia. Tetapi banyak di antara mereka, orang-orang yang fasik[19].

[19] Yakni keluar dari ketaatan kepada Allah, keluar dari keimanan kepada-Nya dan kepada nabi-Nya. Termasuk perbuatan fasik mereka adalah berwalaa’ (bersikap setia) kepada musuh-musuh Allah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kamu melihat) wahai Muhammad (kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir/musyrik) dari kalangan penduduk Mekah karena membencimu. (Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka) yaitu berupa amal perbuatan untuk bekal mereka di akhirat yang akibatnya (Allah murka terhadap mereka dan mereka akan kekal dalam siksaan.)
  2. (Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi) Muhammad (dan kepada apa yang diturunkan kepadanya niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu) orang-orang kafir (menjadi penolong-penolong tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik/durhaka) mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari keimanan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong aengan orang-orang kafir (musyrik). (Al-Maa’idah: 80)

Menurut Mujahid, mereka adalah orang-orang munafik.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ

Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka. (Al-Maa’idah: 80)

Yang dimaksud dengan hal tersebut ialah mereka berpihak kepada orang-orang kafir dan meninggalkan orang-orang mukmin, yang akibatnya hati mereka menjadi munafik dan Allah murka terhadap mereka dengan murka yang terus-menerus sampai hari mereka dikembalikan kepada-Nya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Yaitu kemurkaan Allah kepada mereka. (Al-Maa’idah: 80)

Ayat ini mengandung pengertian sebagai celaan terhadap perbuatan mereka itu. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa mereka mengalami nasib berikut:

وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ

Dan mereka akan kekal dalam siksaan. (Al-Maa’idah: 80)

Yakni kelak di hari kiamat.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا مَسْلَمَةُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنِ الْأَعْمَشِ بِإِسْنَادٍ ذَكَرَهُ قَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِيَّاكُمْ وَالزِّنَا، فَإِنَّ فِيهِ سِتُّ خِصَالٍ، ثَلَاثَةٌ فِي الدُّنْيَا وَثَلَاثَةٌ فِي الْآخِرَةِ، فَأَمَّا الَّتِي فِي الدُّنْيَا: فَإِنَّهُ يُذهب الْبَهَاءَ، ويُورِث الْفَقْرَ، ويُنقِص الْعُمُرَ  وَأَمَّا الَّتِي فِي الْآخِرَةِ: فَإِنَّهُ يُوجب سَخَط الرَّبِّ، وَسُوءَ الْحِسَابِ، وَالْخُلُودَ فِي النَّارِ. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ali, dari Al-A’masy dengan sanad yang disebutkannya: Hai semua orang muslim, jauhilah oleh kalian perbuatan zina, karena sesungguhnya perbuatan zina itu mengakibatkan enam perkara; tiga di dunia, dan tiga lagi di akhirat. Adapun di dunia, maka sesungguhnya perbuatan zina itu dapat menghapuskan ketampanan (kewibawaan), mengakibatkan kefakiran, dan mengurangi umur. Adapun yang di akhirat, maka sesungguhnya perbuatan zina itu memastikan murka Tuhan, hisab yang buruk dan kekal dalam neraka Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (Al-Maa’idah: 80).

Hal yang sama telah diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkannya melalui jalur Hisyam ibnu Ammar, dari Muslim, dari Al-A’masy, dari Syaqiq, dari Huzaifah, dari Nabi ﷺ, lalu ia mengetengahkan hadits ini.

Ia pun mengetengahkannya pula melalui jalur Sa’id ibnu Afir, dari Muslim, dari Abu Abdur Rahman Al-Kufi, dari Al-A’masy, dari Syaqiq, dari Huzaifah, dari Nabi ﷺ, lalu ia mengetengahkan hadits yang semisal. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana pun hadits ini berpredikat daif.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنزلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ

Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu menjadi penolong-penolong. (Al-Maa’idah: 81)

Dengan kata lain, sekiranya mereka beriman dengan sesungguhnya kepada Allah dan Rasul-Nya serta Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan terjerumus ke dalam perbuatan menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong-penolong mereka dalam batinnya, dan memusuhi orang-orang yang beriman kepada Allah, Nabi, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya.

Ayat berikutnya: Orang yang Paling Dekat Persahabatannya 

وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik (Al-Maa’idah: 81)

Yakni keluar dari jalan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menentang ayat-ayat wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaOrang yang Paling Dekat Persahabatannya
Berita berikutnyaHadits-hadits yang Menerangkan Tentang Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here